Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Yoga Pergi Jalan sama Andin#69


__ADS_3

"Marisa setiap pagi selalu membuatkan aku kopi. Tapi rasanya tak pernah sama seperti yang kamu buat. " Kata Yoga setelah meminum satu teguk kopi panas yang telah Andin buat untuknya. "Padahal aku sudah mengajarkan dia cara membuat kopi seperti yang kamu buat kepadanya. "


Andin sedikit tersenyum. "Jangan pernah bandingkan Marisa dengan aku, karena wanita tidak suka di banding bandingkan. Mungkin Marisa merasa tidak harus membuat sesuatu yang sama persis seperti yang aku buat. Bukan berarti dia tidak mampu. Bahkan kalau dia mau dia bisa lebih baik segalanya dari aku. Cuma kamu aja yang tidak berusaha membuka hati buat dia. "


Yoga terdiam. Memikirkan apa yang Andin katakan, yang juga ada benarnya.


"Marisa itu perempuan, tak ada perempuan yang mau berbagi segalanya dengan perempuan lain. Termasuk Marisa walaupun sebenarnya dia sudah tau bagaimana keadaan kita. "


"Aku tidak berbagi apapun dengan siapapun. " Jawab Yoga membantah perkataan Andin yang salah menurutnya.


"Kau membagikan cintamu, kepadaku. " Jawab Andin sambil tersenyum.


"Enggak lah. Kita kan cuma berteman. Ga ada hubungan apa apa. Ya nggak bisa dikatakan berbagi. Kecuali kalau kamu mau menjalin cinta lagi sama aku baru itu namanya berbagi. Uang ku, diriku, gak aku bagi sama kamu. Semua uangku aku kasih ke Marisa. Aku juga cuma berhubungan badan sama dia aja, nggak sama kamu. Dimana letaknya aku membagikan cinta sama orang lain, gak ada. "


Andin malah tertawa.


"Mau menjalin hubungan ke, nggak ke, tapi kan intinya kamu hanya perduli sama aku. Itu namanya berbagi.Perhatian kamu, kasih sayang kamu jauh lebih banyak buat aku daripada untuk Marisa. "


"Aku perduli kok sama Marisa. "


"Ya bagus kalau emang perduli, memang sudah seharusnya. " Jawab Andin seraya berdiri. "Marisa itu wanita yang sangat baik, sudah seharusnya kamu perduli sama dia. "


"Mau kemana? " Tanya Yoga yang melihat Andin berdiri.


"Mau mandi, aku mau berangkat ke Resto. Gerald sebentar lagi jemput. " Jawab Andin sambil berlalu.


"Bisa nggak,,ga usah ke Resto hari ini, temani aku jalan jalan! " Ajak Yoga.


Andin berbalik ke arah Yoga. "Aku banyak kerjaan, Ga. "


"Please.. ! " Yoga tampak memohon.


Yoga mematikan rokok yang dipegangnya lalu mendekat ke arah Andin.


"Temani aku hari ini aja! " Kata Yoga dengan mengiba.


"Ga bisa, aku sudah punya janji sama Gerald akan pergi hari ini. "


"Oke, kalau begitu. Selamat bekerja, selamat berbahagia juga sama Gerald. Aku pamit pulang aja kalau begitu. "


Yoga terlihat begitu kecewa mendengar jawaban dari Andin. Sebuah ciuman ia darat kan di pipi Andin kemudian ia berlalu.


"Yoga..! " Teriak Andin.


Yoga tak berbalik, ia tetap berjalan melangkah keluar lalu memakai sepatu.


"Ga...! "

__ADS_1


"No it's fine. I'm oke honey. " Kata Yoga sambil tetap memakai sepatu.


"Akan pergi kemana kita hari ini? " Teriak Andin kembali. "Aku mau mandi dulu, kamu nggak mandi?"


Yoga menghentikan sejenak menalikan sepatunya sambil tersenyum.


"Are you sure? " Berusaha meyakinkan kembali apa yang baru saja dia dengar.


Andin tersenyum sambil mengangguk.


"Oke, mandilah! Aku tunggu. " Jawabnya.


***


Cuaca agak sedikit mendung ketika Yoga dan Andin kembali naik ke mobil setelah mereka selesai makan baso di pinggir jalan.


Andin masih tampak meneguk minuman dingin yang sedang dipegangnya.


Yoga tampak mengusap keringat yang membasahi kening Andin dengan tisu.


