
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Untuk apa lagi kamu datang kesini Danisha? Bukankah sudah aku bilang jangan pernah mengganggu keluargaku lagi. Aku juga belum membuat perhitungan denganmu, karena sudah berpikiran untuk membuat nama Irena tercemar!'' Ucap Alif sambil menunjuk ke arah Danisha.
''Lif, aku kesini karena di undang langsung oleh Iren. Aku tahu aku banyak salah padamu dan Irena, tapi aku sudah berusaha merubah itu semua dan meminta maaf pada Irena secara langsung. Lagi pula kami sudah berbaikan sewaktu Iren masih di rumah sakit, aku rasa kamu salah paham Lif,'' ucap Danisha.
''Di undang?'' Danisha mengangguk mengiyakan perkataan Alif. ''Hanya orang bodoh yang akan percaya ucapan pembohong sepertimu Nish,'' ucap Alif.
''Ada apa ini? Kenapa ribut sekali!'' Ucap Mira yang kini sudah berdiri dihadapan mereka sambil memapah Iren.
''Hahahahaha.....'' Suara tawa Mira pecah saat melihat keadaan Danisha saat ini.
''Danisha... Danisha, ternyata benar ya kata pepatah. Sekali kita berbuat salah, maka kita akan selamanya dianggap bersalah. Meskipun kita sudah berusaha untuk memperbaiki diri. Apalagi kamu yang bukan hanya sekali dua kali membuat kesalahan, bahkan berulang kali.
''Lihatkan sekarang, kau tahu kan apa akibatnya atas perbuatanmu dulu itu. Bahkan saat kamu sudah berusaha berubah memperbaiki diri, tidak ada yang percaya denganmu,'' ucap Mira saat melihat Danisha yang tengah dimarahi oleh Alif.
''Mira, bisakah kau jangan berbicara seperti itu pada Danisha?'' Ucap Irena sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
''Kita tidak boleh memandang seseorang hanya dari masa lalunya saja. Kita Harus melihat ke depan juga, kita harus melihat keadaannya saat ini. Jika dia sudah mau merubah dirinya untuk menjadi lebih baik, kita harus memberi kesempatan juga untuk memaafkannya dan mensuportnya,'' ucap Iren.
''Astaga Ren, sebenarnya hatimu itu tebuat dari apa sih Ren? Selalu saja berbuat baik dan dengan gampang memaafkan orang yang jelas-jelas sudah banyak menyakitimu,'' ucap Mira.
Iren pun melepaskan tangan Mira, kemudian duduk di sofa. Ia menundukkan kepalanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
''Tuhan saja maha pemaaf, masa kita yang jelas-jelas hanya hambanya tidak bisa memaafkan sesama kita. Mas Alif, Mira, semua orang punya masa lalu, kita tidak boleh terus-terusan menghakiminya atas masa lalunya. Lagi pula jika kita terus memendam amarah, akankah hidup kita tenang dan bahagia? Bukankah akan lebih baik untuk saling memaafkan dan hidup berdampingan dengan damai?.
''Aku sendiri yang mengundang Danisha untuk hadir dipernikahanku, aku ingin kita bisa memulai hubungan pertemanan kita dengan baik, bisa kan?'' Iren tersenyum memandang wajah suaminya dan juga sahabatnya itu.
Mendengar ucapan Irena, Alif dan Mira langsung ikut duduk masing-masing disebelah Iren.
...Flashback on...
Braak... ( Suara tas barang Mira yang jatuh berceceran )
Mendengar sebuah suara, Mira pun langsung menghentikan keributan mereka. Mira langsung menutup mulutnya yang terkejut melihat Irena telah sadar dari komanya. Mira segera menghubungi Dokter untuk melakukan pemeriksaan. Tidak lupa juga langsung menghubungi pak Bayu, yang kebetulan masih berada di parkiran rumah sakit.
__ADS_1
Sambil menunggu dokter Mira dan Danisha menunggu di luar ruangan tempat Iren di rawat.
''Kenapa kau masih di sini? Pulang sana!'' ucap Mira pada Danisha.
''Mir mumpung Iren sudah sadar, izinkan aku menemuinya. Please, kali ini saja. Aku mohon,'' ucap Danisha.
Tapi Mira masih tidak setuju dan akan menyeret Danisha untuk pergi dari rumah sakit. Namun baru saja Mira akan memegang tangan Danisha, tiba-tiba dokter yang memeriksa keadaan Iren, sudah keluar dari ruangan Iren. Dokter meminta Mira dan Danisha untuk masuk, karena Iren ingin bertemu dengan mereka. Mira dan Danisha pun akhirnya langsung bergegas untuk masuk ke dalam. Terlihat Irena sudah mendudukkan badannya disandaran bantal, dibantu oleh suster.
