Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 41: Penjelasan dan Rahasia


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


''Apa kamu masih mau mengelak setelah melihat ini Ren?'' Danisha menunjukkan sebuah foto saat Iren ditoko Alif, difoto itu terlihat Alif memegangi tangan Iren.


'' Itu semua tidak benar Nish...


Flashback on


Saat Iren berjalan ke toko Nadia untuk membeli perban, ternyata Jils tak sengaja melihatnya. Ia pun lalu membuntuti Irena. Awalnya ia hanya mengira kalau Iren cuma berbelanja, namun ia sangat terkejut karena bukan Nadia yang menghampirinya, melainkan malah Alif yang menghampiri Irena. Jils berpikir jika Iren sengaja menemui Alif dan merayunya saat kondisi hubungan Alif dan Danisha sedang tidak baik-baik saja. Terlebih, Jils melihat Iren tidak membeli apapun jika memang alasannya untuk berbelanja. Dan malah terlihat Alif seperti memberi sebuah kotak dari dalam rumah. Jils mengira kotak itu sebagai hadiah.


Apa lagi saat itu ia juga melihat Alif memegang tangan Iren, ia pun tidak ingin ketinggalan momen, jadi Jils yang memotret Iren dan Alif untuk diberikan kepada Danisha sebagai bukti.


Jils pun segera menemui Danisha dengan bukti foto Iren dan Alif. Entah apa saja yang sudah ia katakan pada Danisha, sehingga membuatnya murka dan dengan teganya ia membawa satu drum penuh dengan air got yang kotor dan bau, lalu menyiramnya ke toko milik Iren, yang kebetulan saat itu ada acara pembukaan toko. Danisha melampiaskan semua emosinya pada Iren, ia merasa dunia tidak adil padanya, dan semuanya selalu berpihak pada Irena.


Flashback off


''Kau salah paham Nish, aku bukan bermaksud menemui Alif, tapi aku hendak membeli barang!'' Ucap Iren yang mencoba menjelaskan.


''Bulsiit!'' Jelas-jelas aku melihat kau sama sekali tidak membeli barang, tapi malah diberi kotak hadiah oleh Alif!'' Jils berkata penuh keyakinan, ia berharap bisa mempermalukan Iren didepan semua orang.


''Heii kampreet! Kalau ngomong jangan asal ngejeplak ya! Iren kesana itu untuk mencari perban, karena anakku terluka. Kalau ngomong tu pakai otak gitu lo, jangan asal menuduh!'' Sarkas Mira memelototi Jils.


''Perban? Kau kira aku ini bodoh apa! Mana ada toko sembako menjual perban. Alasanmu itu lucu sekali Ren.'' Danisha bertepuk tangan saat mendengar penjelasan dari Mira.


''Sekali pelakor tetaplah pelakor! Sekali ****** tetap saja ****** sama seperti ibumu yang merayu suami....'' Belum selesai Danisha berucap, langsung mendapatkan hadiah tamparan keras dari Mira. Sedangkan Iren, tangannya mengepak erat menggenggam ujung bajunya.


''Punya mulut tu dijaga ya Nish! Kau yang salah sehingga suamimu menceraikanmu, tapi kau malah menuduh orang lain. Apa perlu kusebarkan vidiomu keseluruh kampung dan media sosial lainnya ha! Jawab! Mau kusebar?'' Ucap Mira emosi. Mira kemudian berjalan ke dalam toko mengambil kotak obat dan langsung melemparkannya didepan Danisha.

__ADS_1


''Lihat tu baik-baik! Irena tidak beralasan apapun karena memang yang kukatakan adalah fakta! Jika kamu masih tidak percaya, tanya sendiri langsung sama Alif! Kalau perlu cek CCTV mereka, karena ditoko kak Nadia ada CCTV nya!'' ucap Mira sambil berkacah pinggang.


Danisha sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia merasa jika masih tetap disini, Mira pasti akan membongkar semua rahasianya pada orang-orang. Akhirnya ia pun memilih pergi meninggalkan tempat itu dengan kesal.


