
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Apa kau yakin nak Alif?'' Pak Bayu memegang pundak Alif, hingga membuat Alif menoleh ke arah pak Bayu. Netranya terlihat sayu dan sendu lalu kemudian ia alihkan pandangannya ke arah ranjang yang kini ditempati oleh kekasih hatinya itu. Alif menarik nafasnya dengan panjang lalu dengan yakin iya berkata,
''Yakin pah!'' Ucap Alif.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun tersenyum bangga sekaligus lega. Dan tanpa mereka sadari lagi, air mata Iren kembali menetes membasahi ujung matanya.
''Lihatlah Ren, Alif masih akan menikahimu meskipun dalam keadaan seperti ini. Tidakkah kau merasa tersentuh dengan ketulusannya Ren? Tidakkah kau ingin membuka matamu lalu berlari memeluknya Ren? Kau ini benar-benar menyebalkan Ren! Aku ingin sekali memukulmu dan memarahimu habis-habisan. Tapi percuma juga kalau sekarang, yang ada aku akan seperti orang gila karena marah-marah sendiri dihadapan orang yang sedang tidur,'' Mira berkata pada Iren, namun kemudian ia langsung menangis mengingat semua kebersamaannya bersama sahabatnya itu.
Arsen yang melihat Mira menangis, langsung menghampirinya, dan memegang pundak Mira.
''Kenapa kau malah menangis? Seharusnya kau merasa bahagia Mir, sahabatmu akan menikah beberapa hari lagi, jadi kau tidak boleh bersedih lagi. Kau harus mempersiapkan keperluan Iren, Kau yang akan menjadi penanggung jawab atas tampilan Iren saat ia menikah nanti. Aku ingin saat menikah, adikku tampil secantik mungkin, sampai orang-orang merasa pangling atas perubahannya itu, OK!'' Ucap Arsen yang mencoba menghibur Mira supaya tidak merasa sedih lagi. Mira pun tersenyum mangangguk, sambil mengelap air matanya yang membasahi pipinya.
''Lalu bagaiman dengan pak Dani, pak Bayu? Apakah beliau bisa hadir di pernikahan anak kita nanti?'' Hasan tiba-tiba bersuara saat menyadari ketidak hadiran papa kandungnya Iren.
''Dia mungkin akan sibuk sendiri dengan istrinya paman, siapa yang nggak tahu sikap dan sifat istrinya yang menyebalkan itu. Pasti dia akan membuat paman Dani tidak bisa menghadiri pernikahan putrinya nanti, pasti dia akan beralasan sakit mata, sakit perut, sakit gigi dan sakit-sakit lainnya. Heran Mira orang lain punya hobi naik sepeda, membaca travelling, tapi dia, malah hobinya sakit. Lihat saja nanti!'' Ucap Mira dengan kesal.
''Mira,'' pak Bayu menyentuh pundak Mira untuk menenangkannya. Meskipun benar adanya apa yang diucapkan oleh Mira, tapi biar bagaimana pun mereka tetap harus di ajak bicara dahulu, entah mau datang atau tidak, itu urusan mereka bukan?
''Nanti biar saya yang akan datang ke rumah pak Dani ditemani putra saya Arsen pak, saya akan berbicara langsung dengan pak Dani, semoga saja beliau bisa menghadiri pernikahan putri satu-satunya nanti,'' ucap pak Bayu.
Mendengar perkataan pak Bayu, Mira pun mendekat lalu berkata, ''Aku akan ikut dengan paman besok,''
__ADS_1
''Lebih baik paman datang sama Arsen saja Mir, takutnya kau nanti malah membuat keributan,'' ucap Ranty.
''Biar saja Bi, bila nanti tu si Lidiya berbuat macam-macam, bisa langsung Mira sikat sekalian. Mira tu bener-bener sudah emosi melihat kelakuan mereka bi, yang satunya cemburuan dan pengen menang sendiri merasa benar sendiri, yang satunya tidak bisa mengambil sikap dan selalu takut pada istrinya. Sumpah, rasanya ingin sekali aku menghajar mereka, kalau saja mereka bukan orang tua sahabat aku bi, sudah ku cekek habis mereka!'' Ucap Mira dengan kesal.
