Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 17: Mura dan keceriaannya


__ADS_3


💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮


Dengan kedatangan Mira sekeluarga dan Alif, membuat Irena sejenak melupakan kesedihannya. Ia bahkan tidak sempat memegang ponselnya karena hanya ingin fokus merawat mamanya agar bisa segera sembuh. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan lebih menyayangi mamanya. Dan sekarang mamanya tidak akan merasakan kesakitan lagi.


''Semoga mama bahagia selalu di sana mah, Iren janji, Iren akan selalu bahagia di sini. Jangan khwatirin Iren lagi mah, Iren juga akan berusaha memaafkan papa. Benar kata mama, biar bagaimana pun, papa tetaplah papa kandung Iren,'' Batin Irena.


Karena terlalu malam, akhirnya Mira dan suaminya menginap dan juga Alif. Lagi pula, Mira masih ingin menemani sahabatnya itu, jadi pulangnya pun di undur dulu. Karena mereka berangkat satu mobil, Alif pun harus ikut menginap juga.


Makan malam tiba, rumah terasa ramai sebab Mura dari tadi asyik berlari-larian dengan Kenzo. Ya, jika berkunjung ke rumah ini, Kenzo dan Mura sangat senang. Meskipun usia mereka terpaut 17 tahun. Namun mereka seperti kakak adik yang selalu bercanda tiap kali bertemu.


Di meja makan Irena terlihat melamun. Mira memanggil putrinya untuk membantu menghibur mama angkatnya. Dan dengan suara imutnya Mura berkata...


''Mami!...Mami!'' Iren terkejut mendengar suara Mura yang sudah berdiri di sampingnya. Ia pun meletakkan sendoknya, lalu menoleh ke arah gadis kecil itu.


''Ada apa anak manis? Kenapa memanggil-manggil mami? Bukankah tadi kamu sedang bermain dengan paman Ken mu?'' Ucap Irena, lalu mengangkat Mura untuk ia pangku.


''Paman Ken jahat mam, tadi paman Ken menggigitku! Kan kita nggak tau paman Ken menderita rabies atau tidak,'' Gadis kecil itu berceloteh menceritakan kejadian saat ia sedang bermain dengan Kenzo tadi. Meski suaranya masih sedikit cadel, tapi bagi orang terdekatnya pasti sudah mengerti apa yang di ucapkan gadis kecil itu.


''Mana ada! Memangnya aku keturunan anjing, itu boong kak, jelas-jelas tadi dia yang menggigitku. Kenapa sekarang malah menuduhku. Benar-benar gadis kecil yang licik. Pasti mamamu yang mengajarimu kan?'' Kenzo pun tak mau mengalah. Astaga Benar-benar tidak bisa membedakan mana yang kecil dan mana yang besar.


''Apa katamu!'' Tiba-tiba dari arah belakang Mira menjewer telinga Kenzo, saat mendengar namanya di sebut-sebut.


''Aaaaaaaaaaa.....!'' Sakit...sakit! lepas,'' Kenzo berusaha melepaskan jeweran Mira.


''Rasain! Siapa suruh menindas putriku, dan masih mau menindasku huuuh!'' Ucap Mira lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil beberapa potongan buah untuk putri kecilnya.


''Sudah....sudah!'' Kalian ini selalu saja ribut tiap kali bertemu. Padahal kalau lama tidak bertemu katanya ''Pah, kok Mura nggak ke sini lagi ya, pah kira-kira kapan Mura ke sini?'' Ejek pak Bayu yang menirukan kata-kata putranya itu. Semua pun tertawa mendengarnya.

__ADS_1


''Benarkah paman Ken merindukanku kakek?'' Ucap Mura menghampiri pak Bayu yang bermaksud untuk meminta di gendong.


''Mura! Jangan minta gendong kakek! Punggung kakek masih sakit,'' Irena memberi peringatan untuk Mura lalu ia sendiri yang menggendongnya.


''Pah, kok Iren tidak melihat kak Arsen? Kak Arsen kemana pah?'' Tanya Irena.


''Arsen sudah berangkat setelah selesai ikut mengantarkan mamamu ke peristiraharan terakhirnya. Katanya ada masalah di pabriknya, jadi ia harus segera datang kesana,'' ucap Pak Bayu.


''Yaaaaah...Paman ganteng sudah pergi! Padahal Mura belum melihatnya,'' ucap Mura tiba-tiba.


''Kau curang Mura! Kau memanggil Arsen paman ganteng, tapi memanggilku paman Ken, apa gak ada sebutan spesial untukku Mura?'' Kenzo sengaja memasang muka yang memelas.


''Ada!'' Jawab Mura dengan cepat. Semua orang pun menunggu ucapan selanjutnya dari gadis kecil itu.


''Apa? Cepat katakan!'' Kenzo juga tidak sabar menantikannya.


