
💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮
☆♡☆
''Tentu saja Mura selalu merindukan mami Mura yang sangat cantik dan baik hati ini ( sambil bermanja ria di gendongan Iren ), mami kita pergi ke pantai yuk! Mura mau main air mami,'' ucap Mura. Tentu saja kata-kata itu sudah di atur oleh mama dan paman Kennya.
''Ke pantai.....?'' Ulang Irena
''Iya mamiiiiii!'' Teriak Mura, sebelum di ambil oleh mamanya untuk di suapi makan.
''Sarapan dulu Ren, lihatalah! Aku sudah memasakan makanan pavoritmu. Ayo makan dulu,'' ajak Mira sambil menarik juga tangan Iren. Di lihatnya makanan sudah tertata rapi di meja dan semuanya menu kesukaan Iren.
Setelah selesai makan, Mira dan Irena membersihkan meja makan dan mencuci piring. Sedangkan Kenzo pergi bermain dengan Mura.
''Ren habis ini kita ke pantai yuk! Mura ingin main air, aku juga sudah lama tidak liburan. Setiap hari harus ngurus anak dan suami, stres dan capek, rasanya aku ingin liburan. Mumpung suamiku lagi ke kota, kita bisa pergi liburan, bagaimana menurutmu?'' Mira berusaha membujuk Iren, padahal suaminya sengaja di suruhnya untuk pergi ke rumah kakaknya.
''Baiklah, ayo siap-siap dulu....'' Belum sempat Irena selesai bicara, Mira sudah menunjukkan barang-barangnya yang sudah tertata rapi di depan pintu dan akan di bawanya.
''Sepertinya kalian sudah merencanakannya kan? Dari awal, kalian hanya butuh persetujuanku saja bukan?'' Mira, Kenzo dan si kecil Mura pun tertawa setelah Iren menyadari rencana mereka.
~°~°~°~♡~°~°~°~
Deburan ombak menyapu pasir-pasir di pantai, desiran angin menerpa rambutnya. Mura terlihat sedang asik bermain membuat istana pasir bersama Kenzo. Meskipun sering ribut, tapi kali ini mereka terlihat sangat akur.
Mira menghampiri Iren yang sedang tiduran di kursi pantai. Sambil membawa nampan yang berisi jus mangga dan cemilan ringan.
__ADS_1
''Sedang melamun?'' Ucap Mira sambil menaruh nampan minumannya di meja kecil sebelah Irena. Lalu ia pun ikut tiduran di kursi pantai satunya.
''Tidak,'' hanya itu jawaban yang keluar dari bibir manis gadis itu.
''Ren, setelah ini apa rencanamu? Apa kau akan kembali ke kota lagi?'' Tanya Mira.
''Kenapa aku harus kembali ke kota lagi Mir? Aku saja baru beberapa bulan pindah ke desa. Kau pikir pindahan itu nggak ngabisin biaya dan tenaga apa!'' Jawab Iren. Mendengar jawaban sahabatnya, Mira terdiam sejenak. Pandangannya terlihat sayu menatap sahabatnya yang kini tengah menikmati segelas jus mangga yang ia bawa tadi.
''Jangan menatapku seperti itu Mir! Aku tidak apa-apa. Jika kau mengkhawatirkan tentang masalahku dan Alif, itu tidak perlu. Biar bagaimana pun aku dan dia belum memiliki hubungan apa pun sebelumnya, hanya sebatas saling memiliki perasaan yang sama. Kelak kalau dia sudah menikah, cepat atau lambat ia akan melupakan ku dan perasaannya terhadapku. Bukankah kehidupan seperti itu Mir? Cinta datang dan pergi, dan akan hilang jika tidak bersama. Saat waktu mengikis memori dan kenangan?'' ucapnya lagi.
"Dia kelihatan baik-baik saja, tapi nyatanya tidak.
Dia keras pada dirinya sendiri. Dia terluka, tapi tidak pernah mengungkapkannya.
Dia terlihat tenang, namun menyimpan begitu banyak kesedihan. Pemikiranmu sekarang makin bijaksana Ren, ku harap, kelak kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri Ren,'' batin Mira.
''Apa Mura ingin bermain air sayang?'' Tanya Iren. Bocah itu mengangguk senang sambil mengejek pamannya. Ternyata tadi Mura mengajak pamannya Kenzo untuk bermain air laut, namun Kenzo tidak mau dan lebih memilih bermain dengan ponselnya yang di gunakan untuk memotret keindahan alam ciptaan Tuhan.
