Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 39: Bertemu Kembali


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


Setelah acara perayaan kecil-kecilan ulang tahun Irena, pak Bayu dan Arsen langsung pulang kembali ke kota di antarkan oleh Dimas, sebab banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Dimas juga sekalian hendak membeli beberapa bahan untuk rumah makannya.


Iren dan Mira sedang sibuk membersihkan sisa acara tadi. Sedangkan Kenzo dapat bagian menjaga dan mengajak Mura bermain. Saat Iren mencuci piring, tak sengaja menjatuhkan piringnya hingga pecah berantakan karena terkejut setelah mendengar teriakan Mura. Iren dan Mira segera bergegas ke tempat Mura dan Kenzo bermain.


Di sana terlihat Mura sedang menangis. Kakinya terlihat berdarah. Entah apa saja yang mereka lakukan tadi sampai-sampai bisa terluka seperti itu. Dan bagaimana bisa kaki Mura berdarah?


''Kenapa dengan Mura Ken?'' Iren menghampiri Kenzo yang saat ini sedang memangku Mura dan mengobatinya.


''Tadi Mura lari-lari sampai kencang kak, lalu jatuh tersandung batu di taman,'' ucap Kenzo tanpa menoleh ke arah Iren. Terlihat Kenzo begitu lihai mengobati luka Mura dan juga sesekali meniupnya.


''Nakal kan! Dibilangi jangan lari-lari tapi ngeyel lari-lari terus! Kalau sudah begini baru bisa diam!'' Mira mengomeli putrinya namun tangannya juga langsung mengambil alih Mura dari pangkuan Kenzo. Meskipun sambil memarahi putrinya ia juga tidak bisa diam saja melihat putrinya terluka.


''Maafkan Mura mah, Mura janji tidak akan mengulanginya lagi mah! Jangan salahkan paman Ken ya,'' seketika Mura berhenti menangis dan meminta mamanya supaya tidak mengomeli Kenzo.


''Siapa juga yang mau memarahi paman Ken mu itu, mama kan sedang memarahimu! Sudah berapa kali mama bilang coba? Jangan lari-lari, kalau main yang bener. Kalau luka gini siapa yang sakit?'' Mira melihat ke arah putrinya.


''Yang sakit Mura mah,'' jawab Mura.


''Dan siapa yang susah?'' Mira masih memberikan pertanyaan.


''Yang sakit Mura, dan yang susah semua orang. Mura minta maaf mah, Mura tidak akan lari-lari lagi. ''Janji'' Mura menautkan jari kelingkingnya ke jari mamanya dengan ekpresinya yang menggemaskan. Kalau sudah bertingkah lucu seperti ini, siapa yang akan tega memarahinya coba?


''Sudahlah, mama memaafkanmu! Tapi ingat, jangan mengulanginya lagi,'' ucap Mira sambil tangannya mencari-cari perban, namun tak jua menemukannya.


''Ren, perbanmu habis?'' Mira bertanya pada Iren saat ia tidak menemukan perbannya di kotak obat.


''Benarkah? Aku juga lupa. Mungkin sudah habis Mir, tunggu sebentar ya aku cari dulu di toko.'' Iren langsung bergegas pergi ke toko milik Nadia.


''Dia ketempat kak Nadia kan?'' Ucap Mira pada Kenzo.


''Aku juga nggak tahu lah! Tapi selain toko itu, memang ada toko lain lagi kah di sekitar sini?'' Jawab Kenzo acuh tak acuh.

__ADS_1


''Iis kau ini, sama saja dengan Mura. Coba saja umurnya nggak jauh sama Mura, pasti sudah ku jodohkan kalian berdua,'' Mira berkelakar sampai tertawa sendiri.


''Diih, siapa juga yang mau punya mertua seperti dirimu, yang ada aku nanti kamu jadikan pesuruh lagi,'' ucap Kenzo membalasmu ledekan Mira.


''Masih mending mau kujadikan menantu, orang muka pas-pasan gitu, mana kerjanya sering libur lagi. Itu tanda-tanda orang pemalas,'' Hahahahahaha...( Mira tertawa terbahak-bahak )


''Aku bukannya sering libur, tapi memang kerjaku bisa aku lakukan lewat jarak jauh. Dan satu hal yang harus kak Mira tahu ya, aku ini laki-laki tertampan yang pernah ada, dan di kantor saja banyak yang suka dan menyatakan cintanya padaku hwlueeeek,'' ucap Kenzo lalu menjulurkan lidahnya sama persis seperti Mura saat meledek.


