
Beberapa menit setelah Yoga menutup telpon terdengar suara bel berbunyi. Tapi Yoga tidak turun untuk membuka pintu. Ada mbak Ijah yang membukakan pintu untuk Andin.
Setelah pintu terbuka, Andin langsung menerobos masuk ke rumah dan naik ke kamar atas di mana Yoga berada tanpa bertanya lagi. Mbak Ijah juga sudah tau kalau Andin akan langsung menerobos masuk ke kamar Yoga.
"Hai,," Sapa Andin pada Yoga yang sudah terlihat menunggunya.
Yoga menyambut kedatangan Andin dengan sebuah pelukan kerinduan yang dalam. Sudah begitu lama rasanya Yoga tidak bertemu dengan Andin.
"Kangen ya?" Tanya Andin yang merasakan betapa Yoga memeluknya dengan erat.
"Iyalah...Masa enggak." Jawab Yoga sambil memegang kepala Andin.
"Aku beli mie ayam tadi di depan. " Kata Andin sambil meletakkan kantong plastik yang isinya tiga bungkus mie ayam yang ia beli di abang abang depan komplek.
"Kok repot repot sih?"
"Nggak repot, cuma mie ayam Ga."
Yoga tersenyum. Ia tampak begitu bahagia melihat Andin yang kini berada di hadapannya setelah beberapa minggu mereka tidak bertemu.
Yoga terlihat memegang tangan Andin lalu menciumnya. Lalu dengan cepat kembali menarik tubuh Andin dan di peluknya kembali dengan erat.
"Yoga, cukup." Kata Andin berusaha menghentikan Yoga yang terus saja memeluknya.
"Kau terlihat cantik hari ini." Kata Yoga sedikit memuji penampilan Andin malam itu.
"Tiap hari juga aku cantik, emang kapan kau lihat aku jelek?" Jawab Andin tak perduli. Dia tidak bangga di bilang cantik malam itu, karena memang setiap hari Andin merasa kalau dirinya cantik.
Yoga tertawa.
"Kau benar, memangnya kapan aku melihat mu jelek. Kau selalu terlihat cantik bagi ku." Jawabnya.
"Bisa aja." Kata Andin dengan sedikit tersenyum. "Aku ambil piring dulu ke bawah!" Tambahnya seraya akan berbalik keluar kamar.
Yoga menarik tangan Andin. "Aku aja yang ambil piring, kau duduk manis di sini!" Kata Yoga lalu ia keluar untuk mengambil piring untuk tempat mie ayam yang Andin beli tadi.
Setelah beberapa saat ia kembali dengan membawa 3 buah piring. Lalu
Yoga menuangkan mie ayam satu persatu ke dalam mangkuk. Lalu memberikan satu mangkuk untuk Andin.
"Jangan terlalu banyak makan pedas, nanti asam lambung naik!" Kata Yoga sambil melirik kearah Andin yang terlihat menuangkan banyak sambal di mangkuk mie ayamnya.
"Ga pedas gak enak, Ga! " Bantah Andin. Sambil tetap menuangkan sambel kedalam mangkuk mie ayamnya dengan full.
"Yang enak, bikin jadi penyakit."
"Ga lah." Jawab Andin masih tidak perduli.
__ADS_1
"Cewek itu kok susah ya di kasih tau. Ngeles mulu kerjaannya." Kata Yoga sambil terlihat mulai mengaduk mie ayamnya.
"Cowok juga susah di kasih tau. " Balas Andin.
"Apa..?"
"Ngerokok mulu kerjaannya. Coba kamu suruh berhenti ngerokok, bisa?"
"Bisa." Jawab Yoga tak mau kalah.
"Bulshit."
"Asal kamu yang suruh berhenti, aku akan berhenti ngerokok." Kata Yoga dengan tersenyum menatap kearah Andin.
Andin melirik kearah Yoga.
Mata Andin mulai melotot karena perkataan Yoga sudah mulai menjurus ke hal yang lain. Yoga bukan sedang bersikap sebagai teman ataupun sahabatnya, tapi Yoga sedang bersikap sebagai orang yang jatuh cinta kepada Andin.
Andin tidak suka Yoga bersikap seperti itu kepadanya.
"Yoga, jangan mulai sesuatu yang aku tidak suka!" Kata Andin mengingatkan agar Yoga bersikap sewajarnya.
Jangan mulai sesuatu yang akan memicu salah faham.
