
Andin hanya terlihat duduk sambil menatap laptopnya yang masih menyala tanpa mengoperasikannya. Dia hanya terlihat duduk sambil memutar mutar kursi kerjanya dengan kaki.Berputar ke kanan, berputar ke kiri.
Pikirannya sedang terbang ke sana-kemari. Memikirkan Gerald yang begitu tegas mengatakan kalau dia tidak akan pernah mengulang permintaannya kembali. Membayangkan Gerald yang mengatakan kalau dia tidak akan menyulitkannya lagi. Semua perasaan gelisah, menyelimuti hati Andin sejak kemarin. Andin tidak tenang meninggalkan Gerald dalam keadaan demikian. Andin punya firasat buruk, kalau Gerald akan kembali seperti dulu. Akan kembali terjerumus dalam pergaulan yang tidak bagus. Dan akan kembali minum minum seperti dulu.
Andin tau, Gerald sudah begitu banyak berjuang untuk dirinya. Gerald juga sudah banyak menahan perasaanya demi dirinya. Gerald sudah banyak mengalah demi hubungan mereka selama ini.
Sekarang Gerald sudah terlihat capek mempertahankan semuanya. Dia sudah terlihat menyerah dan ingin benar pergi dari hidup Andin. Dan Andin tau, apa yang dikatakan Gerald kemarin, bukanlah main main. Andin tau dari sorot matanya yang sudah tampak kehilangan harapan. Gerald mengatakan sebenar benarnya perasaan dia yang akan mengalah.
Apa yang di inginkan Gerald sebenarnya begitu sederhana. Tapi begitu sulit bagi Andin untuk mewujudkannya. Andin bukan tidak bisa mengabulkan apa yang di inginkan oleh Gerald,tapi Andin pernah berjanji satu hal kepada Yoga, untuk tidak akan pernah meninggalkannya sebelum Yoga menikah. Dan itu yang membuat Andin tidak bisa mewujudkan keinginan Gerald saat ini.
Dan Gerald tidak mau menerima alasan apapun, Andin harus tetap menjauhi Yoga. Andin bingung, apa yang harus dia lakukan? Menjauhi Yoga berarti ia mengingkari janjinya. Sedangkan tetap bersama Yoga berarti membiarkan Gerald hancur secara perlahan.
Pintu ruangan kerjanya tiba-tiba terbuka, saat dia akan meraih ponselnya. Andin menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang datang. "Ada orang yang cari, mbak?" Kata Arman pada Andin yang tengah menatap nya.
"Siapa?" Andin menengadahkan wajahnya.
"Kurang tau, mbak. Dia enggak bilang siapa namanya, dia cuma bilang mau ketemu mbak Andin." Jawab Arman yang memang tidak mengetahui siapa yang sedang mencari Andin saat itu.
"Ohh ya, nanti saya ke depan. Suruh tunggu aja dulu,Man!" Jawab Andin, sambil meraih ponsel yang tadi dia mau ambil.
Arman keluar kembali lalu menutup pintu.
Andin terlihat mencoba menelpon seseorang. Tapi telponnya selalu di rijek dari sana. Setelah mencoba beberapa kali dan tidak di angkat, akhirnya Andin meletakkan kembali hapenya di atas meja. Lalu keluar, menghampiri orang yang sedang menunggunya tadi di depan.
Andin menghampiri Arman dan bertanya,dimana orang yang sedang mencarinya tadi.Arman menunjuk seorang wanita sebaya dengan dirinya yang tengah duduk di depan.Seorang wanita cantik berkaca mata.
Andin menghampiri wanita tersebut lalu menyapanya. "Halo? Dengan siapa ini?"
Sang wanita menoleh, lalu tersenyum kepada Andin yang memberikan tangan untuk menyalaminya. Andin membalas senyuman wanita itu walau dengan bingung karena tidak tau perempuan itu siapa.
"Kamu Andin?" Tanya perempuan itu kepada Andin sembari menerima jabatan tangan Andin.
__ADS_1
Andin mengangguk.
"Aku Marisa." Kata perempuan itu kembali.
"Marisa siapa ya?" Andin tidak tau siapa Marisa.
"Aku kenalannya mas Yoga, aku di suruh mas Yoga ketemu kamu. Katanya kamu lagi cari orang untuk memegang Resto ini."
Andin berpikir sejenak, lalu dia ingat perkataan Yoga beberapa minggu lalu, kalau Andin jangan dulu keluar dari Resto, sebelum ada orang yang menggantinya. Dan Yoga memang sedang mencari orang untuk menggantikan Andin di Resto tersebut.
Andin sudah mengatakan niatnya kepada Yoga untuk kembali Bekerja di tempat Gerald. Dan akan pula kembali ke rumah Gerald dan keluar dari kosannya yang sekarang. Itu berarti Yoga harus bertemu dengan Andin di rumah Gerald. Dan Yoga menyambut baik keputusan Andin walau dalam hati kecilnya sedikit kecewa karena harus berpisah dari Andin. Tapi Yoga menginginkan Andin bahagia dan Yoga bahagia jika Andin juga bahagia.
