
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
Ternyata Mira dijemput oleh suaminya, mereka pun akhirnya ikut pulang satu mobil bersama. Namun saat Iren membuka pintu belakang, tangannya berhenti seketika saat melihat seseorang yang saat ini duduk dikursi belakang.
''Alif?'' Mira juga terkejut saat melihatnya.
''Aku tadi habis belanja bahan-bahan buat rumah makan sama Alif, dia yang bantu-bantuin aku, karena kamu sibuk sendiri juga,'' ucap Dimas menjelaskan, karena melihat istri dan sahabatnya terkejut.
''O,'' Mira hanya menjawabnya dengan kata O saja. Suaminya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban istrinya.
''Papa, tadi Mura bantu-bantu paman Ken dari pagi lo pah, Mura capek!'' Haiis kelakuan anak kecil laporan pada papanya, padahal yang ada dia yang merusuh minta digendong sampai ketiduran.
''Diih, bantu apaan orang minta gendong terus sampai ketiduran. Bisa-bisanya laporan sama papanya kalau capek bantuin aku. Mura, anak kecil itu tidak boleh bohong ya dosa tahu, nanti hidungmu panjang seperti nenek sihir bagaimana? Memangnya Mura mau jadi gitu? Ilang dong cantiknya Mura dan imutnya Mura,'' Kenzo menakut-nakuti Mura.
''Iyakah Paman? Waaah, Mura nggak mau punya hidung panjang paman, Mura nggak mau imutnya ilang. Mura janji nggak akan bohong lagi. Maafkan Mura paman, papa, mama, mami dan paman..? Aaaah Mura ingat paman ganteng Alif!'' Teriak Mura yang kegirangan karena baru menyadari ada Alif dimobilnya setelah sekian lama mengoceh.
''Paman ganteng? Mura kau pilih kasih sekali, paman Arsen dan paman Alif kau sebut paman ganteng, kenapa paman Ken nggak kau sebut ganteng juga,'' Astaga nggak yang besar, nggak yang kecil sama saja hedeeeh.
''Bagaimana kabarmu Ren?'' Tanya Alif yang saat ini duduk disebelahnya dikursi paling bekakang. Sedangkan Kenzo dengan Mura dikursi tengah. Mira dan suaminya tentu saja paling depan.
Mendengar pertanyaan Alif, Iren tersenyum dan mengatakan kalau kabarnya baik-baik saja.
''Oh iya Lif, katanya minggu depan kamu bakal sidang putusan ya?'' Tanya Mira.
''Iya Mir, doain ya semoga lancar semuanya,'' ucap Alif, namun wajah Alif malah menatap pemandangan dari balik kaca jendela mobil.
...¤~¤~¤~♡~¤~¤~¤...
__ADS_1
Dua minggu telah berlalu, Alif juga sudah resmi menyadang statusnya sebagai seorang duda. Dipersidangan kemaren, Danisha juga hadir. Mereka sama-sama menyelesaikan urusannya dengan baik-baik. Walau dari keluarga Alif belum bisa memaafkannya. Karena melihat sikap Danisha yang masih kekeh hendak mempertahankan pernikahannya, namun gagal karena ada banyak bukti. Sehingga pengadilan mengabulkan permohonan Alif dan perceraian mereka pun disahkan.
Nadia meminta tolong adiknya untuk membelikan beberapa barang-barang yang habis di tokonya, kebetulan Alif juga lagi senggang ia pun mengiyakan permintaan kakaknya. Saat berbelanja kebutuhan toko Alif tak sengaja melihat Iren yang saat ini duduk dengan seorang pria. Rasanya ia ingin menghampirinya, namun tiba-tiba ia teringat akan statusnya saat ini.
"Apakah pantas untukku yang masih mengharapkan cintamu Ren? Dengan statusku sekarang, rasanya membuatku seperti tidak pantas jika bersanding denganmu. Jika memang ada yang bisa membuatmu bahagia, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, aku pun akan ikut bahagia untukmu Ren. Tapi entah kenapa, saat melihatmu berbicara dengan pria lain, hatiku masih merasa tidak nyaman. " Batin Alif.
Pandangannya pun sendu, kemudian ia pun melanjutkan kembali langkahnya untuk pulang.
...☆~♡~☆...
