
Danisha
💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮
Hari ini Irena akan kembali pulang ke desa bersama Mira dan Dimas tak lupa juga Mura putri mereka. Namun, kali ini Kenzo juga ikut bersama mereka. Pak Bayu yang memerintahkannya untuk sementara tinggal bersama kakaknya. Ia masih khawatir, jika Ranty akan datang mencari masalah lagi dengan Iren.
''Tapi pah, kan Kenzo ada kuliah. Iren tidak apa-apa kok tinggal sendiri. Lagi pula juga, terkadang Mira datang dan menginap kok di rumah Iren,'' ucap Iren sambil memberikan kode mata pada Mira. Bukannya nggak boleh, hanya saja ia tidak tega kalau nanti papanya tinggal sendirian dan nggak ada yang jagain.
''Iya paman, Mira janji akan sering-sering datang ke rumah Iren paman. Jika Kenzo tinggal dengan Iren, lalu bagaimana dengan paman Bayu. Nanti paman Bayu tinggal sendirian, dan gak ada yang jagain paman,'' Mira ikut membujuk.
''Kalian tenang saja, Arsen sebentar lagi juga pulang. Lagi pula di rumah kan masih ada bik Mur. Kalian jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku belum tua-tua banget, sampai-sampai tidak bisa menjaga diriku sendiri,'' ucap pak Bayu. Karena keputusan sudah tidak bisa di ganggu lagi, Kenzo pun terpaksa ikut bersama mereka. Dan soal kuliahnya sih tinggal nunggu sidang jadi gak terlalu di khawatirin.
''Ya sudah pah, kami pamit dulu, jaga kesehatan papa ya. Makan jangan lupa dan jangan terlalu di porsir kerjanya,'' Pesan Iren sebelum memasuki mobil.
''Ya, kau tenang saja. Kalian berhati-hatilah. Kenzo jangan ngebut-ngebut nyetirnya! Ingat kau sedang membawa lima nyawa!'' ucap pak Bayu. Dan mereka pun melajukan kendaraan mereka meninggalkan kediaman rumah pak Bayu.
''Jangan nangis Ken.'' Mira tiba-tiba bersuara saat melihat mata Kenzo seakan berair.
''Siapa juga yang menangis! Huuuuh menuduh!'' Ucap Kenzo dengan kesal.
''Sudah...sudah jangan ribut lagi, nanti Mura terbangun. Kasian kan baru tidur,'' ucap Dimas sambil menepuk-nepuk pelan pantat putrinya yang kini terlelap dalam pangkuannya.
••••••°°°♡°°°••••••
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai juga di halaman rumah Iren. Semua barang-barang sudah di turunkannya, dan sebagian sudah di bawa masuk oleh Kenzo. Lumayan juga ya bawa Kenzo, itung-itung dapat kuli gratis hehehehe.
''Kalian tidak mampir atau menginap dulu di sini Mir?'' Tanya Iren, karena melihat sahabatnya tidak turun dari mobil.
''Tidak Ren, lain kali saja. Soalnya kak Juan datang ke rumah. Jadi kami harus cepat-cepat pulang,''
__ADS_1
''Bye...bye Ren, besok kalau nggak kecapean aku akan datang ke rumahmu!'' Ucap Mira yang suaranya makin menjauh seiring melajunya mobil.
''Bye...bye.....'' Irena masuk ke dalam membawa ransel miliknya. Rumahnya sudah penuh dengan sarang laba-laba dan debu di mana-mana.
''Baru juga 3 bulan aku pergi, ini rumah sudah seperti sarang hantu,'' ucapnya lalu pergi ke lantai atas untuk menaruh tasnya.
''Kau sedang apa Ken?'' Tanya Iren saat melihat adiknya itu tengah memandangi sesuatu di balkon kamarnya.
''Kak! Sini cepetan,'' ucap Kenzo.
''Ada apa sih? Tinggal ngomong aja ribet banget,'' jawabnya, tapi tetap saja menghampiri adiknya.
''Lihatlah di bawah dekat pohon itu! Itu orang bukan sih kak? Apa hantu?'' Kenzo menunjuk seseorang yang sedang berdiri menatap rumah Irena. Iren pun berusaha untuk bisa melihatnya dengan jelas.
''Alif!'' Ucapnya, lalu pergi meninggalkan adiknya begitu saja.
''Kak!...Kakak! Jangan tinggalin aku!'' Teriak Kenzo, lalu segera menyusul kakaknya.
