Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Andin Tiba-tiba Datang #13


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian di kafe, Gerald tampak mengunjungi kafe di jalan Braga itu kembali untuk kedua kalinya. Dia menitipkan kembali secarik kertas kepada pelayan yang kemarin, untuk di berikan kepada wanita yang sama jika wanita itu kembali datang mengunjungi kafe di lain hari.


Sang pelayan mengiyakan dan berjanji akan memberikannya jika wanita yang sama, datang kembali ke kafe tersebut. Karena dari apa yang di katakan si pelayan, wanita yang kemarin memakai baju warna pink itu terhitung sering datang ke kafe tersebut bersama pria yang sama.


Setelah mengucapkan banyak terima kasih kepada sang pelayan,Gerald kembali pulang. Menyelesaikan kembali pekerjaannya yang belum selesai. Akhir akhir ini Gerald selalu telat menyelesaikan pekerjaannya. Dia selalu terlihat sibuk dengan hal yang lain.


***


Malam sudah larut ketika Gerald memulai duduk di meja kerjanya. Dia mulai mencoba menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk karena beberapa hari ini dia tidak bekerja. Gerald hanya terlihat duduk dan merenung beberapa hari ini.


Beruntung ada Ica yang selalu menjadi malaikat penolong yang selalu membantunya menyelesaikan pekerjaan.Ica selalu lembur untuk menyelesaikan pekerjaan Gerald yang selalu di tinggalkannya.Ica selalu membantunya secara sukarela.


Pintu kantor sengaja ia buka karena masih ada Fadil dan Agung yang masih main game di ruang tamu.Padahal hari telah lewat tengah malam.Tapi mereka berdua belum mau beranjak dari gadget yang sejak sore tadi mereka pegang.


Ica sudah tampak tertidur pulas saat ia memperhatikannya dari kejauhan. Dia ketiduran di sofa panjang di ruang tamu. Dari kejauhan juga tampak Agung sedang memasangkan selimut pada Ica yang mulai terlihat kedinginan.Ica agak sedikit terbatuk batuk saat Agung mulai menyelimutinya.Maklum semua orang tau kalau Ica mempunyai riwayat alergi udara. Ica akan mulai terdengar terbatuk batuk kecil saat dia mulai merasa kedinginan.


Gerald menatap Ica dengan penuh rasa iba. Orang yang tidak pernah di cintai nya adalah orang yang selalu ada di sampingnya dan selalu membantunya saat dia sedang dalam kesusahan.Ica selalu berada di sisinya dalam keadaan apapun. Dia tak pernah mengeluh ataupun mengharapkan sesuatu darinya apalagi soal perasaan.Bahkan Ica tak pernah membahasnya.Ica sekalipun tak pernah bertanya ataupun memaksa kenapa Gerald tidak pernah bisa menerima cintanya.


Gerald tak ingin menyakiti Ica.Tapi apa yang bisa di lakukannya? Cinta tidak bisa di paksakan bukan?


Selama ini Gerald berusaha tidak menyakiti hati Ica semampu yang ia bisa.Dan berusaha selalu melakukan yang terbaik untuk Ica.Meski Gerald tak pernah bisa memberikan hatinya untuk Ica.


Gerald tampak berdiri dan mulai menghampiri Ica yang sedang tertidur di ruang tamu. Perlahan dia berbisik di telinganya. "Ca,,bangun!"


Gerald bermaksud untuk membangunkan Ica agar dia pindah ke kamarnya.Di ruang tamu cuaca terasa agak dingin. Di luar langit tampak begitu gelap seperti akan turun hujan.


Tapi Ica tak merespon bisikan nya.Ica tampak tertidur dengan lelap.


Agung menoleh pada Gerald yang tiba-tiba menghampiri Ica. "Jangan di bangunin, bang! Kasian, mungkin dia lagi capek banget."


Gerald berhenti membangunkan Ica.Dia terduduk dilantai dekat Ica yang sedang tertidur.


"Kenapa lagi elo,bang? Dari kemarin gw liatin kayaknya lo lagi gelisah?" Tanya Fadil, sambil menyimpan gadgetnya di atas meja.Lalu memperhatikan gerak gerik Gerald yang tampak tidak seperti biasanya.Sudah beberapa hari ini memang Gerald tampak murung.


"Ini sudah mau subuh! Lo belum tidur dari kemarin." Kata Fadil lagi yang memang mengetahui kalau Gerald dari kemarin memang belum tidur sama sekali.Gerald seperti tampak berusaha mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya.


Gerald tak menjawab.


Dia malah terlihat menyandarkan badannya di kaki kursi yang sedang di tiduri Ica. Gerald tampak berulang ulang menghela nafasnya. Badannya juga tampak terlihat begitu lesu dan tidak bersemangat.Matanya cekung karena kurang tidur.


"Lo kepikiran lagi Andin?" Fadil mulai agak penasaran dengan tingkah aneh Gerald saat itu.


"Gw lihat Andin beberapa hari yang lalu." Jawabnya perlahan.


Fadil tampak terkejut mendengar perkataan Gerald barusan." Lihat dimana?"


"Di kafe baru yang ada di jalan Braga itu, kafe yang waktu itu lo rekomendasiin ke gw."


"Terus? "


"Tidak ada terus gw hanya melihatnya."


"Kau tidak temui dia?" Agung ikut menyela pembicaraan.


"Dia tampak begitu bahagia bersama Yoga.Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaannya."


Fadil dan Agung terdiam kemudian saling menatap.

__ADS_1


"Biar aku aja yang temuin dia, besok!" Kata Fadil mengakhiri keheningan. " Kalau emang dia ada di sana, gw akan berusaha bicara sama Andin."


"Ga usah." Bantah Gege.


"Kenapa?" Agung terlihat sedikit heran.


"Tidak perlu di temui juga dia pasti datang!" Jawab Gerald dengan yakin.


"Yakin?" Sahut Agung penuh keraguan.


Gerald tampak mengangguk.


Samar Samar terdengar suara seperti ada orang yang sedang membuka pintu gerbang secara perlahan di luar. Mereka bertiga saling berpandangan.Agak aneh memang kenapa ada orang yang bisa membuka pintu gerbang padahal pintu sudah terkunci.


Agung menatap ke arah jam yang menunjukkan waktu sudah hampir jam dua pagi. Lalu terdengar seseorang membuka kunci pintu dari luar.Terdengar pintu terbuka dengan perlahan.


Fadil, Agung dan Gerald menatap tajam ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka dari luar.Mereka bertiga merasa kebingungan,kenapa tengah malam buta tiba-tiba ada orang yang berusaha masuk ke rumahnya.Padahal semua pintu sudah terkunci dari tadi Magrib.


Seorang wanita berjaket tebal tengah berdiri di depan pintu.Dia menatap ke arah Gerald dan yang lainnya yang juga sedang menatapnya penuh dengan kecurigaan. Mereka bertiga takut maling yang masuk.


"Andin!" Kata Fadil, seperti tidak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya.


Dia tampak mengucek ucek matanya berkali-kali, takut ada yang salah dengan penglihatannya.Fadil takut dia sedang berhalusinasi tentang Andin karena mereka sedang membicarakannya barusan.


Wanita yang sedang berdiri di depan pintu, yang ternyata benar adalah Andin hanya tersenyum dengan ujung bibirnya saja.Dia kemudian mendekat ke arah mereka duduk.


"Kenapa datang malam malam begini?" tanya Fadil kemudian.Dia agak aneh dengan kedatangan Andin yang datang di tengah malam buta.


Andin tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Fadil kepadanya. Dia hanya berusaha mendekat ke arah Gerald yang hanya diam melihat kedatangannya yang secara tiba-tiba. Gerald tidak menyangka kalau Andin akan datang secepat itu.


