Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 34: Kapal pecah


__ADS_3


...🌸 Selamat Membaca, Sehat selalu ya 🌸...



Dari semalam, setelah Nadia keluar kamar, Alif langsung mengunci pintunya. Bahkan hingga pagi, Alif belum juga keluar kamar. Nadia khawatir jika adiknya akan berbuat hal yang aneh-aneh. Bahkan dari tadi ia mengetuk pintu saja tidak ada sahutan.


''Ada apa mah, pagi-pagi kok udah ribut panggil-panggil dan ketok-ketok kamar Alif?'' Tanya Iman, suami Nadia.


''Alif Mas, dari semalam dia belum makan. Aku sudah panggil-panggil, dah ketok-ketok dari tadi tapi tidak ada sahutan apapun dari dalam. Aku takut kalau Alif bakal buat hal yang aneh-aneh,'' ucap Nadia.


''Dari semalam?'' Tanya Iman.


''Iya Mas,'' jawab Nadia.


''Kita beri waktu dulu buat Alif, supaya pikirannya tenang mah. Aku yakin kok, Alif nggak akan berbuat yang macam-macam. Alif sudah dewasa, dan pastinya sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Lebih baik kamu ambilkan makan sekaligus minumannya. Nanti taruh saja di depan kamarnya,'' ucap Iman, lalu pergi meninggalkan istrinya yang masih bengong dengan perkataan suaminya.


''Mas benar, seharusnya aku memberi ruang buat Alif berpikir dan menenangkan hatinya. Tapi Mas, kamu tahu sendiri kan bagaimana perasanku sejak semalam, aku sangat khawatir pada adikku Mas,'' ucap Nadia.


''Apa sebaiknya kira panggil Iren saja ya Mas? Mungkin dengan kehadirannya, Alif bisa lebih semangat lagi,'' ucap Nadia.


''Jangan! Lebih baik kita tunggu saja sampai Alif keluar sendiri dari kamar. Lebih baik kamu ambilkan dulu makanannya, setelah itu kita bisa berdiskusi lagi soal Alif,'' ucap Iman. Bukan maksud apa-apa, hanya saja jika dia membiarkan istrinya membawa Iren kemari, nanti apa kata orang jika melihatnya? Yang ada malah disangkanya Iren orang ketiga dalam hubungan Alif dan Danisha. Ia tidak ingin melibatkan Iren dalam masalah yang sedang mereka hadapi. Terkadang apa yang menurut kita baik, belum tentu baik pula di mata orang.


Nadia pun menuruti apa yang di katakan oleh suaminya. Setelah membawakan makan dan minum yang di taruh diluar, Nadia pun memanggil adiknya.


''Lif, makan sama minum kakak taruh di depan kamarmu. Kamu keluar ambil ya kakak sama Mas Iman mau ke kota untuk ketemu mama dan papa!'' Teriak Nadia dari luar kamar.


Nadia juga sudah menelfon Dimas, agar datang ke rumahnya. Nadia berharap Dimas bisa menghibur adiknya itu. Dan tak lama kemudian Dimas datang.


''Sendirian Dim? Dimana Mira?'' Tanya Nadia celingukan mencari keberadaan Mira.


''Mira lagi ada di rumah Iren kak, sejak tadi pagi,'' Jawab Dimas.

__ADS_1


''Oooo,'' ucap Nadia.


''Apa Alif masih di kamarnya kak?'' Tanya Dimas.


''Iya Dim, makannya kakak minta tolong kamu supaya kamu bisa bujukin Alif, Dim. Kakak khawatir padanya, sejak semalam dia belum keluar kamar sama sekali,'' ucap Nadia.


''Baik kak, Aku akan berusaha membujuknya dan menghiburnya,'' ucap Dimas.


''Baiklah kalau begitu, kakak juga mau pamit. Kakak dan Mas Iman mau ke kota dulu. Mau berbicara dengan mama papa. Kakak nitip Alif ya Dim? Nanti kalau ada apa-apa tolong kamu langsung kabari kami,'' ucap Nadia. Dimas pun mengangguk paham.


