
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Kau tahu jelas kata maaf tidak akan mengubah kenyataan, lalu kenapa kau masih mengucapkannya!'' Iren berteriak dalam isakan. Air matanya tak dapat ia bendung kembali saat ingatan masa lalunya hilir mudik di otaknya.
Bayangan-bayangan bagaimana orang tuanya selalu bertengkar setiap hari hanya karena wanita itu. Hingga puncaknya saat Iren pulang sekolah. Ia menunggu lama untuk di jemput papanya, bahkan berulang kali Iren berusaha menelfon papanya, namun papanya tak kunjung datang juga dan tidak mengangkat telefonnya. Hingga akhirnya Iren memutuskan untuk naik bus lalu pergi ke kantor papanya.
Flashback on
Setelah sampai di kantor papanya, Iren langsung naik ke atas ke ruangan papanya. Tadinya ada salah satu karyawan lainnya yang seperti menghalangi Iren untuk masuk, namun Iren tetap tidak mau mendengarnya dan langsung masuk begitu saja.
BRAAAK!!!
Iren sengaja melempar vas bunga yang ada di meja asisten papanya, hingga membuat dua orang yang tengah bercumbu mesra menghentikan aksi mereka. Dua orang itu adalah Dani dan Eva. Dani terkejut saat mendengar suara bantingan sebuah barang. Awalnya ia hendak marah dan memaki orang yang telah mengganggunya, namun betapa terkejutnya ia saat melihat putrinya sudah berdiri di hadapannya dengan mata yang melotot dan kedua tangannya mengepal.
Dani dan Eva segera membenarkan baju-baju mereka yang berantakan karena cumbuan tadi. Dani lalu menghampiri Iren, namun Iren langsung mundur dan lagi....
BRAAAAK !! ( Iren kembali melempar vas bunga satunya lagi )
''Aaaaaaak!'' Iren berteriak, kedua tangannya menutup telinganya.
''Nak, papa bisa menjelaskannya. Ini semua tidak seperti yang kamu lihat tapi....'' Belum selesai Dani berbicara Iren langsung memotongnya.
''Bulsiit!'' Bisakah anda berhenti untuk membohongi saya!'' Iren berbicara dengan nada yang menekan, matanya memerah penuh emosi. Selama ini ia mengira kalau papa dan mamanya bertengkar hanya karena saling cemburu dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga berkurangnya komunikasi diantara keluarga.
''Ren!'' Tanpa sadar Dani pun membentak Iren.
Iren yang mendengarnya pun tersenyum sinis penuh kebencian. Ditatapnya lekat mata papanya lalu bergantian menatap wanita yang saat ini merangkul lengan papanya.
''Haaaah,'' Iren memandang rendah dan jijik wanita itu.
__ADS_1
''Anda masih berani membentak saya? Apa anda tahu, anda selalu menjadi superhero pertama bagi saya. Anda yang selalu jadi kebanggaan saya, saya mengira kalian bertengkar setiap hari karena sibuknya pekerjaan masing-masing dan kurangnya komunikasi. Tapi sekarang, ''APA?'' Mata saya ternyata buta karena selama ini selalu menganggap anda adalah panutan. Anda tidaklah lebih dari seorang PENGKHIANAT!" Teriak Iren. Dan....
PLAAAK.... ( Tamparan keras mendarat dipipi Iren, hingga membuat ujung bibirnya berdarah.)
Iren memegangi pipinya lalu menoleh ke arah papanya.
''Saya akan selalu mengingat tamparan anda ini selamanya! Dan saya pastikan, tamparan ini akan menjadi tamparan terakhir dari anda. Anda sudah banyak menyakiti hati mama saya, saya harap anda tidak lagi muncul di hadapan saya dan mama saya lagi, CAMKAN ITU!'' Iren berlari pergi tanpa melihat kanan kiri. Sampai menabrak beberapa karyawan yang sedang berjalan.
''Ren! Irena!'' Dani berusaha mengejar putrinya, namun Iren sama sekali tidak menggubrisnya.
BRAAAAK.... ( Tubuh Irena terpental hingga dua meter jauhnya.)
''Irenaaaaa!'' Dani berlari menghampiri tubuh putrinya yang saat ini berlumuran darah. Sedangkan Irena langsung tak sadarkan diri di tempat kejadian.
