Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 16: Berduka


__ADS_3


💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮


Setelah pertengkaran hari itu, hubungan Alif dan mamanya merenggang. Mamanya kembali ke kota, dan sejak saat itu Alif belum berbicara lagi dengan mamanya. Mungkin untuk sementara biarkan mereka saling menenangkan diri dan introspeksi.


Dua bulan sudah Iren di kota. Namun belum ada kabar apa pun darinya. Bahkan Mira saja belum dihubungi hingga sekarang. Alif sudah seperti setrikaan mondar-mandir di rumah Mira untuk menanyakan kepulangan Irena. Namun hari ini, tiba-tiba Mira dan suaminya terlihat sangat buru-buru datang menemuinya di toko. Alif merasa heran, ada apa?.


''Maaf Lif, kami sangat buru-buru, bisakah aku minta tolong padamu untuk menjaga Mura sampai sore Lif?'' Tanya Mira sambil menyerahkan pula satu tas besar berisi perlengkapan Mura.


''Baiklah, aku akan menjaganya. Tapi kenapa kalian terlihat buru-buru sekali sampai-sampai meninggalkan putri kalian? Ada apa sebenarnya?'' Tanya Alif.


''Mamanya Irena meninggal Lif, kami mau takziah dulu. Aku gak tahu lagi gimana keadaan Irena sekarang. Aku sangat khawatir padanya. Kami harus secepatnya sampai di kota Lif. Mungkin malam nanti kami baru bisa pulang,'' ( jika di tanya kenapa tidak di ajak, itu karena Mira terlalu khawatir. Mura masih kecil, baginya kurang baik jika harus di ajak di tempat orang yang sedang berduka.)


''Meninggal? Sakit atau kenapa? Lalu bagaimana dengan keadaan Iren Mir?'' Tanya Alif, kelihatan sekali ia juga mengkhwatirkan keadaan Iren.


''Bibi mengidap sakit kangker otak. Ternyata selama ini bibi sengaja merahasiakannya agar tidak menjadi beban dan kesedihan untuk Iren. Kalau soal keadaan Iren, kan tadi aku udah bilang, kalau aku nggak tahu gimana keadaannya sekarang. Makannya kita buru-buru mau berangkat ini,'' ucap Mira dengan kesal.


''Aku akan ikut saja ke kota bersama kalian!'' Alif pun kembali menyerahkan Mura kepada Mira. Ia segera berlari masuk ke dalam rumahnya.


''Eeh... Tunggu dulu! Laaah kalau kamu ikut, yang jagain anakku siapa!'' Teriak Mira, namun karena sudah jauh, Alif tidak mendengarnya.

__ADS_1


''Ya sudah kita bawa saja Yang, kak Juan juga lagi pergi. Jadi dari pada gak ada yang jagain, mungkin dengan kehadiran Mura, Iren bisa sedikit terhibur,'' Dimas memberi saran agar putrinya di bawa saja. Mira masih diam, hatinya masih ragu-ragu. Tapi benar juga yang dikatakan oleh suaminya. ''Mau bagaimana lagi kan?''


Tak lama kemudian Alif datang membawa tas ransel lalu mengunci toko dan rumahnya.


''Bagaimana jika kakakmu mencarimu Lif? Kamu pergi tanpa berpamitan sama mereka,'' Tanya Mira.


''Kakakku lagi di pasar sama Oliv, tadi aku sudah menghubungi kakakku,'' ucap Alif. Mereka pun langsung berangkat ke kota.


..........


Sesampainya di sana, terlihat Irena duduk seorang diri di halaman rumahnya. Mamanya sudah di makamkan tadi pagi, jadi saat Alif, Mira dan Dimas datang, semua proses pemakaman telah selesai. Mira memberikan Mura pada suaminya. Ia lalu menghampiri sahabatnya itu.


''Ren,'' panggil Mira. Irena yang merasa namanya terpanggil, ia pun menoleh dan melihat sahabatnya di sampingnya. Iren langsung memeluk Mira. Air matanya tak mampu ia bendung lagi. Tak ada kata-kata yang terucap selain tangisan memilukan yang terdengar.


