
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Hai Alif? Selamat pagi?''
Lamunannya buyar seketika saat ia mendengar panggilan dari Hafiz. Alif berusaha menenangkan hatinya, dan berusaha untuk tetap percaya dengan cintanya dan Iren.
''Pagi kak Hafiz,'' Alif pun menghampiri Iren, namun setelah sampai langsung berdiri di tengah-tengah, diantara Iren dan Hafiz. Hafiz pun tersenyum melihat sikap posesif Alif.
Sepertinya ia bisa lega melepaskan cintanya pada Iren, dan merekakan Iren untuk Alif. Jika dilihat, Alif sepertinya sangat tulus mencintai Iren, namun ia ingin memastikannya sekali lagi. Untuk benar-benar meyakinkan hatinya.
''Ren, kakak ingin berjalan-jalan dulu dengan Alif. Kakak pinjam calon suamimu dulu nggak papa kan?'' Ucap Hafiz. Iren pun mengangguk mengiyakan permintaan Hafiz, ia juga sepertinya mengerti kalau Hafiz ingin berbicara sesuatu dengan Alif.
''Baiklah, tapi Iren harap kakak tidak menyamakan Alif dengan Dafa ya kak? Karena bagi Iren, Alif sangat jauh berbeda dengan Dafa,'' Iren berbisik ditelinga Hafiz. Ia khawatir jika Hafiz akan menindas Alif. Dan tanpa sepengetahuan Iren, Hafiz sendiri mencoba menguatkan hatinya.
''Kau tenang saja, aku hanya ingin mengobrol ringan saja dengannya. Lagi pula, dulu kau juga berkata seperti itu sewaktu dengan Dafa. ''Dafa itu laki-laki yang baik kak, Dafa itu tulus sama aku kak. Dafa ini, Dafa itu,'' tapi apa? Pada akhirnya dia mengkhiyanatimu dan menyakiti hatimu kan?'' Ucap Hafiz.
mendengar perkataan Hafiz, Iren hanya tersenyum menanggapinya. ''Kakak benar, mungkin karena Iren yang terlalu berbaik sangka, hingga tidak pernah menyadari siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya memanfaatkan hati saja.'' Iren sendiri masih sedikit ragu sebenarnya, tapi ia tetap meyakinkan bahwa Alif berbeda dengan Dafa.
''Ingat ya kak! Jangan menindas Alif!'' Iren berpesan sebelum Alif pergi bersama dengan Hafiz.
''Iya..iya cerewet. Tenang saja, calon suamimu hanya ku pinjam sebentar. Akan ku pastikan tidak ada yang lecet, dan akan kukembalikan seperti saat aku pinjam,'' ucap Hafiz berkelakar.
Alif hanya tersenyum mendengar obrolan Iren dan Hafiz. ia pun kemudian dengan santai mendorong kursi roda yang dikendarai oleh Hafiz hingga ke taman desa terdekat. Alif membantu Hafiz untuk berpindah tempat duduk di bangku taman. Awalnya mereka masih sama-sama diam, Alif maupun Hafiz juga sedikit bingung untuk memulai percakapan.
__ADS_1
''Kata Mira, kalian sudah kenal sejak kecil ya? Dan juga teman satu SMA?'' Hafiz, yang pertama memulai percakapan.
''Iya kak, aku, Dimas, Mira dan Iren, kami selalu satu sekolah sejak masih duduk dibangku TK. Tapi setelah lulus SMA, baru terpisah dengan Iren, karena keluarganya harus pindah ke kota. Awalnya, aku mengira kami tidak akan bertemu lagi. Tapi ternyata Tuhan memberiku kejutan dengan mempertemukan kami lagi dan bahkan saling mencintai,'' Alif berusaha menjelaskan. Disatu sisi ia berharap restu dari Hafiz, karena biar bagaimanapun Hafiz sudah dianggap Iren sebagai kakaknya sendiri. Tapi disisi lain juga, Alif ingin menegaskan jika ia dan Iren saling mencintai.
Hafiz: ''Jika kalian memang saling mencintai, lalu mengapa kamu bisa menikah dengan Danisha? Dan membuat Iren bersedih, bahkan saat dihari ulang tahunnya?''
