Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 22: Bintang yang tertutup awan


__ADS_3


Mira Husnaini


♡☆


...Aku bermimpi cahaya bintang itu menarik bajuku...


...Kemeja putih yang menutupi bahu lemahku...


...Aku telah melihat bahwa akan selalu ada seseorang...


...yang menyembuhkan lukaku...


...Aku akan pergi kepersimpangan jalan itu untuk waktu yang lama...


...Melihat kebelakang di bawah lampu redup...


...Aku suka matamu yang melihat bintang-bintang dengan tenang...


...Aku juga mencintai alam semesta di hatimu...


...membuat waktuku tak berhenti...


...Mengingatnya membuat siang dan malamku berada dalam penyesalan, angin berhembus dari ketinggian...


...Tak ada satupun yang menunggu...


...Aku juga bermimpi berpergian keplanet itu, melihat bintang yang jatuh melalui awan...


...Aku juga melihat kearah bukit dengan sedih, menuju jalan keluar dari mimpiku...


...Akankah itu bisa mengarah ke ujung langit berbintang?...


...Aku terhanyut berada di bintang itu, melihat ke atas...


...Bintang manakah yang menjadi matamu?...


...Tak bisa menyentuhmu itu membuatku sulit untuk memilikimu...

__ADS_1


...Aku tak bisa menahan waktu, musim semi dan musim gugur telah berakhir...


...Angin seakan berteriak dalam kebebasan, aku akan mendengarkannya dengan lembut ☆♡...


(~ Terjemahan ost You are my glory~)


💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮


''Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas sikap mamaku waktu itu Ren, dan juga, aku ingin bilang kalau aku akan segera bertunangan dengan Danisha.''


Saat mengatakan itu, rasanya hatiku juga ikut hancur, terlebih saat mendengarnya mengucapkan selamat atas pertunanganku dengan Danisha. Aku tak dapat menahan lagi air mataku. Ku hampiri dirinya dan aku langsung memeluknya...


~☆POV Author ☆~


Alif memeluk Irena dengan sangat erat, ia berharap waktu bisa berhenti dalam pelukan mereka. Namun tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang melihat dan mendengarkan percakapan mereka, tak jauh dari mereka berdiri. Tangannya mengepal dengan erat mencengkram ujung bajunya. Dalam hatinya pun mengutuk Irena dengan penuh kebencian.


Irena pun melepaskan pelukannya. Ia mengusap pipinya Alif yang basah karena air mata.


''Jangan menangis Lif, kamu harus menerimanya dengan ikhlas. Biar bagaimana pun dia adalah wanita pilihan keluargamu yang akan menjadi istrimu, ibu dari anak-anakmu kelak. Kamu harus belajar menerimanya dan mulailah berusaha mencintainya, Aku akan selalu mendoakan kalian agar selalu bahagia,'' ucap Irena.


Alif menggelengkan kepalanya, lalu memeluk Iren kembali.


Iren yang mendengar ucapan Alif membuatnya terbelalak. Bagaimana bisa Alif berpikiran seperti itu.


''Lalu bagaimana dengan mamamu Lif? Oooh, mungkin kamu tidak terlalu peduli dengan mamamu, tapi bagaimana dengan kakak dan adikmu? Kau tahu jelas bagaimana mamamu memperlakukan kakakmu, kau tidak ingin kan membuat mereka sedih?'' Irena mencoba membujuknya walau ia sendiri saja rasanya sudah tidak sanggup lagi bersuara.


''Tenangkan pikiranmu Lif, jangan hanya memandang sepihak saja. Tapi pandanglah ke semua pihak. Dan pikirkan akibatnya nanti. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya. Bukannya aku tidak mencintaimu juga, tapi aku juga harus memikirkan keluargamu dan juga keluargaku,''


''Jika memang sudah takdir, jodoh tak akan kemana. Pulanglah dulu Lif, tenangkan pikiranmu. Aku yakin kau mampu mengatasi kebimbangan hatimu sendiri.'' Setelah mengucapkan itu, Iren pun pergi memasuki rumahnya meninggalkan Alif yang masih berdiri memandang punggung perempuan yang sangat ia cintai itu, yang perlahan-lahan menghilang memasuki rumahnya.


Irena masih berdiri di balik pintu rumahnya, air matanya tak berhenti mengalir membasahi pipinya. Ia baru saja mendengar bawah cinta pertamanya, orang yang mengetarkan kembali hatinya yang telah lama membeku dan ia kagumi, mengatakan bahwa dia itu sangat mencintai dirinya. Hatinya berbunga sekaligus layu seketika. Entah mengapa takdir seakan terus mempermainkannya, dan cinta yang tak pernah berpihak padanya.


''Iren...oh Iren''


Kenzo yang melihat kakaknya menangis seperti itu, langsung menghampirinya dan memeluknya.


''Kak, apa kakak mau pulang dulu ke rumah papa. Karena besok katanya kak Arsen akan pulang,'' ucap Kenzo. Iren menggelengkan kepalanya, lalu mengusap air matanya.


''Apa mie rebus telur pesanan kakak sudah matang Ken?'' Tanya Iren. Mendengar ucapan kakaknya, Kenzo semakin merasa sedih. Ia telah gagal menjaga kakaknya. Padahal papanya sudah mewanti-wantinya untuk menjaga kakaknya dan tidak akan membiarkan kakaknya menangis lagi.

__ADS_1


''Kakak tidak apa-apa Ken, kenapa malah menangis?'' ( Iren mengusap air mata yang membasahi pipi Kenzo ) "Kakak hanya merasa sangat lapar, lagi pula tidak ada masalah apapun, jangan terlalu membuat papa khawatir Ken, ayo kita makan!'' Iren berdiri menarik tangan adiknya untuk pergi ke meja makan.


Kenzo melihat kakaknya makan sangat lahap, namun air matanya selalu membasahi pipinya. Sesekali Iren mengambil tisu untuk mengelapnya.


''Kenapa mie masakanmu sangat pedas Ken, lihatlah! Kakak sampai keluar ingus dari tadi,'' Namun Kenzo tahu jika kakaknya hanya mencoba mengalihkan perhatiannya untuk menutupi perasaannya yang saat ini hancur berkeping-keping.


Setelah makan malam, Iren langsung ke kamarnya. Kenzo masih sibuk membersihkan meja makan dan mencuci piring dan peralatan masak yang kotor.


Iren masih diam bediri di balkon kamarnya, menatap bintang di langit. Angin berhembus cukup kencang. Setelah selesai beberes, Kenzo datang membawakan sweter lalu menghampiri Irena.


''Kenapa kakak masih berdiri di sini dan memakai pakaian yang tipis? Angin malam ini terasa sangat kencang, apa kakak tidak merasa kedinginan? Bagaimana jika nanti masuk angin?'' ucap Kenzo sambil memakaikan sweter itu ke kakaknya.


Namun tiba-tiba Irena menangis di pelukan Kenzo. Kenzo tahu, sedari tadi kakaknya berusaha menahannya hingga yang terdengar kini, tangisan yang sangat memilukan.


''Aku sangat merindukan mama Ken, apa mama di sana baik-baik saja sekarang,'' ucap Irena setelah ia berhenti menangis.


''Kita doakan saja yang terbaik untuk mama kak, Kenzo yakin, mama sekarang sudah bahagia. Sudah tidak merasakan sakit lagi. Lebih baik kakak segera beristirahat! Angin malam tidak baik untuk kesehatan kakak. Jika kakak sakit, mama pasti sedih melihatnya,'' ucap Kenzo sambil memapah Irena untuk masuk ke dalam rumah.


••••♣︎°♡°♣︎•••••


Ke esokan harinya...


Pagi-pagi sekali Mira sudah datang bersama Mura. Saat ini ia sedang berkutat di dapur untuk memasakkan makanan kesukaan Iren. Sedangkan Kenzo bermain dengan Mura, supaya tidak mengganggu mamanya yang sedang memasak.


Seteleh Kenzo menceritakan kejadian kemaren, Mira bermaksud untuk membuatkan Irena sarapan dan siangnya ia ingin mengajaknya pergi ke pantai.


Namun hingga jam 09.00, Irena belum juga turun dari kamarnya. Saat ia hendak memanggil Irena, Irena sudah lebih dulu menuruni tangga.


''Pagi-pagi sekali kau datangnya Mir?'' Tanya Iren. Meskipun terlihat ceria, namun dari wajahnya tergambar jelas kesedihannya. Sepertinya semalam Irena tidak tidur, karena lingkar matanya terlihat menghitam dan sangat sembab.


''Tentu saja, memangnya kau! Anak gadis kok bangunnya siang! Bagimana jika rezekimu di totol ayam!'' Ucap Mira sambil menyerahkan segelas teh madu ke tangan Irena.


''Jika di totol ya di rebut kembali lah! Kalau nggak kita sembelih ayamnya. Iya nggak Mura sayang?'' Ucap Irena lalu menghampiri Mura dan menggendongnya.


''Mami...Aku sangat merindukanmu,'' ucap bocah kecil itu dengan suara lucunya.


''Benarkah? Bukankah baru kemaren kita berpisah?'' Gadis kecil itu terdiam mendengar perkatanan maminya lalu...


''Tentu saja Mura selalu merindukan mami Mura yang sangat cantik dan baik hati ini ( sambil bermanja ria di gendongan Iren ), mami kita pergi ke pantai yuk! Mura mau main air mami,'' ucap Mura. Tentu saja kata-kata itu sudah di atur oleh mama dan paman Kennya.

__ADS_1


''Ke pantai?.....


__ADS_2