Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 60: Kedatangan tamu yang tak terduga


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...



''Irena....!'' Panggil seseorang pria dari arah pintu. Karena merasa ada yang memanggil, Irena dan semua orang pun ikut menoleh ke arah pintu. Disana ada seorang pria pria tampan yang duduk di kursi roda yang didorong oleh sahabatnya Mira.


''Kak Hafiz!'' Irena terkejut saat melihat sosok pria tersebut yang tak lain adalah Hafiz, kakak Mira yang sudah lama menetap di Luar Negeri. Semua orang pun berdiri, tak ketinggalan Alif pun ikut berdiri menatapnya.


...Alif: Membayangkan...


...( "Sebenarnya kakakku juga menyukai Irena sudah lama. Jika bukan karena kecelakaan itu, mungkin kakakku akan mengungkapkan perasaan cintanya setelah Iren putus dari Dafa. Terlebih jika Irena mau menerima cintanya kakakku, bisa jadi mereka akan menjadi pasangan yang serasi dan sempurna saat ini. Namun karena kecelakaan itu, membuat kakakku harus mengubur dalam-dalam perasaannya. Kak Hafiz tidak mau hanya karena rasa bersalah dan rasa kasihan, membuat Iren terbebani oleh pengakuan cintanya. Karena kak Hafiz sendiri juga tahu kalau Iren selama ini hanya menganggapnya sebagai kakak saja. Terlebih ketika saat Irena mengetahui tentang kelumpuhan kakakku, karena merasa sangat bersalah, ia langsung menawarkan dirinya untuk menikah dengan kakakku agar bisa merawat dan menjaga kak Hafiz. Oleh sebab itu, kak Hafiz memutuskan untuk pergi dan menetap di Luar Negeri, supaya Irena melupakan kejadian itu dan bisa memulai kehidupannya yang baru. )...


...Bayangan selesai...


''Maafkan aku yang telat datangnya ya Ren, soalnya aku mau memberikan kejutan untukmu, yaitu kedatangan kak Hafiz. Bagiamana? Apa kau merasa terkejut sekarang?'' Ucap Mira yang mendorong kursi roda kakaknya untuk menghampiri Irena.


Tanpa terasa air mata Irena mengalir begitu saja membasahi pipinya. Ia pun hendak menghampiri Hafiz, namun langkahnya terhenti karena Alif menggenggam salah satu tangannya. Irena pun menoleh ke arah Alif, dilihatnya Alif menggelengkan kepalanya.


Seperti ada rasa ketakutan tersendiri dihatinya Alif, atas kedatangan Hafiz. Apa lagi saat melihat mata Irena yang mulai memerah menahan air mata. Alif takut, jika Irena akan pergi bersama Hafiz dan membatalkan pernikahan mereka. Ia teringat jelas dengan perkataan Mira waktu itu, saat menceritakan tentang Irena semasa masih tinggal di kota. Hafiz lah yang selalu menjaga Iren, dalam keadaan apapun. Bahkan saat Iren dikhiyanati oleh mantan pacarnya pun, Hafiz juga yang menghiburnya dan yang membantunya hingga kecelakaan itu terjadi.


Irena pun segera menepis tangan Alif dan menghapus air matanya. Alif merasa sangat kecewa saat genggaman tangannya ditepis oleh Irena. Terlebih lagi saat ia melihat orang yang dicintainya langsung memeluk pria lain dihadapannya. Alif hendak meninggalkan ruangan tersebut, namun Dimas langsung menahan dengan memegang salah satu tangan Alif.


''Kamu mau kemana Lif?'' Dimas berucap setelah melihat ekpresi kekecewaan Alif yang hedak pergi meninggalkan ruangan itu. Alif tidak menjawabnya dan hendak menepis pegangan tangan Dimas. Namun dengan segera Dimas berkata, ''Tenangkanlah hatimu Lif, dan percaya pada Irena dan juga pada cinta kalian. Kau jangan langsung termakan oleh rasa cemburu hanya karena melihat kedekatan mereka,'' ucap Dimas.


Alif pun membatalkan dirinya untuk pergi, dan tetap masih berdiri menatap calon istrinya itu. Irene berjongkok dihadapan Hafiz dengan memegang kedua tangan Hafiz.

__ADS_1


''Kakak kapan pulangnya? Kenapa kakak tidak mengabariku dahulu? Seharusnya aku yang menjemput kakak,'' ucap Irena dengan berderai air mata. Hafiz tersenyum, lalu mengusap air mata yang membasahi pipinya Iren.