''Kau ini gadis adiknya Hafiz apa anak mafia yang ketuker sih Mir, apa-apa cekek, apa-apa pukul. Heran aku, bagaimana bisa Dimas bisa sabar menghadapi istri yang bar-bar sepertimu.'' Arsen menggelengkan kepalanya setelah mengucapkan kata tersebut.
''Mana ada aku bar-bar kak! Aku itu perempuan yang berhati lemah lembut pengertian dan penyayang ya! Hanya saja, jika ada yang membuat Mira jengkel dan sebal, baru Mira bertindak. Apa lagi sampai membuat orang-orang yang Mira sayang menderita. Hem! Jangan harap mereka bisa tidur nyenyak makan enak! Lagi pula Dimas itu sayangnya lahir batin kak. Jadi, tentu saja dia dengan senang hati menerima kelebihan dan kekurangan Mira. Lagi pula, dia sudah sangat bersyukur sekali memiliki istri sepertiku kak, karena tidak ada orang yang akan berani menindasku,'' ucap Mira dengan percaya diri, membuat semua yang mendengarnya tertawa.
..................•>♧<•.................
Keesokan paginya, semua orang sudah mulai sibuk mempersiapkan pernikahan Iren dan Alif. Keluarga Alif juga sudah datang ke desa semua, termasuk adiknya Oliv yang baru sembuh. Oliv sangat antusias mendengar kakaknya akan menikah sebentar lagi, apa lagi ia sangat menyukai Iren yang akan menjadi kakak iparnya kelak. Sedangkan Alif, ia masih setia menemani Iren di rumah sakit.
Rencananya hari ini Pak Bayu, Arsen dan Mira akan pergi ke rumah pak Dani, untuk membicarakan pernikahan Iren dan Alif.
''Yang, ingat pesan aku ya! Jangan membuat keributan di rumah paman nantinya!'' Dimas memberi ultimatum pada istrinya sambil menggendong Mura. Ia sedikit khawatir, mengingat istrinya dan bibi Lidiya tidak pernah akur.
''Kantong plastik?'' Dimas bingung mendengar ucapan Mira.
''Iya, jika sampai aku membunuh bibi Lidiya, aku pastikan akan memasukkannya ke kantong plastik dulu biar tidak ketahuan orang, lalu membuangnya mayatnya jauh ke laut,'' ucap Mira dengan santai.
''Mira Husnaini!''
Dimas berteriak, lalu memeluk istrinya dengan erat dan menciumi pipinya dengan gemas.
''Ampun Yang, hahahahahaha,'' Mira merasa geli karena saat Dimas menciumnya, pipinya terkena kumis Dimas yang baru saja di cukur.
__ADS_1
''Oy....!'' Bisa tidak, kalau bermesraan itu di dalam rumah. Ini malah di luar rumah. Apa nggak malu dilihatin orang yang lewat,'' Tiba-tiba terdengar suara Arsen yang berseru, membuat Mira dan Dimas terkejut dan menghentikan kegiatan mereka seketika.
''Kenapa harus malu, lagi pula kami kan bukan zina! Kami sudah sah tahu! Memangnya kakak, yang selalu mempertahankan status jomblonya terus. Hwleeeek...'' Mira mengejek Arsen sambil menjulurkan lidahnya.
''Mira...'' ucap pak Bayu yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mira.
Mendengar suara pak Bayu, Mira langsung diam seketika dan langsung bersembunyi dibelakang badan suaminya. Arsen yang melihat tingkah Mira pun langsung tertawa terpingkal-pingkal.
''Rasain! Siapa suruh tadi kau mengejekku. Lihatlah! Sekarang malu kan dilihat sama papa, hahahahaha,'' Sepertinya Arsen tertawa sangat puas melihat Mira yang saat ini malu sendiri dengan tingkahnya tadi.
''Sudah...sudah! ayo cepat kita berangkat sebelum siang. Nanti takutnya kita pulangnya kemalaman,'' ucap pak Bayu.
''Baik paman,'' Mira pun berpamitan pada suami dan anaknya, kemudian berlalu pergi bersama pak Bayu dan Arsen meninggalkan rumahnya.
...-...
...-...
...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...
...👍like...
...❤ pavorit...
...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...
__ADS_1
...Terimakasih...