Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 63: Dia ?


__ADS_3

( ''Jika kebencian sudah mendarah daging,


apapun yang kita lakukan pasti akan selalu salah dimatanya'' )


...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...



Dua bulan hampir berlalu, dan tanpa terasa kurang satu minggu lagi, pernikahan Iren dan Alif akan digelar. Dan setelah itu Iren akan menjadi istrinya Alif. Semua orang tua sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang kebagian nyebar undangan, ada pula yang mengurus dekor dan acaranya. Awalnya para tetangga sedikit terkejut, karena mereka baru tahu kalau ternyata Alif dan Iren sudah lamaran.


Ada yang ikut bahagia, ada pula yang kecewa. Seperti contohnya bu Halimah yang juga baru tahu. Padahal rencananya ia mau menjodohkan Alif dengan Aisha anak perempuannya itu, namun semua rencananya kandas karena ternyata Alif dan Iren bahkan sudah lamaran. Pernikahan mereka akan diselenggarakan dengan sederhana saja. Dan hanya mengundang kerabat terdekat serta tetangga dekat saja.


Iren bukan tipikal orang yang ''Oh, misal ya, kalau aku nikah aku mau pakai adat begini, mau konsep begini, mau pestanya meriah karena ini pernikahan untuk pertama dan terakhirnya, ( Insyaa Allah )" Bukan, tentu saja bukan seperti itu. Iren orang yang tidak suka ribet hidupnya, ia lebih suka yang simple-simple.


Dalam pikirannya, ''Dari pada uangnya habis buat pesta yang hanya satu hari saja, lebih baik uangnya ia tabung buat masa yang akan datang. Karena baginya mencari uang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, jadi ia lebih suka menggunakan logikanya untuk memikirkan segalanya.


''Loh mbak Iren, sudah mau menikah kok masih sibuk bekerja?'' Ucap salah satu pelanggan Iren yang kebetulan lewat sehabis ia berbelanja di pasar.


''Iya mbak Widia, kan nikah juga butuh modal mbak,'' jawab Iren dengan bercanda.


''Walaaah gitu toh, tumben Mas Alif nggak ikut bantu-bantu di toko mbak? Padahal aku mau sekalian pesan pupuk tiga kwintal, sama obat buat basmi hama padi. Nanti minta tolong sekalian diantarkan mbak,'' ucap mbak Widia.


''Iya mbak, Mas Alif lagi nganterin pesanan makanan ke pelanggannya kak Nadia, jadinya hari ini Iren datang sendiri mbak. Lagian sebelumnya juga Iren sudah terbiasa sendiri mbak, nanti biar adik saya Kenzo yang mengantarkan pesanan mbak Widia,'' jawab Iren sambil menyerahkan obat semprot hama kepada mbak Widia.


''Wah sekarang obatnya ganti ya mbak, soalnya kemaren warnanya hijau, sekarang ganti warna putih?'' Ucap mbak Widia sambil menunjukkan obat hamanya pada Iren.


''Iya mbak, soalnya yang hijau kemaren meletus, jadinya hati penjualnya sangat kacau. Akhirnya diganti deh sama warna putih,'' Iren menjawab dengan menahan tawanya, namun lama-kelamaan tawanya tak mampu ia tahan lagi dan akhirnya pecah. ''Hahahahhaah,'' Iren tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi wajah mbak Widia. Karena gemas dengan jawaban Iren, mbak Widia sampai memukul paha Iren.


''Duh...duh..duh, mbak Iren itu ya! Benar-benar menjengkelkan, saya lagi tanya serius malah jawabnya bercanda mbak,'' ucap mbak Widia setelah ia kecapean tertawa.

__ADS_1


''Hidup jangan terlalu dibawa serius mbak, bawa santai saja. Nanti kalau terlalu serius malah cepat tua, Mas Wahyu bisa-bisa kawin lagi mbak,'' ucap Iren yang masih berusaha mengendalikan tawanya sambil menunjuk seorang laki-laki yaitu suamkli mbak Widia yang sedang memarkirkan motornya itu


''Kalau jadi aku, pasti Iren sudah kupukul habis-habisan mbak. Bisa-bisanya mbak Widia dikerjain sama Iren,'' ucap Mira yang datang tiba-tiba tanpa terdengar langkah kakinya dari arah samping.


''Diih, jahat sekali anda ini. Nanti anda berdosa lo, hahahhah,'' entah kenapa hari ini Iren merasa sangat ingin terus tertawa.


