
Matahari sudah bersinar saat Andin membuka mata. Ia terlambat bangun pagi karena tadi subuh Andin kembali tertidur setelah membukakan pintu untuk Yoga yang tiba-tiba datang ke rumah kontrakannya. Saat Andin bangun cahaya sang surya sudah menyelinap masuk ke sela sela jendela kamarnya.
Andin menoleh kearah Yoga yang tertidur lelap di sampingnya. Wajahnya tampak begitu lelah. Terdengar suara Yoga sedikit mendengkur.Mungkin dia sedang kelelahan.
Andin terus menatap wajah pria yang tak pernah berhenti mencintainya sejak dulu. Yoga tak pernah berubah sedikitpun. Baik dulu ketika mereka masih berpacaran ataupun selama lima tahun ini mereka menjalin hubungan persahabatan. Yoga selalu tak pernah meninggalkannya sendirian. Yoga selalu berusaha membuat dia bahagia.
Entah apa yang membuat Yoga tak pernah bisa melepaskan dirinya. Andin tak pernah merasa kalau dirinya cantik ataupun menarik. Tapi Yoga tak pernah berhenti mencintainya.
Andin terus memandangi wajah Yoga yang sedang tertidur dengan nyenyak. Terkadang terlihat ia menghela nafas panjang berkali-kali. Sakit rasanya saat dia menyadari bahwa Andin tak bisa membalas cinta Yoga kepadanya.
Perlahan Andin beranjak dari tempat tidur. Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan ganti baju, Andin bergegas ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi untuk Yoga. Siapa tau ia akan bangun sebentar lagi.
"Hai.. " Sapa Yoga, sambil mengecup sedikit pipi Andin.
Andin menoleh. Ia tampak kaget karena tiba-tiba Yoga berdiri di belakangnya. Baru saja Andin memikirkan Yoga, tau tau dia sudah berada di belakangnya.
"Sudah bangun? " Tanyanya.
"Aku kebangun karena wangi masakan kamu. " Jawab Yoga sambil terlihat mengucek ucek matanya. Dia masih terlihat begitu mengantuk. Tapi ia sudah tidak bisa memejamkan lagi matanya.
"Oh ya? "
"Hmm." Jawab Yoga lalu masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Yoga keluar lagi setelah terlihat membersihkan wajahnya. Yoga duduk di satu satunya sofa yang ada di kamar kontrakannya Andin.
Dia duduk santai lalu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya.Matanya kosong menatap pintu kamar yang sengaja Andin buka agar sirkulasi udara pagi masuk ke kamarnya.
Yoga tak terdengar berbicara sepatah katapun. Dia hanya duduk menyandarkan tubuhnya sambil termenung.Entah apa yang sedang Yoga lamun kan.
Andin datang menghampiri Yoga dengan membawa segelas air putih dan segelas kopi. Tak lupa sarapan yang tadi dia buat untuk Yoga.
Yoga meraih kopi yang baru saja di sajikan di atas meja oleh Andin.
"Minum air putih dulu, baru kopi. " Kata Andin lalu duduk di samping Yoga.
Yoga tersenyum lalu meletakkan kembali secangkir kopi yang baru saja di pegang nya. Yoga dengan terpaksa meneguk segelas air putih dulu sebelum ia minum kopi.
"Aku kira kamu akan bangun siang. " Terdengar Andin memulai pembicaraan.
"Pengennya sih gitu, tapi wangi masakan kamu bikin aku ke bangun. " Jawab Yoga sambil kembali tersenyum. "Kamu nggak pergi ke Resto? " Tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Nanti siang aja. Lagian aku mau pergi dulu ke panti jenguk Adinda. " Jawab Andin, sambil memasukkan sesuatu kedalam mulutnya.
"Ohh." Yoga terlihat mengangguk anggukan kepalanya.
Yoga terlihat mengambil kembali kopi yang tidak jadi dia minum tadi.
"Kamu lagi sibuk ya minggu minggu ini? " Terdengar Andin kembali bertanya.
Andin sedikit berbasa-basi untuk sedikit mengorek kemana saja Yoga selama beberapa hari ini.
"Enggak." Jawab Yoga.
Lalu meletakan kembali cangkir kopi setelah ia meneguknya beberapa kali.
"Tapi kok.. " Perkataan Andin terhenti.
"Aku bukan lagi sibuk, tapi sedang tidak ingin mengganggu kebahagiaan kamu. " Jawab Yoga dengan sedikit sindiran pedas yang menusuk hati.
Andin menatap Yoga. "Maksudnya? "
"Aku takut ganggu kebahagiaan kamu dengan Gerald. Kamu sudah baikan sama dia kan? "
Andin terdiam.
"Mana ada sehari dalam hidupku selama bertahun-tahun ini aku bisa melewatkan bertemu denganmu. Aku akan tetap kangen meski aku sudah seharian bersama denganmu. Kalau aku ada banyak kerjaan yang membuat aku harus pergi keluar kota, pasti aku akan tetap menyempatkan untuk telpon ataupun kasih kabar lewat pesan. Aku akan tetap datang menemui kamu meski aku sedang sibuk. Tapi, beberapa hari ini aku melihat kamu begitu bahagia. Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan kamu. Aku tidak ingin kamu merasa terganggu dengan kedatangan aku yang tidak berharga ini. " Ucapnya dengan perasaan ketir yang menyertai setiap perkataannya.
"Yoga.. " Kata Andin dengan sedikit melotot, Andin tidak suka mendengar kata kata kalau Yoga tidak berharga untuknya.
Yoga kembali memperlihatkan sebuah senyuman pahit kepada Andin.
"Aku bisa tidak bertemu dengan Arjuna beberapa hari, tapi aku tidak bisa sehari saja melewatkan melihat wajahmu. " Perkataannya terhenti sejenak. "Semalam saat aku mendengar suaramu di telpon, aku sangat bahagia. Akhirnya Andin merindukan aku, akhirnya Andin mau menelpon aku duluan. "
Andin terdiam.
"Aku tau, kamu kangen sama aku. Itu kenapa kamu telpon aku semalam. " Tambah Yoga sambil melirik kearah Andin yang terdiam.
Andin terlihat sedikit mendelik. Tak terima rasanya saat Yoga berkata demikian.
"Enggak.Biasa saja. " Andin mencoba membantah.
Yoga terlihat sedikit mendekat kearah Andin.
__ADS_1
Tangan Yoga terlihat membenarkan rambut Andin yang tak beraturan.
Yoga berusaha akan mencium kembali pipi Andin, namun Andin terlihat menghindar.
Melihat Andin yang menghindari ciumannya, Yoga hanya terlihat tersenyum.
Andin tau, di balik wajah Yoga yang selalu tersenyum. Ada perasaan sakit yang berusaha ia sembunyikan. Yoga berusaha mengcover semua rasa sakit dengan terus berusaha tersenyum.
"Semalam aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan kamu. Itu kenapa aku datang subuh subuh kemari. " Kata Yoga kemudian.
Melihat Yoga yang terlihat kacau, hati Andin jadi tidak tega. Andin tau betul bagaimana rasanya sedang merindukan seseorang. Semua ini tidak mudah bagi Yoga tentunya.
Andin mendekat kearah Yoga lalu menyandarkan tubuhnya di bahu Yoga.
"Maafkan aku. " Kata Andin dengan lirih. Hatinya juga sakit melihat Yoga seperti ini.
Yoga terlihat menciumi rambut Andin yang sedang bersandar di dadanya.
"Tak perlu minta maaf.Mungkin ini sudah takdir.Aku saja yang bodoh, terus berharap kamu akan mencintai aku kembali." Jawabnya dengan parau.
Andin menengadahkan wajahnya.
"Kau bahkan tak pernah melupakan Gerald meski dia sudah begitu banyak membuat mu kecewa.Dua tahun kau berpisah dengannya tapi hatimu tak pernah berpaling darinya.Kau tak pernah mau menggantikan dia dengan orang lain. Aku juga tak pernah bisa menggantikan posisi dia."
Andin tak sanggup mendengar kata kata Yoga yang begitu halus tapi tajam menusuk jantungnya.
"Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bisa kembali merebut hatimu? " Tanya Yoga, sambil tetap memeluk setengah badan Andin yang masih bersandar di dadanya.
Andin menyeka sedikit air mata yang keluar dari ujung mata Yoga.
"Jangan terus membahas hal yang sudah aku jawab! Aku kan sudah menjawab pertanyaan mu. "
"Siapa tau jawabannya sekarang berubah. " Jawab Yoga dengan sedikit tertawa.
"Berhenti menyakiti diri sendiri seperti ini! Kamu punya banyak pilihan untuk hidup bahagia. Jangan terus menyiksa diri dengan tetap mencintai aku. "
"Aku yang lebih tau tentang diriku dan hatiku. Kau kira aku mau hidup seperti ini? "
Andin terdiam.
"Aku juga tidak mau hidup seperti ini. Kau kira aku bahagia hidup dengan terus berpura-pura menjadi sahabat yang baik bagi dirimu. Aku capek! Aku lelah! Tapi hanya dengan seperti itu aku bisa tetap berada di sampingmu tanpa takut di jauhi. Tanpa kamu harus merasa risih berada di samping aku. "
__ADS_1
***