Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Andin Terbaring Sakit #45


__ADS_3

Andin masih terbaring lemah di rumah sakit. Ditemani Arman yang tak berhenti menemaninya dari kemarin. Arman selalu duduk di samping Andin, memastikan kalau Andin akan baik baik saja.Arman memang sudah mengetahui kalau keadaan Andin sedang tidak baik baik saja sudah sejak beberapa hari ini.


Beberapa kali Arman melihat Andin sedang kesakitan, tapi Arman tak pernah bertanya.Arman tau, kalau Andin tidak akan pernah mengatakan dengan jujur tentang keadaannya. Andin pasti akan bilang, bahwa dia baik baik saja.Itu makanya, kenapa Arman membawa Andin cepat cepat ke rumah sakit, sesaat setelah dia pingsan di rumah Gerald.


Selain Arman, Gerald juga ikut menunggui Andin di rumah sakit. Tapi Andin tidak mengetahui jika Gerald juga berada di sana bersama Arman.Gerald tidak masuk menunggui Andin di ruang rawat, dia hanya menunggui Andin di luar ruangan saja. Gerald tidak berani masuk ke dalam.


Dari kemarin sore, semenjak Andin masuk ke rumah sakit. Gerald tidak melihat Yoga datang menjenguk. Dari kemarin, hanya terlihat Arman saja yang setia menunggui Andin di sana.


Gerald sempat merasa heran, kenapa Yoga tidak ada bersama Andin saat Andin sedang membutuhkannya.Mungkin dalam keadaan seperti ini Andin membutuhkan Yoga berada di sampingnya.


"Gimana keadaan Gerald sekarang, Man?" Tanya Andin saat Arman sudah duduk kembali di sampingnya, sembari mengupas sebuah jeruk untuk Andin.Andin terlihat khawatir dengan keadaan Gerald.Andin teringat wajah Gerald yang babak belur di hajar oleh Arman kemarin siang.


"Jangan khawatir, dia baik baik aja." Jawab Arman, memastikan kalau Gerald baik baik saja.


"Aku kaget, kemarin kamu tiba-tiba datang dan menghajar Gerald seperti orang gila." Kata Andin,sambil memasukkan satu persatu jeruk yang sudah di kupas oleh Arman."Kasihan dia tau, tiba-tiba kau pukuli begitu saja."


Arman tak merespon perkataan Andin, dia terlihat fokus kepada jeruk jeruk yang sedang dia kupas kan untuk Andin.Arman tak perduli dengan ke khawatiran Andin kepada Gerald. Baginya, Gerald pantas mendapatkan semua itu.


"Darimana kau tau, aku di rumah Gerald?" Tanya Andin kemudian.


Arman belum menjawab pertanyaan Andin kemarin saat di rumah Gerald.Arman terlihat begitu emosi kepada Gerald, karena telah dengan sengaja membuat Andin marah.


"Mas Yoga yang bilang." Jawab Arman pendek.

__ADS_1


"Yoga juga tidak tau aku pergi ke rumah Gerald?" Andin merasa heran, karena ia tak pernah mengatakan apapun kepada Yoga kemarin. Andin tidak bilang ia akan pergi kemana kepada Yoga.


"Dia tau." Bantah Arman."Mas Yoga sudah bisa menebak, mbak akan pergi ke mana. Mas Yoga suruh aku pergi menyusul mbak,ke rumah itu! Mas Yoga takut, terjadi apa apa sama mbak Andin katanya. Dari semenjak mbak pergi, mas Yoga sudah tau kalau mbak sedang kacau dan sedang tidak fit. Dia telpon aku suruh aku langsung otw ke rumah itu! "


"Hmm." Andin tak terdengar lagi bertanya.


"Kenapa mbak tiba-tiba datang ke sana? mbak bilang mbak sudah tidak punya urusan apapun dengan dia." Arman terdengar berbicara kembali setelah terdiam beberapa saat.


"Kau benar." Jawab Andin menyesali perbuatannya kemarin. "Aku salah, telah menganggap dia masih perduli sama aku." Tambahnya, terlihat menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah jeruk.


Andin membayangkan kejadian kemarin, sewaktu dia pergi ke rumah Gerald.Dia menyesal telah membuat keputusan untuk datang dan menjelaskan tentang Rumah Duafa kepada Gerald. Alhasil Andin harus melihat pemandangan yang sama sekali tak pernah ingin dia lihat di sana. Andin melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kalau Gerald memang berhubungan lebih dari sekedar teman dengan Ica.


Hati Andin terasa begitu hancur melihat itu. Ia tak pernah menyangka bahwa hatinya akan begitu sakit melihat Gerald bersama orang lain.Padahal, dulu dia pernah berharap kalau Gerald harus bahagia bersama orang lain. Tapi setelah harapannya menjadi kenyataan, ternyata semua itu tidak gampang seperti apa yang ada di pikirannya.Semua itu ternyata lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan sebelumnya.


"Ica memanggilnya sayang." Andin terdengar bergumam, seperti berbicara dengan dirinya sendiri.


Andin tersenyum sambil membenarkan posisi duduknya."Gerald tidak mengkhianati gue, Arman. Kita kan sudah lama putus. Ya wajar kalau dia punya pacar baru."Jawabnya.


"Kalau begitu mbak yang bodoh, masih saja berharap kalau dia akan perduli.Masih mencintai orang yang jelas jelas sudah melupakan mbak dari hatinya." Kata Arman, kemudian dia beranjak akan cuci tangan ke kamar mandi.


"Kau benar. Aku yang bodoh!" Jawabnya, lalu terlihat menyandarkan kembali badannya ke belakang.


Gerald sudah berdiri di balik tirai ketika Arman membuka tirai nya. Gerald sudah berdiri sejak tadi mendengarkan percakapan mereka berdua. Tadinya Gerald akan pamit kepada Andin untuk pulang dulu ke rumah untuk mengganti baju, tapi niatnya terhenti ketika mendengar mereka tengah bicara.

__ADS_1


Gerald sengaja berdiri dari tadi mendengarkan pembicaraan Andin dan Arman tentang dirinya. Dan dari apa yang Gerald dengar dari percakapan mereka, akhirnya Gerald tau kalau Andin masih sangat mencintai dirinya.


Sedangkan Arman terlihat cuek dan memalingkan wajahnya saat bertatapan dengan Gerald. Dia tak perduli akan kehadiran Gerald di situ.Benci sebenarnya dia melihat Gerald berada di sana bersamanya. Tapi bagaimanapun, Gerald adalah orang yang di cintai Andin.Arman tidak mungkin, memukuli Gerald di rumah sakit.


Andin terkejut ketika melihat Gerald sudah berdiri di balik tirai penutup ruang rawat yang menjadi penyekat antara pasien satu dengan pasien yang lain.


Andin sama sekali tidak tau, kalau Gerald juga berada di sana bersama Arman sejak kemarin.Arman tak mengatakan kalau Gerald juga sedang menunggui dirinya di luar ruangan.


Gerald melangkah mendekat, menghampiri Andin yang sedang duduk sambil makan jeruk yang sudah di kupas oleh Arman tadi. Selang infus masih terpasang di tangannya.


Gerald terlihat menggeser kan kursi agar lebih dekat kepada Andin. Lalu duduk. "Bagaimana kabarmu?" Tanyanya, sambil berusaha memegang tangan Andin.


Andin tak menjawab.


Dia hanya fokus kepada wajah Gerald yang terlihat lebam karena perkelahian kemarin. Satu perban di pasang di dahinya. Di sudut bibirnya masih terlihat bekas luka sobek akibat pukulan benda tumpul.Bibir dan pipinya masih terlihat sedikit membengkak.


Andin menatap wajah Gerald dengan iba. Andin tak tega melihat Gerald dalam keadaan seperti ini.Andin tak tega melihat wajah Gerald yang terlihat memar dan sedikit terluka."Bagaimana lukamu?" Andin malah terlihat balik bertanya kepada Gerald.


"Aku enggak apa apa." Jawab Gerald.


"Pulang lah!" Kata Andin. "Istirahat di rumah, kamu pasti belum tidur." Tambahnya.


Gerald terlihat tertunduk,Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Gerald merasa begitu bersalah atas kejadian kemarin. Ia merasa bertanggung jawab akan sakitnya Andin hari ini.

__ADS_1


"Aku tidak tau, kamu akan begitu tersinggung dengan perkataan ku.Aku tidak tau, kamu akan begitu marah padaku." Katanya dengan terbata bata. "Aku bahagia akhirnya kamu datang menemui ku.Hari yang sudah lama aku tunggu,akhirnya datang juga. Aku bahagia saat melihat mu kembali ke rumah,aku hanya tidak tau cara mengekspresikan rasa bahagia ku." Perkataannya terhenti sesaat. "Andai saja aku tau, kamu akan begitu tersinggung dengan kata kataku, aku bersumpah aku tidak akan pernah mengatakan apapun kepadamu." Terlihat Gerald menghela nafasnya beberapa kali. "Aku hanya sakit hati melihat wanita yang ku cintai mempunyai rahasia yang tak aku tau. Aku begitu asing saat melihat mu berdiri memperkenalkan diri sebagai pemilik Yayasan Rumah Duafa bersama Yoga.Sedangkan aku tak pernah tau tentang itu, kau tak pernah cerita! " Katanya dengan begitu mengiba penuh penyesalan.


***


__ADS_2