''Alif,'' ucap Iren, setelah sampai di depan Alif.
''Iya Ren, aku datang ke sini untuk bertemu denganmu. Ada suatu hal yang ingin ku bicarakan denganmu,'' ucap Alif.
''Suatu hal apa! Bagaimana kau tahu kalau kakakku akan pulang hari ini?'' Ucap Kenzo yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Irena.
''Ken, masuklah dulu!'' Irena tidak ingin ada keributan lagi. Ia pun meminta Kenzo untul masuk dulu ke dalam rumah. Ia takut, jika Kenzo masih di sini, malah akan mendatangkan keributan.
''Tapi kak....''
''Sudah, menurutlah! Masuklah dulu lalu masakkan kakak mie rebus telur.'' ucap Iren. Dengan terpaksa Kenzo pun menuruti kakaknya dan masuk kembali ke dalam rumah. Namun sebelum ia pergi....
''Ingat ya Lif, jika kamu membuat kakakku menangis lagi...'' Belum selesai Kenzo berbicara, Iren sudah mendorong adiknya itu hingga menjauh.
__ADS_1
''Maafkan sikap adikku tadi ya Lif, ku harap kau tidak memasukkannya ke dalam hati,'' ucap Iren.
''Tidak apa-apa kok Ren, wajar jika Kenzo bersikap seperti itu. Mengingat kejadian terakhir itu, pasti ia sangat khawatir padamu,'' ucap Alif.
''Ekheem...'' Ngomong-ngomong ada apa kamu mencariku?'' Tanya Iren.
''Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas sikap mamaku waktu itu Ren, dan juga, aku ingin bilang kalau aku akan segera bertunangan dengan Danisha.''
....DEG....
Ada yang hancur tapi bukan kaca, ada yang patah tapi bukan kayu.
''Oooo....'' Selamat kalau begitu. Semoga kamu bahagia dan langgeng sampai tua bersama Danisha,'' ucap Irena. Saat ini rasanya ia ingin segera pergi dari sini. Entah sampai kapan ia bisa menahan air matanya lagi.
Namun, tiba-tiba Alif memeluknya...
POV Alif
Saat aku tahu hari ini ia akan pulang, hatiku sangat bahagia sekali. Ingin sekali aku segera menghampirinya, namun setelah ku lihat beberapa orang yang kini tengah duduk di ruang tamu. Membuat semua kebahagiaanku seakan lenyap seketika.
Hari ini keluarga Danisha datang ke rumah kakakku untuk bertemu denganku dan keluarga. Mereka akan menentukan tanggal pertunangan kami, setelah kemaren aku menyetujuinya. Seandainya aku bisa menolak, pasti sudah aku lakukan dari dulu, namun karena rasa baktiku terhadap orang tuaku yang malahirkan dan membesarkanku. Membuatku tak berdaya untuk menolaknya.
Setelah kepergian mereka, aku pun segera bergegas pergi ke rumahnya. Kupandangi gadis yang sangat aku cintai itu lewat kaca jendela yang masih terbuka. Kulihat gadis itu tengah berbicara dengan adiknya sambil membawa tas ransel miliknya. Hingga akhirnya dia pun melihatku karena adiknya yang menunjukannya.
''Alif..'' Ucapnya saat ia sudah berdiri di hadapanku. Ingin rasanya aku langsung memeluknya dan mengatakan kalau aku sangat mencintainya. Tapi saat melihatnya, mulutku seakan membeku mengingat saat-saat mamaku menamparnya dan memakinya.
Terlihat juga adiknya masih marah padaku. Wajar sih, karena mengingat terakhir kali kakaknya di sakiti oleh mamaku dan aku yang tak bisa berbuat apa-apa. Iren menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah, karena memang ada yang harus aku bicaraka. berdua dengan Iren.
Saat ia bertanya kembali padaku karena aku mencarinya, aku jadi bingung harus berkata apa. Aku memejamkan kedua mataku. Aku berusaha menguatkan hatiku lalu berkata...
''Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas sikap mamaku waktu itu Ren, dan juga, aku ingin bilang kalau aku akan segera bertunangan dengan Danisha.''
__ADS_1
Saat mengatakan itu, rasanya hatiku juga ikut hancur, terlebih saat mendengarnya mengucapkan selamat atas pertunanganku dengan Danisha. Aku tak dapat menahan lagi air mataku. Ku hampiri dirinya dan aku langsung memeluknya...