Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Kekecewaan Terdalam Yoga #80


__ADS_3

Sang Donatur yang meminta bertemu dengan Yoga dan Andin baru saja pergi. Rupanya sang Donatur yang tidak ingin namanya di tulis itu menitipkan uang untuk Yayasan Rumah Duafa dalam jumlah yang cukup besar nominalnya. Untuk itu sang donatur ingin bertemu langsung dengan Andin dan Yoga sebagai pemilik dan pendiri Yayasan untuk memberikan langsung uang tunai yang sudah mereka sediakan sebagai sumbangan untuk kebutuhan pangan dan pendidikan anak anak di Yayasan Rumah Duafa.


Yoga dan Andin kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan tamunya sampai ke halaman depan Panti.


"Uang Yayasan kita kayaknya nambah semakin besar nih, Ga. " Kata Andin sambil duduk kembali di kursi tamu di ruangan kerja Yoga.


Sejenak merelaksasikan duduknya setelah tadi duduk tegang sebagai pemilik yang bertanggung jawab atas Yayasan Rumah Duafa.


Kini Andin bisa berleye leye menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ya bagus, artinya untuk beberapa tahun ke depan kita mempunyai banyak simpanan untuk kebutuhan yang serba mendadak. Kan rencananya rumah samping yang mau di jual ini akan kita beli juga, agar kita bisa lebih banyak nampung anak anak yang kurang mampu. " Jawab Yoga juga sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.


Andin terlihat sedikit mengangguk anggukan kepala.


"Kalau banyak uang kas Panti kan aku jadi tidak bingung lagi kerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan di Panti. Setidaknya aku bisa sedikit bernafas dan bisa sedikit menikmati hidup ku yang selalu sibuk kerja sana sini. Bisa sedikit rileks,menikmati kehidupan ku yang serba ruwet." Tambah Yoga kemudian.


"O iya, Ga. Aku belum cerita kalau aku akan resign dari Resto. Aku akan balik kerja di tempat Gerald. Nggak apa apa kan? " Kata Andin mengubah topik pembicaraan.


Andin belum cerita pada Yoga kalau dirinya akan mengundurkan diri dari Resto dan akan balik kerja bersama Gerald.


Yoga hening sejenak.


"Apa aja yang membuat kamu bahagia. " Jawab Yoga akhirnya meski dengan berat hati.


Ada rasa kecewa dalam hatinya mendengar Andin memutuskan untuk kembali bekerja bersama Gerald. Tapi Yoga tidak bisa berbuat apa apa. Semua keputusan ada pada Andin. Lagi pula apa hak Yoga untuk melarang Andin kembali kepada Gerald. Gerald adalah pacarnya. Sedangkan Yoga hanya partner kerja bagi Andin.


"Tapi aku akan tetap pantau kok, meski aku tidak ada di Resto. Siapa tau kalau Arman yang pegang income-nya lebih besar dari pada aku yang pegang."


"Iya, terserah kamu aja. Yang penting kamu happy." Jawab Yoga dengan sedikit tertahan.


Yoga berusaha menyembunyikan perasaannya yang kecewa. Yoga tetap berusaha tersenyum meski ia sama sekali tidak ingin tersenyum. Tapi Andin adalah segalanya bagi dirinya, apapun akan Yoga lakukan demi kebahagiaan Andin.

__ADS_1


Andin sedikit mendekat kearah Yoga duduk.Andin tahu sebenarnya perasaan Yoga. Tapi Yoga harus tau dan harus terima keputusan Andin yang akan kembali bekerja bersama Gerald kekasihnya. Meskipun Andin tau kalau Yoga sebenarnya kecewa.


Andin kemudian memegangi tangan Yoga dan berkata.