''Kenapa kalian ribut sekali? Bahkan sampai-sampai membuat orang yang koma berhari-hari bisa terbangun seketika,'' ucap Irene.
''Ini semua gara-gara Mak Lampir ini Ren! Dia yang pertama kali membuat keributan. Sudah kubilang agar jangan menemuimu, tapi dia bersikeras ingin menemuimu,'' omel Mira.
Iren kemudian memandang ke arah Danisha. Danisha masih menunduk dan tidak berani menatap wajah Irena.
''Danisha?'' Panggil Irena. Danisha pun mendongakkan kepalanya. Terlihat wajahnya sudah berurai air mata yang membasahi pipinya.
''Lho? Kenapa kamu malah menangis? Apa tadi kau dipukul oleh Mira?'' Tanya Irene.
''Enak saja, aku tidak pernah memukulnya ya. Kami hanya ribut lewat mulut saja,'' ucap Mira yang tidak terima dituduh memukul Danisha.
''Maafkan aku, maafkan atas sifat dan sikapku yang dari dulu sampai sekarang selalu berbuat jahat padamu Ren. Maafkan aku ya Ren. Aku tahu aku banyak salah dan mungkin kesalahanku ini tidak mungkin termaafkan. Tapi aku mohon, setidaknya hanya kata maaf yang bisa aku minta untuk saat ini,'' ucap Danisha.
''Eeh, apa-apaan kamu ini Nish, berdirilah! Jangan seperti itu lagi.'' Mendengar ucapan Iren, Danisha pun berdiri.
''Aku sudah memaafkanmu sedari dulu. Kita ini kan teman bukan, saling memaafkan adalah kunci damai kehidupan,'' ucap Iren.
''Benarkah kau mau memaafkanku Ren?'' Danisha kegirangan mendengar ucapan Iren.
''Telingamu nggak tuli kan?'' Sarkas Mira.
''Miraaaa,'' ucap Iren.
''Baiklah...baiklah, aku akan diam.'' Mira pun pergi ke kamar mandi karena kebelet buang air kecil.
''Baiklah kalau begitu, tapi jika memang kamu benar-benar tulus ingin dimaafkan, kamu harus datang dipernikahanku besok,'' ucap Iren.
''Tapi Ren, Alif bakal marah padaku nanti,'' ucap Danisha.
__ADS_1
''Tidak akan, percayalah! Jika dia marah, nanti biar aku marahi balik,'' ucap Irena.
...Flashback Off...
''Baiklah, aku kan memaafkannya,'' ucap Alif.
''Haaaah!'' Aku juga akan memaafkan mak lampir ini demi kamu Ren,'' ucap Mira.
''Miraaaa,'' Irena memandang Mira dengan mengode supaya jangan berbicara seperti itu lagi.
''Baiklah...baiklah, aku memaafkanmu Danisha. Sekarang duduklah,'' ucap Mira. Namun, bukannya duduk, Danisha malah menangis sejadi-jadinya.
''Haaaaaaaaaa,'' ( anggap itu suara tangisan Danisha ya )
''Eeh kenapa malah menangis, sini duduklah bersama kami,'' ajak Iren sambil menarik tangan Danisha.
''Benar kata Mira, sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa sih Ren? Aku sudah banyak berbuat salah kepadamu, dan sudah sering melukai hatimu. Tapi kamu dengan gampangnya memaafkanku, bahkan membuat suami dan juga sahabatmu memaafkanku juga. Ren, bisakah kau memberikan sepersepuluh sifat baik mu itu untukku Ren? Biar kelak aku bisa menjadi manusia baik dan berguna seperti dirimu,'' ucap Danisha.
''Jangankan sepersepuluh, bahkan 0,5 persen sekalipun juga kebaikan Iren gak bakal sampai di otak kacangmu itu,'' Ucap Mira, hingga membuat gelak tawa seketika pecah diruangan itu.
Pak Bayu tersenyum memandangi wajah putrinya. Ia kemudian pergi ke teras depan rumah. Di sana ia memandang bulan yang saat ini tengan memancarkan sinarnya.
''Mah, kau lihat bukan? Putri kita saat ini benar-benar sudah tumbuh menjadi perempuan yang sangat bijaksana, sama seperti dirimu. Bahkan pemikirannya sangat luas dalam hal mengambil tindakan dan keputusan. Apa lagi sekarang, ada Alif, laki-laki yang baik yang akan mendampinginya, merawatnya, dan menghiburnya disetiap harinya. Aku sekarang benar-benar bisa tenang melepaskan putri kita untuk bersama Alif mah,'' ucap Pak Bayu.
...-...
...-...
...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...
...👍like...
...❤ pavorit...
...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...
...Terimakasih...
__ADS_1