
Yoga masih duduk sendirian di ruangan kerjanya, masih sambil menatapi selembar surat pengunduran diri Andin dari Resto miliknya. Andin benar benar serius dengan perkataannya minggu lalu tentang pengunduran dirinya dari Resto. Yoga tidak menyangka kalau Andin akan secara resmi mengundurkan diri secepat ini. Padahal Yoga berharap kalau Andin akan selalu bersama dengannya.Menjalankan Resto yang sudah Andin pegang selama bertahun-tahun.
Uang yang Andin hasilkan dari Resto juga tidak kalah dari penghasilan Andin bekerja sebagai editor di kantor kantor Gerald. Bahkan Yoga memberikan dua kali lipat gajinya setiap bulan. Yoga berusaha membuat Andin senyaman mungkin bekerja di Resto miliknya. Tak ada target ataupun aturan yang mengikat Andin untuk bekerja. Semuanya bebas terserah Andin.
Tapi lagi lagi Yoga harus melihat Andin kembali kepada Gerald setelah sekian lama mereka terpisah. Lagi lagi Yoga harus menelan kekecewaan.Lagi lagi Yoga harus melihat senyum dan tawa Andin untuk Gerald lagi bukan untuk dirinya. Tapi tidak ada waktu untuk meratap meski Yoga begitu kecewa. Ada begitu banyak tanggungjawab besar yang ada di pundaknya. Yoga tak boleh kalah apalagi menyerah.
Hidup harus terus berjalan meski Andin sudah secara resmi mengundurkan diri dari Resto miliknya. Hidup harus terus berjalan meski ini begitu berat bagi Yoga. Hidup harus terus berjalan, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan.
Mungkin hari ini Yoga kembali kehilangan Andin dari sampingnya. Tapi tidak menutup kemungkinan Tuhan akan secepatnya kembalikan Andin ke kehidupannya seperti yang sudah sudah. Mudah bagi Tuhan membolak-balikkan kehidupan. Yoga hanya perlu yakin dan menjalani, tak perlu resah ataupun bimbang apalagi putus asa.
Marisa terlihat masuk lalu meletakan segelas kopi di meja Yoga.Menatap Yoga dengan begitu dalam. Marisa berusaha menyelami apa yang ada dalam hati suaminya.
"Masih memikirkan Resto siapa yang pegang? " Tanya Marisa yang penasaran kenapa Yoga masih terlihat merenung.
Marisa perhatikan Yoga hanya terlihat duduk sambil merenung sejak tadi.Yoga tidak terlihat sedang bekerja atau yang lainnya.Dia hanya terlihat diam dan menatapi surat pengunduran diri Andin sejak tadi.
Yoga menggeleng. Lalu menutup berkas yang tadi sedang di pegangnya dan memasukannya kedalam laci.
"Masih memikirkan kenapa Andin keluar dari Resto?" Tanya Marisa lagi yang tetap penasaran kenapa Yoga hanya terus terdiam dari tadi.
__ADS_1
Yoga tak menjawab. Yoga tak ingin menjelaskan tentang apapun kepada Marisa hari ini. Marisa tak perlu tau tentang semua isi hatinya.
"Atau bingung bagaimana caranya agar bisa bebas bertemu dengan Andin tanpa harus ke tempat Gerald? " Marisa masih terus berusaha mencecar Yoga dengan pertanyaan walaupun Yoga tak terlihat menjawab dari tadi.
Yoga masih saja tak mau menjawab.Bibirnya masih membisu. Ia sedang malas berbicara dengan siapapun termasuk dengan Marisa.
"Jangan terlalu banyak berpikir, jalani aja apa yang sekarang sedang kita jalani. Tuhan akan tunjukkan bagaimana caranya kamu bisa bertemu dengan Andin nanti. Aku akan bantu. " Kata Marisa sambil menepuk pundak Yoga.
Yoga menatap wajah Marisa dengan sayu. Wajah sang istri yang selalu setia mendampingi disaat sedang apapun keadaan Yoga. Marisa yang justru selalu memberikan support kepada Yoga akan hubungannya dengan Andin. Marisa yang selalu tidak pernah keberatan dia membagi dua rasa sayangnya kepada Andin.
