
☆
🌸 Selamat Membaca, dan sehat selalu ya🌸
Setelah selesai makan, Iren bermaksud untuk segera mengajak kakak dan adiknya untuk pulang. Ia sepertinya bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh sahabatnya itu. Namun saat ia baru akan menghampiri Arsen...
''Hai Ren,'' sapa Gio.
''Hai,'' Iren menjawab kikuk sambil tersenyum.
''Sudah lama kita tidak bertemu ya? Sampai-sampai kau lupa padaku. Padahal dulu kau pernah berjanji akan satu kampus saat sudah lulus SMA,'' ucap Gio, lalu duduk di depan Iren.
''Hehehe...Benarkah? Maafkan aku, tapi aku sungguh tidak mengingatmu,'' jawab Iren. Gio yang mendengar jawaban Iren, sepertinya sedikit merasa kecewa. Namun....
''Maaf ya Gi, bukan maksud apa-apa. Iren dulu pernah kecelakaan dengan kakakku Hafiz, mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkannya melupakan hal-hal tertentu,'' Mira memberi penjelasan. Memang masuk akal sih, sebab semenjak kecelakaan itu, ada beberapa memori yang terhapus dari ingatan Irena.
''Benarkah? Kapan itu Mir? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya? Bahkan di group chat saja, kalian tidak ada membahas soal kecelakaan Iren,'' ucap Gio.
''Kecelakaan itu terjadi sekitar tiga apa empat tahun yang lalu, eh bener nggak sih Ren? Aku juga lupa. Dan itu terjadi saat Iren masih di kota,'' ucap Mira. Dan tanpa mereka sadari, saat mereka membahas tentang kecelakaan itu, membuat Iren merasa sedih kembali. Ia teringat bagaimana Hafiz lebih memilih menyelamatkan Iren ketimbang dirinya sendiri. Tanpa terasa air matanya menetes.
''Aku pamit pulang dulu ya Mir, besok-besok kalau nggak sibuk aku akan main lagi,'' Iren tiba-tiba berdiri dan berpamitan pada Mira dan Gio. Mira sedikit bingung melihat tingkah Irena. Hingga ia menyadari sikap Irena yang berbeda setelah membahas soal kecelakaan.
''Aduuuuh!'' Mira menepuk kepalanya sendiri.
''Kenapa Mir? Apa ada sesuatu yang salah?'' Tanya Gio saat melihat tingkah Mira. Dimas menghampiri istrinya dan bertanya mengapa Iren tiba-tiba pulang dan sikapnya sedikit aneh.
''Gebleekku gak ketulungan Yang, haduuuh...'' Mira masih menepuk-nepuk kepalanya, hingga suaminya menghentikannya.
''Ada apa sebenarnya sayang? Apa tadi kau membuat marah Iren?'' Dimas dan Gio semakin dibuat penasaran oleh sikap Mira.
__ADS_1
''Tentang kecelakaan itu, adalah hal yang sensitif untuk dibahas. Aku tahu mengapa sikapnya Iren berubah! Pasti gara-gara aku membahas kecelakaan itu yang,'' ucap Mira. Mira dan Dimas tahu jelas saat kecelakaan itu terjadi, membuat Iren menjadi sosok yang pendiam. Bahkan sampai mengkonsumsi obat-obatan. Apalagi saat membahas soal Hafiz, tentu saja akan mengingatkannya, kalau karena melindunginya Hafiz menjadi lumpuh seumur hidup.
''Aduuh yang...yang! Kenapa malah membahas itu tadi? Kan biasanya kalian bahasnya hal yang lain. Kamu tahu sendiri gimana keadaan Iren waktu itu yang.'' Mendengar perkataan suaminya, Mira semakin merasa bersalah.
''Sebenarnya apa yang terjadi pada Iren Mir? Dan tentang kecelakaan itu, apakah ada korban hingga membuatnya merasa trauma?'' Tanya Gio.
Mira pun menceritakan semua yang di alami Iren saat di kota hingga yang membuatnya kembali tinggal di desa. Gio, selain seorang pengusaha dibidang kuliner, ia juga seorang psikolog. Tentu saja ia memahami keadaan yang di alami oleh Iren. Hatinya sedikit tersentuh bahkan sampai meneteskan air mata saat mendengar apa saja yang sudah Irena alami selama ini. Gio pernah memiliki perasaan pada Iren sewaktu SMA, namun perasaanya harus ia pendam tak kala ia tak sengaja mendengar Iren bercerita pada Mira kalau Iren menyukai Alif.
...''Bukankah Alif sudah menikah? Jika sekarang aku mengejarnya, mungkin aku masih memiliki kesempatan, Aku ingin membahagiakan Iren. Aku ingin menjadi pelipur laranya, penghapus air matanya. Ya Tuhan, ku mohon restui niatku ini agar aku bisa menjadi sandaran untuk orang yang ku cintai selama ini," batin Gio....
