
💮 Selamat membaca, Sehat selalu ya💮
Dua minggu sudah Iren berusaha menghindari Alif. Baik bertemu langsung mau pun di telepon. Alif sendiri belum bisa melupakan Iren, setiap pagi mengantarkan sarapan dan masih berusaha untuk bisa bertemu dengan Iren.
Seperti pagi ini, tiba-tiba ponselnya Iren berdering. Karena ada pesan suara yang masuk.
"Aku membelikanmu baju hangat, aku taruh di depan pintu. Cuaca sangat dingin akhir-akhir ini, ingat pakai baju yang tebal." Itulah isi pesan suara yang di kirimkan oleh Alif.
"Iya, aku tahu itu," ucap Iren, namun ia tidak membalas pesan tersebut.
Lalu 5 hari kemudian, saat ulang tahun Iren. Iren dan keluarga Mira sedang pergi ke kota untuk merayakannya di rumah pak Bayu, karena Arsen kebetulan juga sudah pulang. Ia ingin merayakan ulang tahun adiknya yang kebetulan berbarengan dengan ulang tahun papanya. Iren kembali mendapatkan pesan suara lagi dari Alif....
"Selamat ulang tahun Ren. Bunga dan kado yang ku kirimkan, apakah sudah kamu terima apa belum Ren? Suka nggak dengan kadonya?" ucap Alif dalam pesan suara itu.
"Suka....." Dan, terimakasih." Ucap Iren dengan nada yang sedih. Tanpa membalas pesan tersebut.
Iren untuk sementara tidak bisa kembali ke desa dulu, sebab pak Bayu sakit. Jadi Iren ingin merawat papanya dulu sampai sembuh. Sedangkan Arsen yang mengurus usaha papanya, Kenzo juga harus mengurus segala urusan untuk kelulusannya yang tinggal dua hari lagi.
Saat Iren sedang memasakkan bubur untuk papanya ponselnya kembali berdering, seperti biasa pesan suara masuk dari Alif.
"Ren, bisakah kita bertemu? Besok aku akan ke kota untuk menemuimu, kuharap kau datang ya," ucap Alif dalam pesan suara itu.
"Aduuh!" Iren tak sengaja menyentuh panci yang panas tanpa kain lap karena ia terkejut saat mendengar pesan suara itu.
"Dia ingin menemuiku? Untuk apa?" Batin Iren sambil menyiram tangannya dengan air kran supaya tidak melepuh.
__ADS_1
Esoknya Iren sudah tampil cantik dengan setelan berwarna coklat senada dengan jaket yang berwarna coklat muda. Ia sudah berdiri di stasiun kereta api, dari pagi sampai siang, karena menunggu kedatangan Alif. Ya, kemaren Alif mengatakan dalam pesannya, kalau ia akan datang dengan naik kereta api.
"Mba datang menjemput pacar ya? Tanya seorang bapak petugas stasiun.
"Bukan pak, tapi teman saya," jawab Iren.
"Berpakaian sangat cantik, saya kira akan menjemput pacarnya mbk," ucapnya lagi.
"Bukan pak hehehehe," Iren tersenyum menanggapinya. Ia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Alif yang tak kunjung datang.
"Aku sudah menunggumu di pintu keluar, menggunakan baju yang kau kirim saat ulang tahunku. Kapan kau akan datang, aku sudah lama menunggumu," ucap Iren yang mengirimkannya lewat pesan suara. Namun hingga sore, Alif belum juga datang. Tiba-tiba.....
"Mau sampai kapan kamu menunggunya Ren? Kamu jangan menanggapinya lagi! Anggap aja aku memohon padamu, kamu hapus segala pesan-pesan dari dia dan blok saja no nya. Aku nggak ingin kamu sedih lagi," ucap Mira yang tiba-tiba datang menyusulnya di stasiun.
"Bukan aku bermaksud mengharapkannya Mir, dia yang memintanya untuk bertemu, aku hanya ingin menurutinya untuk terakhir kalinya sebelum dia menikah Mir," ucap Iren dengan nada sedih.
