Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Penantian Gerald #10


__ADS_3

Di setiap waktu yang telah dilalui Gerald selama beberapa bulan ini tanpa Andin, ia akhirnya mengerti bahwa kehilangan seseorang yang kita cintai itu ternyata begitu sulit. Satu bulan pertama yang dilaluinya bahkan hampir membuatnya begitu terpuruk. Gerald hanya menghabiskan waktunya benar-benar untuk merenung.Siklus kehidupannya menjadi kacau. Berat badannya bahkan turun begitu drastis.Napsu makannya hilang hingga berminggu minggu lamanya hingga akhirnya ia jatuh sakit dan akhirnya harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari.


Tapi karena semangat dan perjuangan teman temannya yang selalu mendampingi dan mensupport nya, akhirnya membuat Gerald bisa melewati bulan bulan berikutnya tanpa Andin.


Teman dan sahabat Gerald selalu meyakinkan Gerald bahwa Andin pasti akan kembali suatu hari nanti. Gerald hanya tinggal menunggunya saja. Itu yang selalu di katakan para sahabat nya.Dan untuk menunggu kedatangan Andin tentu saja Gerald harus hidup dengan benar. Tak boleh jatuh apalagi terpuruk.


Keyakinan bahwa suatu hari Andin akan kembali itulah yang akhirnya membuat Gerald mampu melewati berbulan-bulan tanpa Andin. Keyakinan itu pulalah yang akhirnya membuat Gerald bisa menjalani kehidupannya seperti biasa.Hanya saja, semenjak kepergian Andin, Gerald lebih sering menghabiskan waktu untuk sendiri.Ada waktu dalam sehari dimana dia harus duduk di depan teras untuk menunggu Andin.Tak perduli Andin akan datang ataupun tidak.Gerald tetap duduk menunggunya di sana.


"Kapan kau mau pergi ke rumah ibu Ami?" Tanya Fadil pada Gerald yang sedang sibuk dengan laptopnya.


Gerald sedang menyelesaikan pekerjaan yang sudah tertunda dari beberapa hari yang lalu. Ada banyak produk sponsor yang belum dia post di sosial medianya. Beberapa hari ini proses syuting banyak terhenti karena Gerald sedang benar benar tidak fokus bekerja.


Gerald tampak menghentikan pekerjaannya, kemudian menyandarkan badannya ke belakang kursi. " Entahlah." Jawabnya tak terlalu bersemangat.


"Hari ini aja,gimana?" Tanya Fadil mencoba memberikan ide.


"Lo tapi yang bawa motor?" Kata Gerald sambil menatap Fadil.


Fadil terdiam sejenak. "Emang motor juga mau di bawa? Lo yakin mau nganterin semua barang barang Andin ke rumah mamanya?"


"Iyalah, itu motor kan memang punya Andin. Andin sangat mencintai motor itu." Jawab Gerald. "Gw terus ngerasa bersalah kalau semua barang barang Andin masih ada disini. Setidaknya kalau gw udah kasih semua barang miliknya ke rumah ibunya,gw jadi lebih sedikit lega. Ga melulu menyalahkan diri gw sendiri. Gw ikhlas anjir ngasih semua buat Andin dan gw masih ga habis pikir kenapa Andin sampai balikin semua barang itu ke gw.Apa emang dia begitu marah sama gw? Sampai dia ga mau nyimpen satupun barang pemberian dari gw. " Kata Gerald sambil termenung.


Gerald terlihat begitu memeras otak untuk bisa mengerti alasan Andin melakukan semua ini kepadanya.


Fadil terdiam.


Menatap Gerald yang masih tampak begitu menyesali apa yang dilakukannya pada Andin.

__ADS_1


"Kesannya kayak yang gw minta lagi tuh semua barang dari Andin! Kesannya kayak gw yang ga ikhlas ngasih semua buat Andin. Padahal lo tau sendiri kan gimana gw ke dia.Apa sih yang ngga gw kasih buat dia. Duit gw aja yang pegang dia.Gw ga pernah keberatan sama sekali."


Fadil termenung sejenak, kemudian terlihat menggeser kan kursi di meja sebelah ke dekat meja Gerald. kemudian dia duduk di sana.


"Mungkin ga sih kalau Andin itu sakit hati banget sama lo,bang? "


Gerald terdiam. Kemudian terlihat sedikit mengangguk anggukan kepalanya.


"Bisa jadi. " Jawabnya pelan.


"Emang terakhir kalian bicara, kalian ngomongin apa sih? Sampai Andin nekat banget buat pergi dan sampai balikin semua barang yang pernah elo kasih?"


Gerald tampak menghela nafasnya dengan panjang, sembari berusaha mengingat semua percakapannya dengan Andin beberapa bulan lalu.Saat dimana untuk yang terakhir kalinya ia berbicara dengan Andin.


"Waktu itu Andin berulang kali minta maaf dan membujuk gw biar kita cepat baikan.Tapi gw tetap diemin dia dan gw minta sama dia buat jauhilah cowok itu dan dia bilang ga bisa katanya. Lalu dia bahas soal Ica. Dia malah balik nanya sama gw, bisa nggak lo keluarkan Ica dari hidup lo? Gitu!" Gerald mengulang apa yang di katakan oleh Andin kepadanya beberapa bulan lalu.


"Tau lah, dia kan punya mata punya hati juga. Bisa ngerasain kalau Ica itu cinta sama gw."


"Nah, bener tuh.Bisa nggak lo jauhin Ica dari hidup lo?" Fadil malah balik bertanya soal Ica.


"Enggak lah! Kasian! Dia kerja ma gw udah lama. Kasian kalau tiba-tiba gw berhentiin begitu aja.Ga etis kalau gw memberhentikan dia gara-gara masalah pribadi. "


Fadil terlihat menyeringai.


"Kalau Andin tetap minta abang jauhin Ica, baru dia mau balik ke sini lagi gimana?" Kata Fadil berandai andai.


Gerald tak bersuara mendengar Fadil bertanya demikian. Otaknya seperti sedang berpikir. Berpikir bagaimana kalau memang Andin menginginkan hal itu. Mampukah dia menjauhi Ica, memberhentikan dia bekerja secara sepihak? Tega kah dia melakukan hal itu jika Andin yang menginginkan nya?

__ADS_1


Ica adalah teman dan rekan kerja yang baik. Jika Ica kemudian mencintainya, apakah Ica harus di jauhi?


Ica hanya manusia biasa, cintanya tidaklah salah. Toh selama ini pun dia tidak pernah sama sekali membuat hubungannya dengan Andin menjadi buruk. Ica tidak pernah memaksakan cintanya kepada Gerald. Karena Ica tau hanya Andin yang ada di hati Gerald.


Gerald tampak memegangi kepalanya yang sudah terlihat begitu pusing. "Ah...ga tau lah, pusing!" Dia terlihat membanting kan sebuah kertas yang tadi sedang di pegang nya.


"Tapi bener juga bang, masalah lo sama Ica itu harus segera di selesaikan." Fadil malah membuat suasana hati Gerald tambah buruk.


"Maksudnya?" Gerald tampak bingung. "Gw ga pernah punya masalah sama Ica. kita menjalani hubungan pertemanan dan masalah kerjaan secara profesional."


"Iya, itukan dari versi elo bang! Lo pernah mikirin ga perasaan Ica saat elo pacaran depan dia? Atau saat bermesraan dengan Andin depan dia? Pernah tau perasaan dia kayak gimana? Siapa tau, elo tanpa sengaja telah menyakiti hati orang selama bertahun-tahun."


Gerald terdiam lagi. Ia seperti baru tersadar akan sesuatu.


"Harusnya elo juga tanyakan ini sama Ica? Siapa tau Ica sakit hati tapi dia tidak berani mengatakannya.Terus tanya kenapa dia masih tetap bertahan di sini walaupun dia tau kalau elo itu nggak akan pernah jatuh cinta sama dia."


Gerald masih terdiam. Dia tampak sedang memikirkan apa yang dikatakan Fadil barusan. Dia dan Ica memang tidak pernah satu kali pun membahas tentang itu selama ini. Bahkan tak pernah terpikir sedikitpun di pikirannya untuk membicarakan hal yang sama sekali tidak penting seperti itu dengan Ica. Gerald selalu menganggap Ica hanya sebagai teman baiknya saja. Sekalipun Gerald tau kalau memang Ica menyukainya sudah sejak sebelum mengenal Andin.


Tapi Gerald selalu berpikir kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan.Dia hanya menyayangi Ica hanya sebagai temannya saja, tidak lebih dari itu.


Sekarang semuanya sudah menjadi rumit.Hal yang tak pernah terpikir kan akan menjadi masalah justru hari ini menjadikan hubungan percintaannya dengan Andin malah jadi berantakan.


Gerald bingung jika ia harus menjauhi atau memberhentikan Ica dari pekerjaan begitu saja.Walau bagaimanapun Ica berkompeten di bidangnya.Tak masuk akal juga jika dia di berhentikan hanya karena masalah pribadi.


"Ya udahlah ga usah dipikirkan sekarang! Pusing gw!" Jawab Gerald mengakhiri pembicaraan.Kemudian berlalu meninggalkan Fadil yang masih duduk dan melongo di sana.


***

__ADS_1


__ADS_2