''Huuuuuuuuuuuuuuhuuuuuu....'' Suara sorakan dari para tetangga dan Mira.


''Kenapa kita pergi Nish? Seharusnya kau tadi menampar Irena! Dia telah merebut Alif Nish!'' Ucap Jils. ( Jils sama sekali tidak tahu tentang masalah Danisha yang berselingkuh, karena memang masalah itu masih dirahasiakan demi tidak mempermalukan keluarga besar Danisha.)


''Diamlah bodoh! Aku tidak mau jika sampai Mira membuat ulah!'' Ucap Danisha.


''Mira? Kalau soal Mira, biar aku yang urus. Dia itu hanya bodoh dan omong besar saja. Kenyataanya ia hanya selalu jadi tameng oleh Irena. Tapi ngomong-ngomong, tadi Mira membahas soal vidio, vidio apa yang dimaksud oleh Mira Nish?'' Tanya Jils yang ternyata juga merasa penasaran.


''Bukan apa-apa! Lebih baik kau pulanglah dulu. Aku capek mau istirahat!'' Danisha meninggalkan Jils begitu saja. Lalu menaiki mobilnya dan melaju pergi.


''Nish! Aku pulangnya gimana?'' Teriak Jils, namun suaranya sudah tidak terdengar lagi oleh Danisha karena jarak mereka yang sudah jauh.


''Danisha kampreeet, muka babi, gak punya otak! Haaaaa!'' Teriak Mira yang kesal karena ternyata noda yang ada dibaju tidak bisa hilang.


''Sabar Yang, percuma kamu emosi. Toh orangnya juga enggak ada. Jadinya malah ngabis-ngabisin energimu saja,'' ucap Dimas sambil menggendong Mura.


''Aku benar-benar kesal sama dia Yang! Gara-gara dia aku jadi belum istirahat,'' gerutu Mira.


''Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Jika memang tidak bisa bersih, suruh mereka beli yang baru saja,'' ucap Dimas.


''Aaah, kau benar juga Yang. Kenapa nggak bilang dari tadi sih Yang. Lihatlah! Aku sudah berkeringat dan capek gini, kau baru kasih ide,'' ucap Mira.


''La kan aku juga baru dapat idenya Yang...yang,'' Dimas pun meninggalkan istrinya karena putrinya memintanya untuk diambilkan air minum.

__ADS_1


''Kamu tidak apa-apa nak?'' Tanya pak Bayu yang khawatir melihat Iren melamun.


''Iren tidak apa-apa pah, Iren hanya sedih saat ada yang menghina mama. Mama bukanlah orang yang seperti itu. Kenapa orang-orang selalu menjelekkan namanya,'' ucap Iren. Air matanya pun mengalir membasahi pipinya. Pak Bayu menghampiri Iren dan memeluknya.


''Sabar ya nak, pemikiran orang memang seperti itu. Mereka tidak pernah mau melihat dan mengakui kebenaran. Tapi mereka lebih senang mendengarkan seuatu yang hanya berdasarkan katanya, mamamu orang yang baik Ren, percayalah! Mamamu itu orang terbaik yang pernah papa kenal seumur hidup papa,'' ucap pak Bayu sambil mengelus-elus puncak kepala Iren.


Arsen dan Kenzo juga menghampiri Irena. mereka mengusap air mata yang membasahi pipi saudara perempuannya itu.


''Kamu itu perempuan yang hebat Ren, kakak yakin kamu gak akan tumbang hanya karena perkataan mereka. Ingat! Kamu tidak sendirian. Masih ada papa, kakak,''


''Kenzo juga kak. Kenzo sangat menyayangi kakak, jadi kakak harus kuat dan banyak bersabar lagi dalam menghadapi orang-orang seperti mereka itu kak,'' sela Kenzo, yang menyela omongan kakaknya.


''Iya Ren, dan jangan lupa masih ada kami juga yang akan selalu mendukungmu,'' Mira dan Dimas juga menghampiri Irena. Iren tersenyum melihat itu semua.


''Benar, aku masih memiliki kalian. Jadi untuk apa aku bersedih?'' Ucap Irena. Dan mereka pun tertawa bersama.


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2