Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Andin Sakit Hati #29


__ADS_3

Melihat dan mendengar pembicaraan Yoga dengan Andin dengan mata dan kepalanya sendiri. Gerald tak mendengar sedikitpun ada pembicaraan yang melenceng dari hanya sekedar teman diantara mereka. Apa yang mereka bicarakan,semuanya tentang pembicaraan sahabat pada umumnya.Tapi Gerald teramat cemburu melihat kedekatan Andin dengan Yoga. Gerald tak mau melihat Yoga terus menjadi bayang bayang dalam kehidupannya dengan Andin.Sekalipun di antara mereka hanya bersahabat.


Gerald sudah bosan dengan sikap Andin yang selalu memperdulikan tentang Yoga. Gerald sudah bosan mendengar Andin terus menerus menyebutkan namanya.


"Jangan pernah sesali yang terjadi hari ini. Bagaimana pun Ayang sudah berjanji tidak akan pernah lagi meninggalkan aku seperti ini. Tapi jika ini yang kau pilih, aku akan terima keputusan Ayang walau ini telah sangat menyakiti hati ku." Kata Andin sambil beranjak dari duduknya.


Andin terlihat membuka pintu kamar, dia tak berusaha bicara ataupun berbalik ke belakang untuk melihat Gerald.Dia tetap melangkah kan kaki keluar dari kamar.Meninggalkan Gerald yang sedang merenungi apa yang baru saja terjadi. Apa sebenarnya yang dia katakan kepada Andin tadi?


Di depan, di ruangan kantor. Andin terlihat mendatangi Ica yang sedang duduk di lantai sembari memainkan ponselnya. Andin melemparkan secuil kertas kepada Ica.


"Kirimkan semua uangku untuk Yayasan Rumah Duafa !" Kata Andin sambil berjalan melewati mereka dan tak berbalik lagi untuk bicara.


Ica mengambil secuil kertas yang di lemparkan Andin, yang sudah berisi tulisan nama Yayasan Rumah Duafa beserta alamatnya.


Dengan tatapan mata yang kosong, Andin berjalan lunglai keluar dari rumah Gerald. Dia berjalan keluar tanpa membawa kembali motornya. Andin kembali menyimpan motor Vespa nya di rumah Gerald agar supaya nanti jika dia mau bertemu dengan Gerald, motor vespa miliknya bisa menjadi alasan dia untuk datang ke sana.


Cuaca seperti berpihak pada Andin saat itu. Hujan turun saat Andin melangkah keluar dari rumah Gerald dengan berjalan kaki. Tapi Andin terus berjalan dalam hujan dengan pikirannya yang kacau.Dia tak pernah menyangka kalau Gerald akan mengambil keputusan yang konyol. Padahal Andin sudah mau menuruti keinginannya untuk pindah dan bekerja kembali di kantornya. Tapi Gerald dengan sombongnya tetap menginginkan mereka untuk berpisah.


Tapi Andin tidak marah pada Gerald, dia hanya sedang meratapi kemalangan nya.Dia hanya sedang menangisi kegagalan hubungannya dengan Gerald.


Andin tak pernah menyangka kalau hubungannya dengan Gerald akan berakhir seperti ini. Andin juga Tidak pernah menyangka kalau akhirnya laki laki yang telah bertahun-tahun bersama dan menjaganya, akhirnya yang mengakhiri sendiri hubungan mereka.


Tak pernah sedikitpun terbersit di hati Andin, kalau Gerald akan memikirkan untuk minta putus dari dia. Tapi mungkin dia sudah tidak mencintai ku lagi. Begitu pikir Andin saat itu.


Hujan yang begitu deras pun tak membuatnya berhenti berjalan dalam hujan. Andin ingin menangis sepuasnya tanpa orang tau kalau dia sedang menangis. Andin ingin melepaskan luka kehilangan Gerald di dalam hujan. Berharap saat hujan berhenti, lukanya pun ikut hanyut bersama air hujan yang mengalir.


***


Andin perlahan membuka matanya, kepalanya masih terasa pusing. Dan badannya masih terasa lemas. Matanya berputar ke sekeliling kamar, dia bingung ketika dia masih berada di dalam kamar Gerald. Bukankah dia tadi sudah pergi meninggalkan rumah Gerald?


Kepala Andin terus berpikir apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Non Andin sudah bangun?" Kata bi Sumi yang baru saja datang ke kamar Gerald sambil membawa baskom berisi air hangat beserta handuk kecil untuk mengganti kompres Andin.


Andin melirik ke arah bi Sumi. Andin ingin bisa bangun tapi kepalanya terlalu pusing untuk bangun.


"Kenapa aku ada di sini, bi?" Tanyanya sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Non, tadi pingsan di jalanan komplek depan. Untung ada tetangga yang kenal sama non Andin tadi, lalu dia membawa non Andin kemari." Kata bi Sumi sambil mengganti handuk kecil untuk kompres Andin yang sudah dingin.


Andin terlihat mencari sesuatu, " Hape ku mana bi?" Tanya Andin pada bi Sumi.


"Ohh,sama den Gerald kali." Kata bi Sumi sambil melirik ke arah luar kamar, dimana Gerald berada.


"Tolong ambilkan bi, aku mau telpon Arman." Kata Andin meminta tolong kepada bi Sumi untuk mengambilkan ponselnya yang ada pada Gerald.


Bi Sumi bergegas keluar, menghampiri Gerald yang sedang duduk sambil termenung di ruang tamu di temani teman temannya yang lain. Mungkin sedang menunggu Andin siuman.


"Den, Non Andin mencari hapenya!" Kata bi Sumi pada Gerald yang sedang anteng melamun.


Andin terlihat menelpon seseorang.Namun yang di telpon sepertinya tak mengangkat telponnya.Panggilan terus berdering tanpa di angkat.


"Ayang mau telpon siapa?" Tanya Gerald, lalu duduk kemudian mengambil hape Andin kembali. "Ini sudah larut malam." Tambahnya,lalu menyimpan hape Andin di sampingnya."Istirahat lah, besok pagi aku antar pulang."


Andin tak menjawab.


Bukan karena tak ingin bicara dengan Gerald, tapi karena merasakan kepalanya yang terasa begitu berat.Dan perutnya terasa mual ingin muntah.


"Makan dulu! " Gerald mencoba membangunkan Andin agar dia bisa makan lalu minum obat. Tapi Andin tidak mau makan juga tidak mau minum obat.


Gerald menyimpan makanan yang sudah disediakan untuk Andin di sampingnya. Lalu dia duduk menunggui Andin di sebelahnya. Gerald ingin mengatakan sesuatu, tapi Andin pura pura tertidur tak mau membuka mata. Andin terlihat tak ingin mengatakan apapun malam itu.Andin seperti tak ingin berbicara kepada dirinya.


Mungkin Andin memang sedang marah padanya, makanya dia tidak mau bicara.

__ADS_1


Gerald sebenarnya ingin minta maaf atas perkataannya tadi sore, mungkin itu telah menyakiti hati Andin. Dia tidak benar benar berniat memutuskan Andin hari itu, hanya saja dia sedang emosi tadi. Tapi ketika melihat seorang tetangga membawa Andin ke rumahnya dalam keadaan tak sadarkan diri di tengah hujan, Gerald baru mengerti bahwa Andin sangat terluka oleh perkataannya.Dia baru menyadari, betapa dia sudah salah besar telah mengatakan hal itu kepada Andin.


***


Malam telah begitu larut, hampir dini hari ketika terdengar seseorang memencet bel di rumah Gerald. Semua orang baru saja terlelap. Hanya Gerald yang masih duduk di ruang tamu sambil rebahan, menonton TV yang tidak dimatikan dari sore hari. Entah acara apa yang sedang dia tonton, karena mata Gerald juga tidak tertuju pada TV yang menyala.


Gerald terbangun, membuka pintu gerbang dan melihat siapa yang datang. Dini hari seorang pria berambut panjang sebahu tengah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.


"Cari siapa, mas?" Kata Gerald yang bingung dengan kedatangan pria yang tidak di kenalnya.


"Mau jemput Andin!" Jawabnya datar.


"Andin?" Gerald terlihat bingung.


"Iya,aku mau jemput Andin!" Tambah pria yang berambut panjang itu mengulang perkataannya.


Gerald bingung tiba-tiba ada seorang pria yang tidak di kenalnya datang menjemput Andin,dan Gerald tak pernah melihat pria itu sebelumnya.


Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki Andin berjalan ke luar rumah dengan tampak sempoyongan,sambil memegang kepalanya, Andin berjalan dengan terbata bata ke luar menghampiri orang yang katanya mau menjemput dirinya.


"Tolong bawa aku pulang,Man!" Kata Andin setelah berada tepat di depan mereka.


"Kenapa bisa gini, sih mbak?" Kata pria itu yang ternyata adalah Arman.


Dari tadi malam Andin terus menelponnya. Arman tidak mengangkat telpon karena dia sudah tertidur. Tapi karena saking banyaknya chat dan panggilan tak terjawab dari Andin, Arman jadi kebangun. Dan langsung tancap gas ketika Arman membaca chat dari Andin kalau dia harus menjemputnya di rumah Gerald.


"Aku kan sudah bilang jangan datang, mbak nya maksa! " Kata Arman sambil memapah Andin keluar gerbang."Orang kalau sudah tidak perduli, mau sebesar apapun pengorbanan kita, dia enggak bakalan ngerti. " Tambah Arman lagi sambil mendelik ke arah Gerald yang masih bingung dengan semua yang terjadi.


Gerald hanya melongo melihat Andin yang di jemput oleh pria yang tidak dia kenal. Dia bingung harus bilang apa. Gerald jadi kikuk di perlakuan seperti itu oleh Andin.


Sebenarnya dia mau minta maaf, mungkin karena ucapannya Andin jadi kacau.Tapi dari semenjak bangun dari siuman, Andin tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk bicara ataupun minta maaf.

__ADS_1


***


__ADS_2