Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 20: Nasehat


__ADS_3


💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮


Alif duduk di pinggiran danau, pikirannya melayang kemana-mana. Baru saja ia mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan Irena, tapi mamanya malah membuatnya semakin menjauh lagi.


''Nak Alif tolong bawa pergi mama kamu dari sini!''


Kata-kata itu masih jelas terdengar di telinganya. Sorot mata pak Bayu menyiratkan penuh kekecewaan. Tapi, biar bagaimana pun itu memang kesalahan mamanya. Dan yang lebih bersalah adalah dirinya, karena tidak mampu berbuat apa-apa, untuk membela orang yang di cintainya. Sesekali ia mendesah sambil melemparkan batu-batu kecil ke dalam danau.


Lamunannya buar tak kala tiba-tiba pak Bayu datang menghampirinya.


''Kau masih duduk di sini nak Alif?'' Pak Bayu pun ikut duduk di sampingnya, lalu menyerahkan segelas minuman untuk Alif. Alif benar-benar merasa tidak enak apa lagi setelah kejadian tadi.


''Jangan terlalu di masukan ke dalam hati nak Alif, biar bagaimana pun, beliau tetaplah ibumu. Mungkin ia hanya ingin melindungi putranya dan melakukan yang terbaik untukmu,'' ucap pak Bayu, sambil sesekali ia meminum kopinya.


Alif tertunduk menahan air mata, ia sungguh-sungguh berada dalam dilema. Pak Bayu menepuk-nepuk pundak Alif.


''Maafkan saya pak, maafkan mama saya juga. Karena sudah membuat keributan dan bahkan menuduh dan menampar Irena. Irena sudah banyak menderita, tapi saya dan mama saya malah menambahinya,'' ucap Alif. Pak Bayu menepuk-nepuk pundak Alif, lalu ia pun berdiri...


''Lif, sebagai seorang lelaki, menjaga dan melindungi orang yang di cintainya, itu sangatlah wajar. Akan tetapi sebagai seorang anak, berbakti kepada orang tua, itu adalah kewajiban. Kamu pulanglah dulu, tenang kan pikiranmu, dan bicaralah baik-baik dengan mamamu. Paman sudah memaafkamu dan mamamu, tapi paman juga harus melindungi putri paman. Jadi bicarakan dulu baik-baik dengan mamamu ya, ini sudah sore, lebih baik kamu pulang dulu anterin mamamu ya! Paman juga mau pulang,'' ucap pak Bayu kemudian pergi meninggalkan Alif yang masih duduk. Alif menghabiskan minuman yang di bawakan oleh pak Bayu tadi, kemudian pergi untuk pulang ke rumah orang tuanya, karena ternyata mamanya juga sudah tidak ada di tempat tadi.

__ADS_1


''Maaaaaah,'' kak Alif datang,'' ucap Oliv. Ternyata Oliv dan Nadia juga kebetulan baru saja berkunjung ke rumah orang tuanya. Ranty langsung keluar dari dapur untuk menyambut putranya. Namun Alif langsung masuk ke kamarnya begitu saja tanpa menyapa mamanya.


''Lif, bahkan kamu tidak manyapa mama Lif!'' Teriak Ranty.


''Seandainya mama nggak egois, kakak pasti tidak akan bersikap seperti itu,'' Oliv tiba-tiba menyahut omongan mamanya.


''Kau masih kecil berani sekali menyahuti mamamu! Apa itu ajaran dari kakakmu ha?'' Ranty menjewer telinga Oliv. Nadia yang mendengar keributan, langsung menghampiri mamanya dan adiknya. Melihat adiknya yang sedang di jewer, ia pun langsung meminta maaf atas nama adiknya dan meminta Ranty untuk melepaskan jewerannya.


''Sudahlah Liv, diamlah saja. Jangan ikut campur urusan orang dewasa,'' ucap Nadia yang menasehati Oliv.


''Biarkan saja kak, toh memang kenyataannya mama egois. Dulu berbuat jahat sama papanya kak Alif, sekarang berbuat jahat sama orang yang di cintai kak Alif. Jika nanti kak Alif pergi dari rumah dan meninggalkan kita, apa mama akan puas!'' ( Oliv adalah anak dari pernikahannya dengan papanya Nadia, sifatnya yang keras kepala dan berani, terkadang membuat Ranty sedikit kuwalahan.)


