Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 15: Cinta dan Dilema


__ADS_3


💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮


''Apakah kamu sudah memastikan perasaanmu sendiri Lif? Dan bukankah kamu akan bertunangan dengan gadis sialan itu? Jika kamu menyukai Iren, lantas bagaimana dengan keluargamu dan perjodohanmu itu?'' Mira ingin tahu semua tentang Alif, ia tidak ingin kelak sahabatnya disakiti lagi.


''Sudah....'' Tapi jika soal perjodohan...Aku akan membicarakannya dengan keluargaku,'' ucap Alif. Namun terlihat jelas masih ada keragu-raguan dihatinya Alif.


''Membicarakannya? Bukankah kau habis di kurung oleh mamamu karena kamu berusaha membicarakan perjodohanmu itu?''


''DEG''


''Bagaimana Mira mengetahuimya?'' Batin Alif.


''Aku paham betul bagaimana kondisimu Lif. Aku tahu kau tidak ingin menjadi anak yang tidak berbakti. Tapi kau juga memiliki perasaan terhadap sahabatku. Aku tidak ingin hanya karena cinta dan dilemamu membuat sahabatku ikut berada di posisi yang sulit.'' Alif tertunduk lesu mendengar ucapan Mira, Ia sendiri belum bisa tegas pada dirinya sendiri, terhadap cintanya mau pun mamanya.


''Lebih baik, kamu selesaikan dulu masalah keluargamu, baru kamu datang menemui Iren. Tegaskan dulu hatimu, pilih mana yang terbaik untuk semuanya. Agar kelak tidak ada pihak yang salah paham atau pun tersakiti,'' Mira meninggalkan Alif yang masih diam terpaku di depan rumah. Apa lagi kini putrinya sedang menangis.


''Kau terlalu keras padanya sayang.'' Dimas tiba-tiba muncul menghampiri istrinya yang sedang menenangkannya Mura.


''Jika aku tidak keras, nanti Irena yang akan kesulitan sendiri. Kamu tahu betul bagaimana sifat keluarganya. Belum lagi Danisha si gadis sialan itu,'' Dimas memeluk Mira dari belakang lalu mencium puncak kepalanya. Karena dengan cara itu, istrinya bisa kembali tenang.

__ADS_1


Alif pulang dengan lesu. Namun ia juga tidak menyalahkan Mira, sebab apa yang dia katakan ada benarnya. ''Sudah seharusnya aku bicara dengan mama dan meluruskan masalah ini,'' ucap Alif.


''Kak, kakak dari mana saja?'' Oliv menarik tangan Alif setelah melihat kakaknya itu pulang. Namun Alif masih melamun memikirkan setiap perkataan Mira.


''Kak, tolongin kak Nadia kak! Kak Nadia dimarahin sama mama,'' ucapan Oliv seketika membuat Alif tersadar dari lamunannya.


''Haah! Kenapa mama memarahi kakak? Dan didimana kakak ipar?'' Ucap Alif lalu segera masuk ke dalam untuk melihat keadaan kakaknya.


''Kakak ipar sedang pergi ke kota untuk membeli keperluan toko kak,'' sambil menangis Oliv menjelaskan.


''Gara-gara kamu Alif sekarang sering menentangku! Seharusnya sebagai seorang kakak, kamu memberinya nasehat. Apa lagi perjodohannya dengan Danisha juga demi kepentingan keluarga!'' Suara teriakan keras yang berasal dari mamanya, sedangkan Nadia tertunduk sambil menggendong putranya. Alif menutup matanya, selalu saja seperti ini, setiap ada masalah, selalu kakaknya yang di salahkan.


''Cukup mah! Itu semua bukan salahnya kakak! Kenapa setiap kali ada masalah mama selalu menyalahkan kakak. Mama bisa bicara langsung dengan Alif, karena Alif yang memutuskan perjodohan itu. Kakak tidak tahu apa-apa!'' Alif sungguh sudah hilang kesabarannya saat melihat kakaknya menangis sambil mendekap keponakannya. Hatinya sakit melihatnya, ''Maafkan Alif kak, karena masalah Alif, kakak jadi yang disalahkan,'' batin Alif.


''Papa? Mama tidak berhak membawa-bawa papa dalam masalah kita sekarang. Seandainya waktu itu Alif bukan anak kecil, Alif pasti sudah ikut dengan papa!'' Ucap Alif.


