Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 75: Sadar Dari Koma


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...



...Flashback on...


Setelah kepergian pak Bayu, Mira kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Namun dari arah pintu terdengar sebuah ketukan.


Tok...tok...tok...


''Eeeh! Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini, kalau suster pasti langsung masuk. Jangan-jangan paman ketinggalan sesuatu lagi,'' Mira pun berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung.


Namun saat pintu terbuka, ia terkejut melihat siapa yang datang...


''Kau!'' Ucap Mira setelah mengetahui siapa yang berkunjung malam-malam.


''Mira, aku ingin menjenguk Iren, bolehkah aku masuk?'' Ucap Danisha. Ya, ternyata yang berkunjung adalah Danisha.


Mira sangat malas bertemu dengan Danisha, tapi sekarang dia malah yang datang. Mira ingin sekali langsung menendangnya sampai parkiran rumah sakit. Tapi melihat keadaan, ini adalah rumah sakit, dan tidak boleh membuat keributan akhirnya Mira pun mengurungkan niatnya.


Mira tidak membuka lebar pintunya, melainkan menahan daun pintu menggunakan tangannya, sedang badannya menghadang ditengah-tengah, supaya Danisha tidak bisa masuk ke dalam.


''Tidak boleh!'' Sarkas Mira.


''Mir, kumohon,'' Danisha mengatupkan kedua tangannya memohon pada Mira supaya diizinkan masuk untuk menemui Iren.


''Aku mohon Mira,'' Danisha berusaha melepaskan tangan Mira yang berpegang erat di daun pintu.


''Untuk apa aku harus mengizinkanmu! Lagi pula, cuma orang yang gak waras saja yang akan mengizinkan seekor rubah sepertimu menyakiti Iren untuk yang kesekian kalinya. Cepatlah pergi dari sini! Sebelum aku hilang kesabaran. Jika sampai aku hilang kesabaran, bahkan malaikat maut saja tidak akan bisa menghentikanku,'' ucap Mira.


''Aku datang bukan untuk menyakiti Iren Mir. Aku tahu dan sadar, masa laluku sangat buruk terhadap Iren, aku hanya ingin meminta maaf langsung padanya, aku bersumpah Mir, demi Tuhan, bahkan demi mama papaku, aku tidak akan lagi menyakiti Irena. Kumohon, untuk sekali ini saja, percayalah padaku,'' ucap Danisha.


Mira mengerutkan dahinya, pandangannya menatap tajam ke arah kedua mata Danisha. Ia ingin mencari kebohongan atas kata-kata yang baru saja Danisha ucapkan lewat matanya. Namun Mira merasa, sepertinya kali ini Danisha benar-benar sudah berubah.


''Berikan aku alasan yang bisa membuatku mengizinkanmu untuk masuk menemui Iren!'' ucap Mira.

__ADS_1


Meskipun Mira merasa sikap Danisha berubah, namun Mira masih belum terlalu yakin. Jadi ia ingin mengetes dahulu, apakah Danisha benar-benar berniat datang hanya untuk meminta maaf, atau mempunyai niat-niat lainnya.


''Mir...' Ayolah! Aku mohon, aku benar-benar hanya ingin meminta maaf. Bahkan aku sudah bersumpah lo, masa kamu masih nggak mau percaya sama aku sih Mir. Ya udah, apa gini saja,'' Danisha mengambil tali yang menjadi hiasan di sweter yang ia pakai. Lalu mengikat tangannya menggunakan ujung tali tersebut. Setelah itu ia juga mengikat ujung tali yang tersisa ke tangan Mira.


''Oy..., apa-apaan ini?'' Mira bertanya maksud Danisha mengikat tangannya dan tangan Danisha sambil menunjukkan tangannya yang saat ini terikat.


''Aku sengaja mengikat tanganku dan tangan kamu, supaya jika aku nanti berbuat macam-macam kau bisa langsung menghajarku, dan aku tidak bisa lari, bagaimana? Bagus kan ide aku,'' ucap Danisha.


''Kau ini!'' Mira langsung menoyor kepala Danisha.


Ditengah keributan mereka, tanpa mereka sadari Irena perlahan mulai menggerakkan jari-jari tangannya. Ia sedang berusaha keras untuk bisa membuka kedua matanya.


Di alam mimpi Irena....


( Mama!" Ucap Irena saat baru menyadari kalau ia sedang menidurkan kepalanya dipangkuan mamanya.


"Oooo, Anak mama sudah bangun ternyata," Ucap Sri Yana sambil mengelus-elus kepala putrinya itu.


Irena segera terbangun, lalu memeluk mamanya dengan sangat erat. Ia menangis sejadi-jadinya dipelukan mamanya. Ia sungguh tidak menyangka, ia bisa bertemu dengan mamanya kembali.


"Irena tidak ingin pergi meninggalkan mama, Irena tidak mau berpisah lagi dengan mama," rengek Irena.


Namun perlahan tubuh mamanya melebur menjadi kepingan-kepingan cahaya dan bersatu dengan terpaan angin.


"Kembalilah nak, jaga dirimu baik-baik, dan jaga kedua papamu," itulah suara terakhir dari mamanya yang Irena dengar sebelum kepingan cahaya mamanya menghilang dari pandangannya.


