Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 28: Sabotase


__ADS_3


🌸 Selamat membaca, sehat selalu ya 🌸


Pagi-pagi sekali papanya berpamitan padanya untuk kembali pulang ke rumahnya, karena Lidiya mama tiri Iren sudah menelfonnya dari semalam, untuk memintanya segera pulang. Astaga, mungkin dia berpikir kalau suaminya bakal di rebut sama putrinya kali. Dengan terpaksa Iren pun meminta papanya untuk segera pulang ke rumahnya.


Saat bersih-bersih Iren selalu membayangkan kebersamaannya dengan papanya kemaren. Canda tawa dan bahagia. Rasanya ia sangat merindukan itu semua. Ingatannya terlintas kembali saat ia masih kecil. Dulu papanya sering membawakan oleh-oleh setiap selesai kenduri di rumah tetangga, ataupun sehabis bantu-bantu membuat rumah. Tiba-tiba saja ia merindukan masa-masa saat itu, dan yang paling membuatnya sedih adalah merindukan mamanya.


》~•°•~•°•~☆~•°•~•°•~《


Hari ini kakak dan adiknya akan datang berkunjung di rumahnya. Tapi pak Bayu ternyata tidak bisa ikut, karena banyak pesanan perabotan di tokonya. Jadi cuma Arsen dan Kenzo saja yang datang. Namun, sampai siang ini mereka belum juga datang-datang. Iren sudah mondar-mandir seperti setrikaan. Sudah di hubungi juga, tapi tidak di angkat.


''Kemana mereka pergi? Tidak mungkin nyasar kan?''


''Tidak laaah!'' Kan nggak cuma sekali dua kali mereka ke sini,'' ucap Iren.


Namun tak lama kemudian ponsel yang ada di sakunya berdering. Iren senang, ia kira kakaknya atau Kenzo yang menelfon. Tapi pas lihat nama yang tertera, Iren pun langsung cemberut.


''Halo!'' Ucap suara yang ada di telefon itu.


''Ada apa kau menelfonku? Bukankah kita baru saja berpisah 3 jam yang lalu, apakah kamu sudah merindukanku? Makannya menelfonku Mir?'' Ucap iren. Ya, orang yang menghubunginya adalah Mira. Selain papanya, Mira berpamitan juga untuk pulang.


''Jangan marah-marah bu! Nanti cepet tua lo. Mau kamu belum 30 tahun tapi udah keriput, udah beruban. Belum nikah pula!'' Ucap Mira, yang mengejek sahabatnya itu.


''Biarin tua, biar kamu malu kalau ngajak aku jalan. Jadinya kan aku bisa berleha-leha di rumah. Eh, ngomong-ngomong qda apa kamu menelfonku?'' Tanya Iren.


''Diih, gitu dooong jawabnya... ''Oiii, kakak dan adik kau tercinta ada di tanganku. Jika kau ingin mereka kembali, kau harus menjemputnya di rumah makanku,'' ucap Mira.


''Diiih, dia malah main culik menculik dong! Emang muat tu tangan? Katanya kakak sama adikku ada di tanganmu? Lagian aku mah nggak punya harta buat nebus mereka, ngapain coba kamu culik mereka. Bukannya untung, yang ada kamu rugi nantinya,'' ucap Iren membalas perkataan Mira.

__ADS_1


''Nggak mau tahu, nggak mau tahu! Pokoknya kamu harus datang ke sini! Siang ini. OK?'' Entahlah, apa yang sedang Mira pikirkan. Dan kenapa sepertinya memaksa sekali agar Iren mau datang ke sana.


''Memangnya ada apa sih Mir? Kayaknya ngebet banget nyuruh aku ke situ, sampai-sampai nyabotase kakak adik aku,'' Tanya Iren.


''Nanti juga kamu bakalan tahu kok, makannya cepetan ke sini! Dah lah, pokoknya kalau kamu nggak ke sini kakak sama adikmu juga gak akan aku bolehin ke rumahmu titik nggak pake koma.'' Telefon pun di matikan sepihak oleh Mira, membuat Iren menggelengkan kepalanya.


