Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 42: Sidang pertama


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


Hari ini adalah sidang gugatan cerai yang diajukan oleh Alif, setelah dua minggu lalu dia mendatangi keluarga Danisha sekaligus menjenguk mertuanya yang sakit. Musyawarah sudah dilakukan, dan jalan terbaik adalah berpisah. Keluarga besar Danisha pun terpaksa menerima keputusan Alif, walau dengan segala bujuk rayu sudah mereka lakukan. Alif sendiri juga berat hati saat harus mengambil keputusan ini, tapi mengingat semua bukti tentang perselingkuhan istrinya dan juga kebohongan tentang perjodohan mereka, membuat Alif semakin yakin dengan perpisahan ini.


Ranty pun juga sudah mendukung penuh keputusan putranya. Ia pun juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai saat ini, ia tidak akan memaksakan kehendaknya apapun lagi pada putranya. Ia tidak ingin kesalahan ini terulang kembali. Sudah berapa banyak luka yang ia torehkan pada hati putranya itu. Bahkan semenjak Alif memutuskan berpisah dengan Danisha, sikapnya pun mulai berubah. Alif lebih sering melamun, makan pun tidak teratur. Ranty benar-benar merasa sangat bersalah setelah Nadia menceritakannya.


''Seandainya dulu aku mendukung penuh hubungan putraku dengan Iren pasti saat ini putraku sudah bahagia. Aku tidak akan melihatnya sering murung seperti ini,'' batin Ranty yang saat itu tak sengaja melihat putranya tengah berdiri melamun di balkon depan kamarnya. Hatinya terasa hancur, setiap mengingat semua kesalahannya.


Sidang berjalan lancar, namun harus satu kali hadir lagi untuk sidang putusan. Dari pihak Danisha hanya pengacaranya saja yang hadir. Mereka beralasan kalau Danisha sedang menjaga papanya yang sakit. Jadi semua keputusan, pengacara yang mewakilkan.


''Apa kau yakin akan melanjutkan persidangan ini Lif?'' Tanya pak Rudi, pengacara keluarga Danisha dan juga pamannya Danisha.


Alif tersenyum dan hanya mengangguk sebagai jawabannya.


''Baiklah kalau begitu, paman juga tidak bisa melarangmu. Tapi, apakah tidak bisa dibicarakan lagi baik-baik Lif? Paman rasa, Danisha itu masih muda, sikap dan sifatnya juga masih labil. Paman berharap kamu dan Danisha bisa rujuk kembali. Paman yakin kalian itu adalah jodoh yang sudah diatur oleh Tuhan,'' ucap pak Rudi, dan setelah mengucapkan perkataan itu, ia kemudian berpamitan pada Alif.


Alif menghentikan langkahnya, sejenak ia menundukkan kepalanya. Nadia yang melihatnya, langsung menggenggam erat tangan adiknya itu, Nadia berusaha memberi kekuatan agar adiknya bisa kuat dalam menghadapi ujian hidupnya saat ini.


''Aku nggak apa-apa kak,'' ( Alif membalikkan badannya menghadap kakaknya ) ''Terimakasih karena kakak selalu dukung keputusan Alif, dan kakak yang selalu ada dan suport Alif dalam keadaan apapun,'' ucap Alif dengan wajah sendu.


''Kau ini bicara apa sih Lif, ini semua sudah menjadi kewajiban kakak sebagai kakakmu. Meskipun kita tidak memiliki hubungan sedarah, tapi kakak selalu menganggapmu seperti adik kandungku sendiri Lif. Jadi apapun keadaanmu, kamu jangan pernah merasa sendirian, kakak akan selalu mendukung dan mensuport dirimu, OK!'' Nadia menepuk-nepuk pundak adiknya.


''Iya kak, Alif selalu tahu tentang hal itu kok, Alif bahagia karena Alif punya seorang kakak yang begitu menyayangi Alif,'' ucap Alif.


''Oh iya, ngomong-ngomong kapan sidang kedua akan dilaksanakan? Dan menurutmu kira-kira Nisha bakal hadir nggak disidang putusan nanti?'' Tanya Nadia.

