
Setelah rapih dan bersih dan juga sarapan serta sudah minum obat akhirnya Gerald berangkat juga ke kosan Andin yang letaknya lumayan agak jauh dari rumahnya. Ia memaksakan diri walaupun hari itu Gerald sebenarnya sedang tidak enak badan. Tapi karena khawatir pada Andin yang dari kemarin tidak bisa di hubungi, Gerald memaksakan diri untuk tetap pergi.
Ketiga temannya juga ikut serta juga Ica, karena mereka berpikir mungkin Andin sedang sakit. Makanya mereka semua ikut serta.Siapa tau Gerald membutuhkan mereka di sana. Begitu pikir teman teman Gerald saat itu.Jadi mereka semua ikut menjemput Andin ke tempat kost-nya.
Dengan perjalanan sekitar tiga puluh lima menitan akhirnya mereka sampai di rumah kontrakannya Andin yang tepat berada di depan jalan raya.Tidak susah untuk memarkirkan mobil Gerald di sana.
Gerald mencoba mendorong pintu kontrakan yang agak sedikit terbuka, sambil berusaha memanggil Andin.
"Ayang." Panggilnya pada Andin kemudian masuk ke dalam kontrakannya.Tapi suasana di dalam kamar hening, seperti tidak ada orang.
Setelah Gerald berusaha memanggil Andin beberapa kali tapi tetap tidak ada jawaban, akhirnya Gerald keluar kembali dari dalam kamar menghampiri teman temannya yang menunggu di luar.
"Ga ada orang." Kata Gerald pada teman temannya.
Ke empat temannya saling berpandangan seperti bingung dengan semua yang terjadi.Kemana Andin pergi, begitu pikir teman temannya.
Rumah kontrakan Andin terbuka, tapi Andin tidak berada di tempat. Mereka mencoba celingak celinguk mencari seseorang yang bisa di tanyai. Tapi suasana kontrakan sedang sepi saat itu, tidak ada orang. Akhirnya dengan agak sedikit malu, Gerald menyuruh Ica agar bertanya kepada tetangga sebelah kontrakan Andin.Siapa tahu mereka mengetahui dimana keberadaan Andin.
Setelah di ketuk beberapa kali akhirnya tetangga samping kontrakan Andin pun membukakan pintu.Tampak seorang mas mas keluar dan bertanya.
"Ya, kenapa mbak?" Tanya si penghuni rumah kepada Ica yang berdiri di depan pintu.
"Maaf mas, mau tanya. Andin kemana ya? Kok pintunya ke buka tapi orangnya tidak ada. " Jawab Ica sambil menunjuk pintu kamar kontrakan Andin yang tepat berada di samping,yang memang pintunya sedikit terbuka, tapi Andin tidak ada di dalam rumah.
"Ohh,Andin di atas!" Tunjuk mas mas tersebut sambil menunjuk kearah tangga. "Kayaknya sedang menjemur baju, soalnya tadi dia nyuci,mbak !"
Ica dan yang lainnya saling menatap.
"Mau saya panggilkan, mbak?" Kata mas masnya menawarkan jasa.
"Oh nggak usah.Terima kasih mas..!" Kata Ica dengan cepat. "Biar saya saja yang ke atas."
"Jemurannya ada di lantai 3 mbak!" Kata si mas mas itu lagi menjelaskan kalau tempat menjemur baju itu berada di lantai 3.
Ica mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih.Kemudian menghampiri kembali teman temannya dan mengatakan kalau Andin sedang menjemur baju di lantai 3.
Setelah mengetahui Andin berada di atas, akhirnya Gege menyuruh ica, Agung dan Krisna menunggu di mobil saja. Sedangkan dia dan Fadil yang akan memanggil Andin ke atas untuk menemuinya.
Di tempat jemuran tampak Andin memang sedang menjemur baju yang sudah di cuci nya tadi pagi. Seorang pria tampak sedang membantunya menjemur pakaian.Sambil terlihat sesekali mereka berbicara kemudian tersenyum bahkan tertawa.
__ADS_1
"Ayang!" Kata Gerald yang tiba-tiba datang dari bawah dengan nada suara yang agak keras.
