
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Arsen, pak Bayu dan Mira, kini telah sampai di halaman rumah pak Dani.
BRAAAAK..!
Suara pintu mobil yang di banting keras oleh Mira.
''Kau ini bisa pelan nggak sih nutup pintunya!'' Ucap Arsen sambil melotot ke arah Mira. Ia benar-benar gemas dengan tingkah Mira.
''Kenapa? Belum lunas ya cicilannya?'' Bukannya takut Mira malah meledek Arsen.
''Kaa...au!'' Arsen langsung mengambil salah satu sepatunya dan hendak ia lemparkan ke arah Mira, namun dengan segera pak Bayu menghentikannya.
''Sudah....sudah! Bisa-bisanya kalian malah ribut. Ar, tidak biasanya kamu ribut dengan Mira? Apa sekarang kau menggantikan Kenzo yang biasanya ribut dengan Mira ha?'' Ucap pak Bayu kemudian berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.
''Tungguin Mira paman!'' Teriak Mira, karena pak Bayu sudah mulai berjalan lumayan jauh. Lalu mereka pun dengan cepat berlari menyusul pak Bayu.
Ting tooooong.... ( Suara bel pintu rumah pak Dani )
Tak lama kemudian pintu pun terbuka, namun bukan pak Dani yang membuka pintunya, melainkan seorang ibu-ibu yaitu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah pak Dani.
''Maaf, bapak mencari siapa?'' Ucap ibu itu.
''Bapak Daninya ada bu?'' Ucap pak Bayu.
''Ooo... bapak sedang pergi ke tokonya pak, yang ada cuma ibu Lidiya,'' ucap ibu itu kembali.
''Baiklah, saya ingin bertemu dengan bu Lidiya dulu, bisa tolong di panggilkan bu?'' ucap pak Bayu. Dan ibu itu pun mengiyakannya lalu masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil Lidiya.
''Kok aku baru lihat ibu itu ya paman, apa jangan-jangan asisten baru. Soalnya yang dulu sepertinya bukan ibu itu,'' ucap Mira.
__ADS_1
''Sepertinya iya, lagi pula kita kan jarang datang ke sini, jadi tidak tahu asisten lama atau asisten baru,'' ucap pak Bayu. Lama menunggu hampir setengah jam lamanya, namun tidak ada suara apapun dari dalam rumah.
''Sebenarnya ibu tadi manggilnya di dalam rumah apa di hongkong sih!'' Mira sudah mulai menggerutu sedari tadi karena Lidiya tidak kunjung keluar dari rumahnya. Bahkan mereka belum dipersilahkan untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Mereka masih berdiri di teras depan rumah pak Dani.
''Keterlaluan perempuan itu, pasti dia sedari tadi makan cemilan sambil melihat CCTV di kamarnya. Lihat saja akan ku patahkan lehernya jika sampai lima menit lagi dia tidak keluar juga!'' Mira meregangkan kedua tangannya sampai berbunyi jetutan di tiap jari-jarinya. Lidiya yang sedari tadi memperhatikan mereka lewat CCTV, pun tiba-tiba jadi merinding setelah melihat Mira. Ia pun terburu-buru mengambil sweternya lalu berlari turun ke bawah untuk menemui mereka.
Namun ternyata sebelum Lidiya sampai di bawah, pak Dani sudah pulang dan melihat pak Bayu, Arsen dan Mira yang berdiri di teras rumahnya, membuatnya terkejut.
''Lo Bay, kenapa malah berdiri di luar? Kenapa tidak masuk ke dalam? Di luar anginnya dingin Bay,'' ucap Dani.
''Istri pintarmu yang membuat kami berdiri di teras sejak satu minggu yang lalu! Apa kau tahu paman, dia sengaja tidak mau menemui kami bahkan tidak mempersilahkan kami masuk untuk duduk!'' Ucap Mira dengan emosi.
''Apa!''
Dani sangat terkejut mendengar omelan Mira. Gadis itu tidak mungkin berbohong padanya, mengingat bagaimana sifatnya, tentu saja Dani sudah sangat mengenal Mira. Tapi jika yang dikatakan oleh Mira benar adanya, istrinya kali ini benar-benar sangat keterlaluan.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Terlihat Lidiya sangat terkejut melihat suaminya ternyata sudah pulang juga. Bahkan saat ini ia melihat suaminya seperti sedang menahan amarah padanya.
''Jangan-jangan gadis sialan ini sudah berbicara macam-macam pada Mas Dani!'' Batin Lidiya.
''Eeh, Mas Dani sudah pulang ternyata,'' ucap Lidiya kemudian menoleh ke arah pak Bayu dan lainnya.
