Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Masalah yang tidak ada ujungnya #25


__ADS_3

Gerald hanya terlihat duduk diam sembari memegang hape yang sedang dia cas. Dari semalam Gerald baru terlihat menyalakan ponselnya. Dia terlihat membuka semua pesan yang masuk, yang berjumlah puluhan dari beberapa temannya. Termasuk dari Andin.


"Kapan Ayang mau bantu aku bantu pindahan? " Tanya Andin, yang melihat Gerald hanya terdiam dari tadi. Gerald tak terlihat bahagia ketika mendengar dia akan kembali pulang ke rumahnya.


Gerald menoleh dengan ujung mata, tapi dia fokus kembali membalas satu persatu pesan yang masuk ke dalam hapenya.


"Ayang!" Teriak Andin, yang mulai bosan di diamkan oleh Gerald dari tadi.


"Tunggu!" Jawab Gerald sambil tetap fokus terhadap hapenya.


Andin kesal, lalu menghampiri Gerald dan merebut hape yang sedang di pegang nya lalu mematikannya.


"Aku di cuekin!" Gerutu Andin dengan cemberut.


Gerald mencoba meraih ponsel yang sedang di pegang Andin, tapi Andin tidak memberikannya.


"Iya, ayo! Emang kapan Ayang mau pindah ke rumah aku? Sekarang?" Tanya Gerald akhirnya menatap Andin yang terlihat mulai kesal kepadanya.


"Jangan gitu, Ayang!" Kata Andin, tiba-tiba terlihat mengiba dan mau menangis."Jangan bersikap seperti aku ini ga penting! Aku pulang, karena Ayang yang nyuruh aku pulang! Sekarang Ayang malah diemin aku terus. "


Gerald mendekat ke arah Andin yang mulai terisak. Lalu memeluknya. "Oke,,oke,,aku minta maaf." Kata Gerald seraya mencoba mengusap air mata yang menetes di pipi Andin.


"Aku tau aku banyak Salah sama Ayang, aku udah minta maaf,lalu aku harus bagaimana?" Andin tetap terisak.


Gerald terlihat menekankan telunjuknya pada bibir Andin agar Andin berhenti bicara dan memeluk Andin dengan erat.Jadi tidak tega rasanya, melihat Andin yang mulai berlinang air mata.


"Aku minta maaf." Tambahnya sekali lagi.

__ADS_1


***


Sore harinya Andin dan Gerald terlihat duduk duduk di kursi di depan kosan Agung yang sudah terlihat agak rame. Beberapa orang sudah mulai keluar dari dalam rumah untuk menikmati suasana sore hari di luar rumah.Terlihat beberapa anak kecil yang berlarian sambil bermain bola di sana.


"Gimana kerjaan kamu sama Yoga?" Kata Gerald sambil menikmati sebatang rokok yang baru saja di nyalakan nya.


"Sementara ini aku masih kerja di sana."


"Enggak sekalian aja, balik kerja lagi bareng aku?" Tambah Gerald berusaha membujuk Andin agar kembali bekerja bersama dia di rumah.


"Sedang aku usahakan,Yang! Aku enggak enak kalau sekarang tiba-tiba pergi gitu aja ninggalin kerjaan yang udah jadi tanggung jawab aku."


"Ga enak terus jawaban Ayang kalau di tanya soal Yoga, di pikirin terus perasaannya.. Segitu ga maunya Ayang buat dia kecewa. " Kata Gerald seperti bicara pada dirinya sendiri.


Andin mulai merasa tidak enak hati. Gerald sudah kembali membahas tentang Yoga, pasti mereka akan berdebat kembali.Capek juga seperti ini terus setiap waktu. Selalu salah faham jika berbicara tentang Yoga.


"Bukan begitu, Yang!" Andin segera membantah perkataan Gerald dan menjelaskan maksud perkataanya. " Yoga membuka Restoran itu dulu, sengaja buat aku yang terlihat nganggur saat Ayang diamkan aku saat itu.Sekarang dia udah ngeluarin uang banyak buat aku, terus sekarang aku tinggalin begitu saja, kan ga enak."


"Bukan masalah berapanya,tapi masalah etika aja."


Gerald terdiam lagi.


Jika berdebat soal Yoga, Andin selalu punya jawaban untuk membantah semua perkataannya. Jadi males lagi bicara dengan Andin.Bosan dia terus terusan berdebat tentang Yoga yang tidak pernah ada ujungnya. Gerald selalu saja emosi jika mendengar nama dia.