''Hukum saja kalau itu bisa buat mama puas, toh mama selama ini juga gak pernah nganggap kami dan gak pernah tulis sayang sama anak-anaknya,'' ucap Oliv kemudian pergi begitu saja meninggalkan mamanya yang masih emosi.


''Lihatlah adikmu Nad! Keras kepala dan berani membantah orang tua, mau jadi apa nanti. Ini semua karena kamu yang terlalu memanjakannya. Jika saja dia tidak tinggal denganmu pasti aku sudah mendidiknya dengan baik,'' ucap Ranty.


Mendengar ocehan mamanya, Oliv pun berteriak dari atas...


''Jangan menyalahkan kak Nadia, kak Nadia sudah sangat baik mau mengasuh dan mendidikku. Bukan seperti mama yang menelantarkan anaknya sampai-sampai anaknya kelaparan di jalan dan hampir mati di tabrak orang,'' teriak Oliv. Ranty yang mendengar ucapan putrinya pun langsung terdiam. Ternyata putrinya belum memaafkan atas kesalahanya dulu, dan bahkan masih mengingatnya sampai sekarang.


Sebelum Oliv ikut Nadia, dulu Oliv juga tinggal bersama mama dan papanya, tapi Ranty terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Arisan, kumpul-kumpul dengan teman-teman sosialitanya dan jika di rumah, ia pun sibuk dengan ponselnya sendiri. Suami dan anak-anaknya pun jadi terlantar. Hingga suatu hari saat Oliv akan pulang dari sekolah, namun sampai sore mamanya tidak menjemputnya. Oliv menunggu hingga kelaparan, dan saat ia akan berjalan pulang, ia tertabrak sebuah mobil dan di larikan ke rumah sakit. Sejak saat itu Oliv lebih memilih ikut kakaknya, walaupun mereka hanya saudara tiri tapi diantara mereka tidak ada yang membeda-bedakan status.

__ADS_1


Waktu makan siang tiba, Ranty memanggil anak-anaknya, namun hanya Nadia saja yang turun dan duduk di meja makan. Sepertinya Oliv masih marah, sedangkan Alif entahlah, apa yang sedang ia lakukan. Ranty pun keatas untuk memanggil anak-anaknya.


Matanya memang terpejam, tapi pikirannya seakan melayang entah kemana.


''Kleek''


Terdengar suara pintu terbuka, namun Alif tidak mengubrisnya.


''Lif, ayo turun makan dulu,'' ternyata mamanya yang datang menghampirinya. Alif pun bangun lalu duduk, namun ia belum beranjak dari tempat tidurnya. Ranty hendak keluar namun...


''Kenapa mama begitu menentang hubunganku dengan Iren mah?'' Ucap Alif, membuat Ranty menghentikan langkahnya.


''Karena mama nggak menyukainya,'' Jawabnya.


''Apa karena dia tidak terlahir dari orang kaya seperti Danisha? Bukankah sebelum mama menikah dengan papanya kak Nadia, keadaan kita juga sama?'' Alif memejamkan matanya, ia sungguh benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mamanya.


''Itu mungkin salah satunya. Tapi yang pasti, selama mama masih hidup, mama nggak akan pernah setuju jika kamu bersama dengan Iren. Jika kamu masih nekad, berarti kamu sama sekali tidak menganggap mama sebagai mamamu, dan kamu sangat mengecewakan mama,'' mendengar ucapan mamanya air matanya menetes di sudut matanya.


''Perjodohanmu sudah di tentukan oleh keluarga kita, jika kamu sampai menentangnya, mama tidak akan menganggapmu sebagai anak mama lagi. Mama ingin lihat, apakah Irena dan keluarganya akan tetap menerimamu setelah ia tahu kalau kamu menentang keluarga dan mengecewakan mama,'' setelah mengucapkan itu, Ranty pergi meninggalkan putranya.


Alif mengambil nafas pelan, ia mengusap sudut matanya yang basah. ''Mungkin ini sudah jalanku, dan aku harus mengiklaskannya,'' batin Alif.

__ADS_1


__ADS_2