''Laah, ada tamu juga toh. Kok bibi nggak bilang ya,'' ucap Lidiya yang berpura-pura tidak mengetahui kedatangan mereka.
Mira yang mendengar ucapan Lidiya langsung memutar malas matanya.
''Dih! Dasar drama queen!'' Gerutu Mira, namun pak Bayu segera memegang pundak Mira, supaya tetap bersikap tenang sabar.
''Mari, masuk dulu semua,'' Dani pun mempersilahkan semuanya untuk masuk terlebih dahulu, ia berusaha menahan emosinya terhadap istrinya itu. Lidiya pun segera pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman dan cemilan.
''Silahkan duduk Bay, maafkan atas sikap istriku tadi ya Bay, saya harap jangan dimasukkan ke dalam hati,'' ucap Dani yang merasa tidak enak karena membuat Bayu dan lainnya harus berdiri menunggu lama dirinya.
''Iya nggak apa-apa kok Dan, lagi pula salah kami juga yang datang tiba-tiba dan tidak bilang-bilang terlebih dahulu,'' Bayu berusaha untuk mencairkan suasana yang terlihat tegang sedari tadi. Namun...
__ADS_1
''Nggak papa kok paman, Mira tidak masukin ke dalam hati kok, tapi mau Mira masukin ke dalam karung saja!'' Ucap Mira dengan sengaja saat melihat Lidiya berjalan ke arah mereka dengan membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan untuk mereka.
Lidiya yang mendengar ucapan Mira, langsung mengehentikan langkahnya seketika. Bahkan tangannya terlihat gemetaran, dan matanya terus memandang ke arah Mira.
''Ada apa bi, kenapa terlihat pucat? Apa bibi sakit?'' Mira sengaja menghampiri Lidiya dan mengambil nampan yang ada di tangan Lidiya. Lalu menyuruhnya untuk ikut duduk, namun sebelum duduk, Mira berbisik ditelinga Lidiya,
''Wah seru juga permainan bibi, bibi sangat pandai berakting bukan? Kenapa tidak jadi pemain Film saja bi? Apa bibi tahu, akting bibi masih sangat payah!'' Bisik Mira di telinga Lidiya. Lidiya langsung merasa ciut, jantungnya terdengar dag..dig..dug der. Belum lagi bagaimana suaminya akan memberinya pelajaran, ia pun dengan segera berpamitan untuk kembali ke kamar dengan alasan tidak enak badan. Mira pun tersenyum menyunggingkan ujung bibirnya setelah melihat Lidiya semakin pucat dibuatnya.
Mereka pun akhirnya mulai membicarakan pernikahan Iren dan Alif.
''Bagaimana Dan? Kau bisa hadir kan? Kasihan Iren jika sampai di pernikahan saja kau tidak bisa menghadirinya. Kali ini aku memohon padamu Dan,'' pak Bayu mengatupkan kedua tangannya lalu bersimpuh di hadapan Dani.
''Bay...Bay! Jangan begini Bay,'' Dani berusaha membangunkan Bayu supaya tidak bersimpuh lagi.
''Aku akan berusaha untuk bisa datang ke pernikahan putriki Bay, bagaimanapun halangannya. Aku berjanji padamu,'' ucap Danj dengan yakin. Bayu pun mengangguk senang mendengar perkataan Dani.
Setelah musyawarah mereka selesai, pak Bayu pun meminta izin untuk pamit pulang. Pak Bayu dan Arsen sudah berjalan ke arah mobilnya, sedangkan Mira tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
''Paman,'' ucap Mira, membuat Dani ikut menghentikan langkahnya. Dani pun menoleh ke arah Mira.
''Paman, sudah lama Iren berada di rumah sakit. Apa paman tidak ingin menemui Iren sama sekali paman? Iren sangat membutuhkan paman, tapi kenapa paman sama sekali tidak mau datang menemuinya? Apa paman tahu, paman Bayu 24 jam ia habiskan waktunya untuk menjaga Iren di rumah sakit, makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Bukankah seharusnya yang diposisi itu sekarang adalah paman Dani? Paman, paman harus tegas terhadap istri paman. Jika paman seperti ini terus, jangan salahkan Iren jika kelak di usia tua paman, Iren lebih memilih menjaga paman Bayu ketimbang papa kandungnya sendiri,'' ucap Mira.
Dani pun terdiam seketika setelah mendengar ucapan Mira. Tanpa terasa air matanya sudah menetes membasahi pipinya.
...-...
...-...
...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...
...👍like...
...❤ pavorit...
__ADS_1
...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...
...Terimakasih...