Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 33: Tetanggaan dengan Gio


__ADS_3


🌸 Selamat Membaca, Sehat selalu ya 🌸


Dan saat melihat siapa yang datang, Iren terkejut saat ia tahu siapa yang datang bertamu.


''Gio...!'' Ucap Iren saat mengetahui kalau ternyata Gio yang datang ke rumahnya.


''Hai Ren? Apa kabar?'' Ucap Gio sambil mengangkat tangan kanannya menyapa Iren.


''Bagai...'' Belum selesai Iren bertanya Gio pun langsung menjawabnya.


''Aku pindah lagi ke desa ini, karena ada salah satu pasienku yang sedang butuh lingkungan baru untuk membantu penyembuhannya. Dan mulai sekarang kita akan bertetanggaan Ren. Lihatlah! Rumahku berada disebelah kiri kamu, hanya kehalang 2 rumah saja,'' ucap Gio.


''Ooooo,'' Iren hanya ber O ria saja, mendengar jawaban Gio.


''Siapa yang datang Ren?'' Tanya Mira yang ikut menghampiri sahabatnya itu. Namun saat Mira sudah mendekat, ia sedikit terkejut juga.


''Gio...!'' Wah ada angin apa yang membawamu ke desa ini Gi?'' Tanya Mira meledek. Sebenarnya Mira sudah tahu alasan Gio mengapa tiba-tiba pindah lagi ke desa ini. Apa lagi kalau bukan demi mengejar cintanya kan?.


''Hehehe iya Mir, aku baru pindah ke desa ini kemaren. Kapan-kapan kamu bisa main ke rumahku, dan jangan lupa ajak si kecil Mura juga,'' ucap Gio.


''Pasti...pasti, oh iya! Kebetulan kami sedang sarapan. Apa kau mau ikut bergabung sarapan dengan kami Gi?'' Tanya Mira dan langsung mendapat pelototan dari Iren.


''Apa-apaan sih Mir, aku cuma masak dikit. Gak cukup buat empat orang! Kenapa kau malah memintanya untuk ikut sarapan. Apa kau akan memasakkannya?'' Bisik Iren di telinga Mira.


''Tenang saja, aku ada bawa makanan juga dari rumah makan kok, yang penting ajak dia masuk dulu. Gak sopan tahu kalau dilihat orang, masa ngobrol di depan pintu. Tamu tidak dipersilahkan masuk!'' Bisik Mira menjawab pertanyaan Iren.


''Iiiisss Kau ini!'' Bisik Iren sambil tersenyum konyol di depan Gio.


''Nggak usah Mir, aku tadi sudah sarapan kok. Aku hanya ingin menyapa kalian saja saat tadi aku melihat mu datang Mir,'' ucap Gio.


''Ooooh untunglah..'' Ucap Mira spontan.

__ADS_1


''Haaaah?'' Ucap Iren dan Gio berbarengan.


''Hehehe...bukan apa-apa, oh anakku menangis. Aku masuk dulu ya Ren, Gio,'' ucap Mira yang terburu-buru langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


''Aku tidak mendengar anakmu menangis pun,'' ucap Iren yang tidak tahu maksud Mira meninggalkan mereka berdua.


''Diamlah bodoh! Ngobrol saja kalian berdua,'' teriak Mira yang gemas karena Iren sama sekali tidak peka.


''Kau yang bodoh! Orang aku beneran gak denger Mura nangis kok.'' ( Hedeeh Iren...Iren ) Gio tersenyum melihat tingkah dua sahabat itu. Sejak dulu, Iren dan Mira sifat dan sikapnya masih sama. Saling perhatian, saling mengerti, saling membela dan pastinya persahabatan mereka bak seperti saudara kembar. Terkadang membuat Iri yang melihatnya.


''Oh iya, ayo masuk dulu Gi, kayaknya bener kata Mira. Sepertinya kurang pantas tidak mempersilahkan tamu masuk dan malah mengajaknya ngobrol di depan pintu,'' ucap Iren.


''Haaah..'' Oh, lain kali saja Ren, soalnya aku harus segera pergi ke rumah pasienku dulu. Kami ada janji temu hari ini,'' ucap Gio. Kemudian langsung berpamitan pada Iren.


''Bay Ren?'' Ucap Gio lalu pergi dengan mengendarai motornya.