Andin menoleh ke arah suara yang memanggilnya.Gerald tampak melotot melihat Andin tengah sibuk dengan seorang pria.
"Kenapa hapemu tidak aktif Yang?" Tanya Gerald lagi seperti sedang menahan sesuatu. Terlihat dari sorot matanya yang tajam menatap kearah Andin dan pria yang bersamanya. "Aku chat dari kemarin, Ayang ko nggak bales?"
Andin terlihat seperti sedikit yang tidak enak hati pada Gerald. "Hapeku jatuh di kamar mandi,ga bisa nyala.Lalu aku benerin di tukang servis hape.Belum sempat aku ambil di tempat servis.Aku baru mau Ambil nanti siang, tapi Ayang sudah keburu datang." Kata Andin berusaha menjelaskan kenapa hapenya tidak bisa di hubungi dari kemarin.
Gerald semakin mendekat ke arah Andin.
"Kapan Ayang pulang dari Majalengka?"Andin berusaha mengalihkan pembicaraan.Padahal hatinya sedang dak dik duk, takut Gerald marah karena dia ketahuan sedang berduaan bersama seorang pria. Andin takut kalau Gerald akan kembali salah faham.
Seorang pria yang sedang membantu Andin itu tampak sedang memperhatikan Andin dan Gege yang sedang berbicara.Tampak dari raut wajahnya dia merasa tidak enak hati sendiri berada di tengah tengah mereka berdua.
Pandangannya tajam menatap wajah Gerald yang sedang berbicara dengan Andin.
"Aku tunggu di bawah,Din! " Kata pria itu,kemudian berusaha berbalik akan meninggalkan Andin.
"Apanya yang kau tunggu,anjing!" Kata Gerald seraya menarik tangan pria itu kemudian berusaha mencengkram kerah baju pria itu dengan keras. Pria itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Gerald yang berusaha mencekik nya.
"Santai bang!Jangan kayak orang tidak berpendidikan,dong! Norak!" Jawab pria itu dengan nada yang nyinyir.
Andin dan Fadil berusaha menenangkan Gerald, Fadil berusaha melepaskan cengkraman tangan Gerald pada pria itu.
"Lo siapa?" Tanya Gerald tampak begitu marah melihat pria yang so akrab terhadap Andin.
Pria itu tersenyum sinis. "Penting bagi lo nanya siapa gw?" Jawab pria itu sambil merapikan kembali bajunya yang sedikit kusut seusai di cengkraman oleh Gerald tadi.
"Yoga,,udah,, tunggu di bawah!" Kata Andin mencoba melerai Yoga dan Gerald yang sedang bersitegang.
Iya,, pria itu adalah Yoga. Yoga tiba-tiba datang kembali ke Bandung setelah hampir sepuluh hari yang lalu ia pulang ke Jogja. Yoga sudah dua hari ini selalu berada di rumah kontrakan Andin dari pagi, dan baru akan pulang setelah larut malam.
Gerald tampak mengernyitkan alis. "Oh jadi elo yang namanya ,Yoga!" Kata Gerald sembari menatap Yoga dari atas sampai bawah.
"Kenapa?" Jawab Yoga sambil tetap menatap Gerald dengan sinis. " Nggak mau tanya, hubungan gw sama Andin? "
"Gw tau lo cuma temennya,Andin! " Jawab Gerald dengan penuh amarah.
"Bagus,, kalau emang lo tau kalau gw temennya,Andin! Jadi jangan bersikap berlebihan seperti melihat pacar lo dengan selingkuhannya!" Kata Yoga sambil berbalik meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Kalau memang lo sadar kalau elo cuma temennya, bersikaplah seperti seorang teman, jangan berusaha menjadikan dia milikmu, karena Andin itu punya gw. Jangan berusaha menjadi selingkuhannya! " Kata Gerald berteriak.
Langkah Yoga terhenti sejenak. kemudian berbalik lagi ke arah Gerald dan Andin." Kalau begitu jaga baik baik Andin jangan sampai dia benar-benar selingkuh sama gw!"
bukk,
Tiba-tiba sebuah pukulan dari Gerald melayang ke arah wajah Yoga, yang akhirnya membuat Yoga tersungkur ke lantai. Setetes darah ke luar dari sudut bibirnya.
