
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
''Ren?'' Mira duduk didepan Iren. Iren menarik nafasnya dalam-dalam. Luka itu sudah ia pendam beberapa tahun silam. Haruskah ia membuka kembali luka itu? Iren menatap wajah sahabatnya itu, lalu membuang nafasnya kembali.
''Jangan senam nafas Ren, kau belum sikat gigi setelah makan buah durian,'' ucap Mira memukul pelan bahu Iren. Iren yang tadinya berusaha menenangkan dirinya malah langsung tertawa terpingkal-pingkal gara-gara mendengar ucapan Mira.
''Kenapa kau menolak pernyataan cintanya Gio Ren? Bukankah Gio sosok pria yang baik? Aku juga melihatmu sudah mulai nyaman dengan kehadirannya bukan? Aku tidak bermaksud mencampuri urusan asmaramu. Tapi kau adalah sahabatku Ren. Dengan melihatmu bahagia, itu sudah sangat membuatku bahagia juga. Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku Ren? Karena aku merasa semenjak Gio bercerita tentang mamanya waktu di toko, sikapmu jadi berubah. Kau sering tidak fokus dan sering melamun. Kukira hanya aku yang merasakan perubahan sikapmu, tapi saat Gio bertanya padaku, aku pun mulai yakin, kalau ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku Ren,'' ucap Mira. Dan tiba-tiba suasana pun menjadi sangat serius.
''Tidak ada hal yang perlu aku sembunyikan darimu Mir, anggap saja, mungkin aku dan Gio tidak ditakdirkan untuk bersama,'' ucap Iren. Namun Mira melihat kedua tangannya Iren saling bertautan, menandakan kalau memang ia tengah menyembunyikan sesuatu.
''Kau sangatlah tidak pandai dalam urusan berbohong Ren. Jika kamu tidak mau mengatakannya ya sudah. Aku juga tidak akan memaksamu. Aku akan sabar menunggumu untuk menceritakannya sendiri,'' Mira memegang kedua bahu Iren dan menatap mata sahabatnya itu.
''Maafkan aku Mir, bukan maksudku untuk menyembunyikannya. Karena aku belum siap untuk menceritakannya,'' batin Iren.
''Jika nanti Gio bertanya, tolong jawab saja kalau kita mungkin tidak berjodoh. Suruh dia mencari wanita yang lebih baik dariku Mir. Aku yakin orang sebaik dan selembut Gio, pasti tidak akan susah menemukan wanita yang baik untuknya. Tolong kamu nasehati ya, supaya dia tidak mencari tahu alasanku menolaknya, karena ini demi kebaikan kita bersama,'' pinta Iren pada Mira. Mira pun mengangguk paham, mereka pun berpelukan.
''Oh ya Ren, nanti aku tidak bisa membantumu sampai sore, karena siang nanti aku harus pulang dan ikut suamiku ke kota untuk membeli bahan-bahan keperluan rumah makan Ren,'' ucap Mira.
''Tumben kau mau membantu suamimu, biasanya nggak mau tahu urusan rumah makan Mir,'' Iren menyindir sahabatnya. Sebab selama ini sangat jarang Mira membantu Dimas soal rumah makan. Dimas sendiri juga melarangnya, takut istrinya kecapean. Karena bagi Dimas, Mira mengurus putri mereka saja sudah cukup, ia sudah berjanji sebelum menikahi istrinya, ia hanya ingin membahagiakan istri dan anaknya. Ia tidak mau istrinya terlalu lelah mengurus rumah, apalagi sampai ikut bekerja. Intinya ia memang ingin memanjakan istrinya. Sebab ia melihat dulu keluarga istrinya selalu memanjakan putri mereka, ia tidak ingin saat menikah dengannya, istrinya malah menderita dan kecapekan.
''Diih menyindir. Aku memang sengaja ingin ikut tahu, aku sudah susah payah merayunya dari semalam supaya dia mau mengajakku Ren. Aku tu mau sekalian pulang ke rumah mama, mau ngecek rumah. Soalnya ada kabar kalau di sana kemaren ada yang kemalingan,'' Mira takut rumah orang tuanya yang kosong disatroni maling.
''Oh ya? Bahaya ya? Baguslah kalau kamu mau cek, takutnya rumah paman dan bibi juga disatroni maling,'' ucap Iren.