''Ikut papamu? Ya sudah sana ikut dengan papamu yang bodoh itu. Demi cinta pertamanya ia rela melepaskan keluarga! Melepaskan istri dan anaknya! Apa menurutmu papamu benar dalam hal melakukan itu?'' Ucap Ranty.


''Benar atau tidaknya, mama tahu jelas sendiri kebenarannya. Mama yang masuk ke dalam hubungan mereka, memisahkan mereka dan menjebak papa, masih mending papa masih menyayangiku.'' Alif menghampiri kakaknya yang masih tertunduk.


''Ayo kak, aku akan mengantarkanmu ke kamar,'' ucap Alif.

__ADS_1


''Apa sebegitu buruk kah pandanganmu terhadap mama Lif? Bahkan kamu masih membela mereka. Mama akui mama yang salah waktu itu, dan tidak seharusnya mama menjebak papamu. Tapi apakah adil untuk mama, di saat papamu sudah menikah dengan mama, tapi dia masih memikirkan wanita lain?'' Alif membuang nafas kasar, lalu meminta Oliv untuk mengantarkan kak Nadia ke kamarnya.


''Masalah ini harus segera diselesaikan,'' batin Alif.


''Mah, papa sudah tidak memikirkan bibi Ayu. Semenjak papa menikah, papa sudah melupakan cintanya dan belajar menerima mama dan Alif. Tapi mama selalu termakan oleh rasa cemburu yang berlebihan. Bahkan mama sengaja membocorkan rahasia restoran keluarga kita sehingga papa mengalami kebangkrutan. Mama yang meninggalkan papa, bukan papa,'' Alif mencoba menjelaskan, supaya mamanya lekas sadar akan keegoisannya.


''Jika mama tidak ingin Alif bernasib sama seperti papa, seharusnya mama tidak memaksakan perjodohan ini. Mama tahu betul, bagaimana rasanya menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintai mama,'' Alif pun pergi meninggalkan mamanya yang masih terdiam setelah mendengar ucapan putranya itu.


''Apakah aku sejahat itu? Demi ke egoisanku sampai-sampai mengorbankan perasaan putraku.'' Ranty lalu duduk mengambil segelas air putih dan meminumnya.


Di kamar, Nadia diam membisu. Putranya kini terlelap tidur setelah menangis dari tadi. Oliv berusaha menghibur kakaknya, namun Nadia tidak meresponnya. Alif menghampiri kakaknya, dan meminta Oliv untuk meninggalkan mereka. Setelah kepergian Oliv, Alif berlutut di hadapan kakaknya.


''Maafkan Alif kak, karena masalah Alif, kakak jadi yang selalu disalahkan,'' air matanya menetes membasahi pipinya. Melihat kakaknya masih menangis tadi, hatinya terasa sakit.


''Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu pada mama Lif, biar bagaimana pun dia adalah mamamu, yang telah melahirkanmu. Kamu harus sabar menghadapi sikap dan sifatnya. Kita bisa pelan-pelan menjelaskannya,'' ucapan Nadia membuat Alif menegakkan kepalanya yang tertunduk. Ia tidak terkejut mendengar ucapan kakaknya. kakaknya terlalu baik. Bahkan dengan orang yang sudah menyakitinya bertahun-tahun pun ia masih bisa berkata demikian.


''Aku tidak sebaik kakak, aku tidak mau lagi melihat mama menyalahkan kakak. Lagi pula, memang aku ingin mama tahu kalau aku tidak mau meneruskan perjodohan itu kak. Aku sama sekali tidak menyukai Danisha. Aku tidak mau menikahi wanita licik itu kak,'' ucap Alif.


''Apa karena di hatimu sudah ada gadis lain Lif? Siapakah gerangan yang sudah mencuri hati adikku ini ha?'' Nadia berusaha mencairkan suasana. Setidaknya dengan mengalihkan pikirannya, Alif bisa meredakan emosinya.


''Namanya Irena kak!'' Tiba-tiba Oliv nyelonong masuk mengambil charger ponsel, lalu berlari lagi keluar.

__ADS_1


''Jangan lari kamu!'' Alif mengejar Oliv yang membuatnya malu di depan kakaknya. Nadia bahagia melihat adik-adiknya kembali bersendau-gurau. Terlepas dari apa yang terjadi tadi.


__ADS_2