Flashback Off
''Ren, kumohon, kita bisa kan berbicara baik-baik Ren? Sebenarnya apa sih yang terjadi diantara kalian?'' Kesabaran Gio mulai habis karena melihat kedua orang yang dicintainya saling berselisih.
''Nak, Iren adalah putri dari atasan mama nak,'' ucap Eva dengan terbata-bata.
Bak petir disiang bolong. Mendengar ucapan mamanya, membuat kaki Gio melemas. Ia tahu kalau mamanya pernah menjadi perusak hubungan di rumah tangga orang dan menjadi penyebab anak orang hampir kehilangan nyawanya. Namun ia tidak pernah menduga kalau ternyata gadis yang hampir kehilangan nyawanya adalah wanita yang dicintainya dan keluarga yang dirusak oleh mamanya adalah keluarga gadis yang dicintainya.
''Apaaaaaa!'' ( Nulis kata ini kok kayak udah biasa tertulis di cerita novel-novel, atau di film-film ya 🤔)
''Kumohon Gi,'' ( Iren mengatupkan kedua tangannya.) "Kumohon bawa pergi mamamu dari sini, jika kamu masih menganggapku sebagai temanmu!'' Ucap Iren, lalu pergi masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Gio yang masih berdiri dalam kebisuannya.
''Nak?'' Suara Eva memanggil putranya, namun Gio sama sekali tidak menyahutnya. Air mata Eva membasahi pipinya. Ia sungguh merasa sangat bersalah. Terutama pada putranya. Ia sungguh sangat menyesal atas perbuatannya dulu, yang tak termaafkan.
"Andai waktu dapat kuputar kembali, aku pasti akan memperbaikinya. Aku akan berpikir dua kali saat akan merebut suami orang. Karena perbuatanku, banyak orang yang sudah menderita. Bahkan darah dagingku sendiri kini terluka hatinya karena perbuatanku. Namun apakah mungkin bisa ku ulang kembali? Ya Tuhan...." batin Eva.
Ia pun sejenak menutup matanya, air matanya semakin deras terasa, bahkan suara isakannya sampai terdengar, hingga membuat lamunan Gio membuyar seketika. Gio lalu menghampiri mamanya.
__ADS_1
''Kita pulang dulu ma. Gio merasa lelah,'' ucap Gio dengan nada datar, lalu membawa mamanya menaiki mobil untuk pulang ke rumahnya.
...•••>~<•°•>♡<•°•>~<•••...
Saat ini Iren menangis bersandar dibalik pintunya. Mira memeluknya sambil menepuk-nepuk pundak Iren. Mira berusaha memberinya kekuatan dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.
''Sudahlah Ren, jangan menangis lagi. Jika bibi tahu kau seperti ini, bibi pasti akan sedih melihatnya,'' ucap Mira.
''Mir, kenapa aku harus bertemu lagi dengan wanita itu Mir? Kenapa? Aku sudah berusaha menguburnya dalam-dalam rasa sakit hatiku ini Mir, tapi kenapa Tuhan mempertemukan kami lagi?'' Iren berucap dalam tangisannya yang terdengar sangat memilukan. Mira pun tak kuasa mendengarnya, dan ikut menangis, larut dalam tangisan sahabatnya itu.
''Aku yakin kau kuat Ren, kau adalah gadis yang hebat. Jangan menangis lagi ya? Kumohon? Lihatlah! Aku jadi ikut menangis karenamu. Maskara dan bedakku yang mahal jadi ikut luntur karena air mataku,'' ucap Mira dengan menunjuk wajahnya.
Iren tak kuasa menahan tawanya, karena apa yang diucapkan sahabatnya memanglah betul. Tapi bukan karena luntur, melainkan bulu mata dan lensa kontak yang dikenakan oleh Mira copot. Jadinya terlihat aneh saat dilihat. Apalagi Mira juga terdengar masih sesenggukan.
Karena mendengar suara tangisan dan keributan, si kecil Mura pun berusaha mencari sumber suara tersebut. Dilihatnya mama dan maminya menangis dalam pelukan, membuat Mura memiringkan kepalanya.
''Kenapa mama dan mami Rena menangis? Apa ada yang sakit?'' Ucap Mura dengan suara yang menggemaskan.
Mendengar suara Mura, Iren dan Mira segera menghapus air matanya, lalu tersenyum ke arah bocah kecil itu.
''Iya nih Ra, mamimu Iren terluka saat memasak tadi,'' ucap Mira yang mencoba membohongi putrinya itu.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
__ADS_1
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih