
Arbeto turun ke bawah begitu juga Arslan mereka berdua bersiap - siap untuk sarapan bersama. Terlihat Jasmin dan momy sudah menunggu di meja makan.
Mereka berempat makan bersama masih dengan menu favorit Arbeto yang tersedia.
"Ars kita berangkat bersama ke kantor"
" Tapi kak apa tidak sebaiknya kakak dirumah saja "
" Ya Ar kamu di rumah saja tidak perlu bekerja momy kuatir dengan kesehatanmu nak"
" Momy tenang saja Ar hanya ke kantor sebentar nanti Ar mau mengajak Jasmin jalan - jalan"
" Tapi ingat Ar kamu tidak boleh sampai ke lelahan,kamu baru saja keluar dari rumah sakit"
" Ya momy sayang Ar bakal mematuhi perintah momy"
Setelah selesai makan mereka bertiga masuk ke mobil di antar supir menuju kantor. Arslan duduk di depan bersama supir,sementara Jasmin dan Arbeto duduk di belakang. Sesampainya di kantor Arbeto segera mengandeng tangan Jasmin masuk ke kantor sementara Arslan berjalan di belakang mereka.
Begitu para karyawan melihat bosnya masuk dengan mengandeng seorang wanita . Semua mulai membicarakannya apalagi mereka tidak tahu bahwa Arbeto sakit .Karena Arslan merahasiakan hal ini agar menjaga kesetabilan perusahaan dia tidak ingin ada orang yang memanfaatkan situasi saat kakaknya tidak sadarkan diri.
Begitu bosnya masuk lift karyawan mulai bergosip membicarakan ,apalagi bosnya tidak pernah membawa wanita .
__ADS_1
" Apakah itu kekasihnya si bos"
" Membuatku patah hati"
" Cantiknya juga aku dari pada wanita itu"
Karena tidak ingin sampai bosnya tahu para karyawan segera melakukan pekerjaannya.
Sementara itu Arbeto dan Jasmin telah tiba di lantai yang ingin di tuju. Begitu pintu lift terbuka Arbeto segera menuju ruangannya dengan tetap mengandeng tangan Jasmin.Dia berjalan menuju ruangannya.
Begitu tiba di ruangannya diapun menyuruh Jasmin untuk duduk di sofa. Sementara dia mulai melihat laporan penjualan perusahaan . Arbeto nampak tersenyum karena dia tidak meyangka bahwa adiknya bisa untuk di andalkan dalam menjalankan perusahaan. Dia pun menulis surat untuk Arslan dan menyimpannya di laci .
Arbeto merasa waktu yang di miliki semakin berkurang,dia juga yakin bahwa perusahaan Nico dapat berkembang di bawah pimpinan adiknya.
" Honey biarkan seperti ini untuk sesaat"
" Iya bee"
Arbeto bersandar tidak lama dia menaruh kepalanya di pangkuan Jasmin. Arbeto terdiam menikmati kebersamaan tapi tidak lama hidungnya mengeluarkan darah. Jasmin yang melihat itu langsung panik.
" Bee kamu tidak apa - apa"
__ADS_1
" Tidak apa - apa honey"
Arbeto yang sadar hidungnya mengeluarkan darah segera pergi ke kamar mandi .Jasmin pun mengikuti Arbeto ke kamar mandi dengan mengambilkan tisu di atas meja .
Setelah membersihkan hidungnya Arbeto segera melihat Jasmin. Jasmin pun membersihkan sisa air di hidung Arbeto dengan tisu.Dia pun langsung memeluk Arbeto sambil menanggis ini pertama kalinya Jasmin melihat keadaan kekasihnya seperti ini dia benar - benar takut kehilangan.
Arbeto pun membalas pelukan Jasmin memberikan ketenangan . Arbeto merasa Jasmin menanggis dia pun melonggarkan pelukannya.
" Honey kamu sudah berjanji bahwa tidak akan menanggis"
Dia pun menghapus air mata di wajah Jasmin dengan tangannya.
Arbeto mengajak Jasmin keluar dari kamar mandi dia pun membuka pintu ruangan yang terdapat sebuah kamar.
Arbeto pun berbaring di kamar tersebut karena merasa agak pusing .Jasmin yang mengerti keadaan kekasihnya segera menyelimuti Arbeto.
"Bee apa perlu ku panggilkan dokter"
" Tidak usah honey kamu beritahu Arslan untuk memanggil David"
" Baiklah kamu istirahat dulu"
__ADS_1
Jasmin keluar ruangan untuk memberitahukan Arslan.