Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Gerald Tetap Berusaha Sabar #72


__ADS_3

"Heran aku sama kamu, Yang! Kau terus aja banyak alasan kalau aku ajak nikah. Waktu itu kau bilang tunggu kau putus sama Ica, sekarang sudah putus kau bilang takut. Nggak ngerti aku kenapa takut? Banyak kali lah alasan kau ini. " Kata Andin yang bingung dengan sikap Gerald yang aneh menurutnya. "Duitmu banyak, kau mau belikan aku rumah katanya, terus apa lagi yang tunggu sebenarnya? "


"Ga ada yang aku tunggu. Yang ku tunggu cuma kapan kau mau menjauhkan si Yoga? "


"Kan aku udah bilang ga bisa aku jauhi dia loh, kenapa itu terus yang kau bahas. Aku capek!! Aku sama Yoga punya Panti Asuhan yang di dalamnya ada anak anak yang menjadi tanggungjawab aku. Sekolahnya,makannya, masa depan mereka ada di aku. Ini masalah kemanusiaan. Itu yang membuat aku terus bersama dia. Karena kami terikat dan tidak bisa di pisahkan. Kalau hubungan kita hanya terus membahas tentang Yoga saja, maka kita akan bertengkar terus, salah faham terus. " Kata Andin dengan begitu panjang lebar.


Gerald tak menjawab.


"Berikan kepercayaan penuh sama aku, toh kita bisa melewati 4 tahun dengan bahagia kan.Kenapa beberapa tahun ini kita sering bertengkar sih? Nggak ngerti aku. Sebenarnya bisa aja aku jauhi Yoga, tapi secara tidak langsung kau suruh aku lepas tanggungjawab sama Panti juga. nggak kasihan kau sama anak anak? Adinda, Anggi, Danur dan yang lainnya, yang butuh perhatian dan kasih sayang dari aku. "


Gerald masih tidak menjawab.Terdengar sedikit desah nafas Gerald yang terasa berat.


"Sudahlah, jangan bicara lagi! " Kata Gerald menghentikan perdebatan.


Percuma terus bicara, Andin akan tetap dengan pendapatnya.Andin akan memiliki banyak alasan untuk tidak berpisah dengan Yoga.


Mobil melaju dengan agak cepat, beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah kafe. Gerald memarkir mobilnya di halaman kafe yang terlihat agak penuh sore itu.


"Aku bertemu klien dulu sebentar, kau mau tunggu atau mau ikut? " Tanya Gerald sambil melihat kearah Andin.


"Tunggu aja." Jawab Andin lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


Gerald keluar lalu menutup pintu mobil tanpa menoleh lagi kearah Andin.


Sebenarnya Gerald sudah tidak ingin memperdebatkan apapun lagi dengan Andin. Dia ingin benar benar menjalani hubungan yang serius tanpa ada sedikitpun keraguan di dalam hatinya. Tapi terkadang hati manusia mudah berubah. Kadang rasa percaya itu hilang tiba-tiba jika melihat begitu dekatnya hubungan mereka berdua.


Gerald tau, Yoga tidak akan pernah membiarkan Andin bahagia bersama dengannya. Yoga akan terus mencari celah dan menerobos masuk kedalam hati Andin bagaimanapun caranya.


Dan Panti Asuhan yang sedang mereka kelola adalah satu-satunya alasan yang bisa membuat Yoga terus berada di kehidupan Andin. Yoga tidak akan mau menyerah untuk tetap bisa mendapatkan kembali Andin dalam hidupnya.

__ADS_1


Gerald merasa kalau mereka berada di lingkaran setan yang terus berputar di situ situ aja. Di satu sisi Gerald sudah tidak ingin lagi kehilangan Andin tapi disisi lain ada hatinya yang selalu terluka.


Kadang ia merasa ingin menyerah, tapi kadang dia juga ingin menjadi kuat. Ingin memperlihatkan kepada Yoga kalau Andin hanya mencintainya saja bukan Yoga. Tapi ternyata berjuang dan bertahan dengan Andin tidak semudah seperti kata kata yang selalu ia katakan kepada Andin. Mengerti sikap Andin ternyata teramat sangat susah.