''Jangan menangis lagi dong gadis cantik. Bukankah ini adalah hari istimewamu? Lihatlah! Maskara dan bedakmu jadi luntur kan? kau jadi jelek sekarang. Apa kau tidak malu jika sampai dilihat oleh calon suamimu itu ha?'' ucapHafiz yang mencoba menghibur Iren. Mendengar perkataan Hafiz, Iren pun tersenyum, lalu mengambil kaca yang kebetulan ada di meja sebelahnya.


''Mana ada! Aku masih terlihat cantik kok,'' ucap Irena yang tersenyum sambil menunjuk wajahnya sendiri di kaca.


''Iya kan Lif?'' Irena juga bertanya kepada Alif. Alif tersenyum mengangguk sebagai jawabannya.


''Apa-apaan kamu ini, Bisa-bisanya memanggil calon suaminya dengan sebutan nama saja. Sama sekali tidak ada romantis-romantisnya,'' Hafiz meledek Irena yang masih memanggil Alif dengan hanya sebutan nama saja. Irena hanya memutar malas kedua bola matanya.


''Alif sendiri tidak keberatan, kenapa kakak malah yang keberatan. Nanti Iren manggilnya bukan lagi Mas, tapi suamiku tersayang. Bagaimana? Haaaah!'' Iren membalas ledekan Hafiz, semua orang yang menyaksikan mereka pun jadi tertawa, karena tingkah mereka.


''Ayo lanjutkan saja acaranya, maaf ya paman, kedatangan saya malah membuat semuanya heboh, dan kamu pasti juga merasa terkejut kan Lif?'' Hafiz mencoba berdiri, namun dengan segera Iren dan Mira membantunya dengan memapahnya.


''Sedikit,'' hanya kata itu yang keluar dari mulut Alif setelah sekian lama ia mencoba menenangkan hati dan pikirannya yang kacau balau sejak kedatangan Hafiz.


Arsen pun menganggukan kepalanya. Namun didalam hatinya ia sangat tahu jelas, bagaimana perasaan Hafiz terhadap Iren sejak dulu. Namun pikirannya langsung ia tepis tak kala melihat senyuman Hafiz yang sepertinya tulus ikut bahagia atas kebahagiaan Iren dan Alif.


''Sepertinya ia sudah mengikhlaskan cintanya pada Irena. Ku harap kelak kau akan mendapatkan pasangan hidup yang jauh lebih baik dari Iren Fiz,'' batin Arsen.


''Hai bro?'' Kenapa pulang tidak kabar-kabar? Seandainya aku tahu, pasti aku akan menjemputmu,'' Arsen menghampiri Hafiz, dan kedua sahabat itu pun saling berjabat tangan dan berpelukan.


''Aku memang sengaja ingin memberi kejutan untuk kalian semua. Tadinya malah pikirnya mau datang pas di nikahan Iren, tapi si perusuh ini yang terus memaksa untuk segera pulang,'' Hafiz berkata sambil mengusap kepala adiknya Mira.


''Mamaaaa...!''

__ADS_1


Disaat semua tengah asyik mengobrol tiba-tiba terdengar suara panggilan dari si kecil Mura.


''Mama..!'' Mura sekali lagi memanggil mamanya. Mira pun segera menghampiri putrinya yang saat ini digendong oleh suaminya.


''Waah, ponakan kesayangan paman sudah besar ya? Dan sepertinya kok lebih cantik dari yang di foto? Apa jangan-jangan yang ini palsu ya?'' Ucap Hafiz pada Mura dengan berpura-pura membandingkan wajah keponakannya dengan foto yang ada diponselnya.


''Mana ada? Aku lebih cantik, imut dan menggemaskan dibandingkan didalam foto ya paman,'' ucap Mura cemberut setelah mendengar perkataan pamannya. Mereka pun bercanda ria di acara lamaran Iren dan Alif hingga larut malam.


Terlihat semua orang sudah mulai pamit meninggalkan rumah Irena, begitu oula dengan Hafiz, Mira dan suaminya. Mereka pun juga ikut pamit untuk pulang. Arsen ikut mengantarkan Hafiz pulang, ditengah perjalanan tiba-tiba Arsen berkata...


''Sepertinya kau sudah benar-benar melepaskan cintamu terhadap adikku Fiz?'' Arsen menoleh ke arah Hafiz untuk mengetahui ekpresi Hafiz.


Hafiz pun hanya menanggapimya dengan senyuman.


''Asalkan orang yang kita pedulikan hidup dengan baik dan bahagia, itu sudah lebih dari cukup bagiku,'' batin Hafiz.


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit

__ADS_1


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih


__ADS_2