
Andin terlihat begitu gemas melihat bayi yang sedang tertidur di kasur bayinya.Bayi kecil yang imut dan lucu. Andin terlihat mencium cium bayi kecil mungil itu tak henti henti. Serasa seperti mimpi tiba-tiba Yoga sudah mempunyai anak saja. Terasa baru kemarin dia bersama sama Yoga, tapi hari ini Yoga sudah menjadi seorang ayah. Sedangkan dia masih menjadi Andin yang tak pernah berubah sejak dulu. Begini begini saja tidak ada perubahan yang signifikan.
Melihat bayi kecil mungil di hadapannya, Andin seperti mendapatkan sebuah anugrah yang tak bernilai. Serasa seperti lebih dari mendapatkan emas dan berlian. Padahal bukan dia yang melahirkan bayi itu. Bayi itu anak orang lain. Bayi itu anak Marisa dan Yoga. Tapi Andin ikut bahagia atas lahirnya bayi laki-laki yang di beri nama Arjuna putra Yoga ini. Marisa dan Yoga memberi nama bayi mereka dengan nama Arjuna. Andin selalu merasa bahwa bayi Arjuna adalah anaknya juga walau dia tidak melahirkannya.
Andin seolah tak ingin pergi dari samping bayi Arjuna. Andin ingin selalu menggendongnya dan menimang bayi Arjuna sepanjang hari.
Tapi Andin harus bekerja, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Lagipula tidak enak setiap hari berada di rumah Yoga.Walaupun dia juga akrab dengan semua keluarganya. Tapi Andin tidak nyaman berada sepanjang hari di rumah Yoga. Maka dari itu, Andin hanya datang ketika dia ada waktu luang saja atau datang karena memang Andin tidak bisa menahan rasa rindu kepada bayi Arjuna.
Andin terus menatap bayi Arjuna dengan gemas. Melihat dia tertidur, rasanya dunia begitu indah. Ada hal yang ternyata bisa melupakan segala keluh kesah Andin dari semua masalah yang terjadi dalam hidupnya. Memandangi bayi Arjuna, ternyata bisa sedikit meringankan beban pikiran yang selalu semrawut di kepala Andin selama ini.
"Anak ganteng, bangun dong!" Kata Andin berbisik di telinga bayi Arjuna. Sambil tak henti menciumnya.
Si bayi tetap tertidur dengan nyenyak. Seperti tak terganggu dengan ciuman Andin yang bertubi-tubi kepadanya. Dia tetap terlelap dengan nyaman.
"Enggak akan bangun, Din." Kata Marisa yang baru datang dari dapur ke kamarnya. "Dia baru saja minum susu. " Tambahnya, lalu duduk di samping Andin sambil melipat baju bayi yang sudah kering yang sudah bertumpuk di keranjang laundry.
"Emang gitu ya, bayi kalau tidur ga bangun bangun?" Kata Andin, tetap tak melepaskan pandangannya dari bayi Arjuna. Bayi itu begitu lucu, putih bersih dan gendut. Usianya kini hampir tiga bulan, tapi timbangannya melebihi anak bayi seusianya.
"Ya bangun, kalau nanti lapar pingin minum susu atau celananya basah, karena pipis." Jawab Marisa.
Andin terlihat begitu serius mendengar Marisa yang menjelaskan tentang bayi. Sambil terlihat mengangguk angguk kecil.
"Kapan dong kamu nyusul, punya anak ?" Canda Marisa.
"Punya anak sama siapa, pasangan juga enggak punya?" Andin terdengar menjawab dengan cepat pertanyaan Marisa.
"Sama Yoga aja." Kata Marisa seperti kelepasan bicara.
Andin berbalik ke arah Marisa dan menatapnya. Andin seakan tak percaya, Marisa berkata seperti itu.
"Menikah saja sama Yoga. Biar kita bisa sama-sama di sini." Kata Marisa mengulang perkataannya.Dia ternyata bukan kelepasan bicara.Memang Marisa dengan sengaja mengatakan itu kepada Andin.
__ADS_1
Andin terdiam.
Tak lepas pandangannya dari Marisa yang berbicara ngawur ga jelas menurutnya. Aneh, kenapa tiba-tiba Marisa bicara seperti itu.
"Kalau aku mau nikah sama Yoga, sudah dari dulu aja aku nikah sama dia. Waktu sebelum Yoga ketemu sama kamu.Jauh sebelum Yoga pergi ke Jogja untuk kuliah di sana. " Jawab Andin agak ketus.
Kesal mendengar Marisa bicara sembarangan.
Marisa tersenyum. "Bercanda, Din."
Andin mendelik sambil kembali menciumi bayi Arjuna.
