
💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮
''Lif! Jangan tarik-tarik mama, mama belum selesai bicara!'' Ucap Ranty.
''Mamaaa....'' Bisa tidak, mama tidak membuat keributan lagi! Irena tidak tahu apa-apa mah. Kenapa mama selalu saja bertindak gegabah, dan asal menuduh!'' Alif benar-benar sudah habis kesabarannya. Ia sungguh kecewa melihat mamanya memarahi orang yang di cintainya, bahkan sampai menamparnya.
Alif benar-benar kehilangan muka untuk bisa bertemu kembali dengan pak Bayu. Apa lagi saat mendengar suaranya yang penuh dengan rasa kecewa terhadap dirinya. Alif membuang nafas kasar, ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa lagi.
''Lif, mama seperti ini juga demi kebaikan kamu Lif. Meskipun pak Bayu orang terpandang, tapi tetaplah hanya papa tiri Irena. Kamu harus sadar Lif, Iren sama saja seperti mamanya penggoda suami orang, tukang selingkuh....''
''Cukup mah, mama tahu dari mana jika mamanya Iren menggoda suami orang? Mah, tidak semua orang itu sama seperti mama, yang menghalalkan segala cara demi menggapai tujuan mama. Kali ini, Alif benar-benar sangat kecewa dengan mama,'' Alif menutup kedua matanya, ia sungguh tidak mengira akan terjadi masalah seperti ini.
''Kamu masih nyalahin mama Lif, mama akui mama duku banyak salah. Tapi kan gak semua salahnya mama Lif, mama...'' Belum selesai Ranty bicara, Alif langsung pergi meninggalkan mamanya begitu saja.
''Lif!''
''Alif!'' Tunggu, mama belum selesai berbicara!'' Namun Alif tidak mengindahkan suaranya dan tetap pergi meninggalkan dirinya.
''Aaaaaaaakh!'' Teriak Ranty, ia pun lalu pergi meninggalkan tempat itu juga.
♡°°°°°°°•••••♧•••••°°°°°°°♡
Saat ini, Iren masih duduk diam di tempat kerjanya pak Bayu. Pak Bayu yang melihatnya pun merasa tidak tega. Ia merasa gagal menjalankan wasiat istrinya untuk selalu menjaga putri mereka.
__ADS_1
''Aku harus segera berbicara dengan Alif.'' Pak Bayu pergi keluar. Terlihat ia seperti sedang menghubungi seseorang. Dan tak lama kemudian Kenzo datang dengan Mira. Ternyata tadi ia sedang menghubungi Mira, tapi karena Dimas suami Mira tadi pagi jatuh dari kamar mandi dan tidak bisa berjalan kemana-mana. Akhirnya Kenzolah yang mengantarkan Mira.
Sesampainya di dalam, Mira melihat sahabatnya itu melamun. Pemandangan seperti itu rasanya seperti dejavu. Mira ingat betul, dulu saat Irena ada masalah dengan Dafa, Irena juga sering terlihat murung. Pak Bayu pun mulai menceritakan apa yang sudah terjadi tadi. Mira sangat geram setelah mendengarnya.
''Nenek lampir itu selalu saja membuat masalah!'' Tangan Mira mengepal emosi setelah mendengar cerita pak Bayu.
''Kenzo akan mendatangi mereka saja pah,'' ucap Kenzo, lalu ia pun berdiri, namun dengan segera pak Bayu mengehentikannya.
''Apa yang akan kau lakukan ha? Sudahlah! Jangan membuat keributan lagi,'' ucap pak Bayu.
''Tapi pah...''
''Sudah...sudah! Nanti biar papa yang bicara dengan Alif. Sekarang kalian antarkan Iren pulang. Biarkan dia beristirahat dahulu. Mira tolong kau jaga dan hibur dia ya!'' Mira pun mengangguk paham.
''Ren, ayo pulang dulu yuk. Mura dari tadi menanyakanmu,'' ucap Mira. Irena menghapus air mata yang ada di sudut matanya, dengan segera ia menghapusnya dengan senyuman.
''Pah, Iren pulang dulu ya pah. Papa jangan capek-capek,'' pesan Iren sebelum ia meninggalkan tempat itu.