"Ohh, iya iya, aku memang sedang cari orang untuk menggantikan aku di sini." Jawab Andin lalu duduk bersama Marisa.
"Yoga sedang sibuk,dia belum sempat cerita kalau akan ada yang datang hari ini." Kata Andin, yang memang tidak tau akan ada orang yang datang untuk menemuinya hari itu. Karena Yoga juga belum mengatakan apapun kepada dirinya.Yoga sedang sibuk beberapa hari ini.
"Iya, maaf. Aku terlalu cepat datang. Harusnya aku datang 3 hari lagi. Tapi kebetulan aku juga ada kerjaan di dekat sini. Jadi aku sekalian mampir buat kenalan sama Andin." Jawab Marisa dengan tak lepas senyum yang tersungging di bibirnya. " Yoga sering cerita tentang kamu." Tambah Marisa sambil menatap Andin dengan penuh kekaguman.
"Yoga sangat sayang sama kamu." Tambahnya lagi, tetap memandangi Andin dengan mata penuh rasa kagum. Andin yang menurutnya begitu cantik.Andin juga baik hati. Dia begitu ramah kepada orang yang baru dikenalnya.
Andin makin tersipu. " Kenal dimana sama Yoga?” Andin berusaha berbasa-basi, sekalian berkenalan dengan Marisa. Siapa tau Andin cocok dengan Marisa.
"Yoga teman nongkrong ku di Jogja. Kami teman kuliah dulu."
Andin terlihat mengangguk angguk beberapa kali. Terlihat Andin dengan serius mendengarkan kisah Marisa yang sedang memperkenalkan tentang dirinya kepada Andin.
***
Di tempat lain,
"Perasaan gue ga kerja jadi tukang packing paket di sini. Gue kerja jadi kru. Gue di bayar jadi kameraman. Kenapa sekarang kerjaan gue jadi packing paket kayak gini,sih?" Terdengar celoteh Fadil sambil memasuk masukan barang ke dalam plastik packing berwarna hitam.
__ADS_1
Ica dan Agung nyengir mendengar celoteh Fadil demikian.
"Gue, administrasi di kantor ini. Jadi bantuin elo making barang, Dil." Ica menambahkan sambil tersenyum.
"Gimana nih bos? Kok kerjaan kita jadi gini bos?" Kata Fadil kepada Gerald yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Yang penting sama sama kerja, lah." Jawab Gerald pendek.
"Kapan kita syuting lagi ke luar kota dong bos? Bosan nih aku kayak gini terus tiap hari." Terdengar Fadil kembali komplain kepada Gerald.
"Lagi malas kemana-mana gue." Jawab Gerald datar. "Lagian,lagi banyak kerjaan nih gue. Lagi banyak banget orderan. Hari ini gue bikin resi udah hampir 600.Udah hampir seminggu ini, stabil terus penjualan barang kita. " Tambahnya sambil tetap mengoperasikan laptopnya,Gerald sedang print Resi penjualan barangnya yang belum selesai di cetak.
"Kerjaan banyak tiap hari,tapi gue ga pernah di kasih bonus." Agung ikut menyela di tengah pembicaraan.
"Nih gue kasih bonus!" Kata Gerald sembari mengeluarkan uang di bawah laci meja kerjanya lalu melemparkan uang tersebut ke arah Agung dan Fadil. " Tapi jangan lupa beliin gue Anggur merah dulu!"
Agung, Fadil dan Ica saling memandang. Tapi mereka tak bicara, hanya terlihat mengambil uang yang di lempar oleh Gerald.
"Abang mau minum lagi?" Tanya Agung kepada Gerald.
"Ya mau ngapain lagi, kita pesta lagi lah. Mumpung masih bisa menikmati hidup. Udah mati mah, banyak duit juga percuma. " Jawab Gerald lalu melangkah keluar dari ruangan kantornya.
"Ca, jangan lupa hubungi Andin! Aku sudah tulis berapa uang yang harus dia terima. Semuanya di buku catatan di laci meja di bawah. Tinggal kamu hubungi dia, dan suruh dia buka tabungan baru. Dan berikan semua uang harusnya menjadi hak dia. " Tambah Gerald kemudian kepada Ica.
Ica hanya terlihat mengangguk. Mereka bertiga tetap saling berpandangan. Merasa syok melihat Gerald yang tiba-tiba mau memisahkan uangnya dengan Andin.
Gerald tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia tak pernah mau uangnya di bagi dua. Karena dia selalu bilang uangnya adalah uang Andin juga. Jadi tak perlu ada dua tabungan diantara mereka. Andin bisa memakai uang sesuka hatinya tanpa ada batasan.
Tapi jika hari ini Gerald dengan sengaja memisahkan uang mereka. Apakah yang sedang terjadi pada hubungan mereka.
***
__ADS_1