''Lihat kan! Sifat sama sikapnya persis seperti Mura,'' Mira menggelengkan kepalanya.


Disisi lain, Iren sudah sampai di toko milik Nadia. Ia sudah memanggilnya berulang kali, namun tidak ada tanda-tanda orang di situ. ''Padahal toko terbuka, dimana kak Nadia?'' Batin Iren.


Alif yang sedang beristirahat, seperti mendengar suara panggilan dari lantai bawah di tokonya. Ia pun keluar kamar untuk melihat siapa yang memanggil.


''Kak Nadia!'' Haiiis sepertinya nggak ada orang, aku kembali sajalah.'' Iren hendak membalikkan badan untuk berjalan pulang, namun dari belakang...


''Mau cari apa Ren?'' Ucap Alif.


''DEG...'' Jantung Iren serasa berhenti berdetak seketika saat mendengar suara Alif. Tidak bisa ia pungkiri, meskipun mulut dan pikirannya selalu ia tekankan untuk melupakan laki-laki itu, namun di hatinya yang terdalam tetaplah masih ada perasaan itu.


''Suara siapa itu? Sepertinya ada yang memanggil-manggil nama kak Nadia. Tapi dimana kakak?''


Alif bergegas turun namun saat sampai di tangga bawah, netranya terpaku pada sosok wanita yang kini tengah berdiri dihadapannya dan sepertinya hendak kembali pulang setelah apa yang di cari tak kunjung datang.


''DEG...''


''Irena? Eeh kenapa aku merasa bahagia saat melihatnya? Dan kenapa jantungku masih berdetak kencang?''


''Kak Nadia!'' Haiiis sepertinya nggak ada orang, aku kembali sajalah.''


''Eeh,''


''Mau cari apa Ren?'' Setidaknya kata-kata itu yang hanya bisa keluar dari mulutku, untuk bisa menghentikan langkahnya. Entah kenapa rasanya aku masih ingin melihatnya, melihatnya sedikit lebih lama.

__ADS_1


POV Author


''Alif,'' Iren merasa suasananya seperti tidak asing. Ia kembali teringat saat pertama kali bertemu setelah ia baru kembali ke desa ini. Ia pun tersenyum, lalu kembali membalikkan badannya.


''Aku mencari perban kecil untuk membalut luka, apakah ada?'' Tanya Iren dengan santai.


''Duduklah sebentar!'' ( Alif meletekkan kursi di dekat Iren.) ''Aku akan mengambilkannya dulu,'' Alif pergi kedalam untuk mengambil perban yang ada di kotak obat.


Iren tidak duduk, ia masih berdiri menunggu Alif. Tak lama kemudian Alif datang dengan membawa kotak tempat obat-obatan.


''Looh apa nggak ada yang baru kah?'' Tanya Iren, karena ternyata Alif tidak mengambil perban itu dari toko, melainkan dari dalam rumah.


''Tentu saja tidak ada Ren, perban kan adanya di apotik. tapi kamu malah mencarinya di toko sembako,'' ucap Alif sambil menyerahkan sekotak yang berisi perban-perban kecil.


''Oh iya ya, eh tapi kan disini juga ada bahan bangunan tuh, aku pikir tokonya serba ada kan?'' Iren menerimanya dan hendak menyerahkan uang pada Alif, namun Alif tidak mau menerimanya.


''Terimakasih Lif, kalau begitu aku pamit dulu,'' Iren hendak pergi tapi tiba-tiba Alif menahan tangannya.


''Ren, bisakah tunggu sebentar?'' ucap Alif. Iren tersenyum namun ia segera melepaskan genggaman tangan Alif.


''Maaf Lif, aku tidak bisa. Mura sudah menungguku. Lukanya harus segera di obati. Lagi pula, nggak baik juga kalau sampai dilihat orang. Lebih baik kita bertemu dan berbicara seperlunya saja,'' Iren pun bergegas pergi meninggalkan Alif yang masih berdiri memandanginya dengan sendu.


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2