"Kalau mau bilang, ga mau berpisah sama Yoga mah ga perlu panjang panjang ngomongin soal etika. Tinggal ngomong aja, kalau kamu enggak mau menyakiti hatinya. Gitu aja, kok repot." Gerald mulai terlihat kesal.


Andin menoleh ke arah Gerald yang sepertinya sedang kesal kembali kepada dirinya. " Ga capek Yang, berdebat terus sama aku?"

__ADS_1


Gerald tersenyum sinis. "Ya sudah, kalau Ayang tersinggung dengan kata-kata aku,nggak usah bicara lagi kita! Aku juga capek, membicarakan hal yang sama sejak berbulan bulan. Ayang memang tidak akan pernah mau mengerti perasaan aku!" Kata Gerald dengan nada suara yang agak tinggi.


Andin terlihat berkali-kali menghela nafas. Semua permasalahan memang ada pada dirinya. Semua pertengkaran ini memang terjadi karena dirinya. Tapi, demi Tuhan, Andin juga tidak menginginkan semua ini terjadi. Jika Gerald tau, dia juga berjuang demi hubungan ini. Gerald tidak tau, betapa Andin tidak berdaya.


Yoga tidak pernah berhenti menjadi orang baik di kehidupan Andin. Yoga juga tidak pernah pergi di saat apapun. Yoga selalu menjadi malaikat tak bersayap yang selalu siap sedia membantu di saat Andin sedang membutuhkan pertolongan. Lalu alasan apa yang bisa Andin katakan jika dia pergi begitu saja demi Gerald yang meminta dia untuk menjauhi Yoga.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk tidak mempersulit dirimu lagi. Jika memang begitu beratnya Ayang meninggalkan Yoga, maka jangan tinggalkan dia! Bahagia lah bersama dia, jika memang kebahagiaanmu ada bersama dia! Aku ikhlas, jika itu yang terbaik menurut mu. Daripada setiap hari kita berdebat terus tentang dia. Aku capek! aku lelah!" Kata Gerald kembali.


Andin tak menjawab.


Dia merasa tak perlu menjelaskan apapun lagi, karena Gerald tetap tidak akan mengerti. Dia akan tetap marah.


"Sudah cukup aku tak ingin membahas tentang dia lagi!" Gerald bangkit dari duduknya lalu kembali masuk ke dalam kamar kosan.


Andin hanya tampak termenung, tak menjawab apalagi menimpali kata kata Gerald. Dia hanya tertunduk bingung apa yang harus dia katakan. Gerald begitu terlihat marah kepadanya. Mungkin juga Gerald sudah menyerah.Lalu Andin harus bagaimana?


Setelah hampir Magrib, Agung terlihat kembali. Dia agak heran ketika melihat Andin yang masih terpekur di luar sendirian. Sedangkan Gerald berada di dalam kamar.


"Din, ngapain di luar? Udah mau Magrib nih!" Sapa Agung yang baru saja datang.


Andin terlihat beranjak dari duduknya, lalu masuk ke dalam kamar bersama dengan Agung. Di dalam kamar Gerald terlihat tengah merebahkan tubuhnya di kasur sambil menutup wajahnya dengan bantal. Andin tau dia tidak sedang tertidur.


Agung menatap ke arah Gerald dan Andin. Dia baru tersadar kalau kedua sahabat nya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja. Ternyata seharian mereka bersama belum bisa mencairkan kekisruhan yang terjadi pada mereka. Kebersamaan pun tidak membuat hubungan mereka menjadi baik.


Agung merasa kalau masalah yang terjadi antara mereka memang tidak sederhana. Itu kenapa Gerald terlihat begitu kacau dari semalam. Agung melihat Gerald yang jauh berubah dari Gerald yang biasanya. Agung melihat ada luka yang begitu dalam di hati Gerald. Namun Gerald tak bisa mengungkapkan nya, bahkan semalam saat dia sedang mabuk. Gerald tidak mengatakan apapun, dia hanya terlihat menangis saat Agung mencoba bertanya apa yang sedang terjadi.


Tak sepatah katapun yang keluar dari mulut Gerald untuk menjelekan Andin. Dia hanya terus mengulang kata kata aku tidak berharga di hati Andin. Aku kalah, aku menyerah.

__ADS_1


Agung tidak tega melihat sahabatnya begitu kacau semalaman. Makanya dia menelpon Andin dan memintanya untuk datang dan memenangkan Gerald. Tapi ternyata, masalah yang mereka hadapi juga tidak mudah. Kedatangan Andin pun tidak membuat Gerald kembali menjadi baik.


***


__ADS_2