Mura terlihat gembira sekali. Sambil berlari-larian, Mura tak hentinya tertawa. Begitu pun Iren yang menemaninya bermain. Mira menghela nafas perlahan, setidaknya untuk sesaat ia bisa mengalihkan kesedihan sahabatnya itu.
Namun beberapa saat kemudian, terlihat Iren berlari ke tengah laut. Mira berteriak saat melihatnya, hingga membuat Kenzo menjatuhkan ponselnya. Mira takut kalau Iren akan melakukan hal bodoh, dengan segera ia berlari menyusul Iren sambil berteriak memanggil Irena.
Namun saat sudah dekat, ternyata Iren tengah menyelamatkan seorang gadis kecil yang hampir tenggelam. Saat Iren bermain dengan Mura tadi, ia melihat ada seorang gadis kecil yang sedang mengejar bolanya yang hanyut. Dan tanpa pikir panjang Irena langsung berlari untuk menyelamatkan gadis kecil itu.
Petugas pantai langsung bergerak untuk menolongnya dan memberikan penanganan pertama. Semua terlihat panik, dari arah belakang datang seorang ibu-ibu yang tak lain adalah ibu dari gadis kecil itu.
''Anakku....'' ( Ibu itu menangis sambil memeluk putrinya ).
__ADS_1
''Ibu, anda terlalu lalai menjaga putri anda! anda malah sibuk dengan ponsel anda dan tidak memperhatikan putri anda yang sedang berlari mengejar bolanya. Jika anda mengajaknya berlibur, maka anda harus fokus dengan putri anda bukan ponsel anda,'' ucap Iren dengan emosi.
''Iya, saya yang terlalu mementingkan pekerjaan saya mbak, terimakasih sudah menyelamatkan putri saya,'' ucap ibu itu dengan perasaan menyesal. Mira menepuk-nepuk pundak Irena, agar Iren tidak emosi lagi.
Tak lama kemudian gadis kecil itu tersadar.
''Anak mama, maafkan mama ya nak, karena tidak mengawasimu dengan baik,'' ucap ibu itu sambil menciumi pipi putrinya.
''Anak nyonya sudah tidak apa-apa, tapi untuk pemeriksaan lebih lanjut, sebaiknya nyonya membawanya ke rumah sakit,'' ucap petugas pengawas pantai. Ibu itu pun segera menggendong putrinya untuk di bawa ke rumah sakit.
Semua orang yang berkumpul pun kembali ke rutinitasnya. Mira tiba-tiba menjewer telinga Kenzo...
''Aaaaaaaaakh sakit....sakit!'' Kenzo mencoba melepaskan telinganya dari jeweran Mira.
''Kenapa tiba-tiba kau menjewerku?'' Tanya Kenzo sambil mengelus-elus telinganya yang memerah setelah terlepas.
''Tadi kau juga lebih mementingkan ponselmu ketimbang bermain dengan Mura! Bagaiman jika terjadi apa-apa seperti gadis kecil itu?'' ucap Mira sambil berkacah pinggang.
''Amit...amit! Jangan bicara sembarangan mbak, setiap kata adalah doa. Ngomong kok aneh-aneh, lagian walaupun aku bermain dengan ponselku, tapi mataku tetap mengawasi putrimu. La kamu, kamu malah sibuk menikmati jus mangga sambil berleha-leha di kursi pantai, mana tanggung jawabmu sebagai seorang ibu,'' ucap Kenzo yang tak ingin kalah berdebat.
''Hedeeeh kalian itu, kalau nggak ribut dengan Mura ribut dengan yang dewasa. Nggak kamu nggak Kenzo, rasanya nggak ada bedanya Mir,'' Irena menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik dan sahabatnya.
''Adikmu ok Ren, nyebelin!'' Ucap Mira.
''Mana ada.''
Kenzo juga tak mau mengalah. Jika mendengarkan mereka berdebat, tak akan ada selesainya.
__ADS_1
Hari semakin sore, mereka pun segera membereskan barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam mobil, lalu pulang. Si kecil Mura sampai ketiduran di pangkuan Iren yang duduk di kursi belakang, sedangkan Mira juga tidur di kursi depan