Dimas dan Alif ikut menghampiri Irena. Si kecil Mura memanggil Irena


''Mami!'' ( Mura memanggil Irena dengan sebutan Mami, karena memang Mira dan Iren yang mengajarinya. Iren juga mama angkat bagi Mura.)


''Oooh sayang, kamu juga datang nak? Biasanya mamamu nggak akan ngebolehin kamu ikut jika ke rumah orang yang meninggal,'' ucap Irena lalu meminta Dimas untuk memberikan Mura padanya. Melihat kelucuan Mura, kesedihannya seakan memudar bersama tawa bocah itu. Memang tidak salah Mira mengajak putrinya untuk ikut. Setidaknya dengan adanya Mura, Iren bisa sedikit terhibur.


''Tadinya aku nggak mau ajak Ren, aku sampai datang ke rumahnya Alif, mau minta tolong dia buat jagain Mura. Eeeh... malah dia ikutan juga ke sini,'' Mira melirik Alif yang kini salah tingkah.

__ADS_1


''Oh iya... Maaf Lif, aku tadi tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu Lif?'' Tanya Iren.


''Aku baik-baik saja Ren, turut berduka cita ya Ren, semoga Bibi tenang dan bahagia di sana.'' Tadinya Alif ingin mengatakan banyak kata-kata, tapi saat Iren di hadapannya, semua kata-kata seakan hilang entah kemana.


''Ayok masuk dulu ke dalam, biar kalian istirahat dulu. Pasti lelah habis perjalanan jauh,'' ajak Iren.


Ini pertama kalinya Alif datang ke rumah orang tuanya Irena. Ia sedikit kikuk tapi juga sangat kagum, ternyata Irena anak orang yang berada. Namun sikap dan sifatnya selalu sederhana. Bahkan saat kemaren ia bertengkar dengan mamanya, mamanya sempat mengatai Irena anak orang miskin dan tidak tahu asal-usulnya. Dan tanpa ia ketahui sebenarnya itu rumah papa sambungnya Irena.


''Siapa yang datang Ren, tanya pak Bayu dari arah dapur. Mira dan Dimas pah, ada juga teman Iren namanya Alif,'' Iren memperkenalkan Alif ke pak Bayu, karena kalau Mira dan Dimas mereka sudah kenal.


''Apa dia pacarmu Ren?'' Tiba-tiba Kenzo datang ikut menimbrung.


''Bukan? Dia itu teman sekolahku, dan juga satu desa tinggalnya. Kamu jangan berpikiran macam-macam!'' Iren segera membantahnya, ia tidak ingin keluarganya salah paham terhadap Alif. Mira yang mendengar elakan Irena, tersenyum sambil menepuk bahu sahabatnya itu.


''Yang sabar ya Lif, sepertinya kamu harus lebih keras lagi berjuangnya untuk bisa mendapatkan hatinya Iren,'' bisik Dimas yang berdiri di samping Alif. Sedangkan Alif sendiri hanya menanggapinya dengan senyuman.


''Oh iya Lif, ini papa aku, dan ini adik ku namanya Kenzo,'' ucap Irena.


''Bukan kandung tapi,'' Kenzo langsung menyelanya.


'' Kau ini!'' Pak Bayu langsung memukul kepala putranya itu. ( mukulnya pelan ya )

__ADS_1


Dengan kedatangan Mira sekeluarga dan Alif, membuat Irena sejenak melupakan kesedihannya. Ia bahkan tidak sempat memegang ponselnya karena hanya ingin fokus merawat mamanya agar bisa segera sembuh. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan lebih menyayangi mamanya. Dan sekarang mamanya tidak akan merasakan kesakitan lagi.


''Semoga mama bahagia selalu di sana mah, Iren janji, Iren akan selalu bahagia di sini. Jangan khwatirin Iren lagi mah, Iren juga akan berusaha memaafkan papa. Benar kata mama, biar bagaimana pun, papa tetaplah papa kandung Iren,'' Batin Irena.


__ADS_2