''Bay juga Gi,'' balas Iren. Meskipun Gio sudah tidak mendengarnya lagi karena motornya sudah melaju cukup jauh.


''Tumben melamun, ada apa?'' Tanya Iren sambil bersandar di pintu balkon.


''Aku nggak tahu Ren. Tiba-tiba setelah melihat Gio, rasanya aku kangen banget sama kak Hafiz,'' ucap Mira dengan tatapan yang sendu.


Benar, sudah 3 tahun lebih kak Hafiz dan orang tuanya Mira pergi ke luar negeri. Terkadang Iren juga memikirkannya. Apa lagi saat teringat kak Hafiz yang sudah banyak berkorban untuknya.


''Apa paman dan bibi nggak menelfon akhir-akhir ini Mir?'' Tanya Iren.


''Menelfon sih, hanya saja kerinduanku rasanya gak terobati kalau hanya lewat telefon ataupun vidiocall. Aku nggak tahu kapan mereka akan pulang Ren. Atau, sebaiknya aku menyusul mereka ya Ren?'' Ucap Mira.


''Kau akan pergi menyusul paman dan bibi, lalu bagaimana denganku? Apa kau tega meninggalkanku sendiri Mir? Kalau kamu pergi, aku juga akan ikut Mir, aku juga merindukan paman dan Bibi,'' Ucap Iren sambil memeluk sahabatnya itu.


''Tidak! tidak boleh. Jika Iren ikut Iren akan tahu kebenarannya. Aku nggak mau membuat Iren sedih lagi,'' batin Mira.


''Nanti sajalah Ren, lagian aku cuma asal ngomong saja. Oh iya, Gio tadi ngomong apa aja Ren? Apa dia mengajakmu makan malam kah? Atau mengajakmu jalan-jalan kah?'' Tanya Mira yang mencoba mengalihkan perhatian Iren.

__ADS_1


''Bicara apa! Kami tidak membicarakan apa-apa kok, dia ada janji sama pasiennya. Jadi terburu-buru untuk pergi,'' ucap Iren.


''Eh, Ren! Kira-kira Alif nanti bakal gimana ya? Aku kok jadi penasaran seandainya mama dan papanya tahu kalau menantu kesayangannya itu tukang selingkuh. Kira-kira gimana nanti reaksinya ya Ren?'' Ucap Mira.


''Mana aku tahu. Lagian, ngapain ngurusin hidup orang Mir, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka baik-baik. Toh juga masih termasuk pengantin baru kan,'' ucap Iren acuh tak acuh.


''Memangnya perasaanmu dengannya apa sudah hilang sepenuhnya Ren?'' Tanya Mira tiba-tiba. Dan langsung membuat Iren mengehentikan langkahnya seketika. Iren pun berkata...


''Kurasa sudah. Ketika kamu sudah bisa merelakan segala sesuatu yang kamu senangi, di situlah kamu sudah belajar ikhlas. Lagi pula hidup itu harus berjalan Mir, kita tidak bisa terpaku di tempat yang hanya akan membuatmu sakit hati. Dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya, dan akupun juga harus bahagia dengan kehidupan yang kujalani sekarang, untuk apa kita menempatkan diri hanya untuk terus terluka, sedangkan sebenarnya kita bisa bahagia dengan cara yang berbeda. Dan, cara terbaik untuk bisa ikhlas merelakan sesuatu adalah dengan meyakini bahwa apapun yang datang pasti akan pergi.'' ucap Iren. Mira pun tersenyum dan memeluk bahu Iren.


♡•••••>●~●<•••••♡


Di tempat lain...


Tok...tok...tok...


''Lif! Sarapan dulu yuk, kamu dari semalam belum makan lo Lif!'' Ucap Nadia yang sedang berusaha memanggil adiknya.


Dari semalam, setelah Nadia keluar kamar, Alif langsung mengunci pintunya. Bahkan hingga pagi, Alif belum juga keluar kamar. Nadia khawatir jika adiknya akan berbuat hal yang aneh-aneh. Bahkan dari tadi ia mengetuk pintu saja tidak ada sahutan.


-


-


Kira-kira apa yang sedang terjadi pada Alif ya🤔 Authornya ikut penasaran. Nantikan yuk kisah selanjutnya hanya di www. Dot Mala Comel 🤣🤣🤣🤣🤣🤣


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2