
💮 Selamat Membaca, dan semoga sehat selalu 💮
Jam menunjukkan pukul 22.44 malam. Iren belum juga sadarkan diri. Namun kata Dokter, mungkin itu juga efek obat yang diberikan oleh Dokter. Alif mengambil baju ganti lalu pergi ke kamar mandi. Tak berapa lama kemudian Mira datang.
''Lif!'' Namun tak ada sahutan dari yang punya nama. Mira pun meletakkan rantang yang berisi makanan, untuk makan malam Alif. Mira tahu, sejak pagi Alif pasti belum makan apa-apa. Suara gemericik air membuat Mira tahu jika Alif pasti sedang mandi. Dan benar saja, tak lama kemudian Alif pun kluar dari kamar mandi.
''Mira,'' ucap Alif lalu pergi sebentar untuk menjemur handuk dan pakaiannya.
''Sejak kapan kau datang?'' Tanya Alif.
''Baru saja,'' ucap Mira. Mira pun mengambil rantangnya lalu menyerahkannya pada Alif.
''Makanlah dulu! Kau pasti sejak tadi belum makan kan?'' Ucap Mira.
''Kau tahu aja kalau aku sedang lapar. Aku baru saja akan turun untuk membeli makanan,'' ucap Alif sambil membuka rantang.
''Apa kata Dokter Lif? Dan kenapa Iren belum bangun?'' Tanya Mira sambil mengelap tangan dan leher Iren menggunakan handuk kecil.
''Katanya, mungkin selain obat yang dikonsumsi Iren, itu juga efek obat dari Dokter. Makanya Iren belum bangun. Tapi kata Dokter jika nanti Iren sudah bangun besok sudah boleh pulang. Doakan saja Mir, supaya Iren lekas bangun.'' Ucap Alif.
''Malam ini biar aku aja yang gantian jaga. Kau bisa pulang dan beristirahat Lif! Tadi aku udah izin sama suamiku,'' Ucap Mira.
''Aku akan menunggunya sampai bangun saja Mir, aku...''
''Lif, kamu juga butuh istirahat. Pulanglah! Jika nanti Iren bangun, aku akan segera mengabarimu. Jika kau masih keras kepala, bagaimana jika nanti kau sakit? Apa menurutmu Iren akan senang jika ia tahu, gara-gara menunggunya kau jadi sakit?'' Ucap Mira. Alif pun mengangguk pertanda setuju.
''Baiklah! Aku akan pulang setelah makan. Besok aku akan ke sini lagi untuk menjemput kalian,'' ucap Alif. Mira tersenyum mendengar ucapan Alif. Dalam hatinya berkata "Ren, apa kau melihatnya? Alif laki-laki yang baik. Segeralah bangun Ren, dia sangat khawatir sekali padamu.'' Batin Mira.
Keesokan harinya...
Iren sudah sadar semalam setelah tak berapa lama Alif pergi. Ia juga bingung kenapa tiba-tiba sudah berada di rumah sakit. Ketika ia sadar, sahabatnya sedang tidur di sofa.
POV Iren
__ADS_1
''Apa yang terjadi? Di mana ini?'' Aku sungguh bingung saat aku terbangun di tempat yang asing. Aku melihat keadaan sekitar. Sepertinya ini rumah sakit, bagaimana bisa aku berada di sini? Bukankah seingatku aku tadi tengah minum coffe di depan perapian? Ya Tuhan, sebenarnya apa yang telah terjadi.''
''Kau sudah bangun Ren?'' Astaga, aku terkejut mendengar pertanyaan Mira. Pasti karena suaraku yang membangunkan Mira.
''Mira!'' Ucapku terkejut saat melihatnya terbangun dari sofa.
''Iya ini aku. Kamu pikir siapa?'' Pasti dia akan memarahiku. Ya Tuhan selamatkan aku.
''Kau kemaren pingsan, makannya kami membawamu ke rumah sakit.'' Ucap Mira.
''Kami?'' Aku sedikit bingung saat Mira menyebutkan kata kami. Aaaaa.. mungkin dia dan suaminya.
''Bukan suamiku! Tapi aku dan Alif!'' Waaah selain menjadi sahabat yang baik, ternyata dia bisa baca pikiranku juga. Eeeeee... tunggu dulu? Alif?''
DEG...
''Alif?'' Ya Tuhan bagaiman bisa Alif yang membawaku ke sini. Aku sudah banyak merepotkannya.''
''Ren, apa kau tahu Ren?...
''Tidak!''