Iren sedang membereskan barang-barangnya di toko, setelah tadi datang lagi satu truk pupuk urea dan kompos dari pak Yudi. Ada juga obat-obatan pestisida yang tadi Mira belikan juga.
''Sepertinya kamu sangat sibuk sekali Ren?'' Ucap sebuah suara yang berasal dari belakang Iren. Iren pun kemudian menoleh kearah suara tersebut.
''Hai Ren? Selamat pagi?'' Sapa Gio.
"Ada apa dengan Iren? Kenapa sikapnya terlihat berbeda?" Batin Gio.
Tentu saja Gio menyadari perubahan sikap Iren, terlebih lagi ia seorang psikolog. Tentu ia tahu dan langsung bisa terbaca dari wajahnya Iren. Terlihat Iren sedikit kesulitan saat hendak menaruh beberapa barang dilemari atas.
''Apa kau butuh bantuan Ren?'' Tanya Gio dan hendak mengambil barang yang ada ditangan Iren. Namun Iren segera menepisnya.
''Tidak usah Gi, aku masih bisa melakukannya sendiri kok..'' Iren pun kemudian mengambil kursi untuk ia jadikan pijakan agar lebih tinggi supaya bisa menaruh beberapa barang-barangnya dirak atas.
Setelah selesai Iren beristirahat sambil membuka kotak bekalnya. Ternyata Gio belum pulang. Ia pun menghampiri Iren.
''Kamu belum pulang Gi?'' Tanya Iren.
__ADS_1
''Ren, bolehkah kita mengobrol sebentar?'' Ucap Gio lalu duduk didepan Iren. Iren hanya mengangguk sebagai jawaban.
''Ren, aku menyukaimu. Aku tahu kau pasti juga sudah menyadarinya bukan? Aku sengaja kesini, karena dari kemaren setiap aku ingin bertemu dengamu, kau seakan menghindariku. Maka dari itu aku memberanikan diri untuk langsung menghampirimu disini untuk bisa berbicara denganmu.''
''Ren, sebelum aku kembali ke kota, kuharap aku bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aku menyukaimu, bahkan sejak kita masih SMA Ren, namun aku menyerah saat itu karena aku tahu kalau kau mencintai Alif. Aku berusaha melupakanmu, melupakan cintaku padamu. Aku bahkan sampai meminta izin mamaku untuk ke Luar Negeri demi bisa melupakan dirimu. Namun saat aku mendengar kabar kalau Alif sudah menikah, dan kau masih sendiri, aku pun mulai bersemangat lagi. Cinta yang dulu aku kubur dalam-dalam mulai timbul lagi. Ren diumur kita yang sekarang tentu saja bukanlah tentang pacaran lagi bukan? Jika kamu memiliki perasaan yang sama denganku, aku ingin kita bisa langsung menikah saja. Aku tidak akan melarangmu untuk tetap bekerja di toko dan tinggal di desa ini, aku bisa pulang pergi, merawat mama lalu pulang kerumah kita.'' Gio menjeda ucapannya lalu menarik nafasnya.
''Aku akui Ren, selama ini aku sudah berusaha mendekatimu. Bahkan meminta salah satu pasienku untuk menenangkan dirinya di desa ini. Semua itu kulakukan agar aku bisa lebih dekat denganmu,'' ucap Gio lalu memegang tangan Iren. Namun Iren segera melepaskan tangannya dari genggaman Gio.
Iren tersenyum memandang Gio. Ia pun menarik nafasnya yang terasa sangat berat. Di hadapan ada seorang laki-laki yang baik, yang sedang menyatakan perasaannya. Iren sangat bahagia, tentu saja bahagia dan bersyukur karena ada laki-laki yang mau mencintainya dengan tulus.
''Gi, aku akui aku juga menyadari sikapmu yang berbeda terhadapku. Dan setiap kali aku membutuhkan bantuan, kau pun selalu ada untukku. Tapi, aku tidak bisa membohongi perasaanku Gi, mungkin seandainya jika kau bukan anak dari wanita itu, mungkin aku masih bisa menerimanya. Maafkan aku Gi,'' ucap Iren lalu berdiri hendak meninggalkan Gio. Namun langkahnya berhenti saat Gio...
''Wanita itu? Maksudmu Ren? Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang kau maksud mamaku? Ada apa dengan mamaku Ren?'' Ucap Gio yang menghentikan langkah Iren.
''Karena.....
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih