
Satu minggu telah berlalu Arbeto sekarang sudah keluar dari rumah sakit tujuan pagi ini kembali ke kantor melakukan rutinitas setiap harinya.
Tap ...tap...tap...
Langkah kakinya memaksanya berjalan menuju ruanganya, banyak para pegawainya yang menyapa dirinya.
Saat melewati meja resepsionis dia berkata kepada pegawainya
"jika nanti adiknya datang suruh menemui dia di ruanganya"
"Baik tuan pesan anda akan saya sampaikan".
Sesampai di ruanganya Arbrto duduk di kursi kebesarannya menatap dokumen yang sudah menumpuk bagai gunung.
Memulai memeriksa satu persatu dokumen tersebut larut dalam tulisan dan angka-angka membuat dia sedikit agak pusing.
Sementara di bawah di lobi kantor masuk dengan tegasnya seorang laki-laki yang tampan . Ya dia adalah Arslan Nicholas langsung menuju resepsionis mengatakan bahwa ingin bertemu dengan tuan Arbeto, pegawai yang melihat Arslan langsung menyuruh pergi ke ruangan Arbeto.
Dari wajahnya saja dia tau klo pria tadi adik dari pemilik perusahaan karena wajahnya sebelas duabelas dengan kakaknya.
Penampilan Arslan di kantor.
Sesampainya di pintu ruangan kakaknya Arslan segera mengetuk pintu ruangan kakaknya.
__ADS_1
Tok...tok...tok....
Arbeto yang mendengar suara ketukan pintu menyuruh masuk.
Arslan berjalan menuju kursi duduk di depan Arbeto. Segera Arbeto menghentikan aktifitasnya menatap adiknya mulai mengambil beberapa dokumen di atas meja.
Tumpukan dokumen tersebut di serahkan Adiknya, ini harus kamu periksa setelah selesai kamu bisa serahkan kembali kerjakan dengan sungguh -sungguh.
Sekarang kamu bisa keluar tanya pada Siska tempat ruanganmu. Arslan keluar dari ruangan setelah berpamitan pada kakaknya sekarang dia menuju ke tempat duduknya Siska.
"Permisi nona bisa antarkan saya ke ruangan yang sudah di persiapkan tuan Arbeto"
Siska pun melihat lelaki yang bicara denganya segera beranjak dari tempat duduknya langsung berjalan menuju ruangan yang sudah di persiapkan.
Arslan pun mengikuti sekretaris kakaknya dalam hati melihat sekretaris kakaknya cantik tapi sayang pendiam.
Dia pun mulai duduk di mejanya sambil menaruh dokumen yang di berikan kakaknya.Pertama dia mulai membuka
dokumen tersebut melihat -lihat banyaknya angka yang bertebaran sekitika itu kepalanya begitu pusing.
Gimana klo setiap hari harus memeriksa ini semua,sudah pasti dia akan menjadi laki-laki yang cepat tua dari usianya.Ingin sekali dia kabur pergi ke tempat temanya , tapi ancaman kakaknya membuat nyalinya ciut.
Arbeto sendiri masih sibuk dengan dokumennya begitu banyak yang mesti di periksa,tidak melihat bahwa di hpnya sudah banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari kekasihnya.Karena hpnya di silent dan tidak ada getaran jadi dia tidak tahu klo kekasihnya menghubunginya.
Sementara Jasmin yang saat ini di kafe terlihat kecewa dari tadi sudah menggirim pesan tidak di jawab apalagi telfon gak di angkat sama sekali.
__ADS_1
Sesakali melihat tapi nihil pesan begitu banyak tidak satupun di balas." Kamu lagi apa bee tidak biasanya kamu mengabaikan ku seperti ini."
Jam makan sudah tiba Arbeto keluar ruangan tanpa melihat hpnya dia menuju ke ruangan adiknya untuk mengajak makan siang bersama.
Dua laki-laki tampan berjalan menuju lift turun ke lobi . Sementara para karyawan wanita sudah banyak bergosip melihat kakak dan adik yang sama -sama tampan.
Mereka ingin sekali menjadi salah satu kekasihnya,
apalagi mereka tau tidak ada wanita yang datang untuk menemui salah satunya jadi menggangap pada jomblo.
Arbeto dan Arslan yang menuju parkiran segera melajukan mobil ke tempat restaurant. Setelah sampai di restauran mereka segera memesan makanan yang di inginkan.
"Lan aku harap kamu belajar sungguh -sunguh dalam mengerjakan aku gak mau kamu membuat ku kecewa"
"Tenang saja kak ,kan ada kakak klo aku salah kakak bisa menegurku".
"Tak selamanya kamu bisa ngandalin kakak ada saatnya kamu harus bisa berdiri sendiri ,menggambil keputusan sendiri Lan"
"Ya ..ya...ya... kak aku akan ingat nasehat kakak"
mereka melanjutkan makananya tapi tiba-tiba hidung Arbeto mengeluarkan darah.
Arslan yang melihat kakaknya seperti itu langsung bertanya. "Kak kamu gak pa pa".
"Oh ini gak pa pa kamu tenang saja biasa klo lagi pusing seperti ini." Arbeto segera mengambil tisu membersihkan darah di hidungnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka kembali ke kantor untuk segera menyelesaikan dokumen yang masih menumpuk.Tetapi kali ini Arslan yang menyetir mobil.