Gerald tak terdengar bersuara sepatah katapun. Dia hanya terlihat memandangi Andin penuh dengan rasa rindu.


"Ikutlah denganku ke atas!" Kata Andin kepada Gerald yang masih terpaku.


Andin tampak melangkah menuju anak tangga rumah Gerald, lalu menaikinya setahap demi setahap. Dan berhenti di balkon kamar yang selalu di tidurinya kalau dia sedang menginap di rumah Gerald dulu.


Gerald tampak mengikutinya dari belakang, tanpa berkata sepatah katapun.


Andin berdiri menatap ke sekeliling yang tampak begitu gelap malam itu.Tak terlihat ada bintang satu pun di langit. Suasana tampak seperti akan turun hujan saat itu. Lalu tampak ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Dan memberikannya pada Gerald yang juga tengah berdiri di sampingnya.Sedang asyik memperhatikannya.


Gerald terlihat menerima apa yang di berikan Andin padanya.


"Kau tau yang menulis ini aku?" Tanya Gerald dengan menatap tajam wajah Andin.


Andin terlihat tersenyum pahit.


"Aku tau sejak hari pertama pelayan kafe itu memberikannya padaku." Jawabnya perlahan.


"Untuk memberikan secarik kertas inikah kau akhirnya datang menemui ku?" Tanya Gerald lagi seperti sedang mengorek alasan kedatangan Andin untuk menemuinya.


"Tentu bukan." Jawab Andin pendek.


"Untuk membayar semua hutangmu padaku?" Nada suara Gerald mulai tertahan. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba membuat dadanya sesak.


Andin menggelengkan kepalanya.


"Aku masih tidak mengerti mengapa kau begitu tega mengembalikan semua barang pemberianku. Apakah sebegitu tidak inginnya kah engkau berhutang budi padaku hingga kau tega mengembalikan semuanya? Kau bisa begitu berhutang budi pada Yoga karena dia begitu baik padamu.Lalu kenapa kau juga tidak bisa berhutang budi padaku? Bukankah aku sudah begitu baik padamu selama ini?" Kata Gerald akhirnya mengeluarkan semua pertanyaannya yang selama ini ingin ia tanyakan kepada Andin.

__ADS_1


Andin tak bersuara.


Dia hanya tampak terdiam.Tetap menatap ke sekeliling. Memperhatikan langit yang tampak begitu gelap malam itu.


"Aku syok, saat tau kau tiba-tiba menghilang dan mengembalikan semuanya.Aku minta maaf jika aku salah, tapi jangan lakukan itu padaku!" Kata Gerald dengan sedikit memohon.


Andin tetap terdiam.


"Saat aku melihatmu di kafe beberapa hari yang lalu, aku begitu bahagia.Akhirnya aku menemukan mu setelah sekian lama aku mencari mu.Tapi juga aku tau akhirnya bahwa kau terlihat begitu bahagia bersama orang lain. Kau tampak menikmati hidup mu tanpa aku.Aura kebahagiaan terlihat jelas di wajahmu saat kau tertawa dan berbicara dengannya." Gerald mengutarakan perasaannya yang berkecamuk saat melihat Andin di kafe bersama Yoga beberapa hari yang lalu.


Andin masih tampak terdiam.


Dia terlihat mencerna semua yang di katakan Gerald kepadanya.Perlahan Andin mulai mendekat ke arah Gerald dan mulai menggenggam tangannya.Lalu Mendekatkan wajahnya ke wajah Gerald dan mencium bibir Gerald dengan lembut. Kemudian memeluknya.Pelukan kerinduan yang sudah sekian lama dia pendam.


"Jangan katakan ini pelukan dan ciuman mu yang terakhir untuk ku!" Kata Gerald seraya melepaskan pelukan Andin.Gerald takut akan kehilangan Andin untuk selamanya.


"Selepas aku pergi berusahalah untuk bisa tertidur!" Kata Andin kemudian berbalik akan melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar Gerald mengatakan sesuatu kepadanya.


"Apakah yang kurang dari cintaku kepadamu? Aku akan berusaha perbaiki!"


Andin berbalik dan menghampiri Gerald kembali. Dia memeluk Gerald dengan erat. Kemudian menatap wajah Gerald yang begitu tampak memerah.Lampu teras balkon mampu memperlihatkan wajah Gerald yang tampak begitu rapuh saat itu. Dia tak mampu menahan perasaannya yang tiba-tiba begitu sedih saat itu.


"Mengapa hatiku begitu hancur saat melihat mu bahagia bersama orang lain? Mengapa aku menjadi tiba-tiba merasa aku tidak pantas untuk mu ketika aku melihat kau bisa tertawa lepas dengan pria lain? Padahal selama ini aku tetap menunggu mu dengan yakin bahwa suatu hari kau akan kembali padaku.Tapi keyakinan ku tiba-tiba hancur saat melihat mu begitu bahagia bersama Yoga."


Andin tampak sesekali berusaha menyeka setetes air mata yang berusaha akan jatuh di pipi Gerald.Hatinya juga hancur melihat Gerald yang biasanya begitu tegar tapi malam ini dia tampak terlihat begitu rapuh.


"Katakan padaku,satu saja alasanmu kenapa kau bisa begitu bahagia bersama Yoga?"


Andin tidak tega melihat Gerald yang begitu tampak rapuh di hadapannya.


"Bicaralah,sebenarnya untuk apa kau tiba-tiba datang menemui ku?" Terdengar Gerald mulai kesal, ketika melihat Andin hanya terdiam.


Gerald terus saja mencecar Andin dengan begitu banyak pertanyaan. Tapi Andin tidak berusaha menjawab semua pertanyaan Gerald. Dia hanya berusaha menenangkan Gerald yang begitu tampak kacau.


Perlahan Andin berusaha menarik Gerald masuk ke dalam kamar dan mendudukkan nya di kasur kemudian memeluknya dengan erat.


"Istirahat lah,besok aku akan datang kembali! Berusahalah untuk bisa tertidur!" Kata Andin berusaha mengakhiri pembicaraan.


"Bolehkah aku meminta satu hal darimu ?" Kata Gerald tiba-tiba.


"Apa?" Andin menoleh.


"Temani aku tidur malam ini, atau setidaknya temani aku hingga aku bisa terlelap malam ini." Kata Gerald dengan seribu harapan kalau Andin tidak akan meninggalkannya malam itu.


Andin terdengar menghela nafasnya.


"Baiklah aku akan menemanimu istirahat malam ini!" Jawabnya seraya mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Gerald tampak juga membaringkan tubuhnya yang sudah tampak begitu lelah di kasur. Dia terus memandangi Andin yang terbaring di sampingnya.Gerald tak ingin berkata apapun lagi malam itu.Dia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Andin saja saat itu.Tak perduli besok akan bagaimana, yang penting malam ini Andin berada di sampingnya.


Tubuh dan matanya memang sudah tampak begitu lelah karena dari kemarin dia sama sekali belum memejamkan matanya sedikitpun. Dari kemarin hati dan pikirannya sedang kacau, hingga membuat Gerald gelisah dan tidak bisa tidur.


"Pejamkan matamu, berusahalah untuk tidur!" Kata Andin kepada Gerald yang terus saja sedang menatapnya.


"Pergilah kemanapun, bersama siapapun, jika memang kau bahagia bersama dia!" Kata Gerald seraya berusaha menutup matanya perlahan. Berusaha memejamkan mata yang sebenarnya enggan untuk tertidur.


Gerald takut jika besok dia terbangun, semua yang terjadi malam ini ternyata hanya mimpi. Atau ketika besok dia terbangun Gerald akan kehilangan Andin untuk selamanya.

__ADS_1


***


__ADS_2