''Iya..iya lanjutkan maaf,''
''Kau ini memang minta di hajar kok Ren, kau sudah membuat semua orang khawatir! Kenapa kau masih mengkonsumsi obat-obatan itu? Bukankah Dokter sudah melarangmu?'' Ucapan Mira membuatku bingung.
''Obat? Obat apa?''
''Obat penenang dodol!''
''Astaga Mir, aku tidak mengkonsumsinya. Tapi kemaren malam kayaknya. Itu karena aku tidak bisa tidur,'' ucapku. Maafkan aku Mir, aku tidak ingin kamu mengkhawatirkanku.
''Apa kau masih memikirkan kejadian tiga tahun yang lalu Ren?''
''Tidak!'' Hedeeh... kenapa aku menjawabnya cepat sekali. Pasti Mira tidak akan percaya.
__ADS_1
''Jangan membohongiku! Kau kira aku Mura yang gampang kamu bohongi.'' Tuh, kan bener. Iren...Iren kenapa kau sangat bodoh sekali saat berbohong.
''Beneran Mir, aku cuma nggak bisa tidur aja, makannya meminum beberapa obat itu. Aku juga tidak tahu jika pada akhirnya aku akan tidak sadarkan diri.''
''Alif sangat khawatir padamu. Sampai-sampai seharian dia tidak makan! Kau ini memang bodoh!'' Ucap Mira, yang kesal dengan sahabatnya itu. Aku memang bodoh Mir, maafkan aku. Tidak seharusnya aku membuat kalian khawatir.
''Mir, kau ini jahat sekali padaku. ( memasang muka melas ) ''Aku baru saja sadar tapi kau sudah memarahiku habis-habisan. Seperti seorang Ibu.''
''Mulai sekarang aku ini ibumu! Kau ini memang pantas di marahi. Siapa suruh membuatku khawatir. Belum lagi kau membuat anak orang sampai tidak makan seharian, menurutmu aku tidak boleh memarahimu gitu?''
''Iya...iya aku salah. Maafkan aku. Eeh Mir, kalau kau ibuku..''
''Hueeeekh... Jangan mikir aneh-aneh. Aku ibumu untukmu sendiri, bukan menikahi ayahmu. Tidak ada pria yang baik selain Dimas bagiku. Apa lagi ayahmu, ibumu yang baik dan penurut saja ia ceraikan apa lagi aku yang...''
''Yang apa sayang?'' Bwaaaahahahahah....Aku tidak dapat lagi menahan tawaku saat melihat Dimas dari arah pintu. Siapa suruh dari tadi kau terus mengomeliku.
''Bukan apa-apa sayang, jangan dengerin ocehan Iren. Oh iya yang, kalau kamu ke sini, Mura dengan siapa yang?'' Tanya Mira.
''Dengan kak Juan. Mumpung dia belum pulang, makannya aku memintanya untuk menjaga Mura sebentar,'' Jawab Dimas. Orang tua Mira masih di luar negeri, sedangkan orang tua Dimas sudah meninggal. Kak Juan adalah kakaknya Dimas satu-satunya yang sering menjenguknya satu bulan sekali. Bagaimana pun mereka hanya 2 bersaudara, saling menjenguk untuk memastikan saudaranya baik-baik saja, itu hal yang wajar.
POV Author
''Kalau kau benar-benar ingin meminta maaf, kau harus mengabulkanku dua permintaanku,'' ucap Mira.
''Biasanya kalau jin ngasihnya tiga Mir? Kenapa kamu cuma minta dua.'' Jawaban Iren membuat Mira seketika memukul kepalanya. Tentu saja pelan ya.
''Dua aja jika kau bisa mengabulkannya aku akan sangat bersyukur padamu. Tidak perlu sampai tiga. Lagi pula kau bukan Jin nya Aladin!'' Ucap Mira.
''Heem!'' Iren sengaja memasang muka memelas, supaya sahabatnya ini tidak memarahiku lagi.
''Pertama: ''Kau harus berjanji padaku, untuk jangan pernah meminum obat-obatan itu lagi. Nanti jika kamu nggak bisa tidur, kamu bisa menghubungiku! Aku akan langsung ke rumahmu OKE!''
''Iya...iya aku janji,'' jawab Iren.
''Aku nggak butuh janjimu doang, tapi buktiin!'' Mira menatap Iren dengan tatapan masih belum percaya.
__ADS_1
''Iya! Aku akan mencoba membuktikannya. Kau ini benar-benar cerewet sekali. Apa lagi syarat yang kedua?'' Tanya Iren.
''Yang kedua....