Andin berlari menghampiri Yoga yang tersungkur di lantai, kemudian membantu Yoga yang berusaha untuk bangkit.
"Ayo kita pergi,Yang!" Kata Gerald berusaha meraih tangan Andin dan menariknya.Tapi Andin menepis tangan Gerald yang berusaha meraihnya.
"Tapi, Yang.Aku nggak bisa ninggalin Yoga dalam keadaan kayak gini." Bantah Andin yang memang tidak tega meninggalkan Yoga sendirian dalam keadaan seperti ini.
Gerald menatap Andin dengan sorot mata yang tajam.
"Dia bukan siapa-siapa mu,Yang! Buat apa Ayang perduli kan? Ayolah, ikut aku ke rumah! Aku pengen Ayang temani aku di rumah.Aku kangen! Udah seminggu aku ga ketemu Ayang lo." Gerald berusaha membujuk Andin agar mau ikut bersamanya.
Tapi Andin tetap terlihat berat meninggalkan Yoga sendirian di sana." Dia temanku, lo,, Yang! Kasian. Ayang pergi duluan, nanti aku susul. " Jawab Andin tetap dengan pendiriannya untuk tidak meninggalkan Yoga sendirian di sana.
Gerald terlihat menghela nafasnya.
"Aku sudah berusaha sabar,tapi kali ini Ayang benar-benar keterlaluan!" Gerald tampak mulai kehilangan kendali. "Aku selalu ngalah demi hubungan kita! Tapi kali ini kesabaran ku sudah mulai habis. Kau terus saja mengulang kesalahan yang sama!" Kata Gerald terdengar memaki Andin yang di pikirnya sudah kelewat batas.
"Ga bisa aku tinggalin Yoga,lo Yang!" Andin tetap dengan pendirian nya untuk tidak meninggalkan Yoga disana.Walaupun ia tau saat itu Gerald tampak begitu marah padanya. Tapi Yoga sedang dalam keadaan tidak baik baik saja. Andin tidak ingin meninggalkan Yoga begitu saja.
"Ok." Gerald mulai menyerah. "Jangan salahkan aku jika itu yang kau pilih!" Katanya dengan telunjuk yang mengarah tepat ke wajah Andin.Matanya tampak begitu memerah menahan amarah yang sudah begitu menggunung di hatinya.
Gerald membalikkan badannya kemudian turun dari tempat jemuran dengan wajahnya yang tampak begitu emosi. Fadil pun menatap Andin dengan penuh rasa tidak percaya, bahwa Andin akan tega memperlakukan sahabatnya sedemikian rupa.
"Gw ga percaya lo bisa lakuin ini sama Gege." Kata Fadil sambil menggeleng geleng kan kepalanya. "Gerald sedang sakit, tapi dia masih sempet sempetin buat ketemu dan nyari lo di sini. Dari kemarin dia khawatir sama keadaan lo yang tiba-tiba nggak bisa si hubungi." Kata Fadil, berusaha memberi tahu keadaan Gerald yang sedang sakit tapi tetap menghampirinya karena khawatir.
Andin hanya terdiam sambil berusaha memapah Yoga untuk turun ke bawah. Fadil pun berlalu meninggalkan Andin dengan penuh rasa kecewa. Fadil tidak pernah menyangka sedikitpun kalau Andin akan bisa melakukan hal itu pada Gerald, pacar yang telah menjalani ratusan bahkan ribuan hari bersamanya.
Fadil juga tidak menyangka apa yang di khawatirkan Agung beberapa hari yang lalu tentang Andin, akhirnya kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Andin dengan terang terangan lebih mementingkan orang yang bernama Yoga daripada pacarnya sendiri.
Fadil sungguh kecewa melihat kejadian itu, tapi apa yang bisa dia lakukan. Dia juga tidak bisa memaksa Andin untuk pergi bersamanya saat itu. Andin tetap memilih terus bersama dengan pria yang bernama Yoga dari pada ikut pulang bersama Gerald.
***
__ADS_1