__ADS_1


''Tadi kata pak hakim kalau nggak salah dua minggu lagi kak, dan soal Danisha yang datang atau tidak, aku juga nggak tahu kak, soalnya pengacaranya tadi juga nggak bilang apa-apa,'' ucap Alif.


...¤~¤~¤~♡~¤~¤~¤...


Pagi-pagi sekali Iren sudah berada di tokonya, karena tadi pas Iren baru bangun, ada bu Darmi tetangga yang datang karena mau membeli pupuk. Kebiasaan di desa ini, semua warganya pasti bangunnya pagi-pagi buta. Yang pria langsung ke ladang ataupun ke sawah. Sedang yang wanita akan memasak buat nanti di antarkan ke suaminya atau bapaknya yang sudah bekerja di ladang atau di sawah.


''Maaf ya nak Iren, Ibu malah bangunin kamu pagi-pagi buta. Soalnya hari ini suami ibu mau memupuk padi, tapi ibu lupa beli kemaren. Jadinya ya gini njugak deh,'' ucap bu Darmi.


''Iya nggak apa-apa kok bu, Iren malah seneng dong karena ibu mau belanja di sini. Oh iya bu, nanti biar pupuknya di antarkan sama adik Iren langsung ke rumah ibu ya?'' Ucap Iren. Namun bu Darmi malah mau membawanya langsung dengan cara di gendong. Jangan salah, meskipun wanita, di desa ini semua wanitanya kuat-kuat. Mereka dapat mengangkat puluhan kilo dengan tenaganya, karena memang dari kecil mereka sudah terbiasa melakukan pekerjaan berat seperti itu.


Contoh: Tidak semua orang di desa memiliki sumur sendiri ataupun PDAM. Jadi kebanyakan mereka mencari air di sungai yang lumayan jauh. Bahkan terkadang saat musim kemarau, sungai mengering. Mereka harus berjalan lebih jauh lagi demi bisa mendapatkan air bersih.


Setelah bu Darmi pergi, Kenzo dan Mira datang menyusul Iren.


''Iya Ren, aku juga bingung pas adikmu nelfon aku. Katanya kakaknya hilang!'' Mira menambahkan.


''Oooh, maaf ya sudah membuat kalian khawatir. Tadi ada bu Darmi yang mau membeli pupuk karena katanya tanamannya mau dipupuk hari ini. Dan dia lupa beli kemaren. Alhasil pagi-pagi tadi bu Darmi datang ke rumah,'' ucap Iren menjelaskan.


''Resiko penjual pupuk dan perlengkapan pertanian ya gini, pagi-pagi sudah diculik penjualnya,'' ucap Mira.


''Kakak pulang dulu saja, mandi dan sarapan dulu. Biar Ken yang gantiin jaga tokonya,'' ucap Kenzo.


''Baiklah, kakak pulang dulu ya. Nanti kalau kakak sudah selesai kakak kesini lagi,'' Iren pun pergi untuk pulang dulu karena tadi bangun baru sikat gigi dan cuci muka. Jadi ia belum sempat mandi.


Mira juga ikut pulang ke rumah Iren, tapi Mura ia tinggalkan bersama Kenzo. ''Biar nggak kesepian, hahahaha,'' ucap Mira dengan tertawa.

__ADS_1


''Yaaah...'' Kita ditinggal sendirian ya Mura, mamamu tega sekali sama kita,'' ucap Kenzo dengan muka yang memelas.


''Tenang saja paman, kan masih ada Mura yang menemani paman. Jadi paman tidak sendirian dong,'' Mura memeberi semangat untuk paman Ken nya itu.


Setelah sampai di rumah Iren langsung naik ke atas untuk mandi. Sedangkan Mira langsung berkutat di dapur. Sebab ia sendiri dan putrinya juga belum sarapan. Tak lama kemudian Iren turun ke bawah untuk membantu Mira memasak.


''Ren, cabenya habis. Apa perlu beli dulu ke tokonya kak Nadia Ren?'' Tanya Mira.


''Nggak perlu Mir, aku ada cabe di belakang rumah,'' Iren pun langsung menuju belakang rumah untuk memetik cabenya sendiri. Kebetulan cabenya sedang berbuah cukup lebat. Saat Iren sedang asik memanen cabenya tiba-tiba dari arah belakang....


''Sedang panen Ren?''


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2