"Oke.. kalau begitu. Mari kita profesional saja!" Kata Yoga yang sudah mulai sadar akan kesalahannya.
Terlihat Yoga menghela nafasnya sejenak. Lalu menghembuskannya perlahan. Desah nafasnya terasa sedikit berat. Ada perasaan yang tiba-tiba mengganjal di hatinya.
"Surat pengunduran dirimu sudah aku tanda tangani. Sekarang kamu sudah benar-benar bebas dari Resto. " Kata Yoga. "Silahkan bekerja di tempat lain dengan tenang, dan jangan lupa uang tunjangan kerjamu bisa di cairkan beberapa bulan lagi. Ya uang tunjangannya tidak besar sih, tapi lumayan lah buat jajan."
Andin terdiam.
Nada suara Yoga terdengar beda jauh dengan yang tadi. Sekarang dia tampak tegas dan berwibawa. Tidak terlihat seperti Yoga yang sedang jatuh cinta kepada dirinya.
"Kamu marah? " Tanya Andin setelah melihat wajah dan sikap Yoga berubah seketika.
Yoga melirik kearah Andin.
"Marah kenapa?"
"Karena perkataan ku tadi." Jawab Andin.
"Nggak lah. Aku tau diri kok, nggak apa apa. Kan memang benar, kita harus profesional dalam bekerja. Aku kan bukan orang penting."
"Kok nggak di makan mie ayamnya?" Tanya Andin sambil menunjuk mie ayam yang di biarkan dingin oleh Yoga. "Kalau mau marah, marahnya sama aku. Bukan sama mie ayam. Dia kan nggak salah. Kok di biarin gitu aja. Mubazir tau.."
Yoga dengan malas mulai mengaduk dan mencicipi mie ayam miliknya.
__ADS_1
"Nggak enak ya mie ayamnya?" Tanya Andin basa basi karena Yoga hanya terlihat mengaduk aduk mie ayam dan hanya sedikit mencicipinya.
"Enak kok." Jawab Yoga pelan.
Andin mendekat kearah Yoga lalu memeluk Yoga dari belakang.
"Jangan marah,, Gitu aja kok tersinggung!" Kata Andin dengan agak berbisik di telinga Yoga.
Yoga tak menjawab.
"Aku tau kamu lagi banyak pikiran. Aku juga tau kalau kamu berat kehilangan aku di Resto."
"Ya baguslah kalau kamu tau."
"Senyum dong!" Kata Andin sambil memegang sedikit dagu Yoga.
"Tau juga nggak, kalau aku lagi kangen sama kamu?"
Andin tersenyum. "Tau.., makanya aku datang." Jawabnya.
Yoga menatap ragu Andin yang masih memeluknya.
"Sudah, jangan melotot seperti itu. Makan mie ayamnya! " Kata Andin kemudian kembali duduk dan mulai kembali mencicipi mie ayam yang tadi dia beli.
"Kalau kau tau, kenapa nggak datang dari kemarin?"
"Gerald sedang keluar kota beberapa hari, dan baru pulang kemarin. Aku nggak bisa keluar karena nungguin dia pulang.Dan sore ini aku ijin nemuin kamu sama dia."
"Gerald tau kamu kesini?"
"Tau.Aku yang kasih tau."
"Kok bisa dia izinin kamu?"
"Kita sudah berjanji untuk tidak ada lagi yang harus di tutup tutupi, makanya lebih baik aku bilang daripada main belakang. Lagipula kan aku niatnya baik, cuma mau ketemu kamu. Nggak macem macem."
"Oh oke." Gumam Yoga pelan.
Andin dengan sangat jelas sudah menggaris bawahi kedatangannya ke tempat Yoga. Andin juga sudah menggaris bawahi siapa Yoga di hidupnya.
Meski betapa kecewanya Yoga mendengar hal itu tapi Yoga tak berdaya. Yoga harus tetap mendengar betapa Andin bahagia hidup bersama Gerald kekasihnya sekarang.
Dengan rasa kecewa Yoga tetap menghabiskan mie ayam miliknya meski selera makannya sudah hilang. Benar apa yang dikatakan Andin. Dia hanya kecewa kepada Andin, bukan kepada mie ayam yang di bawanya.
Yoga harus tetap menghabiskan makanannya dari pada nanti Andin kecewa karena makanannya mubazir dan tak termakan.
***
__ADS_1