Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 78: Kesedihan yang terpendam


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...



Hari semakin malam, Danisha juga sudah pamit pulang. Begitu pula dengan Mira, Dimas dan putri mereka. Sekarang yang tersisa tinggal Irena dan pak Bayu. Sedangkan Kenzo, Alif dan Arsen, mereka bertugas membereskan beberapa meja dan kursi yang berantakan.


Pak Bayu melihat Iren sedari tadi melamun menatap ke arah pintu. Ia merasa tidak tega melihatnya. Pak Bayu tahu batul apa yang dirasakan putrinya saat ini. Pak Bayu pun menghampiri putrinya dan duduk disebelahnya.


Melihat kedatangan papanya, Iren pun langsung menyandarkan kepalanya di bahu pak Bayu sambil memeluk tangan pak Bayu. Dan seketika tangisannya pun pecah dipelukan papanya itu.


Pak Bayu berusaha menenangkan putrinya, ia tahu betul bagaimana rasanya perasaan Iren saat ini yang sangat mengharapkan kehadiran Dani selaku papa kandungnya. Meskipun sudah melihatnya sedari tadi, namun pak Bayu tidak berani membahas soal Dani. Ia tidak ingin membebani pikiran Irena. Terlebih Irena baru saja sadar dari komanya. Namun saat melihat keadaan Iren yang seperti ini, rasanya hati pak Bayu ikutan hancur berkeping-keping. Melihat setiap tetesan air mata putrinya seperti sebilah pisau yang tajam dan menyayat setiap nadi-nadinya. Pak Bayu menarik nafasnya dalam-dalam, ia berusaha untuk menyembunyikan air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan anak perempuannya itu. Ia ingin yang menjadi penguat untuk putri kecilnya itu. Namun saat mendengar Iren berkata...


''Apa papa sudah benar-benar tidak menyayangi Iren, pah. Bahkan disaat Iren dalam kondisi sekarat saja, papa tidak mau menemuiku. Dan sekarang, saat Iren menikah, papa juga tidak mau datang memberikan restunya untukku dan Mas Alif.'' ( ''Hiks....hiks...hiks..'' Anggap suara tangisan Iren )


Tangisannya begitu memilukan hati. Pak Bayu menatap langit-langit rumah, agar air matanya tidak jadi turun. Ia berusaha keras agar tidak ikutan menangis. Perlahan ia menepuk-nepuk pundak putrinya.


''Jangan berkata seperti itu sayang, papa yakin, mungkin saat ini papa Dani sedang ada hal yang tidak bisa ia tinggalkan. Papa Dani adalah orang yang baik, dia selalu menyayangimu nak, bahkan saat papa datang meminta restu untukmu, dia dengan senang hati merestuimu dan mendoakan semua hal yang terbaik untuk putri kecilnya ini,'' Pak Bayu berkata sambil menyubit hidung Irena, lalu mengusap pipinya yang basah.


''Papa tidak perlu membelanya. Dia memang orang yang seperti itu. Dia selalu menomer sekiankan Irena. Bahkan sejak dulu pa. Irena ingat betul, waktu itu Irena sedang berulang tahun, mama sudah minta cuti kerja dari bosnya. Mama sibuk dari pagi masak makanan kesukaan Iren dan kesukaan papa. Tapi papa, papa malah sibuk dengan wanita selingkuhannya di hotel.


''Dia adalah laki-laki paling egois yang pernah Iren kenal pah, dia tidak pernah memikirkan perasaan mama yang notabennya wanita yang ia cintai. Apa lagi perasaan Iren. Tentu saja egonya jauh lebih penting dibandingkan dengan kami,'' ucap Irena disela-sela tangisannya.


Pak Bayu tidak dapat berkata apa-apa lagi. Tentu saja yang paling hafal sifat papanya adalah Irena. Tapi ia tidak ingin putrinya berlarut-larut dalam kesedihannya. Dan pada akhirnya hanya kebencian yang ada dihatinya. Iren dan Dani baru saja berbaikan semenjak kepergian Sriyana. Tapi pada akhirnya Dani tetap saja tidak mau merubah sifatnya. Selama ini Pak Bayu sudah banyak membantunya untuk sekedar memberi penjelasan pada Iren, saat Dani tidak bisa menghadiri hal-hal penting di dalam kehidupan putrinya. Namun sepertinya kali ini pak Bayu tidak bisa membantunya lagi. Biarkanlah Iren memilih berpikir seperti apa yang ia lihat dan rasakan.


Tangisan mereka terhenti saat tiba-tiba Alif menghampiri mereka.

__ADS_1


''Lho, kenapa papa dan Iren menangis?'' Tanya Alif saat melihat istri dan papa mertuanya itu terlihat matanya memerah.


Pak Bayu dan Iren segera menghapus air matanya. Sambil tersenyum Iren berkata...


''Tidak, kami tidak menangis. Kami tadi hanya mengingat waktu-waktu kebersamaan kami sebelum aku menikah denganmu,'' ucap Iren.


''Oooo,'' Papa tenang saja. Meskipun Iren sudah menikah dengan saya, tapi saya bisa pastikan hubungan kalian tidak akan ada perubahan apapun. Iren masihlah putri kesayangan papa, dan Alif tidak akan membatasi kebersamaan kalian. Papa bisa terus tinggal disini, menemani kami. Apa lagi kondisi Iren belum pulih betul. Nanti bila Alif pergi bekerja, papa bisa menjaga dan menemani Iren,'' ucap Alif.


Pak Bayu tersenyum mendengar ucapan Alif yang notabennya sekarang adalah menantunya. Ia pun kemudian berbisik ditelinga putrinya...


''Pilihan putri papa memang tidak pernah salah,'' ucap pak Bayu.


Iren yang mendengar perkataan Papanya pun menjadi malu. Pipinya kini sudah mulai memerah. Apalagi saat ditatap oleh Alif yang sekarang menjadi suaminya.


''Baiklah Pah, kalau begitu Alif dan Irene pamit dulu untuk kembali ke kamar,'' ucap Alif. Pak Bayu pun tersenyum mengangguk. Alif pun kemudian membopong Irene dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Pak Bayu masih berdiri menatap punggung Putri dan menantunya itu. Sesekali ia menghela nafasnya, kemudian ia berjalan menuju pintu.


''Pak Bayu melihat ke arah luar, yang ada di seberang jalan. Ia berharap, Dani saat ini sedang berjalan ke arahnya. Namun harapannya itu ternyata hanyalah tinggal harapan saja. Pak Bayu kemudian menutup pintunya perlahan lalu pergi ke kamarnya.


Di dalam kamar, Alif kemudian menidurkan Irena di ranjang. Sambil tersenyum Alif memegang salah satu telapak tangan Irena, kemudian ia duduk di samping istrinya itu.


''Aku minta maaf ya Ren, seharusnya aku selalu menjagamu dengan baik. Tapi aku selalu gagal dan selalu membuatmu terluka. Maafkan aku,'' ucap Alif sambil menciumi telapak tangan istrinya itu.


Mendengar perkataan suaminya, Irena pun mengelus puncak kepala suaminya.


''Ini semua sudah menjadi bagian takdir di dalam kehidupanku Mas, kamu tidak perlu terlalu menyalahkan dirimu. Bukankah sekarang aku baik-baik saja, dan besok kamu juga akan mengantarkan ku untuk kembali ke rumah sakit agar aku mendapat perawatan.

__ADS_1


''Jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang lebih baik kita istirahat saja,'' ucap Iren.


Alif pun tersenyum mengangguk, ia kemudian membaringkan badannya di sebelah Irena. Namun tiba-tiba Irena berkata...


''Maafkan aku ya Mas, aku belum bisa menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri karena keadaanku saat ini yang begitu lemah,'' ucap Iren dengan raut wajah yang sendu.


Mendengar perkataan Iren, Alif membalikan badannya menghadap ke istrinya. Ia lalu memeluk istrinya.


''Jangan memikirkan hal itu dulu, sekarang lebih baik kita fokus untuk kesembuhanmu. Bukankah hari-hari kita bersama masih panjang, bahkan sampai maut memisahkan kita. Jadi kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku dengan senang hati menunggumu,'' ucap Alif dengan tersenyum.


Iren yang mendengar ucapan suaminya, pipinya pun langsung merah merona karena malu. Sungguh obrolan ini terasa sangat ambigu. Apalagi saat ini, ia berada dalam dekapan Alif. Rasanya badannya sudah seperti panas dingin.


...-...


...-...


...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...


...👍like...


...❤ pavorit...


...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...


...Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2