Tanpa terasa siang telah tiba, Mira dan Mura sudah dijemput oleh Dimas. Kini tinggal Iren sendirian. Saat ada pembeli, ia akan sibuk melayani. Tapi saat senggang pembeli, ia pun hanya duduk sambil memainkan ponselnya, atau menata-nata barang.
Sorenya Iren hendak pulang, namun tiba-tiba malah turun hujan. Padahal nggak mendung.
__ADS_1
''Aneh, nggak mendung kok tiba-tiba hujan ya? Mana aku nggak bawa payung lagi,'' gerutu Iren. Ia pun kembali lagi masuk ke dalam tokonya mengambil plastik yang cukup besar untuk menutupi kepalanya.
Namun saat ia hendak melangkah, ''Deg...'' terlihat seseorang tiba-tiba memayunginya dari arah belakang. Iren pun membalikkan badannya ke orang tersebut untuk melihat siapa yang memayunginya.
''Alif?'' Iren terkejut saat tahu kalau ternyata Alif yang menghampirinya dan memayunginya.
''Ayo Ren, hujannya makin deras,'' ucap Alif. Iren ingin berucap lagi, namun angin kencang disertai hujan berhembus menerpanya. Ia pun hanya mengangguk lalu berjalan bersama Alif.
Setelah sampai di rumah Iren...
''Terimakasih Lif, karena sudah mengantarkanku. Maaf ya malah merepotkanmu hujan-hujan begini,'' ucap Iren sambil mengibas-ngibaskan celananya yang kotor karena terkena cipratan air hujan.
''Tidak perlu berterimakasih Ren, kebetulan tadi aku juga sedang ada keperluan, saat melihatmu hendak menerobos hujan, makannya aku menghampirimu. Jika kamu hujan-hujanan nanti bisa sakit. Apalagi kamu tinggalnya sendirian. Kalau sakit nggak ada yang ngurus nanti, iya kan?'' Ucap Alif.
''Kau benar,'' Iren pun tersenyum. ''Mau masuk dulu Lif, kamu bisa duduk dulu di ruang tamu sambil menunggu hujannya reda,'' Iren bermaksud membalas kebaikan Alif yang telah mengantarkannya pulang. Makannya dia mempersilahkan Alif untuk masuk.
''Terimakasih Lif,'' batin Iren, lalu ia pun masuk ke dalam rumahnya.
Diperjalanan, Alif tersenyum. Sesekali ia menoleh kembali ke arah rumah Iren.
Flashback on
Saat Alif hendak pulang setelah ia membeli sesuatu, Alif tak sengaja melihat Iren yang berdiri di depan tokonya sambil menggerutu. Terlihat Iren masuk kembali seperti mencari sesuatu. Tak lama kemudian Iren keluar lagi dengan membawa plastik besar. Palstik tersebut akan digunakan Iren sebagai pelindung dari derasnya Air hujan.
''Kau akan tetap kehujanan jika memakainya seperti itu Ren,'' batin Alif.
Alif pun menghampiri Iren dan langsung memayunginya. Ada perasaan bahagia dihatinya, saat perempuan yang masih terukir jelas namanya dihati Alif, berjalan bersama dengannya dibawah payung yang sama.
__ADS_1
Flashback off
Akhir-akhir ini hujan disertai angin kencang, sering menerpa di desa ini. Bahkan ada sebagian rumah warga yang porak-poranda karena tertiup angin kencang.
Seperti pagi ini, dari semalam hujannya pun belum reda hingga membuat Iren tidak bisa ke tokonya.
Din...din...din...!
Terdengar bunyi klakson mobil dari arah depan rumah Iren. Iren pun segera membuka pintu.
''Ya ampun Mir, ngapain kamu? Anakmu malah kau ajak hujan-hujanan,'' ucap Iren saat melihat ternyata Mira yang datang bersama putrinya Mura.
''Aku bosan di rumah sendirian Ren, suamiku sudah pergi dari pagi ke rumah makan. Hujan nggak reda-reda, aku terkurung di rumah yang membosankan Ren,'' gerutu Mira.
Iren menggelengkan kepalanya mendengar alasan sahabatnya yang sampai membawa putrinya hujan-hujanan untuk datang ke rumahnya.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih