
Dengan perasaan yang campur aduk, Andin akhirnya memberanikan dirinya untuk datang menemui Adinda dan Gerald yang sedang duduk di taman belakang. Andin tidak bisa terus menghindar dari Gerald. Karena Andin yakin, suatu hari nanti mau tidak mau Andin akan tetap berurusan dengan Gerald karena Adinda.
Adinda akan menjadi alasan mereka untuk tetap bertemu di kemudian hari. Andin melihat begitu sayangnya Gerald kepada Adinda. Dan Andin yakin, Gerald tidak akan pernah meninggalkan Adinda apapun yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua kelak.
Adinda sedang memperlihatkan tanaman tomat miliknya yang sudah berbuah kepada Gerald. Adinda sudah tidak sabar memetik buah tomat yang sudah di tanamnya sejak beberapa bulan lalu.
"Wah, hebat kamu sayang. Tanaman tomatnya berbuah banyak. Sebentar lagi bisa di panen. " Kata Gerald memberi pujian kepada Adinda.
"Iya, om. " Jawab Adinda sambil tersenyum. "Om ganteng suka makan tomat enggak? "
"Enggak."
"Kenapa? "
"Karena om ganteng ga suka makan sayur. " Jawab Gerald agak malu.
"ih, ga boleh tau. Sayuran itu kan sehat. "
"Betul, sekali. Makanya Dinda jangan seperti om yang enggak suka sayur. Adinda harus banyak makan sayur biar sehat! " Jawab Gerald sambil mencubit sedikit pipi Adinda.
"Dinda, kamu sudah makan nak? " Kata Andin yang tiba-tiba datang dari arah depan.
Adinda menoleh, tersenyum kepada Andin yang menghampirinya. "Belum, bu. " Jawabnya.
"Makan dulu dong, nak! Inikan sudah siang. Nanti Dinda sakit! " Perintah Andin, mengingatkan kalau Adinda jangan lupa untuk makan.
"Baik, bu. " Jawab Adinda.
Adinda menatap ke arah Gerald. "Om ganteng mau makan sama Dinda? " Tanya Adinda.Berharap Gerald akan menemani Adinda untuk makan.
Gerald menggeleng sambil tersenyum. "Enggak, sayang. " Jawabnya. "Om ganteng sudah sarapan tadi di rumah."
"Kalau begitu Dinda makan dulu ya, om. "
"Oke, sayang. "
__ADS_1
Adinda berlari masuk kembali ke dalam rumah. Sedangkan Gerald hanya terdiam melihat Andin yang tengah berdiri di hadapannya.
Gerald tidak tau kalau ternyata Andin berada di sana. Ia juga tidak pernah menyangka kalau Andin akan menghampirinya. Gerald menyangka, setelah kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu, Andin tak akan pernah menemuinya kembali.
Melihat Gerald yang hanya terdiam,Andin akhirnya duduk di sebelah Gerald. "Apa kabar? " Tanya Andin berusaha memulai percakapan.
Gerald tak terlihat ingin bicara ketika dia melihat Andin datang menghampirinya. Dia hanya terlihat terdiam.
"Baik." Jawab Gerald pendek.
"Sudah lama? "
"Baru sebentar. " Jawab Gerald hampir tak terdengar.
"Kau tak ingin bicara dengan ku? " Tanya Andin, sembari menatap tajam wajah Gerald yang berusaha menghindar dari pandangannya.
"Apa yang harus aku bicarakan? " Gerald malah balik bertanya.
"Apa saja. " Jawab Andin. "Kau bisa berbicara tentang Adinda, tentang Anak anak asuh yang lain atau tentang.. "
"Kau benar. Orang yang aku cintai juga sudah memilih orang lain sebagai pengganti ku. " Jawab Andin sambil memalingkan wajahnya. Andin balas menyindir Gerald dengan kata katanya.
Ada perasaan sakit mengiringi perkataan Andin.Ada perasaan Getir di dalam relung hatinya melihat hubungannya dengan Gerald harus seperti ini.
Perkataan keduanya, begitu menusuk hati dan jiwanya masing-masing. Satu sama lain, tak bisa berkata kata.Satu sama lain merasa tersindir dengan apa yang baru saja mereka katakan.
Mereka berdua terdiam.Mata mereka saling berpandangan, tapi tak tau harus berkata apa. Rasanya sudah terlalu capek membahas masalah yang sama terus menerus. Gerald sudah tak ingin berdebat tentang apapun. Ia juga tak ingin tau tentang apapun.
Andin terlihat beranjak dari duduknya.
"Kenapa kau menemui aku di sini? " Tanya Gerald, ketika melihat Andin akan melangkah pergi meninggalkannya.
Gerald tak ingin melihat Andin pergi dari hadapannya. Tapi ia juga bingung apa yang harus dia lakukan.