''Iya sayang, pulanglah dan beristirahatlah. Setelah pekerjaan papa selesai, papa akan segera pulang,'' pak Bayu mengelus puncak kepala Irena. Dan mereka pun segera kembali ke rumah.
Selama di perjalanan Irena terlihat murung terus. Sesekali Mira dan Kenzo meliriknya. Setiap di ajak berbicara pun hanya menjawabnya dengan seadanya. Hingga sampai rumah Iren turun dari mobil dan berlalu begitu saja masuk ke kamarnya.
''Apa yang terjadi dengan Iren Yang?'' Tanya Dimas, saat ia melihat Irena terlihat murung saat memasuki rumah.
''Ini semua gara-gara mak lampir itu! Aku kesal sekali padanya,'' Mira mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas, lalu menenggaknya hinggal tak tersisa.
__ADS_1
''Mak lampir?'' Dimas belum mengerti siapa yang di maksud oleh istrinya, karena tiap istrinya tidak menyukai seseorang pasti akan di berinya nama yang macam-macam.
''Mamanya Alif!'' Ucap Mira.
''Mamanya Alif? Apa tadi Iren habis bertemu dengan mamanya Alif? Waaah, aku tidak menyangka jika Alif akan secepat itu membawa Iren untuk bertemu mamanya,'' ( tunggu dulu....sepertinya Dimas salah faham.)
Plaak... ( suara tangan Mira yang memukul bahu suaminya )
''Auuuukh!'' Sakit Yang,'' Dimas mengelus-elus bekas pukulan istrinya tadi.
''Siapa suruh IQ mu gak mbok pake! Aduuh Sayang, kamu tahu nggak? Mamanya Alif tu ternyata kliennya paman Bayu. Dan saat Iren mengantarkan ponsel tadi, mereka tak sengaja bertemu. Irena di marah-marahi, di maki-maki bahkan sampai di tampar, aku jadi kesel sendiri saat mendengar ceritanya. Jika aku ada di situ, sudah habis itu mak lampir aku pukul!'' Ucap Mira dengan emosi, lalu kembali mengambil segelas air dingin lagi, lalu meneguknya hingga tandas.
''Sudah...sudah, jangan emosi lagi. Kasihan Irena jika sampai mendengarnya. Dia sudah menjalani hari-harinya dengan sulit di tambah lagi masalah ini. Lebih baik kamu menghiburnya, ajak jalan-jalan atau gimana. Redakan emosimu, jika kamu saja tidak bisa menahan emosi, lalu bagaimana dengan Iren yang saat ini butuh banyak suport dan dukungan.'' Mendengar ucapan suaminya, Mira membuang nafas pelan. Benar juga apa yang di katakan suaminya. Iren saat ini butuh hiburan, butuh suport dan dukungan. Untuk apa ia menghabiskan energi hanya untuk emosi yang tidak jelas.
''Kau benar Yang, terimakasih sudah mengingatkanku,'' ( Mira memegang tangan suaminya ) ''Dan maaf ya, tadi aku sudah memukulmu. Apa masih sakit?'' Ucap Mira sambil mengelus-elus bahu suaminya.
''Sudah tidak sakit, kau ini kalau marah selalu KDRT sama suamimu, sepertinya aku harus bilang sama mama supaya kamu di marahi karena sudah KDRT padaku,'' ucap Dimas meledek istrinya dan sengaja menggodanya.
''Kamu sih... tiap di ajak ngomong selalu nggak nyambung, aku heran kenapa dulu aku bisa jatuh cinta padamu,'' Mira membalas ledekan suaminya.
''Dulu? Apa sekarang kamu sudah tidak cinta lagi padaku Yang? Kau jahat sekali, setelah lima tahun menikah sekarang kau merasa bosan padaku,'' ( astaga pasangan ini )
"Astaga kalian! Bisa tidak kalau bermesra-mesraannya lihat tempat dan kondisi?'' Ucap Kenzo tiba-tiba. ( wkwkwk sebenarnya di ruangan itu tadi ada Kenzo yang sedang mengajak main Mura.)
''Siapa suruh jomblo!'' Ucap Dimas dan Mira bebarengan.
__ADS_1