''Ada aja tingkahmu Mir, haiiiis! Kan, sekarang aku harus ganti baju lagi. Belum lagi harus cari bus buat ke sana, dasar Mira tukang sabotase!'' Gerutu Iren. Ia pun segera membereskan kembali makanan yang sudah susah payah ia masak.


''Gara-gara Mira menyabotase kakakku, sekarang makananku jadi nggak ke makan kan!'' Iren masih menggerutu sambil memasukkan beberapa makanan ke dalam kulkas. Setelah itu Iren pun bersiap-siap untuk segera berangkat.


... •••••♡•••••...


Setelah sampai, Iren mencari-cari keberadaan kakak dan juga adiknya, namun yang datang malah Mira.


''Mana kak Arsen dan Kenzo Mir?'' Tanya Iren.


''Ada, tu....'' Ucap Mira sambil menunjuk ke arah meja, di ruang VIP,'' ( Mira menyebutnya rumah makan, padahal bentuknya lebih menyerupai restoran dengan nuansa yang khas Jepang. Namanya saja Rumah makan Oh Mura, sama seperti nama putri mereka. Itu karena Dimas memang sangat menyukai anime dari negeri sakura itu.)


''Arsen, Kenzo kenapa malah ke sini? Aku sudah menunggumu di rumah. Apa kau tahu, aku sudah susah payah masak makanan kesukaan kalian. Tapi kalian malah bersenang-senang di sini!'' Ucap Iren tepat di depan pintu membuat orang-orang yang ada di ruangan tersebut terkejut.


Arsen lalu menghampiri adiknya yang marah itu. Sambil tersenyum, Arsen menyerahkan sebuah kotak kepada Iren.


''Arsen! Aku tidak akan terbujuk hanya dengan sebuah perhiasan ya,'' ucap Iren cemberut.


''Apa kau bilang tadi? Siapa yang mengajarimu memanggilku dengan nama saja. Aku tahu kau masih marah padaku gara-gara kejadian dulu, tapi itu tidak akan pantas jika sampai di baca para pembacanya Author nanti,'' ucap Arsen sambil menjewer telinga Iren.


''Aaaakh sakit...sakit...sakit,'' Iren mencoba melepaskan telinganya dari tangan kakaknya itu.


''Iya..iya maaf kak, tapi pokoknya aku marah sama kakak! Bisa-bisanya kakak mau di sabotase oleh Mira untuk membuatku datang ke mari,'' ucap Iren.

__ADS_1


''Iya..iya ini salahku Ren, aku memintamu ke sini karena aku ingin kau bertemu dengan seseorang,'' ucap Mira, namun matanya mengarah pada sosok pria yang saat ini juga berada dalam satu ruangan bersama mereka.


''aaaaah?'' Iren benar-benar tidak mengerti dengan tingkah sahabatnya itu. Ia pun ikut melihat ke arah mata mira melihat.


Seorang pria dengan pakaian rapi duduk sambil memperhatikan keributan yang ia buat tadi.


''Hai Iren, apa kabar?'' Ucap pria tersebut.


''Hai, kabarku selalu baik kok,'' ucap Iren sambil tersenyum menanggapinya. Wajahnya tampak tidak asing. Tapi ia tidak mengingatnya sama sekali. Iren pun bertanya pada Mira menggunakan matanya sebagai bahasa isyarat. Mira pun mengerti kebingungan yang saat ini Iren rasakan.


''Dia Gio Ren, kau benar-benar lupa padanya?'' Tanya Mira.


''Bodoh! Tentu saja aku tidak ingat. Kalau kau tidak menyebutkan namanya tadi, mana aku ingat, lagi pula kita sudah berpisah lama,'' batin Iren yang merutuki sahabatnya itu.


Iren memegang kepalanya, ia benar-benar sedang kesal dengan sahabatnya itu. Ingin rasanya ia menenggelamkan Mira ke sumur yang ada di depan rumah makannya itu.


''Aku tahu kau pusing sayang, baiklah kita kenalan ulang deh. ''Gio, ini Iren teman sekelas kita waktu SMA dan Iren, ini Gio, bodoh kalau kamu nggak inget! Padahal dulu pernah nolongin kamu waktu kamu pingsan,'' ucap Mira sambil memukul bahu Iren.


''Kau yang bodoh!'' Ucap Iren yang tidak terima karena di katain bodoh oleh Mira.


-


-


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2