Entah apa yang ada dalam hati Marisa hingga ia bisa mempunyai hati yang begitu lembut dan sabar dalam menghadapinya.Yoga kadang tak habis pikir, kenapa Tuhan menciptakan manusia seperti Marisa. Yoga juga kadang tak habis pikir, kenapa dia tidak bisa mencintai Marisa saja seperti dia mencintai Andin.
Marisa adalah wanita yang sangat baik, cantik, pintar tak ada yang kurang dari dirinya. Marisa juga wanita pekerja keras dan tangguh. Lalu kenapa justru Yoga tidak pernah bisa mencintainya? Yoga hanya bisa menikahinya, tapi tidak bisa memberikan hatinya untuk Marisa.
Yoga tidak habis pikir, kenapa ada wanita yang men
erima suaminya jatuh cinta pada wanita lain.
"Tidak perlu ikut campur urusan ku dengan Andin. Aku bisa urus sendiri. Kamu jaga Arjuna saja, tak perlu urusin hal yang lain." Jawab Yoga dengan tegas tanpa sedikit senyum di wajahnya.
__ADS_1
Yoga tidak ingin Marisa ikut pusing dengan urusan hatinya.Yoga juga tidak ingin Marisa ikut campur dalam urusan dirinya dengan Andin.
Marisa terlihat mengangkat bahu, lalu kembali keluar kamar setelah memeluk Yoga untuk memberikan semangat.Tak ada lagi yang bisa Marisa lakukan kecuali diam dan membiarkan Yoga sendirian.
Yoga memang sedang terlihat kacau beberapa hari ini. Dia seperti orang yang sedang kehilangan kendali atas dirinya. Sejak kemarin dia hanya diam tak mau bicara. Sekalinya bicara nadanya akan naik seperti sedang marah.
Tapi sebagai seorang istri, Marisa tetap berusaha bersikap baik meski Marisa tau kalau Yoga sedang tidak baik baik saja. Ia harus tetap mempersiapkan segala kebutuhan suaminya, meski terkadang kehadirannya justru tidak di inginkan oleh Yoga.
Yoga selalu menutup pintu kamar. Dia hanya keluar sejenak untuk makan dan bercanda dengan Arjuna sebentar lalu kembali masuk kedalam kamarnya hingga keesokan harinya ia akan kembali pergi ke kantor.
Selepas Marisa pergi, Yoga menyandarkan tubuhnya di kursi sambil terlihat menutup mata. Ada Andin yang selalu terlihat tersenyum di matanya.Ada Andin yang sedang duduk sambil senderan di bahunya.
Yoga benar benar tidak bisa melupakan Andin walau hanya sejenak.Dimana dia berada, selalu saja Andin yang dia pikirkan.Yoga ingin sekali bisa menepis semua bayangan Andin yang selalu membayangi kehidupannya. Tapi semakin berusaha di singkirkan justru bayangan Andin semakin tidak bisa pergi dari pelupuk matanya.
Sudah beberapa minggu ini Yoga tidak bertemu dengan Andin. Bahkan sejak surat pengunduran dirinya di serahkan ke kantor Yoga Andin sudah tidak pernah menghubunginya lewat telpon. Yoga juga tidak berani telpon karena takut mengganggu pekerjaan Andin sekarang. Andin sudah tidak bekerja untuknya lagi sekarang, Yoga harus bisa menghargai privasi Andin sebagai pekerja di kantor orang.
Yoga takut kebahagiaan yang sekarang sedang dijalani Andin akan kembali hancur karena kehadirannya. Yoga tak ingin mengulang kesalahannya meski ia begitu merindukan kehadiran Andin.
Yoga terlihat menghela nafasnya berkali-kali. Berusaha berpikir waras dan berusaha menyadarkan dirinya bahwa apa yang sedang dilakukannya adalah menyiksa dirinya sendiri.
__ADS_1
Marisa terlihat kembali masuk kedalam kamar dengan membawa satu baki masakan untuk Yoga makan malam.
***