Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 30: Khawatir


__ADS_3


🌸 Selamat Membaca, Sehat selalu ya 🌸



BRAAAAK!!


Iren pun langsung menutup pintunya dengan keras, membuat Arsen dan Kenzo terkejut. Mereka pun menghampiri Iren.


''Sudahlah kak, jangan dimasukin ke hati. Orang seperti itu jika kita ladeni nanti yang ada dia seneng lagi kak,'' ucap Kenzo.


''Melihat keadaan di sini, kakak jadi khawatir sama kamu Ren. Tapi kamu malah lebih memilih tinggal di sini Ren. Apa kamu nggak darah tinggi jika tiap hari harus bertemu dengan orang-orang seperti itu Ren? Apa nggak lebih baik, kalau kamu tinggal bersama kami saja di kota Ren, kakak bisa menjagamu di sana, dan nggak harus berhadapan dengan orang-orang seperti itu'' ucap Arsen dengan suara lembut sambil mengelus-elus puncak kepala Iren.


''Maafkan Iren kak, Tapi Iren sudah terlanjur nyaman tinggal di sini kak. Lagi pula, Iren juga sudah terbiasa mendengar gunjingan mereka kak. Iren selalu menganggap itu semua sebagai angin lalu. Kakak nggak usah khawatir ya! Kan masih ada Mira juga. Dia itu seperti Wonder woman lo kak.'' Iren mencoba menjelaskan supaya kakaknya tidak merasa khawatir. Arsen hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar setelah mendengar penjelasan Iren.


''Bener kata kak Iren, kakak nggak tahu saja, gimana ganasnya kak Mira saat menghadapi orang-orang seperti mereka. Jika kakak melihatnya kakak pasti akan mengira kalau ada macan betina yang keluar dari kandang,'' ucap Kenzo lalu tertawa terbahak-bahak.


''Waaah daebak...'' Berani sekali kamu ngatain Mira seperti macan. Jika sampai dia mendengarnya....Habislah kamu Ken!'' Ucap Iren menakut-nakuti.


''Terserah wleek...'' Ucap Kenzo mengejek.


''Oh iya kak, apa aku akan tinggal saja dengan kakak,'' ucap Kenzo tiba-tiba, dan langsung mendapat jitakan keras dari Iren dan Arsen.


''Tidak boleh!'' Ucap Iren dan Arsen serempak. Kenzo mengelus-elus kepalanya yang sakit akibat jitakan kedua kakaknya itu.


''Kenapa nggak boleh kak? Kan nanti Ken bisa jagain kakak...'' Belum selesai bicara langsung mendapat pelototan dari kedua kakaknya.


''Kau itu baru lulus, belum lagi surat-surat yang kau ajukan di beberapa perusahaan itu. Jika ada salah satu dari mereka yang menerimanya, apa kau akan membatalkannya ha?'' Ucap Arsen.

__ADS_1


''Loo, memangnya Ken nggak nerusin kuliahnya di luar Negeri kak?'' Tanya Iren, sebab kakaknya juga lulusan dari luar negeri, papa Bayu dan mamanya juga dulu sempat bilang kalau nanti semua anak-anaknya harus menyelesaikan kuliah mereka walaupun harus ke luar negeri. Tapi karena Iren saat itu malah lebih memilih bekerja di kantor Dafa setelah lulus kuliah tanpa mau lanjut lagi ke luar negeri. ''Haiiis cinta memang bisa membuat orang menjadi buta, dan mengorbankan masa depannya.''


''Kakak! Aku sudah susah payah membujuk Papa dan kak Arsen, tapi kau malah mengungkitnya kembali!'' Ucap Kenzo dengan kesal.


''Biarin wleek,'' Iren balik membalas ejekan adiknya itu.


''Oh iya kak, berapa hari kalian akan menginap di sini?'' Tanya Iren.


''Kenapa? Apa nggak boleh kakak di sini lama-lama?'' Tanya Arsen.


''Bukan gitu maksudnya kak, aaaah terserah kaka saja lah..'' Iren lalu pergi begitu saja ke kamarnya yang ada di lantai atas. Arsen menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. Ia pun segera membereskan barang-barangnya dan Kenzo yang menunjukkan kamarnya sekaligus membantunya.