Gerald selalu berusaha mengerti, meski kadang menguras tenaga dan emosi jiwa. Gerald selalu memposisikan dirinya sebagai Andin yang tidak berdaya berada di tengah sahabat dan kekasihnya meski kadang Gerald tidak faham dengan pemikiran Andin yang diluar nalar, dimana seorang sahabat, lebih segala galanya daripada kekasihnya sendiri.


Gerald tak perlu diajari bagaimana harusnya sebuah tanggungjawab harus dia selesaikan. Dia tau Andin adalah penanggung jawab di Yayasan yang dikelolanya. Gerald tau kalau Andin bertanggung jawab pada masa depan anak anak yang berada di Panti. Tapi ada banyak cara yang bisa dia lakukan agar ia bisa melakukan tanggungjawabnya sebagai pemilik Yayasan Rumah Duafa tanpa harus bertemu ataupun berurusan dengan Yoga untuk menghargai perasaannya.


Ada perbedaan antara Andin yang tidak bisa lepas karena tanggungjawabnya karena pekerjaan dengan Andin yang tidak mau kehilangan Yoga karena alasan pribadi.


Tapi cinta adalah pengorbanan, Gerald berusaha mengerti posisinya demi untuk tidak kehilangan Andin untuk kesekian kalinya.


Bertahan dan berjuang sekali lagi apa susahnya. Siapa tau suatu hari nanti akan ada saatnya, mata Andin terbuka untuk sedikit bisa menghargai perasaannya.


Meski hari ini penuh perjuangan, tapi tidak menutup kemungkinan suatu hari Andin akan benar-benar lepas dari bayang-bayang Yoga.


***


Setelah wanita cantik itu pergi, Gerald terlihat mengeluarkannya ponselnya. Dia terlihat mengoperasikan ponselnya sebentar lalu ia menyimpannya kembali ke dalam tas pinggangnya.


Gerald kembali berjalan kearah mobilnya lalu masuk kedalamnya.


Terlihat jelas Andin sedang menatapnya dengan tajam.


"Kenapa? " Tanya Gerald pada Andin.


Andin tak menjawab kemudian berpaling.


"Hei, kenapa? " Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Lama.. " Jawab Andin sambil menyandarkan tubuhnya. Andin komplain karena Gerald terlalu lama meninggalkannya.


"Meeting dulu sebentar buat kerjaan besok. "


"Meeting kok cuma berdua, meeting apaan? " Celoteh Andin masih sambil memalingkan wajahnya.


"Emangnya harus berapa orang? "


"Minimal berdua lah dari pihak brand. "


"Ya aku nggak tau. "


"Alah,, masa gak tau. Kau kan sering bekerja sama dengan brand besar, gimana cara kerjanya. Aku juga pernah kerja sama kamu, menghandle semua kerjaan kamu. Gak pernah aku meeting cuma berdua sama klien. " Jawab Andin masih tetap memalingkan wajahnya.


"Cewek itu aneh lah, aku meeting kau tak percaya. Aku itu meeting, benar benar meeting. Kau pikir aku ngapain? "


Andin tak menjawab.


"Ngapain kau ajak aku meeting? Mau menunjukkan kalau kau bisa jalan dengan perempuan cantik? Merasa hebat gitu? "


"Oh Tuhan, Andin. Ku ajak tadi kau tidak mau. Sekarang kau marah marah gak jelas. Aneh.. " Kata Gerald sambil bersiap tancap gas untuk keluar dari halaman depan kafe.


"Ya memang aku aneh, terus kenapa? " Kata Andin kemudian menoleh kearah Gerald yang sudah mulai menyalakan mesin mobilnya. "Enak aja kau bilang sebentar, lama tau. "


"Kan tadi aku sudah ajak masuk kau bilang tidak mau. "


"Malas lah aku, ngapain? Berurusan juga nggak dengan kerjaan mu. Ngapain aku ikut? "


"Ya udah, kan bukan salah aku. Ngapain kau marah marah? "

__ADS_1


****


__ADS_2