Selama ini, Gio lebih memilih menyibukan dirinya, baik sebagai psikolog maupun pengusaha. Semua itu ia lakukan untuk membuat hatinya lupa akan sosok cinta pertamanya. Bahkan orang tuanya sudah sering menjodohkannya dengan banyak wanita, namun hatinya tetap terpatri hanya untuk Irena.
''Sebenarnya, aku berniat mau menjodohkanmu dengan Iren. Tapi sepertinya, aku sendiri tidak yakin apakah Iren akan membuka kembali hatinya setelah dua kali terluka,'' ucap Mira dengan pandangan sendu. Dimas memeluk bahu istrinya.
''Aku akan berusaha membuka kembali pintu hatinya Mir, aku akan berusaha membahagiakannya. Aku tidak ingin berjanji dahulu, tapi semampuku, aku akan membuktikannya. Karena aku tidak ingin menjadi untuk kesekian kalinya yang melukai hati Iren,'' ucap Gio dengan sepenuh hati. ( Tapi kata Author: 🤷♀️ entahlah karena laki-laki yang pernah di jumpai authornya hanya kebanyakan janji doang. )
''Aku tahu Gi, kau pasti mampu membahagiakan Irena. Dan aku yakin kau tidak akan menyakiti hatinya. Tapi, ingat ya! Jika sampai kau menyakitinya, aku sendiri yang akan membalasmu!'' Ucap Mira sambil mengepalkan tangannya seakan ingin memukul Gio.
...~♧~°~♧~♡~♧~°~♧~...
Sampai di depan rumah, Arsen dan Kenzo langsung membereskan barang-barang mereka untuk di bawa ke dalam. Ada beberapa tetangga yang melihat mereka dengan berbisik-bisik. Iren tahu, pasti mereka sedang menggosipkannya. Karena memang Arsen sendiri baru pertama ke sini. Kalau Kenzo, semua orang pasti sudah mengenalnya, karena dia pernah menginap di rumah Iren dalam waktu yang lama. Tiba-tiba...
''Waah dapat gebetan baru nih! Cieeee yang ditinggal nikah langsung dapat ganti. Orang kota lagi! Pasti kaya tu,'' ucap Jils yang tiba-tiba menghampiri Iren sambil bersidekap melipat tangannya.
''Haiiis, wanita sialan ini datang dari mana coba? Tiba-tiba sudah muncul seperti jaelangkung saja, datang tak di jemput pulang tak di antar,'' ucap Kenzo dengan kesal.
''Siapa dia Ken? Sepertinya wanita itu tidak menyukai Iren?'' Tanya Arsen.
''Dia itu lampirnya desa ini kak, Dia sering banget nyakitin kak Iren,'' ucap Kenzo.
__ADS_1
''Apa kau bilang! Berani sekali pendatang baru mengatai penduduk asli. Mau kamu di usir dari desa ini ha?'' Ucap Jils dengan sombongnya.
''Sudahlah Ken, jangan di ladeni. Ngabis-ngabisin tenaga saja,'' ucap Iren lalu menyuruh kakak sama adiknya itu untuk masuk ke dalam rumah. Namun Jils tidak mau tinggal diam.
''Kenapa Ren, takut ha? Lihat kan, sekarang Alif sudah bahagia sama Danisha, dan terbebas dari perempuan ****** sepertimu. Untung saja Alif segera sadar dan mau memilih Danisha, kalau tidak pasti dia sudah menderita hidup denganmu.'' ucap Jils.
Iren yang hendak masuk ke dalam pun mengurungkan niatnya dan berbalik langsung menampar Jils.
''PLAAAK!'' Tamparan keras melayang di pipinya Jils, para tetangga yang melihatnya pun semakin banyak.
''Jils, are you crazy? I never bother you, but you always find trouble with me. I don't care if Alif chooses Danisha, it has nothing to do with me. So please stop bothering me please!" Ucap Iren dengan geram, lalu pergi meninggalkan Jils yang masih mengomel karena tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Iren. Bahasa Inggris adalah kelemahan terbesar bagi Jils sejak dulu. Akhirnya ia hanya bisa pulang dengan mengomel.
(''Jil, apakah kamu gila? Saya tidak pernah mengganggu Anda, tetapi Anda selalu menemukan masalah dengan saya. Saya tidak peduli jika Alif memilih Danisha, itu tidak ada hubungannya dengan saya. Jadi tolong berhenti menggangguku!" )
-
-
Mala ingin bertanya, kira-kira kalau cover sama judul di ganti ini bagaimana menurut teman-teman? cocok nggak kira-kira ? tolong tulis di kolom komentar ya
-
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih