
Andin menangis melihat story' yang di post Gerald kemarin siang. Andin sedih dengan kata-kata yang di tulis Gerald untuknya di sosial media itu.Tak terasa air matanya jatuh saat membaca tulisan yang di post oleh Gerald kemarin siang seusai mereka bertemu di restoran.
Tapi apa yang harus dia lakukan, Andin hanya menuruti apa yang di inginkan Gerald dua tahun yang lalu. Jika Gerald merasa sakit hati,apa Andin juga dengan sengaja melakukan itu. Tidak sama sekali, Andin tidak ingin semua itu terjadi.Gerald yang menginginkan semua itu terjadi. Bukan dirinya.
Jika Gerald melihat Andin begitu bahagia menurutnya, apakah Gerald tau apa yang terjadi sesungguhnya. Gerald tidak tau seberapa sakit, hari yang sudah Andin lewati tanpa dirinya. Gerald tidak tau, seberapa sering Andin menangis karena merindukannya. Gerald tidak tau betapa susahnya melepaskan semua bayangan dia dari dalam pikiran Andin.
Banyak hari yang di lewati Andin penuh dengan air mata. Tapi Andin harus apa, dia juga tidak bisa berkoar berkata kepada semua orang kalau sebenarnya juga dia terluka.
Tapi hari ini Andin tidak bisa bersedih sedih ria, karena hari ini Andin ada jadwal pergi ke Yayasan anak yatim piatu bersama Yoga. Andin sudah lama sekali tidak datang berkunjung ke Yayasan yang telah di bangunnya bersama Yoga hampir sepuluh tahun yang lalu itu. Walaupun Andin sebenarnya tidak terlalu aktif di Yayasan tersebut. Semua hal yang berhubungan dengan Yayasan akan berurusan langsung dengan Yoga.Baik itu masalah keuangan ataupun yang berurusan langsung dengan anak asuh. Bahkan Andin tak pernah pernah mengecek laporan keuangan di Yayasan tersebut. Karena Yoga sudah mengambil alih semuanya. Andin percayakan semua hal kepada Yoga dan para pembina yang lain di Yayasan tersebut.
Hari ini ada pertemuan dengan seorang donatur Yayasan yang ingin bertemu dengan Yoga dan Andin secara langsung.Donatur tersebut sudah hampir dua tahun menyumbang dana secara rutin untuk Yayasan yatim piatu itu.Dan selama dua tahun pula,si donatur itu menyembunyikan identitas dirinya. Tapi hari ini, donatur itu ingin bertemu langsung dengan pemilik sekaligus pendiri Yayasan tersebut yaitu Andin dan Yoga.
Pihak Yayasan tidak bisa menolak,walaupun sebenarnya baik Andin maupun Gerald keduanya sedang sibuk. Tapi donatur adalah raja, sebagaimana pun sibuknya mereka, mereka harus menyempatkan bertemu dengan donatur yang ingin bertemu dengan mereka.
Setelah mendengar suara klakson mobil Yoga memanggilnya dari luar, Andin bergegas pergi menghampiri Yoga yang sudah menunggu,lalu pergi bersama Yoga ke Yayasan yatim piatu yang bernama " Rumah Duafa " bersama sama.
***
Tiba di Rumah Duafa,ternyata sang donatur sudah lama datang dari tadi.Sang donatur sedang menunggu kedatangan mereka sambil bercakap-cakap dengan bu Aisyah, sang pengurus Yayasan yang stay di sana untuk mengurus anak anak asuhnya.
Andin masuk duluan ke kantor bu Aisyah. Sedangkan Yoga masuk dulu ke ruangan kantornya sebentar.Ada sesuatu yang harus dia ambil di ruangan kerjanya.
Bu Aisyah berdiri ketika melihat Andin datang ke ruangannya. Lalu terlihat memperkenalkan Andin kepada sang donatur.
"Perkenalkan, ini pemilik sekaligus pendiri yayasan Rumah Duafa ini pak Gerald!" Kata bu Aisyah menunjuk dengan ibu jarinya kepada Andin yang baru saja masuk kedalam ruangan kantornya.
Andin terkejut ketika melihat orang yang menjabat tangan dia adalah Gerald. Gerald juga terkejut ketika melihat Andin tengah berdiri di hadapannya memperkenalkan diri sebagai pemilik sekaligus pendiri Yayasan Rumah Duafa yang telah di dirikan hampir sepuluh tahun yang lalu itu.Yayasan yang telah dua tahun lebih dia kunjungi secara rutin.
"Andini Andromeda Iswara. " Kata Andin berusaha seprofesional mungkin memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Reynaldi Gerald. " Gerald juga berusaha tenang, dan tak bereaksi berlebihan yang akan membuat bu Aisyah curiga bahwa mereka telah saling mengenal satu sama lain.
"Silahkan duduk kembali pak, Gerald!" Kata Andin berusaha bersikap biasa seolah tak saling kenal. Berusaha bersikap profesional menjadi seorang pemilik Yayasan. "Terimakasih atas waktunya,pak.Sudah mau menyempatkan datang ke rumah kami, sudah juga mau mendonasikan sebagian harta bapak untuk Yayasan kami.Semoga usaha bapak di berikan kelancaran,dan mendapatkan rezeki yang lebih banyak dari yang telah bapak sumbangkan kepada kami." Kata Andin meski dengan terbata bata.Andin agak sedikit grogi saat berbicara formal terhadap Gerald.
Gerald tiba-tiba kehilangan kata kata. Gerald bingung harus bicara apa. Gerald tidak menyangka sama sekali kalau nama sebuah Yayasan yang di berikan Andin kepadanya dulu adalah Yayasan miliknya sendiri. Dan Gerald sama sekali tidak mengetahui kalau Andin memiliki sebuah Yayasan yatim piatu bernama Rumah Duafa yang di didikannya bersama Yoga.Andin tak pernah bercerita apapun kepadanya tentang Yayasan yatim piatu itu selama 4 tahun pacaran dengannya.
"Bukan saya,bu Andin. Saya hanya menyampaikan amanah dari orang lain.Ini bukan uang saya pribadi. Ada orang yang menitipkannya pada saya untuk menyumbangkan uangnya di Yayasan ini." Kata Gerald dengan cepat membenarkan perkataan Andin yang sudah salah jika dia berterima kasih kepada Gerald, padahal Gerald tidak sedang menyumbangkan uangnya. Karena yang dia sumbangkan secara rutin ke Rumah Duafa itu adalah uang milik Andin sendiri.
"Oh, begitu ya pak." Andin sedikit menelan ludah. Dia hampir tersedak ketika Gerald berkata demikian.Andin tau, yang di maksud dengan ucapan Gerald adalah tentang dirinya.
"Boleh tau amanah dari siapa, pak?" Bu Aisyah menyela di tengah pembicaraan.
Gerald tersenyum kepada bu Aisyah. "Orang itu, dulu mantan pacar saya bu.Sekarang sudah lama sekali putus."
"Wah, beruntung sekali mantan pacarnya pak Gerald ini, mendapatkan laki-laki baik seperti bapak." Kata bu Aisyah memuji Gerald. Bu Aisyah terharu karena Gerald masih melaksanakan amanah yang di berikan oleh mantan pacarnya dulu.
Gerald hanya tersenyum.Walau hatinya penuh dengan rasa marah, sedih, dan kecewa bercampur jadi satu. Tapi dia tidak boleh perlihatkan rasa kecewanya di depan bu Aisyah tentunya.Bu Aisyah tidak tau kalau Andin adalah mantan kekasihnya.
"Ah, biasa bu. Kalah saing sama cowok lain." Jawab Gerald sambil bercanda.Sambil melirik sedikit ke arah Andin yang hanya terdiam.
Bu Aisyah ikut tertawa mendengar Gerald yang menjawab pertanyaannya sambil tertawa.
"Ah bisa aja, bapak ini." Ucapnya.
Sedangkan Andin hanya diam. Dia hanya ikut terenyuh sedikit melihat bu Aisyah dan Gerald tertawa. Andin tidak bisa tertawa karena yang Gerald bicarakan adalah dirinya. Justru malah Andin kikuk,bingung harus bicara apa.
Tak berapa lama kemudian Yoga masuk kedalam.
Yoga tidak kalah kaget ketika melihat yang ada di hadapannya adalah Gerald.Yoga tidak menyangka kalau Gerald akan terdampar di Yayasan yang dia kelola.
__ADS_1
Dan Gerald lebih kaget lagi, karena ternyata, lagi dan lagi,Gerald harus berurusan dengan orang yang selama ini dia benci. Dengan orang yang telah menghancurkan hubungannya dengan Andin. Orang yang telah mengambil Andin dari hidupnya.
Yoga dan Andin selalu membuat kejutan untuk Gerald. Gerald tidak menyangka bahwa Andin mempunyai Yayasan yang didirikan berdua bersama Yoga. Dan dia sama sekali tidak tau itu.
Melihat Yoga berada di hadapannya Gerald sudah kehilangan gairahnya untuk berbicara.Gerald berusaha bersikap profesional meski itu membuatnya muak.
"Boleh panggilkan Adinda sebentar bu Aisyah?" Pinta Gerald kepada bu Aisyah.Gerald sudah tak ingin berlama-lama lama lagi berada di sana. Gerald ingin secepatnya pergi meninggalkan Andin dan Yoga.
Dengan senang hati, bu Aisyah memanggilkan Adinda yang berada di kamarnya.
"Om, pulang dulu Dinda." Kata Gerald pada Adinda yang telah berdiri di hadapannya.Seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun yang hanya mempunyai sebelah tangan.Adinda dilahirkan disabilitas sejak lahir.
"Iya, om.Terima kasih sudah datang, jangan lupa bulan depan datang lagi ya,Om." Pinta Adinda kepada Gerald dengan memeluknya.
Adinda terlihat akrab dengan Gerald,Itu terlihat dari gestur keduanya yang sudah terlihat tidak ragu ragu saat mereka bicara ataupun berpelukan.
Dengan penuh cinta Gerald mencium kening Adinda.
"Ibu, ini adalah Om yang sering Dinda ceritakan ke ibu." Kata Dinda sembari menoleh ke arah Andin yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Adinda menyebut Andin dengan sebutan Ibu karena dari semua anak asuh yang ada di Yayasan tersebut, Andin paling dekat dengan Adinda. Bukan karena fisiknya yang tidak sempurna, tapi karena Adinda adalah anak yang di buang oleh orang tuanya di depan sebuah Mesjid, dan Andin yang menemukannya tujuh tahun lalu.
Andin yang mengasuhnya hingga Adinda berusia 3 tahun, lalu menyerahkan Adinda kepada bu Aisyah setelah itu, karena Andin harus bekerja mencari uang untuk keperluan Yayasan, karena waktu itu Yayasan Rumah Duafa sedang mengalami krisis keuangan.
Andin ingin menangis mendengar Adinda berkata bahwa orang yang selama ini Adinda ceritakan kepada dia adalah Gerald. Adinda selalu menyebut Gerald dengan sebutan om ganteng kepadanya.Dan Andin tidak menyangka bahwa yang Adinda ceritakan itu adalah Gerald.
Andin terharu atas sikap Gerald kepada Adinda.Kenapa dia dan Gerald bisa menyayangi anak yang sama.
"Iya, sekarang Ibu sudah tau orang yang Dinda ceritakan ke Ibu. Kita do'akan semoga Om gantengnya selalu banyak rezeki, biar dia bisa terus datang ke sini buat temuin Dinda sama anak anak yang lain di Yayasan ini, ya sayang." Kata Andin dengan penuh rasa haru.
__ADS_1
***