DEG.....
Mendengar pertanyaan Hafiz, Alif menundukkan kepalanya. Yang tadinya ia masih bisa tersenyum, kini ia merasa tidak berani, bahkan hanya untuk menyunggingkan bibir saja ia tak mampu. Alif pun menarik nafasnya yang berat dalam-dalam.
''Mungkin kau juga seharusnya sudah tahu bukan? Seandainya aku mengiyakan permintaan Iren waktu itu untuk menikah dengannya, mungkin saat ini Iren sudah hidup bahagia bersamaku. Dan tidak akan merasakan kesedihan karena ditinggalkan oleh orang yang ia cintai untuk kedua kalinya.'' Hafiz menjeda ucapannya.
''Lif, sebenarnya aku sangat marah sekali padamu! Ingin rasanya aku menghajarmu dan memakimu, karena kamu tidak mau berusaha lebih kuat lagi dalam memperjuangkan cintamu. Tapi sayang, karena kakiku yang cacat, aku jadi tidak bisa menghajarmu,'' ucap Hafiz dengan memalingkan wajahnya dari Alif.
Alif tercengang mendengar ucapan Hafiz, ia benar-benar baru menyadari, seandainya ia bisa berusaha lebih kuat lagi untuk meyakinkan keluarganya, pasti pernikahannya dengan Danisha tidak akan pernah terjadi. Dan tidak akan membuat keluarganya sedih karena kegagalan pernikahannya.
Hafiz: ''Dan sekarang aku ingin bertanya serius terhadapmu, Apakah kau yakin! Kau benar-benar mencintai dan menyayangi Iren?''
''Iya kak,'' Alif menjawab sambil menganggukan kepalanya dengan penuh keyakinan.
Hafiz: ''Apa kau bisa menjamin untuk tidak akan membuatnya bersedih lagi yang kedua kalinya?''
''Aku akan berusaha sekuat dan semampuku kak, untuk selalu menyayangi dan menjaga perasaanya Iren agar tidak terluka lagi,'' jawab Alif.
Hafiz cukup puas mendengar jawaban Alif, kali ini Hafiz benar-benar yakin untuk menyerahkan Irene kepada Alif. Ia pun tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Alif. Namun tanpa mereka ketahui, obrolan mereka didengarkan oleh seseorang yang saat ini berdiri di balik sebuah pohon yang ada di belakang bangku tempat mereka duduk. Seseorang itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat, hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya. Terlihat jelas dari wajahnya penuh dengan kebencian.
__ADS_1
''Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia Irena! Jika aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku, maka jangan harap kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu itu!''
Orang itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa terasa, teriknya panas matahari sudah berada di atas kepala. Alif membantu Hafiz untuk kembali duduk di kursi rodanya.
''Aku akan mengantarkanmu kembali Kak, soalnya Adikmu sudah menelponku dan menanyakanmu sejak tadi,'' ucap Alif. Hafiz pun mengangguk, dan mereka pun segera kembali ke toko Iren.
''Astaga kalian! Dari mana saja sampai siang seperti ini baru pulang?'' Omel Iren.
''Aku akan langsung pulang saja ya, soalnya besok aku harus kembali ke kota untuk mengurus beberapa hal. Sebab setelah kamu menikah, kakak harus kembali ke luar negeri,'' ucap Hafiz.
''Apa kak akan kembali secepat itu? Apa Kakak tidak bisa tinggal di sini saja? Kakak sudah terlalu lama tinggal di sana. Apa Kakak sungguh tidak ingin menemaniku dan Mira disini Kak?'' Iren merengek sambil memberi kode mata pada Mira. Mira pun mengerti dan ikut merengek memegangi 1 tangan Hafiz.
''Astaga kalian! Jika kalian seperti ini, lama-lama suamimu dan calon suamimu juga pasti akan membunuhku,'' ucap Hafiz yang melirik ke arah Alif dan Dimas yang saat ini tengah cemberut karena melihat calon istrinya dan istrinya menggandeng mesra pria lain.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
__ADS_1
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih