
"Apa aku punya pilihan? " Tanya Ica dengan suara yang agak tertahan.
Sebenarnya dia sudah tidak ingin berbicara dengan Gerald, tapi karena Ica tak punya alasan untuk menghindar, Ica mencoba untuk mendengar semua yang akan Gerald katakan kepada dirinya.
"Maksudnya? " Gerald terlihat bingung.
"Apa aku masih punya pilihan untuk tetap bersamamu? " Tanya Ica dengan tatapan mata yang penuh dengan harapan.
Gerald tak menjawab. Bibirnya tiba-tiba terasa kelu. Ada sedikit perasaan tak tega yang tiba-tiba saja datang. Melihat wanita yang selalu dengan setia mencintainya itu tiba-tiba murung, Gerald jadi merasa kalau dirinya teramat sangat kejam jika saat itu dengan lantang mengatakan kalau hubungan mereka akan berakhir.
Ica adalah wanita yang selalu setia menemaninya di saat apapun. Apakah hari ini ia tega menghancurkan semua kebahagiannya? Tapi Ica harus tau kalau selama ini Gerald terus berharap Andin akan kembali di hidupnya seperti dulu.
Gerald akhirnya pergi meninggalkan Ica di ruangan kerjanya karena ia tak mampu menjawab pertanyaan yang begitu sederhana bagi Ica dan begitu sulit bagi dirinya. Gerald bingung harus bagaimana?
Rasanya tak tega melihat Ica akan begitu kecewa mendengar apa yang akan dia katakan nanti. Bagaimanapun Ica adalah orang yang selalu ada di sampingnya selama ini. Ia tak pernah pergi walaupun sedang bagaimanapun keadaan Gerald.
Jika hari ini dengan tega ia mengatakan keinginannya untuk putus, apakah akan Ica baik baik saja? Ataukah ia akan begitu kecewa?
Gerald pusing harus bagaimana. Tetap menjalani dengan Ica,ia akan menyakiti hati Andin. Tapi jika memaksa untuk putus dengan Ica, maka Ica lah yang akan sakit hati.Gerald ingin bahagia bersama Andin, tapi dia juga tidak ingin menyakiti Ica.
Gerald merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya terlihat memegangi rambutnya yang terurai. Ia tampak begitu bingung.Ternyata teramat sulit menjaga dua hati perempuan yang keduanya berharga bagi dirinya.
Matanya tajam menatap langit langit kamar yang warna catnya sudah mulai memudar. Warnanya sudah tak bagus lagi seperti dulu. Mungkin sudah waktunya kembali di cat ulang.
***
Di tempat lain.
Beberapa hari setelah Andin memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakannya. Andin tak pernah melihat lagi Yoga datang menemuinya. Yoga juga tidak menelpon untuk menanyakan kabar darinya.
Yoga tidak biasanya seperti ini. Tapi Andin enggan untuk menelpon atau datang mencari Yoga duluan. Semenjak Yoga mengatakan isi hatinya waktu itu, Andin jadi sedikit menjaga jarak dengannya. Ada perasaan risih yang datang saat Yoga mencarinya. Andin hanya mau Yoga memperlakukan dirinya sebagai teman,bukan sebagai wanita yang dia cintai.
Tapi ketika Yoga dengan terang-terangan tak memberi kabar kepadanya, Andin agak sedikit gondok juga. Bagaimanapun Yoga tidak pernah seperti ini sebelumnya. Yoga tidak pernah terang-terangan mengacuhkannya.
Andin tampak berjalan kearah dapur dimana Arman berada. Arman tampak sedang beres beres di bantu oleh dua orang pegawai lainnya.
"Agak sepi malam ini, ya? " Tanya Andin sambil melihat kearah Arman.
"Hari senin mbak. " Jawab Arman sambil tetap melakukan pekerjaannya.
"Emang hari senin suka sepi? " Tanya Andin kemudian.
"Biasanya sih gitu, mbak. "
Andin termenung sejenak. "Oh." Terdengar dia sedikit bergumam.
__ADS_1
"Mas Yoga titip pesan, katanya mbak jangan pulang terlalu malam! " Kata Arman sambil melirik ke arah Andin yang tampak sedang melihat ke sekeliling dapur.
"Oh ya? Kapan Yoga bilang sama kamu? " Andin tampak terkejut mendengar Arman tiba-tiba mengatakan tentang Yoga.
Baru saja beberapa menit yang lalu Andin memikirkan tentang Yoga dan tiba-tiba Arman membicarakannya.
"Tadi sore, lewat pesan singkat mbak. " Jawab Arman.
"Oh." Terdengar Andin bergumam kembali.
"Mbak lagi bertengkar sama mas Yoga? " Tambah Arman kembali melirik kearah Andin yang masih berdiri di depan pintu dapur. "
"Enggak.Kenapa? " Andin sedikit terkejut mendengar Arman bertanya demikian.