"Aku janji, aku akan mengabdi sepenuhnya di Yayasan ini. Makanya aku kurangin sedikit waktu ku untuk kerja biar aku bisa fokus di Panti. Kalau kerja di kantor Gerald kan fleksibel tergantung aku mau kerja jam berapa. Editor itu kan tidak di tuntut untuk kerja pagi atau siang. Yang penting kerja aja, daripada cuman diam gak ada kegiatan. Yang penting dapat cuan untuk tambah tambah uang kas Panti, biar cepat kebeli rumah di samping kita yang mau di jual itu. "


"Kalau alasannya cuma bisa fleksibel, di Resto juga bisa. Kenapa cuma jadi editor doang. Emang siapa yang nyuruh kamu harus pergi ke Resto pagi dan pulang malam? Gak ada. Kamu bebas mau datang kapan aja, gak ada yang larang kamu mau datang pagi kek, siang kek, enggak datang pun nggak ada yang marah. Itu Resto punya kita, bebas mau datang kapan aja. Orang kita sendiri yang punya kok. " Kata Yoga dengan sedikit urat di keningnya.


Yoga tidak suka mendengar Andin lebih membanggakan pekerjaannya menjadi editor di kantor Gerald.


Andin sedikit tersenyum.


Sepertinya Andin salah bicara lagi. Sepertinya Yoga tersinggung dengan kata katanya.


" Bukan begitu maksudnya, aku cuma.. " Perkataannya terhenti, karena Yoga tiba-tiba memotong pembicaraan.


"Iya, cuma membandingkan pekerjaan yang satu dengan pekerjaan lainnya. Kau bangga menjadi editor kan, daripada bekerja di Resto bersama ku? " Kata Yoga dengan sedikit nada tinggi.


"Kamu yang lagi mens, tuh darah mu tembus di celana. " Kata Yoga sambil menunjuk ke arah celana Andin yang terkena noda darah mens yang tembus.


Andin melihat kearah celana yang di tunjuk Yoga. Benar saja, terlihat sedikit noda darah mens Andin yang sudah tembus ke celana Jeans nya.


"Baru juga dikit. " Jawabnya tak perduli.


"Cantik cantik kok jorok. " Terdengar Yoga bergumam sendiri.


"Nggak jorok lah segini mah. " Jawab Andin membantah.


"Jorok lah. Ganti sana! "


"Ga bawa celana aku. "

__ADS_1


"Ya udah pulang, ntar tembus makin banyak. "


"Nanti lah. " Jawab Andin tetap tak perduli.


"Ih aneh, ada cewek cantik kayak gini. "


Andin hanya tersenyum tak perduli.


"Ku antar sekalian pulang?" Kata Yoga sambil beranjak.


"Aku belum mau pulang. "


"Ya udah aku pulang duluan. " Kata Yoga mulai bersiap membereskan barang barangnya yang akan dia bawa pulang ke rumah.


"Tumben amat mau pulang cepat? "


"Ada kerjaan di kantor yang belum aku selesaikan. Tadi pagi aku buru buru ke Panti takut para donaturnya datang cepat, terus aku kena macet di jalan. Kan gak enak jadinya. O iya, suruh Arman kirim laporan keuangan Resto bulan ini ke aku besok! Untuk beberapa hari ini aku sibuk. Gak akan ada waktu untuk datang ke Resto. "


" Oke, bos! "


Yoga terlihat mendekat kepada Andin dan sedikit menundukkan badannya untuk bisa mencium pipi Andin sebelum pergi.


"Jangan pulang terlalu larut dari sini! " Bisiknya di telinga Andin.


"Oke." Jawab Andin kembali tersenyum untuk kesekian kalinya.


Yoga akhirnya berjalan meninggalkan Andin yang masih asyik duduk di ruangan kerja Yoga sendirian. Yoga berusaha untuk tidak berbalik lagi ke arah Andin. Meski ia ingin berbalik dan melambaikan tangan padanya.


Andin adalah segalanya bagi dirinya. Andin adalah hidupnya. Andin adalah jiwanya. Andin adalah segalanya bagi dirinya. Andin adalah pelita yang terus menyala di tengah kehidupan Yoga yang begitu gelap. Andin adalah satu-satunya alasan Yoga masih ada dan berjuang dengan kehidupannya hingga hari ini.


Meski hingga hari ini Andin tidak pernah menjadi miliknya kembali. Meski hingga hari ini mata Andin masih tertutupi oleh kabut gelap dan tak pernah melihat betapa Yoga telah begitu berjuang untuk dirinya.

__ADS_1


***


__ADS_2