''Nama spesial untuk paman Ken adalah...........'' Entah meniru di mana bocah ini, kata-katanya seperti sedang penilaian audisi Indonesia Idol.


''Panggilan untuk paman Ken adalah martabak manis spesial di atasnya ada topping keju dan messes, hahahahahahahaaa,'' ( Bayangin aja ya gimana anak kecil yang bicara sambil tertawa. Seperti itulah Mura sekarang.)


Ruangan makan pun pecah dengan tingkah Mura. Semua orang tertawa mendengar jawaban gadis kecil itu. Kenzo yang merasa di permainkan pun langsung merebut Mura dari pangkuan Iren lalu menggelitiki gadis kecil itu.


''Mami....hahahaha....tolong aduh geli mama, papa hahahaha,'' ucapan Mura tersela-sela dengan tawanya.


''Sudah...sudah jangan bercanda lagi. Ayo makan dulu! Nanti keburu dingin makanannya,'' sepertinya pak Bayu sedang menyelamatkan Mura supaya tidak digelitiki lagi. Kenzo pun kembali ke meja makan dan mereka pun makan bersama-sama.


☆★☆★☆★☆★


Ke esokan harinya....

__ADS_1


Pagi-pagi sekali pak Bayu sudah pergi untuk bertemu dengan kliennya. Bisnisnya di bidang furnitur membuatnya harus sering keluar. Kadang mengantar pesanan orang atau kadang juga memperbaiki perabot yang sudah usang. Karena terburu-buru pak Bayu sampai lupa membawa ponselnya.


Matahari sudah menyapa alam dan sekitarnya. Sinarnya pun menelisik di balik celah jendela yang hordennya tertiup angin. Irena yang merasa terusik oleh panasnya pun segera membuka kedua bola matanya. Di sampingnya Mira dan si kecil Mura masih tertidur setelah semalam Mura rewel karena kelelahan bermain. Kaki kecilnya mengeluh pegal-pegal. Sehingga Mira semalaman memijiti kaki kecil putrinya itu. Mungkin karena semalam ia berlari-larian dengan Kenzo.


Pelan-pelan sekali Iren bangun supaya tidak membangunkan Ibu dan anak yang masih terlelap itu. Lalu ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu turun ke bawah. Sesampainya di lantai bawah, bi Mur ( asisten rumah tangga di rumah pak Bayu ). Bi Mur terlihat kebingungan sambil memegang sebuah ponsel di tangannya. Iren pun menghampiri Bi Mur.


''Bi, ada apa? Kenapa bibi terlihat kebingungan?'' Tanya Iren.


''Anu mbak...anu, ini bapak ponselnya ketinggalan. Dari tadi bunyi terus, bibi nyari Mas Kenzo untuk minta tolong di anterin ke pak Bayu ponselnya, tapi Mas Kenzo sudah pergi juga pagi-pagi tadi,'' Ucap Bibi. Dan benar saja, ponsel pak Bayu masih saja berdering.


''Biar Iren aja yang nganterin ke papa, Iren siap-siap dulu Bi.'' Iren pun kembali lagi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya. Tak berapa lama Iren kembali ke lantai bawah lagi.


''Tapi mbak, Mas Kenzo sudah pergi dan sepertinya mbak Mira juga belum bangun kan. Lalu siapa yang akan mengantarkan mbak Iren nanti?'' Ucap Bi Mur.


''Iren bisa naik bus umum aja bi, atau pesan Taxi. Ya sudah mana ponselnya? Iren mau berangkat sekarang,'' Bibi pun menyerahkan ponsel pak Bayu. Iren pun segera keluar untuk mengantarkan ponsel pak Bayu. Tapi saat sampai di depan rumah, Iren melihat Alif dan Dimas yang sedang memperbaiki mobilnya. Iren bermaksud meminta tolong Dimas untuk mengantarkannya.


''Dim, bisa tolong anterin aku ketempat kerja papa Bayu?'' Ucap Iren.


''Maaf Ren, sepertinya aku tidak bisa. Soalnya tadi aku terpeleset dan jatuh di kamar mandi. Lihatlah! Kakiku pincang karena bengkak,'' ucap Dimas sambil memperlihatkan kakinya yang membiru dan bengkak. Iren meringis melihatnya, pasti sakit banget itu.


''Biar aku saja yang mengantarkanmu Ren, tidak apa-apa kan?'' Ucap Alif tiba-tiba. Iren pun mengangguk setuju. Dari pada ia harus berlari lagi ke halte bus yang jaraknya lumayan jauh. Dan akhirnya Alif lah yang mengantarkan Irena untuk pergi mengantarkan ponsel pak Bayu.


-


-


-


-

__ADS_1


-


Maaf apabila masih banyak kata-kata yang blepotan dan typo beterbangan. Terimakasih atas dukungannya teman-teman. Sehat selalu untuk kalian semua....😘😘😘


__ADS_2