"Enggak." Jawab Arman sambil tersenyum. "Cuma heran aja, sudah lama tidak melihat masih Yoga datang kemari. "
"Mungkin lagi sibuk kali, jadi tidak sempat mampir kemari. " Jawab Andin sedikit menutupi apa yang sedang terjadi antara dirinya dengan Yoga.
Andin membalikan badannya kembali ke ruangan kerjanya. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian mencoba menelpon Yoga.
Andin juga penasaran sebenarnya, kenapa Yoga sudah begitu lama tidak datang mengunjunginya. Saat mendengar Arman menyampaikan pesan dari Yoga, Andin merasa ada yang salah dengan Yoga. Kenapa dia harus menyampaikan pesan untuknya kepada Arman? Kenapa Yoga tidak langsung menelponnya saja.
Untuk beberapa saat Yoga tak mengangkat telponnya.
Andin terlihat meletakan kembali ponselnya di atas meja. Dia duduk menyandarkan dirinya di kursi. Matanya sejenak terpejam dan kembali terbuka ketika terdengar bunyi suara panggilan telepon dari ponselnya.
"Kenapa, Din? Tadi aku lagi di kamar mandi. " Tanya Yoga dari dalam telpon.
"Oh." Andin terdengar bergumam halus.
"Ada apa? " Tanya Yoga kemudian.
"Kamu dimana sekarang? " Andin malah balik bertanya.
"Di rumah Duafa. Kenapa? "
"Kamu belum pulang? " Andin terdengar bertanya kembali.
"Hari ini aku lembur. Ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan di Panti."
"Kan ada bu Aisyah? "
"Laporan akhir bulan kan tetap harus aku cek sendiri. Kenapa memangnya? "
"Enggak." Jawab Andin pendek.
__ADS_1
Andin bingung ketika Yoga terus bertanya kenapa dia menelponnya.Tidak mungkin kan Andin bilang kalau dia penasaran kenapa Yoga tak pernah datang menemuinya.
"Andin..? " Terdengar Yoga memanggil.
"Ya... " Jawab Andin pendek.
"Kok diem? "
"Kamu titip pesan sama Arman? " Terdengar Andin kembali bertanya.
Yoga terdengar hening sejenak. "Iya, takutnya kamu begadang di Resto. Kamu kan pergi kerja naik motor. Kalau pulang malam malam nanti masuk angin. " Jawab Yoga tampak mengkhawatirkan keadaan Andin.
"Darimana kamu tau aku naik motor? " Tanya Andin yang bingung mendengar Yoga tau kalau dia pergi kerja dengan naik motor.
"Tadi aku lihat motor Vespa kamu di parkiran. "
"Kamu ke Resto? Kok nggak masuk? "
"Tadi waktu aku mau masuk, tiba-tiba bu Aisyah telpon katanya Adinda sakit. Harus ke dokter, tapi di Panti enggak ada kendaraan.Mobil Panti sedang di pakai sama pa Usman untuk nganter anak anak ke undangan pengajian di komplek depan. "
"Adinda sakit apa? Ya udah aku mau ke Panti sekarang. " Kata Andin tampak khawatir mendengar kalau Adinda sedang sakit.
"Jangan! Ini sudah malam, kamu naik motor. Takut ada apa-apa di jalan. Adinda sudah tidak apa apa kok. Dia sudah agak baikan. " Jawab Yoga, melarang Andin untuk datang ke panti malam itu.
"Tapi aku khawatir. "
"Kan ada aku dan bu Aisyah di sini. "
Andin terdengar hening kembali.
"Kalau mau kesini besok pagi aja. Sekarang mending kamu cepat pulang, cepat istirahat! Jangan sampai aku tanya Arman nanti kamu masih tetap di Resto sampai malam! "
"Ya udah. Bye! " Kata Andin lalu mematikan telponnya.
Andin kembali meletakan ponselnya di atas meja.
Tak berapa lama kemudian Andin terlihat membereskan tasnya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Sudah waktunya untuk pulang. Andin menyerahkan tanggung jawab menutup Resto kepada Arman.
***
Pagi pagi sekali terdengar pintu rumah kontrakan Andin di ketuk dari luar. Hari masih gelap ketika Andin membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
Yoga sudah berdiri tepat di depan pintu.
Yoga langsung masuk kedalam begitu Andin membuka pintu. Yoga langsung merebahkan tubuhnya di kasur tanpa banyak bicara. Andin yang juga masih terlihat ngantuk ikut merebahkan tubuhnya di samping Yoga.
__ADS_1
Sesekali Yoga melirik kearah Andin yang kembali tertidur setelah membukakan pintu untuknya.
***