Setelah kepergian Nadia, Dimas pun kemudian naik ke lantai atas kamarnya Alif. Ia sudah mengetok-ngetok pintu kamarnya, namun sama sekali tidak ada sahutan dari dalam kamar. Dimas tersenyum setelah mendapatkan ide. ( Jangan salah, sebenarnya Dimas dan Mira itu 11~12 sama-sama jahil dan abstrak tingkahnya. Hanya saja setelah memiliki anak, sifatnya Dimas sedikit kalem.)


Tak kehabisan ide, Dimas pun memanjat dari samping kamar Alif melalui pohon yang ada di depan kamarnya, lalu masuk lewat jendela yang entah sebuah kebetulan ataukah keberuntungan Dimas, jendela itu tidak terkunci. Alhasil ia bisa masuk lewat jendela itu.


Setelah bisa masuk, Dimas dibuat terkejut dengan keadaan kamar Alif. Satu kata yang pasti ''Kapal pecah!'' Bingkai foto dan kaca berserakan, robekan foto-foto pernikahannya dan kebersamaannya selama ini dengan Danisha. Dan baju-baju yang berhamburan di lantai, sepertinya bajunya Danisha.


Tapi Dimas sama sekali tidak melihat keberadaan Alif. Entah kemana pria itu? Tapi saat terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, Dimas menebak kalau Alif sedang mandi. Sambil menunggu, Dimas pun membantu membereskan kamar Alif.


Jangan salah ya, walau Dimas terlihat jahil dan abstrak, tapi Dimas tipe-tipe suami yang rajin. Dilihat dari usahanya yang memiliki rumah makan, pastinya dia pintar memasak. Dan jika kita perhatikan, Mira sering pergi ke rumah Iren, siapa lagi yang akan membersihkan rumahnya kalau bukan Dimas.


Tok...tok...tok!!


''Lif! Kau mandi apa bertelur? Kenapa lama sekali!'' Teriak Dimas.


Namun tidak ada sahutan dari dalam. Khawatir terjadi apa-apa pada Alif, Dimas pun mengambil obeng untuk membuka engsel pintu itu. Setelah berusaha cukup lama, akhirnya pintu pun terbuka. Namun Dimas dibuat terkejut saat melihat Alif tergeletak di kamar mandi.


''Eeh! Kok malah tidur di lantai!'' Ucap Dimas.


''Tapi, tunggu dulu...Lif!..Alif bangun Lif!'' Ucap Dimas sambil menepuk-nepuk pipi Alif. Seperti dugaannya, ternyata Alif pingsan di kamar mandi, dengan air yang masih mengalir. Sepertinya karena terlalu banyak pikiran dan kelelahan ditambah ia belum makan dari semalam. Akibatnya ia pingsan di kamar mandi.


Setelah memindahkannya di kasur dan sudah di ganti pula bajunya, karena basah, Dimas pun kemudian mengambil minyak kayu putih untuk di ciumkannya di hidung Alif.


''Lif...Lif, aku dah capek-capek bersihin kamarmu, kamu malah pingsan di kamar mandi. Kukira kau bertapa atau bertelur karena lama, eh malah pingsan rupanya,'' ucap Dimas menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


...•••••>~}•°♡°•{~<•••••...


Di tempat lain...


PLAAAAK!!!


Suara tamparan keras menggema di seisi ruangan tersebut.


''Dasar anak durhaka, tidak tahu malu! Dan ( Seisi kebun binatang keluar semua dari mulut mamanya Danisha.)''


''Mah!'' Teriak Danisha sambil memegangi pipinya yang sakit karena ditampar oleh mamanya.


''Apa! kamu sudah membuat malu keluarga! Kamu sudah membuat kami tidak punya muka dihadapan orang. Mama berusaha memberi semua yang terbaik untukmu, tapi apa yang kau buat sekarang ha! Kau malah menghancurkan nama baik keluarga kita!'' Ucap mamanya Danisha penuh emosi.


''Mah! Bukankah aku dan mama itu sama! Mama juga sering selingkuhin papa. Terus, apa bedanya aku sama mama!'' Teriak Danisha.


''Kau!'' Baru saja mamanya mau nampar lagi, tapi sudah di hentikan oleh papanya.


''Cukup! Bisakah kalian tidak bertengkar lagi...'' Ucapan papanya Danisha terputus saat ia memegangi dadanya yang kesakitan.


''Papa!...pah!'' Ucap Danisha dan mamanya. Namun papanya sudah tak sadarkan diri.


-


-


Kira-kira siapa ya? Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2