Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Gerald bingung, Ia tak mau menyakiti Ica#17


__ADS_3

Hari masih pagi ketika Gerald berusaha meraih telpon genggamnya yang terdengar berdering. Sebuah panggilan suara dari Ica terlihat di layar ponselnya. Dengan masih tampak mengantuk Gerald duduk sambil mengangkat teleponnya.


"Halo."


"Ge, motor ku mogok nih!" Kata Ica dari dalam telpon.


"Kenapa?"


"Ga tau.Tiba-tiba aja ga nyala."


"Lo dimana sekarang?"


"Di dekat tukang soto yang biasa kita beli."


"Ya udah, tungguin di sana. Gw ke sana sekarang!" Kata Gerald lalu menutup telponnya.


Dengan malas Gerald berusaha bangun dari duduknya kemudian meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak berapa lama Gerald keluar dari kamar mandi lalu segera bersiap siap. Setelah di rasa semua rapih dan bersih kemudian dia bergegas pergi. Tak tega rasanya membiarkan Ica terlalu lama menunggunya. Hari masih pagi saat itu. Tentu belum ada bengkel yang buka. Kalaupun ada, tentu Ica harus mendorong motornya ke bengkel.Dan Gerald tidak tega membiarkan itu terjadi.


Karena tempat yang di katakan Ica memang tidak terlalu jauh dari rumahnya, beberapa menit kemudian Gerald sudah menemukan Ica yang sedang menunggunya di pinggir jalan sambil mencoba menyelah motornya berkali-kali.


Gerald memberhentikan mobilnya di depan minimarket yang belum buka yang tepat bersebrangan dengan motor Ica yang sedang mogok itu. Lalu kemudian menghampiri Ica yang terlihat masih mencoba menyelah nyelah motornya.


"Masih belum nyala, Ca?" Tanya Gerald sembari mengambil alih motor Ica.Ia mulai melihat lihat apa penyebab mogoknya motor Ica.Tapi setelah beberapa lama di otak atik tetap motor nya tidak juga menyala.


"Kita bawa ke bengkel aja!" Kata Gerald sembari mengingat ingat ada di sebelah mana bengkel terdekat dari situ.


"Kan belum ada yang buka." Kata Ica seraya menyeka keringat yang tampak mulai jatuh di keningnya.


"Udah keringatan aja, lo! Pagi pagi udah olahraga, emang mau kemana sih lo pagi pagi begini?" Kata Gerald seraya menuntun Ica untuk duduk di tepi jalan untuk istirahat sejenak.


Gerald melihat Ica yang sudah begitu berkeringat, berarti Ica sudah mengotak atik motornya dari tadi. Tapi masih belum juga menyala.


"Gw rencananya dari rumah mau ke pasar. Gw mau belanja buat masak di rumahmu sama bi Sumi nanti siang." Jawab Ica dengan tersipu.


Gerald hanya terlihat mendelik.


"Sorry,gw ganggu tidur lo. Habisnya gw telpon yang lain pada ngga di angkat." Kata Ica lagi terlihat sedikit merasa bersalah karena telah membangunkan Gerald dari tidurnya.


Ica begitu jelas melihat wajah kasur yang masih terlihat di wajah Gerald.Gerald masih tampak mengantuk walaupun dia sudah mandi dan membersihkan diri.

__ADS_1


"Masih ngantuk ya?" Tanyanya sambil tersenyum."Sorry."


"It's ok."Jawab Gerald biasa saja.


Gerald terlihat pergi meninggalkan Ica sejenak lalu datang kembali dengan membawa sebotol minuman mineral dan roti lalu memberikannya pada Ica.


Ica tampak menerima apa yang di berikan Gerald lalu ia terlihat meneguk minuman yang di berikan nya.


Terlihat Gerald sedikit memperhatikan Ica yang sedang menikmati roti yang tadi di belinya. Wajah cantik Ica pagi ini tampak tidak seperti biasanya. Ica tampak sedikit lusuh, terlihat begitu kelelahan. Begitu semangatnya Ica bangun pagi untuk pergi ke pasar hanya untuk bisa memasak masakan kesukaannya. Demi untuk membuat Gerald bahagia.


Ica yang sadar sedang di perhatikan, kemudian bertanya."kenapa.?"


Gerald hanya tersenyum kemudian menggeleng. Padahal dalam hatinya Gerald ingin berteriak. Tak tega rasanya melihat Ica yang begitu perhatian pada dirinya. Tapi dia tidak bisa memberikan sedikit perhatian kepada Ica. Padahal Ica selalu berusaha untuk selalu membuatnya bahagia. Ica selalu ada di sampingnya di saat sedang apapun keadaan Gerald. Ica tak pernah bosan selalu berjuang melakukan semua yang terbaik untuknya. Ica tak pernah menyerah berusaha mendapatkan hatinya. Walaupun tak pernah mendapatkan balasan dari Gerald.


"Kenapa?" Tanya Ica lagi untuk kedua kalinya,membuyarkan pikiran Gerald yang sedang melamun.


Gerald kembali tersenyum lalu beranjak dari duduknya lalu mencoba mendorong motor Ica untuk di bawanya ke bengkel untuk diperbaiki. Kebetulan waktu sudah menunjukkan jam tujuh pagi, pasti bengkel motor yang berada beberapa meter di depan sudah ada yang buka.