Tiiiiiing.....( satu pesan masuk di ponsel Iren )
"Maafkan aku Ren, aku tidak bisa menemuimu. Ternyata mama dan keluarga Danisha mempercepat pertunangannya."
Setelah mendengar pesan suara itu, Iren jongkok lalu melipat kedua tangannya menutupi kepalanya. Mira langsung memeluknya. Ia tahu, meskipun Iren selalu mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, tapi hatinya sudah sangat rapuh. Menahan dan menyembunyikan perasaanya, hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Jangan menunggu lagi, ayo pulang. Lihatlah!" Mira menyodorkan sebuah undangan padanya. Air matanya semakin tak tertahankan lagi tak kala melihat nama yang tertera di surat undangan itu. Mira pun memeluknya sambil menepuk-nepuk pundaknya.
♡\>~<♡\>~<★\>~<♡\>~<♡
Hari ini adalah hari pernikahan Alif dan Danisha, setelah dua bulan yang lalu Alif menyatakan cintanya pada Iren. Semua orang sedang sibuk membantu-bantu di rumah Nadia. Karena pernikahan mereka di gelar di rumah kakaknya. Biasalah kalau orang desa kan kalau ada hajatan para tetangga akan saling membantu memasak dan yang lainnya.
__ADS_1
"Kamu masih di sini Ren?" Tanya Mira yang menghampiri Iren. Mira langsung mencari Irena, saat ia tahu kalau sahabatnya itu juga menghadiri pernikahan Alif dan Danisha.
"Aku hanya ingin melihat dia untuk terakhir kalinya Mir, sebelum dia benar-benar menjadi milik orang lain. Setelah ini aku harus benar-benar melupakannya. Melupakan tentang kenangan lama, dan cinta. Dan berhenti memperhatikannya lagi," ucap Iren. Lalu ia pun menghampiri pasangan mempelai itu dengan senyuman.
"Terimakasih, sudah mau meluangkan waktumu yang sibuk untuk hadir di pernikahan kami," ucap Danisha dengan senyum kemenangannya sambil menggandeng tangan Alif.
"Ya, terimakasih juga atas undangannya. Semoga kalian selalu bahagia dan langgeng selamanya," ucap Iren sambil menyalami tangan Alif dan Danisha. Setelah itu ia pun langsung pamit pulang.
"Ayo Mir!" Ajak Iren sambil menggendong Mura. Mira tersenyum melihat sahabatnya yang berusaha tegar disaat semesta dan takdir mencabik-cabik hatinya. Ia percaya, sahabatnya pasti bisa melewati ini semua.
Setelah sampai di rumah, Iren langsung pergi ke lantai atas, untuk membersihkan diri. Sedangkan Mira menaruh Putrinya yang tertidur sedari tadi ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. Ia pun kemudian pergi ke dapur untuk mengambil beberapa makanan. Setelah Iren selesai mandi, Ia turun kembali ke lantai bawah, dan melihat sahabatnya itu juga sudah tertidur, dengan sebuah mangkok yang berisi makanan yang masih ia genggam. Bahkan di mulutnya pun masih ada 1 makanan yang belum ia telan.
''Astaga Mira,'' ucapnya, karena melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia lalu mengambil makanan itu dari tangannya dan dari mulutnya Mira. Lalu memberikan selimut untuknya. Ia kemudian pergi ke kamar tamu, untuk melihat Mura. Namun ternyata Mura sudah bangun dan mencari-cari mamanya yang sedang tertidur.
''Sayang sudah bangun?'' Ucap Iren lalu menggendong gadis kecil itu.
''Mami!'' Mama mana? Apa aku ditinggal pulang?'' Tanya Mura sambil celingukan mencari mamanya.
''Tidak sayang, mamamu sedang tidur. Sepertinya iya kecapean setelah ikut membantu-bantu di tempat hajatan tadi,'' ucap Iren.
''Mami, Mura sangat lapar!'' Ucap Mura sambil memegang perut kecilnya itu. Irene tersenyum, lalu membawanya ke dapur. Di dudukannya di kursi meja makan. Iren lalu mengambil makanan yang sudah ia masak sebelum ia datang ke pernikahan Alif.
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih