Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 27: Memaafkan dan Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3


🌸 Selamat Membaca, dan sehat selalu 🌸


''Biar aku buka dulu,'' ucap Mira.


''Baiklah, aku akan mandi dulu,'' Iren pun pergi ke lantai atas untuk membersihkan diri, sementara Mira membukakan pintu untuk seseorang yang sedang bertamu di rumah Iren. Namun saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Mira saat mengetahui siapa sosok orang yang bertamu itu.


''Pamaaan.....'' Mira sangat terkejut saat melihat siapa yang datang bertamu.


''Nak Mira, Irennya ada?'' Tanya orang tersebut, yang tak lain adalah Dani, papa kandung Irena.


''Ada paman, mari silahkan masuk dulu,'' Ajak Mira yang mempersilahkan Dani untuk masuk dan duduk.


''Iren sedang mandi paman, paman bisa menunggunya dulu di sini. Saya akan mengambilkan minuman untuk paman,'' ucap Mira.


''Tidak usah repot-repot nak Mira. Paman juga tidak bisa lama-lama di sini. Paman hanya ingin berbicara sebentar dengan Iren. Habis itu paman akan langsung pulang, kasihan bibimu sendirian di rumah,'' ucap Dani.


''Nggak apa-apa paman, Mira ambilkan teh hangat dulu buat paman. Nanti paman bisa meminumnya sambil menunggu Iren,'' Mira pun langsung ke dapur untuk membuatkan teh dan mengambil beberapa makanan ringan untuk di sajikan bersama segelas teh hangatnya.


Di dapur, Mira sambil melamun memikirkan apa yang akan terjadi saat Iren mengetahui kalau papanya datang ke rumah ini. Ia sedikit cemas memikirkannya. Mira takut jika Iren akan marah nantinya.


...''Aku akan berbicara dulu sama Iren deh, supaya nanti dia nggak marah-marah sama papanya,'' batin Mira....


Mira pun segera mengantarkan teh dan cemilannya itu, lalu berpamitan pada pak Dani, untuk memanggil Iren.

__ADS_1


''Tidak usah di panggil nak, biar saya yang menunggunya hingga selesai, siapa tahu Iren masih mandi,'' ucap pak Dani.


''Nggak papa paman, sekalian aku mau menengok putriku yang tertidur di kamar Iren. Paman bersantailah dulu sambil di minum tehnya,'' ucap Mira sambil berjalan ke lantai atas kamar Iren.


''Siapa yang datang Mir?'' Tanya Iren saat melihat sahabatnya itu masuk ke kamarnya.


''Eeeem...'' Mira tidak bisa menjawab apa-apa. Ia sedikit bingung untuk menyampaikannya. Hingga ia di kejutkan oleh Iren yang menepuk pundaknya.


''Laah, kok melamun Mir?'' Ucap Iren yang melihat sahabatnya itu terkejut saat ia menepuk pundaknya.


''Siapa yang datang Mir? Sampai-sampai membuatmu melamun seperti itu,'' ucap Iren, lalu berjalan ke arah meja riasnya, mengambil pengering rambut untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, membuat Mira semakin gelisah.


''Aku akan ngomong, tapi kau janji dulu padaku kalau kau nggak akan marah-marah saat kau tahu siapa yang datang berkunjung di rumahmu ini,'' ucap Mira yang membuat Iren semakin penasaran. Tanpa menunggu lagi, Iren langsung keluar dari kamarnya untuk melihat tamu tersebut.


flashback on Iren.


...''Aku sibuk bekerja dari pagi pulang malam, mencari uang juga demi keluarga! Tapi kau, kau malah tetap sibuk juga sendiri dengan pekerjaanmu hingga kau melupakan Iren.''...


...''Apa kau tahu Sri? Hari ini Iren hampir saja di culik orang! Dan kau, kau malah asik sendiri dengan pekerjaanmu. Apakah masih kurang uang yang ku berikan selama ini!'' Ucap Dani yang emosi saat ia sedang bekerja, tiba-tiba pihak polisi menelponnya dan mengatakan kalau putri mereka hampir saja di culik orang....


...''Kau menyalahkanku? Kau sendiri juga tahu alasan ku mengapa aku bekerja! Iren bukan hanya butuh sosok figur seorang ibu saja, tapi ia juga membutuhkan sosok figur ayahnya. Kenapa kau hanya menyalahkanku saja, sedangkan kau juga sibuk sendiri dengan pekerjaanmu dan Eva asistenmu itu'' flashback off Iren....


Iren menuruni tangga langkah demi selangkah. Papanya yang sedari tadi menunggunya sambil menonton televisi pun langsung menoleh ke arah Iren. Air matanya kembali menetes di ujung matanya. Ia pun segera menghapusnya dan menghampiri Iren.


''Nak,'' ucapnya saat sudah berdiri di hadapan Iren.

__ADS_1


Ingin rasanya Dani memeluk putrinya langsung, namun ia juga tak ingin egois memaksakan kehendak putrinya untuk memaafkannya. Kepalanya tertunduk menutupi air matanya yang terjatuh membasahi pipinya. Iren memejamkan ke dua matanya menarik nafas dalam-dalam lalu....


''Papa...'' Iren langsung memeluk papanya, membuat Dani sedikit terkejut. Ada kelegaan di dalam hatinya saat putrinya yang berinisiatif sendiri memeluknya, namun hatinya masih takut, takut kalau ini semua tidaklah nyata. Bahkan tangannya saja tidak berani membalas pelukan putrinya dan masih menggantung di udara.


Iren tersenyum, melihat ekspresi papanya. Setelah pertengkaran dan gejolak di dalam hatinya, akhirnya Iren pun memutuskan lebih memilih untuk memaafkan papanya, dan berdamai dengan keadaan. Toh ini juga salah satu permintaan terakhir mamanya. Iren menghapus air mata di pipi papanya.


''Maaf kan Iren pah, tidak seharusnya Iren membenci papa selama ini. Seharusnya Iren bisa berpikir lebih bijak lagi,'' ucap Iren. Dani yang mendengar ucapan putrinya, menggelengkan kepalanya.


''Tidak nak, ini bukan salahmu. Tapi papa saja yang tidak pernah membuatmu bahagia. Dari dulu hingga sekarang, kau selalu menderita karena papa. Bahkan papa tidak pernah memberikan rasa kasih sayang yang utuh untukmu. Papa yang bersalah nak, papa yang seharusnya meminta maaf padamu,'' ucap Dani dan hampir saja ia bersimpuh di hadapan Iren, namun dengan segera Iren memapahnya untuk duduk kembali di sofa.


Hari itu Iren memutuskan untuk menghapus semua rasa kebencian yang ada di hatinya dan menggantinya dengan rasa kasih sayang dan rasa hormatnya sebagai seorang anak. Seharian penuh waktunya ia habiskan untuk bersama papanya. Dani yang awalnya berniat hanya sebentar saja pun tak kuasa menolak ajakan putrinya saat memintanya untuk menginap malam ini. Ia juga benar-benar merasa sangat bahagia, usahanya selama ini untuk mendapatkan maaf dari putrinya, terbayar sudah dengan kehangatan yang berbuah manis. Mereka yang terlena dengan kebahagiaan membuat Mira merasa lega dan ikut bahagia. Ia sungguh tidak mengira, setelah sekian tahun lamanya, akhirnya sahabatnya bisa berdamai dengan ayahnya.


''Andai waktu bisa terulang kembali, kembali di saat-saat kita masih bersama dalam ikatan keluarga. Pastilah kebahagiaan ini yang akan aku rasakan. Akan tetapi, waktu tidak akan pernah berputar kembali, waktu akan terus berjalan. Waktu tidak akan pernah menunggumu untuk mempertahankan bahagiamu, tapi waktu yang akan membawamu untuk melihat sebuah pelajaran, sebuah pengalaman agar kita bisa lebih menghargai arti kehidupan, arti orang-orang di sekitar kita. Hargailah selagi masih ada, jangan sampai saat sudah kehilangan, baru kita menyesal. Tapi bukankah seperti itu kehidupan? Penyesalan selalu datang belakangan, jika penyesalan datang di depan itu namanya pendaftaran ^~^ IYA KAN?''


-


-


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2