Gerald menyuruh Ica menunggunya di mobil sementara dia sedang mengantarkan motor ke bengkel.


Tak sampai setengah jam Gerald sudah kembali ke mobil.


"Nanti siang biar Agung yang ambil motor lo di bengkel. Kita pulang aja dulu!" Kata Gerald sembari mulai bersiap akan memajukan mobilnya.


"Gw anterin kemana nih Ca? Ke rumah lo atau mau langsung ke rumah gw?" Kata Gerald sambil melirik ke arah Ica yang terlihat masih memainkan ponselnya.


"Pulang ke rumah aku aja, tapi temenin aku sarapan pagi dulu di warung Nasi uduk mang ujang, Ge!" Jawab Ica sambil menoleh ke arah Gerald yang sudah siap menyetir mobilnya.


Gerald hanya terlihat mengangguk sedikit, mengiyakan ajakan Ica, walaupun sebenarnya dia malas menemani Ica makan nasi uduk pagi itu. Tapi dia tidak enak hati untuk menolak. Lagipula Ica hanya memintanya menemani sarapan pagi. Sedikit membuat Ica bahagia di pagi itu apa salahnya.


Beberapa menit mobil melaju, kemudian mobil berhenti kembali di tempat nasi uduk mang Ujang langganan Ica biasa sarapan pagi. Gerald dan Ica turun dari mobil, lalu masuk ke kedai mang Ujang untuk memesan makanan. Tapi tak di sangka, di dalam ternyata ada Andin yang juga sedang memesan nasi uduk.


Andin terlihat menjinjing sebungkus nasi uduk yang telah selesai mang Ujang buatkan untuknya.


Sejenak Ica tampak tertegun, melihat Andin yang telah lama tak pernah di lihatnya. Tapi dia terlihat berusaha bersikap seolah kaget atas pertemuan pertamanya itu.


"Andin!" Sapa nya terlihat berusaha mencairkan suasana yang sedikit membeku.


Andin tersenyum dengan ujung bibirnya sambil melirik ke arah Gerald yang terdiam di belakang Ica.Gerald tak bersuara, bibirnya seperti kaku tak bisa berkata kata. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Andin saat dia sedang bersama dengan Ica.


Kenapa harus bertemu dengan Andin di saat seperti ini.Begitu pikirnya.

__ADS_1


"Beli nasi uduk juga?" Tanya Ica berbasa-basi.


Andin hanya tersenyum kembali.


"Ya udah kita sarapan bareng aja sekalian.!"Ajak Ica berbasa basi kembali.Dia bingung harus bicara apa kepada Andin.


"Enggak, terima kasih atas ajakannya! Aku makan di rumah aja." Jawabnya, tetap dengan senyuman di bibirnya. "Aku duluan ya, Ca!" Kata Andin kemudian berlalu di hadapan Ica dan Gerald yang masih terdiam. Sebuah senyuman kecil juga tak lupa tersungging saat Gerald menatapnya.


Hati Gerald berkecamuk. Bingung apa yang harus di perbuatnya saat itu.


Tapi Ica mengerti perasaan Gerald, Ica memberi isyarat untuk Gerald mengejar Andin yang tengah berjalan menghampiri motornya.


"Yang!" Panggil Gerald pada Andin yang akan menaiki motornya.


Andin menoleh.


"Ayang marah sama aku?"


Andin terdiam, seperti sedang berpikir lalu menjawab pertanyaan Gerald dengan sebuah gelengan kepala.


"Sudah sana temani Ica aja dulu, urusan kita nanti sore kita bicarakan lagi." Kata Andin sembari mulai menyalakan mesin motornya.Lalu pergi meninggalkan Gerald yang tampak sedang bingung dengan apa yang terjadi saat itu.Gerald tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu Andin di tempat itu. Saat sedang bersama Ica pula.


Setelah Andin berlalu, Gerald kembali kepada Ica lalu menemaninya makan nasi uduk di sana. Tapi setelah kepergian Andin, Gerald jadi tidak banyak bicara. Dia terlihat hanya diam dan menanggapi seperlunya setiap perkataan yang di katakan Ica kepadanya.


Setelah selesai makan, Ica dan Gerald kembali naik ke mobil untuk pulang.


"Jangan katakan kalau hari ini lo menyesal temani aku makan,Ge!" Kata Ica kepada Gerald yang berubah jadi pendiam setelah bertemu dengan Andin tadi.


Gerald menoleh ke arah Ica. Gerald kaget tiba tiba Ica berkata demikian.


"Kenapa ngomong gitu,Ca?"


"Aku hanya merasa lo berubah setelah bertemu dengan Andin tadi."


Gerald terdiam.


Dia tak membenarkan atau menyangkal perkataan Ica barusan. Dia bingung apa yang harus di katakan nya.Mengatakan kalau dia menyesal, pasti akan menyakiti hati Ica. Tapi dia juga tidak bahagia pergi dengan Ica hari itu.


Gerald menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan. Dia mencoba menenangkan Ica yang tiba-tiba terisak di depannya.


"Ga pa pa, Ca! Gw ga nyesel makan sama lo. Itu cuma perasaan rasa lo aja!"

__ADS_1


Ica tetap terisak.


***


__ADS_2