"Yoga dimana, Mar?" Tanya Andin beralih menanyakan Yoga yang tak terlihat dari tadi. Andin sudah lama datang kerumahnya. Tapi tak terlihat Yoga menemuinya.
Biasanya, kalau Andin datang Yoga akan dengan cepat menemuinya.
"Dia pergi ke rumah bang Zul tadi pagi." Jawab Marisa.
"Ga tau, mau pinjam uang katanya. Kalau tidak salah dengar itu juga. "
"Pinjam uang buat apa?" Andin tambah penasaran.
"Buat biaya operasi Reina katanya."( Reina adalah adik bungsunya Yoga)
"Emang Reina kenapa?"
"Kan beberapa hari lalu Reina kecelakaan. Kakinya patah. Kata dokter harus operasi pasang pen katanya. Dan Mas Yoga lagi ga punya uang. Jadi dia pinjam sama bang Zul."( bang Zul adalah kakak tertua Yoga)
"Kok enggak pinjam ke aku?"
"Mungkin masih bisa di tangani sama keluarga sendiri kali."
__ADS_1
Andin terdiam mendengar Marisa mengatakan bisa di tangani oleh keluarga sendiri. Orang dia bukan keluarga Yoga. Ya jelas Yoga tidak akan memberitaunya.Dia hanya teman bagi Yoga.
Andin sedikit tersinggung dengan perkataan Marisa barusan, tapi ya mau bagaimana lagi, Andin memang bukan keluarganya. Jadi harus sadar diri.
Ada sedikit perasaan kesal di hati Andin kepada Yoga. Tapi Andin tidak berhak untuk marah. Karena memang Andin bukan siapa-siapanya Yoga dalam hal ini. Masalah Reina yang mengalami kecelakaan pun Andin tidak mengetahuinya. Yoga tidak bilang apapun padanya. Apalagi tentang masalah uang yang tadi Marisa bicarakan. Andin sama sekali tidak menyangka kalau Yoga akan memilih meminjam kepada bang Zul daripada kepada dirinya.
Biasanya Yoga akan menceritakan segala hal kepada dirinya tidak terkecuali. Masalah Yoga adalah masalah Andin juga. Kenapa tiba-tiba harus meminjam kepada bang Zul kalau Andin juga punya uang.
"Emang kenapa dulu kamu bisa putus sama mas Yoga?" Marisa terdengar kembali pada pembicaraan yang tadi tentang Yoga dan Andin.
Andin terlihat sedikit menghela nafas.
Hal yang sebenarnya tidak pernah ingin dia bahas adalah tentang kisah percintaannya dengan Yoga jaman dulu.Mereka sudah sepakat untuk menjadi teman selama bertahun-tahun. Dan mereka juga sudah menjalani persahabatan mereka begitu lama. Bahkan Andin sudah tidak ingat kalau dahulu mereka pernah pacaran. Tapi hari ini, Marisa membahasnya. Marisa ingin tau seluk beluk pertemanan mereka yang sudah terjalin bertahun-tahun.
"Kenapa bahas masa lalu, Mar?" Kata Andin, seperti tampak enggan membahas masa lalunya dengan Yoga.
"Pengen tau aja, kalian belum pernah cerita detailnya gimana." Kata Marisa, sedikit memaksa Andin untuk bicara.
"Tau aku pernah pacaran sama Yoga dari siapa?" Tanya Andin tiba-tiba.
"Dari Mas Yoga." Jawab Marisa dengan tegas. "Dulu sebelum menikah dengan aku, syarat pertama yang mas Yoga ajukan adalah aku harus terima kamu tanpa banyak bertanya kenapa. Mas Yoga menjelaskan kalau dahulu kalian pernah pacaran. Dan memutuskan berpisah dan berteman saja sejak bertahun-tahun.Dan aku terima syarat itu, karena aku melihat dengan mata ku kalau kalian memang hanya berteman.Tapi pasti ada hal yang dulu membuat kalian memutuskan untuk hanya menjadi teman saja, bukan? Masa iya, pacaran putus tanpa ada alasan."
Andin tak bicara.
Dia bingung harus mulai dari mana bercerita tentang kisahnya kepada Marisa. Andin sudah tidak ingin membicarakan hal yang sudah lama ia kubur dalam dalam.
"Mas Yoga pernah bilang, daripada suatu hari aku dengar dari orang lain, mending dia sendiri yang mengatakan jujur siapa kamu sebenernya. Karena dari cerita mas Yoga, banyak yang salah faham tentang hubungan kalian selama ini."
"Hanya orang yang benar-benar mengerti yang tidak akan mempertanyakan hubungan kami." Jawab Andin terdengar penuh sesak.
***
__ADS_1