"Mama!...mama!" )


Irena pun langsung membuka kedua matanya dengan sempurna. Air matanya menetes tanpa ia sadari. Ia merasa bingung saat mendapati dirinya berada di ruangan yang bernuansa serba putih. Dan sama-samar, terdengar suara keributan dari arah pintu, yang ternyata sahabatnya, Mira sedang ribut dengan Danisha. Ia berusaha untuk memanggil Mira, namun badannya masih terasa ngilu saat hendak digerakkan. Dan tanpa sengaja ia menjatuhkan tas make up milik Mira yang Mira taruh diranjang karena tadi sempat ia gunakan untuk membersihkan wajah Iren.


Braak... ( Suara tas barang Mira yang jatuh berceceran )


Mendengar sebuah suara, Mira pun langsung menghentikan keributan mereka. Mira langsung menutup mulutnya yang terkejut melihat Irena telah sadar dari komanya. Mira segera menghubungi Dokter untuk melakukan pemeriksaan. Tidak lupa juga langsung menghubungi pak Bayu, yang kebetulan masih berada di parkiran rumah sakit.


.............•°《♡》°•..............

__ADS_1


Iren tersenyum melihat ekpresi wajah keluarganya. Banyak dari mereka yang masih belum percaya dengan kehadiran Iren, yang jelas-jelas saat ini berdiri dihadapan mereka. Bahkan Kenzo berulang kali mengucek kedua matanya untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya saat ini, bukanlah sebuah mimpi.


Setelah memastikannya, Kenzo dan Arsen kemudian berjalan cepat ke arah Iren. Namun siapa sangka, Alif yang malah langsung berlari dan memeluk Iren. Bahkan tanpa sadar Alif menciumi puncak kepala Iren berulang kali, membuat semua orang yang melihatnya tersenyum dan terharu. Ada yang malu sambil memalingkan wajahnya, ada juga yang berdehem, hingga membuat Alif menyadari perbuatannya dan segera menghentikan tingkahnya itu.


''Maaf, maafkan sikapku yang keterlaluan ini ya Ren,'' ucap Alif menundukan kepalanya dan mulai perlahan melepaskan pelukannya dari Iren.


Iren tersenyum ke arah Alif, lalu berkata, ''Tidak apa-apa kok Mas, aku malah yang seharusnya berterimakasih padamu. Karena kamu begitu tulus mencintaiku, bahkan menunggu dan menjagaku dengan sabar, selama aku dirawat di rumah sakit. Dan kau masih tetap ingin menikahiku, meskipun aku dalam keadaan antara hidup dan mati. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, karena telah membuatmu repot dan khawatir selama ini,'' ucap Iren. Namun kemudian langkahnya Iren terhuyung dan hendak jatuh.


''Iren!'' Alif terkejut melihat Iren yang hendak jatuh. Untung saja Mira dengan sigap lalu memapahnya, dan menuntunnya untuk duduk.


''Iren baru sadar semalam, dan badannya belum benar-benar pulih betul. Apa lagi setelah koma berhari-hari. Jadi sebenarnya Iren harus tinggal dulu di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan untuk memulihkan keadaannya, dan tidak boleh terlalu banyak bergerak dan harus banyak beristirahat dahulu. Bahkan Dokter saja sudah melarangnya tadi, akan tetapi dia tetep ngeyel ingin pulang dulu untuk menemuimu,'' ucap Mira.


Alif pun ikut duduk di sebelah Iren, lalu memegang kedua tangan Irena.


''Maafkan aku,'' ucap Alif yang mencium kedua tangan Iren.


''Kak Mira! Kenapa kakak tidak menghubungiku saat kak Iren sadar. Seharusnya kakak juga langsung mengabariku dong! Papa juga, kenapa papa nggak menghubungi Ken, papa bahkan tidak pulang dari semalam. Apa papa tahu, Ken dan kak Arsen sangat cemas, karena papa tidak kunjung turun dari kamar papa,'' gerutu Kenzo.


''Sudah...sudah, jangan membuat keributan lagi. Bukankah seharusnya kita berbahagia, karena kakakmu Iren sudah baik-baik saja. Lebih baik kita lanjutkan saja acaranya. Jika ditunda-tunda lagi, tidak baik nanti jatuhnya, benar bukan pak, buk,'' ucap Pak Bayu. Semua orang pun tersenyum dan setuju dengan ucapan pak Bayu.


''Benar sekali itu pak, kita harus banyak mengucapkan rasa syukur kita kepada Tuhan, atas kembalinya menantu kami Iren,'' ucap Ranty. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca, karena bahagia, melihat calon menantunya kini yang duduk dihadapannya itu. Mereka pun hendak berjalan ke tempat duduk yang sudah dihias sedemikian rupa untuk terlihat cantik dihari pernikahan Iren dan Alif. Namun...


''Tunggu dulu,'' ucap Alif, dan membuat semua orang menghentikan langkahnya seketika.


...-...


...-...


...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...


...👍like...


...❤ pavorit...


...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...

__ADS_1


...Terimakasih...


__ADS_2