''Haiis kau ini memang minta dipukul kok,'' Mira memukul lengan Iren dengan pelan. Lalu menyerahkan sebuah kotak makanan.


''Tumben baru kesini? Biasanya dari pagi sudah mengganggu tidurku ha?'' Iren gantian hendak memukul pelan sahabatnya itu, namun Mira dengan cepat bisa menghindarinya. Mbak Widia pun berpamitan, karena suaminya sudah menunggunya sedari tadi.


''Kak Hafiz sudah balik lagi ke desa belum Mir?'' Iren bertanya pada Mira sebab sejak sebulan yang lalu Iren belum lagi melihat Hafiz.


''Besok mungkin, kenapa? Sudah rindu kah sama kakakku? Makannya jadi kakak iparku saja, biar nanti kak Hafiz nggak pergi-pergi lagi,'' Mira menyenggol bahu Iren sambil mencandainya.


''Lalu Alif mau kutaruh dimana jika aku sama kak Hafiz?'' Iren ikut menanggapi candaan Mira.


''Gudang noh, taruh saja sama pupuk-pupuk yang dibelakang, kwwkwkwkwk'' ucap Mira dengan puas.


Hari semakin sore, Mira sudah pamit terlebih dahulu karena ia harus menjemput Mura yang tadi ia titipkan di rumah bibinya.


''Kenzo kemana sih? Lama sekali datangnya. Katanya mau kesini jam empat,'' Iren menggerutu sambil mengangkat beberapa karung pupuk pesanan mbak Widia. Dan tak lama kemudian Kenzo datang dengan mobil bak terbuka.


Semua pupuk pun sudah ditata di belakang.


''Ayo kak, setelah mengantar pesanan ke mbak Widia, kita bisa pulang bareng,'' ucap Kenzo.


''Enggak bisa Ken, kakak mau pergi dulu ke tempat lain, soalnya ada barang yang harus kakak beli. Kamu antarkan saja pesanan mbak Widia, terus pulang saja,'' ucap Iren. Karena ia harus membeli kado untuk Alif sebab besok adalah hari ulang tahunnya Alif. Akhirnya Kenzo pun meninggalkan kakaknya sendirian. Dan Iren pun kemudian mengunci tokonya lalu pergi ke tempat yang akan di tuju.


Namun sebelum sampai ke tempat itu saat ia hendak menyeberang, karena tokonya yang akan ia datangi di seberang jalan. Namun tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik tangan Irene yang mengehentikan langkahnya.

__ADS_1


''Kau, bagaimana kau bisa ada disini? Dan kau kenapa menarikku?'' Ucap Irena pada seseorang itu.


''Aku ingin berbicara denganmu sebentar saja,'' ucap orang itu yang tak lain adalah Yao yao ( ingat kan you yao yang di akuin sebagai adik oleh mantannya Iren yaitu Dafa. Namun ternyata mereka adalah selingkuhan.)


''Untuk apa kau mau berbicara denganku? Bukahkah seharusnya kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi?'' Ucap Iren yang tidak suka dengan kehadiran Yao yao.


''Tentu saja ada,'' Yao yao memandang Irena dengan tatapan misterius.


''Apa kau tidak ingat setelah kau putus dengan Kak Dafa, Kak Dafa juga memutuskanku, bahkan menjauhiku. Melihatku dengan jijik. Bahkan keluarganya juga ikut-ikutan menjauhiku. Padahal kami seharusnya menjadi pasangan, karena aku adalah tunangannya sejak kecil. Gara-gara kehadiranmu semua milikku jadi hilang, rencana-rencana yang sudah kami susun pun jadi berantakan!'' Yao yao berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke dada Irena.


''Aku rasa itu sudah tidak ada hubungannya denganku bukan! Lagi pula, semua itu bukankah karma kehidupan untukmu yang sudah menghancurkan kebahagiaanku dan menjadi selingkuhan Dafa?'' Iren menyingkirkan tangan Yao yao.


Karena tidak terima, Yao yao pun menarik tangan Irena.


''Jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan maka kau pun juga tidak akan mendapatkannya. Bukankah lebih bagus jika kita mati bersama Ren? Hahahaha....,'' ucap Yao yao tertawa seperti orang gila.


''Kau gila ya! Jangan menarik tanganku...'' Namun belum selesai Iren berbicara.....


BRAAAAK.....


Kira-kira apakah yang terjadi sebenarnya?


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2