"Nggak bisa ya kalau makan baso itu cabe nya jangan terlalu banyak. " Katanya sambil tetap mengusap keringat di kening Andin.


"Ya gak enak kalau nggak pedes. "


"Ya jangan terlalu banyak juga."


Mendengar Andin memanggilnya mas Yoga, Yoga hanya tersenyum simpul.Sedikit geli dan lucu mendengarnya.


"Jangan panggil aku seperti itu, nanti kamu akan ketagihan memanggilku seperti itu. "Goda Yoga sambil tersenyum.


"Ya ga pa pa, tinggal panggil aja mas Yoga terus. Emang kenapa? "


"Itu akan jadi doa untuk kamu, siapa tau Tuhan akan menjodohkan kita kembali. Kan takdir tidak ada yang tau. " Jawab Yoga sambil tersenyum kembali.


"Jodoh kan urusan Tuhan, biarin aja Tuhan yang atur. Kenapa mesti dipikirin. " Jawab Andin datar.


"Bagus.Berarti kamu gak nolak kalau nanti kita berjodoh? "


Andin terdiam.


"Kemana lagi kita sekarang? " Tanya Andin malah mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau ajak kamu kencan, mau nggak? " Tanya Yoga sambil melirik kearah Andin.


"Yoga, jangan mulai yang aneh aneh deh! " Kata Andin dengan mendelik.


"Loh kok aneh, kalau ga mau ya nggak apa apa. Kan cuma kencan gak ada maksud apa apa. Cuma ngajak makan romantis doang. "

__ADS_1


"Gak, aku nggak mau. "


"Ya udah, gak pa pa kalau gak mau. " Jawab Yoga sambil mencubit dagu Andin.


"Kalau gak mau diajak kencan,aku anterin kamu ke Resto sekarang! " Ajak Yoga.


"Ya udah. "


"Kamu ini aneh sebenarnya. " Kata Yoga tiba-tiba.


"Aneh kenapa? "


"Di deketin aku, kamu gak mau. Di jauhi lebih gak mau. Aneh..! "


"Ihh kok kamu ngomongnya gitu sih. "


"Kalau aku sengaja jauhi kamu, kamu akan uring-uringan marah marah gak jelas. Tapi di deketin juga nggak mau. " Kata Yoga sambil melirik kearah Andin yang masih asyik menyedot minuman dingin yang sedang pegangnya. "Ga di telpon sehari aja, kamu akan cari aku kemana mana."


"Iyalah,, aku kan khawatir. Ga boleh? " Kata Andin sambil melotot.


"Kita sudah dewasa Andin, kamu tau aku mencintaimu. Sikap kamu kayak gini, manja kamu ke aku, itu selalu memberikan aku harapan. "


"Terus aku harus gimana? Harus jauhi kamu gitu? " Kata Andin sambil melotot kearah Yoga. "Atau aku harus berhenti telpon kamu, atau aku harus berhenti perduli? Ya udah. "


"Tuh kan, marah...? "


"Ya marah lah. " Jawab Andin dengan cemberut. "Kalau kamu mau jauhi aku ya tinggal jauhi. Kalau aku cari kamu, kamu tinggal pergi aja. Kalau aku telpon kamu juga tinggal blok aja, gampang kan. "


Yoga tersenyum.


Melihat tingkah Andin yang tampak seperti anak kecil di hadapannya.


"Maafkan semua kata kata ku tadi, anggap aja aku gak bilang apa apa. Aku takut lihat kamu marah seperti ini. Senyum dong! " Goda Yoga menyudahi perdebatannya.


Yoga tampak memegang tangan Andin lalu menciumnya. Kemudian menarik tubuh Andin lalu di peluknya dengan erat. Terlihat juga beberapa kali dia mencium kening Andin dengan mesra.


"Kamu itu sebenarnya sayang sama aku kan? " Bisik Yoga ke telinga Andin. "Makanya kamu gak mau kehilangan aku. Kamu juga sebenarnya gak mau kehilangan aku kan? "


"Yoga.. "


"Bercanda, Din! " Jawab Yoga seraya melepaskan pelukannya.


Mobil kembali melaju dengan kecepatan standar. Menyusuri jalanan yang tampak agak sedikit ramai siang itu.


Yoga kembali mengantarkan Andin ke Resto setelah mereka selesai jalan jalan.


***

__ADS_1


__ADS_2