Andin berbalik kembali menatap Gerald yang juga sedang memperhatikannya.
__ADS_1
"Aku tak bisa selamanya menghindari mu. Meski sebenarnya aku tidak mau bertemu denganmu. Tuhan telah mempertemukan kita kembali, meski dalam keadaan yang berbeda. " Jawabnya.
"Maksudmu? "
"Meski kau telah berdua dengan orang lain. " Kata Andin dengan tegas.
Gerald tak menjawab.
"Selama dua tahun ini, aku telah membuktikan kesetiaan aku kepadamu. Dan hari ini kau bisa melihat sendiri, kalau aku tak pernah ada hubungan apapun dengan Yoga. Dan aku juga tak pernah menggantikan posisi mu dengan siapapun hingga hari ini. "
"Kalau Kau memang sebegitu cintanya sama aku, kenapa kau tega membiarkan aku selama bertahun-tahun. Kau memblokir semua akses untuk bisa menghubungi mu." Gerald mempertanyakan sikap Andin selama ini.
"Tapi kau bisa datang ke rumah ku kalau kau mau. " Bantah Andin. "Aku memang memblokir semua akun sosial media mu. Tapi, rumah dan tempat kerja ku tak pernah berubah ataupun ganti. Aku masih tetap di Resto.Kau bisa datang menemui ku di sana. Tapi sayangnya kau tak pernah datang untuk mencari ku. " Jawab Andin tak mau kalah.
Gerald terdiam.
"Aku sudah lelah menjelaskan bahwa aku mencintaimu. Aku lelah memperdebatkan hal sama setiap hari. Aku lelah menjelaskan bahwa aku tak pernah berhubungan apapun dengan Yoga kecuali hanya berteman. Aku capek, melihat mu selalu terdiam ketika kita sedang berada dalam masalah. Dan dengan begitu yakin, akhirnya aku mendengar kata kata yang sangat menyakitkan bagiku. Kau meminta ku untuk mengakhiri hubungan ini. Lalu menurut mu aku harus apa?" Perkataan Andin berhenti sejenak. Ada butiran butiran air mata yang memaksa untuk jatuh di kelopak matanya. Hatinya begitu teriris mengatakan hal selama dua tahun ini ia tahan dalam hatinya.
"Aku sudah melakukan apa yang seharusnya Aku lakukan sebagai orang yang ingin mempertahankan hubungan ini. Aku sudah memohon, aku sudah mengiba, aku sudah menuruti semua keinginan mu untuk kembali ke rumahmu. Tapi hatimu tetap membatu. Kau bahkan tak perduli pada perjuangan ku. Lalu Aku harus bagaimana, ketika kau tetap memberikan aku pilihan untuk tetap bertahan bersama Yoga jika aku tak bisa melepaskan dia sepenuhnya. "
Andin terlihat menghela nafas panjangnya.
"Aku tidak ingin terus menyakiti hatimu, jika kebersamaan aku dengan Yoga teramat membuat mu sakit."
Gerald tak terdengar sedikitpun ingin menyela pembicaraan. Dia hanya tertunduk. Mendengarkan keluh kesah Andin yang begitu panjang dan menyayat hatinya.
"Kau selalu merasa aku begitu menyakiti hatimu. Dan kau selalu berkata, bahwa aku terlihat begitu bahagia saat aku jauh darimu. " Andin tertawa dengan ujung bibirnya. "Kau bahkan tak pernah tau, berapa banyak air mataku yang jatuh untuk menangisi mu. Kau tak pernah tau, betapa susahnya aku menahan rindu yang begitu besar kepadamu. Kau tak pernah tau, aku sampai punya akun fake untuk sekedar melihat story mu di akun sosial media. Karena aku begitu merindukan mu, Gerald! Aku ingin bertemu,aku ingin memelukmu,tapi kau bukan milik ku lagi." Air mata Andin akhirnya jatuh.
"Meski aku sempat berpikir untuk kembali, tapi niat ku terhenti ketika aku sadar bahwa tempat ku telah kau gantikan dengan orang lain. Lalu aku harus apa? " Andin terlihat menyeka sedikit air matanya dengan ujung jari.
"Selain menangis, aku tak bisa melakukan hal yang lain. Aku hanya bisa merenungi diri dan menyibukkan diriku dengan bekerja. Aku tak ingin berpikir, kau akan kembali di hidupku meski aku menginginkannya. "
Andin perlahan membalikan badannya, Andin ingin segera pergi dari hadapan Gerald. Andin tak bisa lagi menahan perasaannya. Dia ingin sekali menangis sekencang kencangnya.
"Mau kah kau menikah denganku? " Tanya Gerald tiba-tiba ketika melihat Andin akan beranjak pergi.
__ADS_1
***