...>•<~>•<°•♡•°>•<~>•<...


7 Bulan kemudian......


Kehidupan pernikahan Alif berjalan dengan baik. Dan sepertinya Alif juga sudah mulai terbiasa dan menerima pernikahannya. Walau masih tinggal jadi satu dengan kakaknya, tapi Alif tetap berusaha untuk segera mengumpulkan uang agar mereka bisa memiliki rumah sendiri. Walau sebenarnya orang tua Danisha juga sudah menyiapkan rumah untuk mereka, namun Alif bertekad untuk hidup mandiri tanpa mengandalkan harta dari orang tua mereka.


Pernah juga sekali, waktu itu salah satu temannya menunjukkan sebuah foto istrinya yang sedang makan malam bersama seorang pria saat Alif sendiri sedang bekerja di kota. Tapi Alif segera menepisnya dan mengatakan ''Mungkin itu temannya.'' Padahal di desa itu Danisha jarang bersosialisasi dengan orang-orang di sana.


Dan tanpa terasa, pernikahan mereka sudah 7 bulan lamanya. Namun mereka belum juga di karuniani seorang anak. Meski begitu, mereka tetap terlihat harmonis. Alif pun tidak pernah menuntut Danisha untuk segera memiliki anak. Karena Alif sendiri masih berusaha menata hatinya, agar sepenuhnya bisa menerima Danisha sebagai istri seutuhnya dan menjadi ibu untuk anak-anaknya.


Hingga suatu hari, ponsel Alif berdering berulang-ulang kali. Namun saat itu Alif sedang sibuk dan tidak membawa ponselnya. Hingga setelah selesai bekerja Alif baru melihat ponselnya yang sudah dipenuhi ratusan notifikasi chat, maupun telefon dari kakaknya. Ia pun segera menghubunginya, takutnya ada sesuatu hal yang penting.


''Halo Lif!'' Suara kakaknya yang mengangkat telfonnya.


''Maaf kak, tadi aku sedang sibuk. Sampai-sampai tidak tahu kalau kakak menelfonku berulang kali,'' ucap Alif.


''Itu tidak penting Lif! Yang terpenting sekarang, kau harus segera pulang dahulu,'' ucap Nadia. Alif yang mendengar perkataan kakaknya pun merasa penasaran. Kenapa tiba-tiba kakaknya menyuruhnya pulang.

__ADS_1


''Memangnya ada apa kak? Apa ada sesuatu hal yang mendesak, sampai-sampai kakak menyuruhku untuk pulang?'' Tanya Alif.


''Kamu pulanglah dulu Lif, kakak tidak bisa menjelaskannya lewat telefon. Kalau bisa besok kamu harus sudah sampai ya Lif! Kakak mohon!'' Ucap kakaknya yang semakin membuat bingung Alif. Sebab kakaknya memintanya pulang, bahkan sampai memohon.


''Baiklah kak, nanti aku akan bilang sama mama dan papa, supaya besok aku sudah bisa sampai rumah,'' ucap Alif.


''Janji ya Lif!'' Kakaknya mencoba meyakinkan Alif supaya Alif benar-benar mau pulang dulu.


''Iya kak,'' ucapnya. Telefon pun terputus tak kala kakaknya berpamitan dan berpesan padanya supaya lekas pamit dulu sama orang tuanya.


...''Sebenarnya apa yang terjadi? Bahkan saat aku menghubungi Nisha pun tidak di angkat, ada apa sebenarnya'' batin Alif....


Setelah berpamitan dengan mama papanya, Alif pun pulang malam ini. Orang tuanya sudah memintanya untuk berangkat besok pagi saja, namun Alif tetap kekeh pulang. Entah kenapa ia pun merasakan perasaan yang tidak enak.


Perjalanan memakan waktu yang cukup lama, hingga pukul 11 malam, akhirnya ia sampai di rumah kakaknya. Ia sedikit bingung, karena lampu rumah masih menyala. Terlebih lagi saat ia membuka pintu...


''Maaas...'' Danisha langsung menghampiri Alif dan memeluknya. Tapi....


''Lepaskan adikku Nish.......


-


-


Nah lo....Kira-kira ada apa ya yuk nantikan kisah selanjutnya


👍like


❤ pavorit

__ADS_1


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih


__ADS_2